
Sepanjang malam Freya tak kunjung dapat menutup matanya. Kejadian yang baru saja terjadi sore tadi cukup membuat Freya tertekan. Bagaimana Erin dengan tega memfitnah dirinya dan bersikap playing victim. Padahal ia tak pernah berniat jahat pada Erin, tapi sepertinya Erin begitu membencinya sampai ke tulang sumsum. Ia bisa apa. Ia tak mungkin menghapus kebencian itu jikalau pemiliknya sendiri memupuknya hingga tumbuh subur dan terus berkembang.
Freya pikir setelah tahun berganti, kebencian itu akan sirna, tapi nyatanya, Erin tetap saja membenci. Kebencian tumbuh karena iri. Erin iri dengan segala apa yang Freya miliki dan dapatkan.
Keesokan harinya,
Karena kurang tidur, morning sickness pagi ini lebih parah dari sebelumnya. Ia tak bisa makan sama sekali. Bahkan setiap meminum air putih, perutnya seketika mual dan memuntahkannya. Wajahnya pun jadi sangat pucat. Entah mengapa, di saat seperti ini yang ia inginkan hanyalah melihat Abidzar. Tapi sayang sampai matahari mulai meninggi pun Abidzar tidak muncul seperti biasanya. Hanya ada sarapannya saja yang menurut bi Asih diminta Abidzar agar langsung diantarkan kepadanya. Abidzar juga meminta bi Asih memastikan dirinya benar-benar memakan sarapan itu.
"Ayo non, dimakan sarapannya. Entar den Abi marah sama bibi kalau nggak liat langsung makanannya dimakan." Ujar bi Asih berusaha membujuk Freya agar segera menyantap makanannya.
"Freya pasti makan kok, bi. Bibi tinggal aja. Kalau sekarang aku belum mau makan soalnya masih mual banget."
"Tapi non, bibi tetap harus memastikan kalau tidak ... "
"Bi Asiiiiih, mana sarapanku!" teriak Erin membuat bi Asih kebingungan mana yang harus ia utamakan.
"Bibi urus aja Erin, Bi. Kalau kelamaan tau sendiri dia, entar Bibi malah dimarahin. Aku bisa makan sendiri kok."
"Tapi non, kenapa wajah non pagi ini lebih pucat dari sebelumnya?" tanya Bi Asih khawatir.
"Ah, itu, mungkin karena aku belum pakai lipstik, Bi. Bibi nggak perlu terlalu mengkhawatirkan aku." Ucap Freya menenangkan Bi Asih.
"Bi Asiiih ... "
"Iya, Nya ... Tunggu sebentar." Sahut Bi Asih.
"Bibi buruan ke sana deh. Aku nggak mau Bi Asih kena marah cuma gara-gara aku."
"Ya udah, kalau begitu Bibi pergi dulu ya, Non. Kalau ada apa-apa, panggil aja Bibi." Ucap Bi Asih sebelum beranjak dari sana meninggalkan Freya yang akhirnya menghela nafas lega.
Di hadapannya sudah ada semangkuk bubur ayam, dua potong sandwich, potongan buah apel dan kiwi, serta segelas susu khusus ibu hamil. Tapi tak ada satupun dari makanan tersebut yang menggugah seleranya.
__ADS_1
Freya lantas mencoba menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Tapi baru saja bubur itu berada di depan mulutnya, rasa mual itu tiba-tiba menyerang. Membuatnya reflek melempar sendok dan gegas berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
Tubuh Freya melorot ke lantai. Tubuhnya benar-benar lemas. Kakinya rasa tak sanggup berpijak. Ternyata seperti ini efek kehamilan. Tiba-tiba Freya teringat Nanda. Karena sifat jahat dan irinya, Nanda kehilangan calon buah hatinya. Mungkin apa yang ia alami saat ini buah dari perbuatannya di masa lalu. Ia terlalu jahat dan kejam, alhasil di masa kehamilannya pun juga mendapatkan ujian.
Sebelumnya Freya ingin marah dengan apa yang ia alami. Tapi setelah menyadari mungkin ini buah perbuatannya di masa lalu, Freya pun mencoba untuk bersabar. Ia yakin, akan ada pelangi setelah badai. Tak selamanya kejahatan akan menang melawan kebenaran. Sama seperti perbuatannya dengan Nanda dulu. Ia mencoba menyakiti dan memfitnah Nanda, tapi dalam sekejap mata perbuatannya justru ketahuan dan membuatnya harus menanggung hukumannya.
...***...
"Mina." Panggil Erin pada Mina yang sedang membersihkan guci hias di rumah itu.
"Iya, Nya." Mina pun bergegas menghampiri Erin yang sudah duduk bersantai di ruang tamu.
"Ini buat kamu." Erin menyerahkan beberapa lembaran uang merah pada Mina.
"Ini ... "
"Ini bonus untuk kamu atas keberhasilan rencanaku kemarin."
"Wah, apa ini nggak kebanyakan, Nya?" Bola mata Mina sudah berbinar-binar melihat jumlah uang itu ternyata satu juta.
Ya, ternyata kesuksesan rencana Erin kemarin tak lepas dari kerja samanya dengan Mina. Erin yang tahu kalau suaminya sudah dalam perjalanan pulang pun sengaja mencari gara-gara dengan Freya. Dia meminta Mina memberitahunya bila Abidzar sudah pulang dengan cara melakukan panggilan ke ponselnya.
Seperti kebiasaan Abidzar akhir-akhir ini yang akan menyambangi Freya sepulang bekerja. Dan ternyata rencananya berjalan lancar sesuai harapannya. Di saat Abidzar berjalan melewati pintu samping untuk menuju paviliun, Mina pun dengan segera melakukan panggilan. Di saat itulah Erin mengangkat tangannya pelan berpura ingin menampar Freya. Ia yakin Freya akan melakukan antara 2, yaitu menerima tamparannya atau menghindar. Di saat itulah ia akan bergerak seolah-olah Freya mendorongnya ke dalam kolam.
"Terima kasih, Nyonya. Tenang saja, lain kali kalau Nyonya butuh bantuan, aku pasti akan selalu siap sedia." Seru Mina dengan wajah ceria.
Saat mereka berbincang, tanpa sepengetahuan mereka, ada Ana yang sedang menguping. Ia memang tahu apa yang terjadi di Erin kemarin, tapi ia tak tahu jelasnya sebab ia tak melihat. Ia hanya melihat Abidzar memapah Erin yang sudah basah kuyup. Mina mengatakan Freya telah mendorong tubuh Erin hingga tercebur ke kolam ikan. Namun dalam hati Ana tidak mempercayai ucapan Mina. Entah mengapa ia meragukan itu. Meskipun Freya memiliki masa lalu buruk, tapi Ana yakin, Freya tidak melakukan itu dan ternyata dugaannya pun benar. Ternyata semua hanyalah sandiwara Erin. Ia tak menyangka, majikannya bisa berbuat hal seperti itu hanya demi untuk membuat Freya tampak buruk di mata Abidzar.
"Kurang ajar, Mina. Ternyata dia pun bekerja sama dengan Nyonya untuk menjebak Non Freya. Ini nggak boleh dibiarkan. Tuan Abi harus tau kalau Non Freya sebenarnya tidak bersalah." Gumam Ana dari balik tembok.
...***...
__ADS_1
"Na, bibik mau ke pasar dulu. Tolong cek makanan Non Freya udah dimakan apa belum. Bibik udah kesiangan ini." Titah Bi Asih yang sedang bergegas pergi pasar.
"Siap, Bi. Laksanakan!" serunya girang.
Ana pun segera membalikkan badannya. Di saat bersamaan, ada Mina yang juga hendak berjalan ke arahnya.
"Bi Asih, Mina ikut dong!" pekik Mina sambil berjalan cepat mendekati Bi Asih.
"Mau ngapain kamu ikut bi Asih, bantuin enggak, repotin iya." Ketus Ana.
"Nggak usah ikut campur loe. Gue mau belanja. Nih liat, duit gue banyak." Mina memamerkan uang pemberian Erin di hadapan Ana.
"Ck ... duit haram aja bangga." Cibir Aja.
"Apa kata loe? Duit haram? Enak aja. Iri bilang shay. Eh kau mana mungkin punya duit banyak kayak aku. Baru aja gajian, uangnya langsung kanclep ngirimin ke kampung. Kasihaaaan." Ejek Mina.
"Biarin. Yang penting, duit yang keluargaku makan duit halal, bukan duit hasil bermain sandiwara kayak kamu. Pergi sana, pergi. Silahkan belanja apapun yang kamu mau. Aku peringatin, duit hasil berbuat jahat itu nggak akan berkat."
Setelah mengucapkan itu, Ana pun membalikkan badannya. Ia tentu tak boleh lupa dengan pesan Bik Asih tadi untuk melihat keadaan Freya dan memeriksa sarapannya sudah dimakan atau belum.
Mina yang mendapatkan peringatan itu jelas saja kesal. Wajahnya merah padam, tak terima.
"Nggak usah susah-susah peringatin aku. Pikirin aja diri kamu sendiri. Aku tahu, kamu pasti iri kan liat aku punya banyak duit." Pekik Mina tapi tak dipedulikan Ana.
Setibanya di paviliun, Erin pun mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Freya. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Freya tak kunjung muncul apalagi menyahuti panggilannya.
"Apa Non Freya sedang mandi ya? Eh tapi biasanya jam segini Non Freya udah mandi. Atau lagi pup? Bisa jadi sih." Gumamnya.
Karena pintu yang tak tertutup rapat, Ana pun mendorong pintu hingga pintu terbuka lebar. Saat pintu terbuka, yang Ana lihat pertama kali adalah sarapan yang belum disantap berikut sendok bubur yang terkapar di lantai. Mendadak Ana merasa cemas. Ia pun segera masuk untuk mencari Freya. Mata Ana seketika terbelalak saat melihat Freya terkapar di lantai yang dingin dengan mata terpejam dan wajah pucat pasi.
"Non Freya ... " Pekik Ana panik.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...