
Beberapa hari telah berlalu, dengan angkuh, Erin pulang dan masuk ke dalam rumahnya. Saat pertama kali masuk ke rumah, ia mendapati Freya sedang merangkai bunga sambil tertawa ceria dengan ibu mertuanya. Seketika Erin mengepalkan tangannya, ia tidak suka melihat pemandangan itu. Sebab selama pernikahannya dengan Abidzar, Sagita tak pernah bersikap seperti itu padanya. Padahal bukan salah Sagita, tapi Erin lebih sering sibuk dengan dunianya sendiri. Sagita yang juga tak ingin membatasi kebebasan menantunya hanya bisa membiarkan. Sesekali ia hanya memberikan nasihat bagaimana sikap seorang istri sebenarnya, tapi sayang, Erin selalu mementahkan nasihatnya. Seperti tugas melayani kebutuhan suami atau membantu menyiapkan sarapannya, tapi Erin berkilah, untuk apa memiliki pembantu bila semua pekerjaan harus ia kerjakan sendiri.
Terkadang ada rasa sesal pada diri Sagita mengapa dengan mudahnya menjodohkan putra tunggalnya itu pada Erin yang sikapnya benar-benar acuh tak acuh pada suaminya.
Beruntung putranya itu bukan tipe laki-laki yang suka menuntut. Namun biar seperti itu, Sagita yakin dalam benak putranya pun ingin diperhatikan dan dilayani layaknya suami lainnya. Tapi sudahlah, pikirnya. Yang penting hubungan keduanya tetap harmonis walaupun entah sampai kapan akan terus begitu.
Apalagi setelah Erin dengan percaya diri memasukkan wanita lain dalam rumah tangganya. Tanpa Erin sadari, ia sedang menuai kehancuran rumah tangganya sendiri. Wanita yang dikiranya sangat dibenci Abidzar, justru sebaliknya, masih amat sangat dicintai laki-laki tersebut. Wanita yang pertama bertahta di hati Abidzar, bahkan mungkin akan terus bertahta hingga akhir.
Meskipun masa lalu Freya buruk, tapi setidaknya sekarang ia telah berubah. Meskipun masa lalunya buruk, tapi nyatanya ia masih mampu menjaga kesuciannya hingga menjadikan Abidzar laki-laki pertama yang menjamahnya dengan utuh.
Sagita tak bisa menebak bagaimana akhir dari kisah cinta segitiga antara putra tunggalnya dengan kedua istrinya. Harapnya, semua berjalan baik tanpa ada kata kehancuran apalagi perceraian. Meskipun ia sebenarnya tidak pro terhadap poligami yang cenderung jauh dari kata adil, tapi ia pun tak bisa mengorbankan salah satunya. Semua memiliki andil dan peran masing-masing. Ia hanya ingin anaknya bisa berbahagia tanpa harus menghancurkan hati salah satu dari keduanya.
"Mama," sapa Erin sambil mengulas senyum. Ia pun menghampiri Sagita dan mencium punggung tangannya. Setelah itu, ia juga memeluk Sagita dengan senyuman merekah di bibir merahnya.
"Ah, kamu sudah pulang, Sayang. Bagaimana kabar orang tuamu? Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Sagita dengan memasang raut wajah khawatir.
__ADS_1
Erin mengulas senyum lembut, "mami papi baik kok, Ma. Mami papi malah nanyain, kapan mama dan papa punya waktu untuk makan malam bersama. Sudah lama kan kita tidak melakukannya." Ujar Erin yang kini telah duduk di samping Sagita.
Sagita tersenyum lebar, "kamu benar, Sayang. Kapan ya kita terakhir makan malam bersama? Oh iya, kalau tak salah beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat hari ulang tahun Jeng Wiwin."
"Ah, mama benar. Tapi sayang, malam itu mas Abi sedang keluar kota untuk peresmian cabang BTT di pulau Bangka."
"Kamu benar. Atur aja jadwal. Sepertinya beberapa hari ke depan papa udah pulang jadi kita bisa makan malam bersama." Ucapnya dengan memasang senyum merekah.
"Baik, Ma." Balas Erin tak kalah sumringah. "Oh ya, Mama kayaknya akrab banget sama Freya. Mama tahu nggak, Freya ini dulu teman sekolah Erin lho, Ma." Tutur Erin memasang wajah ceria.
"Kalau dia apa?" tanya Erin dengan sorot mata penasaran.
"Kalau dia ... emmm ... oh iya, Mama hampir lupa, tadi Mama sedang mengukus bolu pisang. Mama tinggal sebentar ya." Tukas Sagita mengalihkan pembicaraan. Ia sebenarnya ingin mendengar sendiri pengakuan Erin mengenai pernikahan Abidzar dan Freya, tapi bila Erin masih ingin menutupinya, ia bisa apa. Ia tak ingin membuat menantunya merasa bersalah atas keputusan sepihaknya.
Saat Sagita berlalu ke dapur, Erin langsung mengubah mimik wajahnya. Tak ada wajah lembut, polos, dan ramah. Yang ada justru wajah bengis dengan sorot mata yang tajam dan penuh intimidasi.
__ADS_1
"Jangan sok mencari perhatian dengan Mama Mas Abi! Ingat posisimu. Kau hanyalah ibu pengganti bagi calon anak kami. Jangan bermimpi kau akan diterima dalam keluarga ini sebab kau hanyalah mantan narapidana. Kau adalah seorang penipu sekaligus pembunuh. Kau hanya akan mempermalukan keluarga ini bila ada yang tahu statusmu saat ini. Ingat, sadari statusmu. Sadar dirilah. Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kau tak pantas baik untuk menjadi istri seorang Abidzar maupun menjadi anggota keluarga ini. Cam kan itu!" desis Erin tepat di depan wajah Freya.
Freya merasakan dadanya sakit. Kata-kata Erin benar-benar tajam dan menusuk. Apa yang Erin katakan memang benar. Meskipun ibu dari Abidzar menerimanya, tapi bagaimana pandangan orang-orang saat mengetahui menantu keluarga itu ternyata seorang mantan narapidana? Mereka pasti akan mencemooh keluarga Abidzar karena mau-maunya menerima perempuan jahat seperti dirinya sebagai anggota keluarga.
Freya merasa nelangsa. Bagaimana kelak bila ia berhasil hamil dan melahirkan anaknya, apakah anaknya akan membencinya kelak karena memiliki ibu yang jahat seperti dirinya?
Dan bagaimana nasib anaknya kelak bila ada yang tahu kalau ia lahir dari rahim seorang wanita jahat? Penipu? Pembunuh?
Seketika tangan Freya mengusap perutnya yang masih rata. Melihat apa yang dilakukan Freya, Erin sadar, kalau perempuan ini telah menghabiskan malam dengan suaminya. Ada rasa tak terima di dalam dadanya. Tapi ini lebih baik daripada ia yang mengandung. Tak mungkin juga suaminya akan lebih memilih wanita menjijikan ini dibandingkan dirinya, bukan. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Tak berapa lama kemudian, Sagita kembali dengan sepiring penuh irisan bolu pisang kukus buatannya. Dia menawarkan bolu buatannya bukan hanya pada Erin-menantunya, tapi juga pada Freya. Erin menatap tak suka melihat perhatian ibu mertuanya yang kini juga terbagi dengan Freya. Ia memang tahu ibu mertuanya itu tipikal ramah, lembut, dan baik hati. Tapi perlakuannya pada Freya entah mengapa sangat berlebihan di matanya. Mengapa perlakuannya pada Freya sama seperti perlakuannya padanya.
Hatinya mendadak cemas, bagaimana kalau ibu mertuanya tahu mengenai rencananya dan lebih memilih Freya menjadi menantunya di kemudian hari. Ini tidak boleh terjadi pikirnya. Hanya dirinya yang pantas menjadi bagian keluarga ini. Keluarga ini memang butuh penerus. Khususnya untuk meneruskan perusahaan milik ayah mertuanya. Dan ia akan memanfaatkan anak yang dilahirkan Freya nanti untuk menguasai perusahaan ayah Abidzar. Tentunya dengan bantuan ayahnya yang merupakan asisten pribadi ayah suaminya.
Karena itu, ia hanya membutuhkan anak itu, tapi bukan Freya. Ia akan segera menyingkirkan Freya setelah tujuannya tercapai sebab ia sudah memiliki orang lain yang akan ia jadikan kandidat utama sebagai penerus perusahaan Abra Corp.
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...