
Sepanjang malam itu, baik Ryan maupun Erin tak dapat tidur di tempat masing-masing. Memikirkan kesalahan mereka di masa lalu ternyata begitu besar dan berat.
Setelah bercengkrama dengan kedua paruh baya itu, Erin pun mendapatkan penerangan. Seperti dugaannya, kedua paruh baya itu terkejut dengan kelakuannya selama ini. Begitu banyak kesalahan yang ia lakukan sehingga membuat orang-orang di sekitarnya terluka dan kecewa. Beruntung keduanya tidak menghakiminya. Mereka bahkan merangkul dan memberikan nasihat yang membuka mata hati dan pikirannya serta menyadarkannya betapa ia telah salah selama ini.
Malam ini Erin dipersilahkan kedua paruh baya itu menginap di tempatnya. Tapi mereka menyarankan setelah ini untuk pulang dan menyelesaikan masalahnya. Permasalahan tidak akan hilang dengan melarikan diri. Permasalahan justru akan semakin besar dan rumit. Erin menurut. Ia pun berpikir demikian. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus ia lakukan.
Sementara itu, Ryan yang juga tak dapat tidur tampak termenung di atas ranjang sambil memandangi wajah polos sang putra yang telah tertidur. Ia meringis pilu, anaknya masih begitu kecil, tapi sudah harus mengalami kepahitan yang bahkan dia yang sudah dewasa saja rasanya begitu berat. Lalu putranya ... harus mengalaminya di usia sekecil ini.
"Maafkan Papa, Nak. Ini salah Papa. Namun menyesal pun percuma sebab menyesal sama artinya menyesal memilikimu, sedangkan memilikimu merupakan sebuah anugerah. Maafkan Papa yang belum bisa memberikanmu kebahagiaan. Maafkan Papa yang belum bisa memberikanmu seorang mama. Maafkan Papa, Nak. Maafkan, Papa," ucap Ryan dengan air mata yang berderai membasahi wajahnya. Diusapnya puncak kepala Rio dengan lembut dan penuh kasih sayang. Yang melihatnya pasti tahu, betapa Ryan sangat menyayangi putranya itu.
***
Mobil Erin berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Hanya terdiri atas satu lantai, tapi memiliki beberapa kamar dan taman yang cukup luas. Masih mengenakan hoodie dan kacamata hitam, Erin turun dari dalam mobil dan mengetuk pintu rumah tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Erin. Sebenarnya ia sedikit gugup. Tapi ia berusaha tenang dan mencoba berani menghadapinya.
"Wa'alaikumussalam, siapa?" sahut seorang wanita paruh baya sambil berjalan menuju pintu masuk yang sedikit terbuka.
Setelah berdiri di depan pintu, wanita paruh baya itu mengernyit. Ia tidak mengenali Erin yang sedang memakai hoodie yang menutup sebagian kepalanya dan mata yang tertutup kacamata hitam.
Erin yang paham pun segera menurunkan penutup kepalanya dan membuka kacamatanya. Mata wanita paruh baya itu terbelalak. Sorot mata penuh benci pun seketika terpancar dari kedua netranya yang tidak begitu jernih lagi.
"Kau ... " desis wanita paruh baya itu yang sudah menggerakkan giginya. "Mau apa lagi kau datang kemari, hah? Belum cukup kau menghancurkan hidup dan masa depan putraku?" pekik wanita paruh baya yang merupakan ibu Ryan tersebut.
"Pergi, pergi kau. Pergi kau!!!" Usir ibu Ryan sambil mendorong tubuh Erin. Erin tidak membalas, ia mengerti mengapa ibu Ryan sampai membencinya seperti ini.
"Bu ... " lirih Erin.
"Jangan panggil aku ibu. Aku bukan ibumu. Pergi kau perempuan sialan. Gara-gara kau hidup putraku kacau. Gara-gara kau, hidup anakku berantakan. Gara-gara kau, nasib cucuku menyedihkan. Semua gara-gara kau. Gara-gara kau." Ibu Ryan tergugu pilu. Tubuhnya sampai luruh ke lantai dengan wajah yang telah basah oleh air mata.
"Ada apa ini? Bu, ibu kenapa?" tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya keluar. Sama seperti ibu Ryan, matanya pun terbelalak saat melihat keberadaan Erin di rumahnya.
"Kau?" Berbeda ekspresi ayah Ryan dengan sang istri, tampak ayah Ryan bersikap tenang. Namun kata-kata datar dan dingin. Justru hal itulah yang lebih menakutkan. "Untuk apa lagi kau kemari? Belum cukupkah kau membuat hidup Ryan jadi seperti ini? Belum cukupkah kau membuat putramu seperti seorang anak piatu yang begitu mengelu-elukan kasih sayang seorang ibu?"
Erin tergugu mendengar kata-kata dingin tersebut. Ya, ia tahu betapa Rio menginginkan ia selalu di sisinya. Tapi dengan egoisnya dia justru mementingkan kesenangan pribadinya sendiri tanpa memikirkan perasaan anak yang tak berdosa itu. Anak yang dipaksa hadir, tapi setelah hadir bukannya diberikan kebahagiaan, melainkan kesakitan dan kesedihan.
"Pak, saya mohon, izinkan saya bertemu dengan Ryan dan Rio, sebentar saja?" mohon Erin dengan air mata bercucuran.
"Untuk apa? Untuk memastikan kehancurannya?" Mata ayah Ryan pun telah memerah. Sudah cukup putranya diperlakukan seperti pria bodoh yang terus menunggu seorang perempuan tanpa kepastian sama sekali.
"Saya mohon, pak, Bu, saya ingin sekali bicara dengan mereka, sebentar saja. Setelah ini, saya tidak akan mengganggu mereka lagi. Tapi saya mohon, izinkan ... "
__ADS_1
"Tak perlu memohon sebab sampai kapanpun aku takkan membiarkan kalian bertemu kembali," sentak ibu Ryan emosi kembali.
Brukkk ...
Tiba-tiba Erin berlutut dengan kedua telapak tangan menangkup di depan dada. Ia pun mengiba dan memohon agar diizinkan bertemu dengan Ryan dan Rio.
"Bu, pak, saya mohon, izinkan saya bertemu dengan dengan mereka. Saya mohon," melasnya.
"Saya bilang tidak, ya ti-"
"Ne- ... Mama," gumam seorang anak kecil yang awalnya hendak mencari sang nenek, tapi justru melihat kedatangan sang ibu.
"Rio ... " gumam Erin dengan mata berbinar, tapi air mata itu tetap jatuh tak terbendung.
"Rio, jangan berlari-larian," sergah Ryan yang baru saja keluar dari kamar mandi di belakang. Ternyata Ryan tadi sedang mandi berdua dengan Rio. Oleh sebab itu, mereka tidak mendengar keributan di depan rumah. "Erin ... " gumamnya yang merasa heran melihat keberadaan Erin di rumahnya. Bukankah polisi sedang mencari dirinya.
"Ryan, izinkan aku bicara denganmu dan Rio, sebentar saja, aku mohon."
"Kataku tidak ya tidak. Cepat pergi dari sini. Aku tidak mau polisi tiba-tiba datang kemari dan mengira kami membantumu melarikan diri!" Bentak ibu Ryan yang kekeuh tidak mengizinkan ia berbicara dengan putra dan cucunya.
"Bi, aku mohon. Ryan, aku mohon, izinkan aku bicara dengan kalian sebentar saja. Setelah itu ... setelah itu aku akan pergi. Aku janji, aku takkan mengganggu kalian lagi setelah ini."
"Tak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi. Sudah Ryan, tak ada yang perlu dibicarakan dengan perempuan ini lagi."
"Tapi pak," baru saja ibu Ryan ingin menyela, tapi sorot mata tak ingin dibantah ayah Ryan tujukan padanya membuat ibu Ryan akhirnya bungkam.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih," ujar Erin sesenggukan. Tapi sorot matanya berbinar karena senang masih diberikan kesempatan untuk berbicara dengan Ryan.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ryan dingin saat Erin telah dipersilahkan duduk di dalam.
Erin menggigit bibirnya dengan wajah tertunduk. Sebenarnya ia malu kembali menghadap Ryan setelah apa yang ia lakukan. Tapi ia harus berbicara dengannya yang mungkin untuk terakhir kali.
"Maaf."
Ryan mengernyitkan dahi, "maaf? Maaf untuk apa?" tanya Ryan dingin.
"Maaf untuk segala kesalahanku. Maaf atas segala kebodohanku. Maaf karena telah menyakitimu dan Rio. Maaf ... karena telah membuatmu menunggu tanpa kepastian. Maaf ... maaf ... karena aku juga telah menghancurkan impianmu. Maaf ... maafkan aku karena telah menghancurkan pernikahanmu." Entah berapa kata maaf yang harus Erin ucapkan, rasanya semua tak setimpal dengan apa yang Ryan dan putranya alami selama ini.
"Tunggu tunggu, apa maksudmu maaf sudah menghancurkan pernikahanku? Jangan-jangan ... "
"Ya, perempuan itu orang suruhanku. Aku tak rela kau menikah dengan perempuan lain. Apalagi itu Meylin. Kau tahu bukan, aku sudah lama bersahabat dengannya dan aku sangat tahu sifat dan kelakuannya selama ini. Dia ... dia tak ada bedanya dengan aku," papar Erin membuat Ryan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Sekarang kau sadar, betapa buruknya kau."
"Ya aku sadar karena itu aku merasa tak pantas untukmu. Sebelumnya aku tak rela kau bersama perempuan lain, tapi sekarang, aku ikhlas bila kau ingin menikah dengan perempuan lain, asal itu bukan Meylin. Kau ... berhak bahagia. Kau berhak mendapatkan perempuan baik-baik. Dan Rio ... dia berhak mendapatkan seorang ibu yang baik dan yang pasti itu bukan aku. Aku bukanlah seorang ibu yang baik. Aku tak layak mendapatkan gelar sebagai seorang ibu. Aku ... perempuan yang buruk. Semoga kau menemukan perempuan yang mampu mencintai dan menerimamu serta Rio dengan tulus apa adanya," ucap Erin tulus.
Ryan terkesiap saat mendengar kata-kata Erin. Erin yang sombong dan selalu merasa tinggi, kini tiba-tiba merendah bahkan mengatakan sesuatu yang mampu membuatnya terenyuh. Seperti bukan Erin, tapi ia bisa memastikan yang bicara di depannya memang benar Erin.
"Kau ... aneh."
Erin tersenyum pilu, "boleh aku bicara dengan Rio sebentar?" Ryan mengangguk. Ia pun segera beranjak memanggil Rio. Tak lama kemudian, Rio muncul sambil menggandeng tangan ayahnya.
Melihat Rio, Erin pun segera beranjak dan berjongkok tepat di depan Rio.
"Rio ... " Lirih Erin berusaha tersenyum meskipun air mata terus jatuh berderai.
"Mama." Mata Rio memerah. Entah mengapa ia seperti akan segera berpisah dengan sang ibu. Erin yang tak sanggup melihat wajah sedih Rio pun segera memeluknya erat. Melihat ibunya menangis, Rio pun ikut menangis. Ryan hanya bisa menatap keduanya dengan hati yang sesak. Harapannya mereka bisa bersama selamanya, tapi apa daya, semuanya begitu sulit. Seakan tak ada jalan bagi mereka untuk bersatu.
"Rio sayang, jaga diri baik-baik ya. Jaga Papa. Jadi anak penurut. Jadilah anak baik kebanggaan papa. Maaf, mungkin setelah ini Mama akan pergi dan tak tahu kapan akan kembali. Maafkan Mama ya Sayang tidak bisa sama-sama dengan Rio dan papa. Maafkan Mamanya, sayang karena Mama harus segera pergi." Setelah mengucapkan itu, Erin melepaskan pelukannya dan mencium seluruh wajah Rio.
Kedua orang tua Ryan yang bersembunyi di balik tirai ikut tergugu mendengar kata-kata Erin. Pun Ryan yang telah banjir air mata.
Ryan yang masih mencintai Erin pun ikut berjongkok dan memeluk dua orang yang sangat dicintainya itu. Ketiganya terisak. Ingin Erin selalu bersama kedua orang itu, tapi itu tak mungkin lagi. Apalagi ia harus menebus segala kesalahannya setelah ini.
"Kau mau kemana setelah ini?" tanya Ryan sambil menatap wajah sembab Erin.
"Aku ... aku akan segera ke kantor polisi untuk menyerahkan diri," ucapnya dengan suara bergetar. "Ryan ... selamat tinggal." Setelah mengucapkan itu, Erin segera berlari ke dalam mobilnya. Lalu ia pun segera berlalu dari sana. Rio yang melihat kepergian ibunya pun berlari mengejar.
"Mama ... Mama ... jangan pelgi, Ma. Jangan tinggalin Lio, Ma. Mama ... Mama ... "
"Rio, berhenti, Nak. Jangan lari-lari, nanti jatuh!"
"Mama, Pa, Mama pelgi. Lio mau Mama. Mamaaaa ... "
Bukh ...
"Rio," pekik Ryan panik saat melihat Rio terjatuh. "Rio nggak papa?"
"Papa, Mama pelgi, Pa. Lio ... Lio mau Mama. Lio mau ikut Mama."
Kedua ayah dan anak itu akhirnya saling berpelukan. Keduanya menangis. Entah mengapa, perpisahan ini terasa amat sangat menyakitkan bagi keduanya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...