Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
81


__ADS_3

Sementara Abidzar dan Freya sedang terlelap karena kelelahan habis bertempur habis-habisan, di lantai bawah Sagita menatap Erin dengan benci. Tak ada lagi tatapan penuh kasih sayang, semua telah rusak akibat perbuatan Erin sendiri.


Melihat Erin yang meringis memegang pipi tanpa rasa malu karena tubuhnya hanya mengenakan g-string saja, Sagita pun berdecak. Tirta yang masih berada di sana memilih beranjak ke pintu masuk dan berdiri di sana menghadap ke pekarangan rumah. Tirta memang bukanlah orang yang suci, bukan orang alim dan taat beribadah, tapi ia juga bukan laki-laki mesyum yang suka memandang sesuatu yang bukan haknya.


"Dasar perempuan tak tahu malu," decak Sagita kesal. Lalu matanya mengedar ke sekeliling. Saat menemukan apa yang ia cari, Sagita pun segera beranjak. Ia mengambil taplak meja yang cukup besar lalu dengan kasar ia menutup tubuh Erin.


"Tutup tubuh kotormu itu. Aku tak menyangka pernah memiliki menantu tak tahu malu sepertimu," cibir Sagita.


Erin dengan kesal menyentak kain tersebut dan membalut tubuhnya dengan gerakan kasar. Tampak sekali ia sedang kesal. Andai saja Sagita, Freya, dan Tirta tak datang, pasti rencananya akan berjalan mulus bahkan lebih mulus dari jalan tol yang baru dicor.


"Mama jangan sembarangan menghinaku. Aku bukan perempuan kotor." Erin masih saja berani menyangkal kata-kata Sagita.


"Heh, kalau kau bukan wanita kotor, kau pasti takkan memiliki anak di luar nikah dan menyembunyikannya. Kalaupun telah terlanjur, kau pasti akan tetap mengakuinya sebab kehadiran seorang anak itu karena perbuatan orang tuanya. Dan kalau kau bukan perempuan kotor, kau takkan menjalin hubungan gelap dengan laki-laki lain setelah bersuami, tapi apa yang kau lakukan, hah? Kau justru masih menjalin hubungan dengan kekasihmu. Bukan hanya itu, kau pun masih rutin melakukan hubungan terlarang dengannya. Sungguh, aku benar-benar menyesal telah menjodohkanmu dengan putraku." Sentak Sagita kesal karena Erin masih saja menyangkal kata-katanya.


"Mama sama Mas Abi sama saja, sukanya menuduhku tanpa bukti," sinis Erin.


"Kau pikir kami akan bertindak tanpa bukti? Kami pun tidak akan sebodoh itu langsung saja mempercayai saat ada informasi yang belum terbukti kebenarannya. Kau pikir saja sendiri, kenapa kami bisa sangat meyakini perbuatan burukmu itu."


Tiba-tiba Erin mendekati Sagita dan duduk bersimpuh di bawah kaki Sagita. Meskipun enggan, tapi ia terpaksa melakukannya demi meraih simpati Sagita sebab ia tahu mertuanya itu sangatlah baik. Bila ia meminta dengan sungguh-sungguh, ia yakin, Sagita pasti akan membantunya agar kembali dengan Abidzar.


"Ma, aku tahu aku banyak salah dengan Mas Abi dan juga Mama, aku mohon Ma, Maafkan aku. Bantu aku Ma bujuk Mas Abi agar tidak menceraikan aku. Aku mohon, Ma. Aku tak ingin berpisah dengan Mas Abi, Ma. Aku mencintaimu, Ma. Aku mohon Ma, bantu aku." Melas Erin sambil terisak pilu. Tapi Sagita tidak peduli. Baginya, perbuatan Erin sudah sungguh sangat keterlaluan dan termaafkan lagi.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa. Perbuatanmu sudah sangat keterlaluan kau tahu itu. Kau pernah menjadi menantu yang paling ku sayangi. Ku berikan apapun untukmu, ku lakukan apapun sebagai bukti rasa sayangku padamu, tapi ternyata ini balasan mu. Aku sungguh sangat kecewa. Lebih baik kau lepaskan Abi. Dia pun berhak hidup bahagia dengan orang yang benar-benar dicintainya dan tulus mencintainya," tutur Sagita bijak.


Namun bukannya menerima, Erin justru emosi dan berteriak seperti orang gila.


"Enak aja. Nggak, pokoknya aku nggak mau dicerai. Ingat, karena akulah dia bisa menikahi Freya, lalu kini dia ingin menceraikan aku dan membuangku begitu saja setelah mendapatkan yang ia mau, sialan. Dengar ini, kalau aku sampai dicerai, siap-siap saja, aku akan menuntut balas." Hilang sudah kesabaran Erin. Sifat aslinya keluar membuat Sagita geleng-geleng tak percaya kalau perempuan itu pernah menjadi menantunya.


"Erin, seharusnya kau berpikir, semua takkan jadi begini kalau kau tak menipu kami mentah-mentah. Kau pikir kami akan terima begitu saja setelah penipuan yang kalian lakukan. Tidak anak tidak orang tua, semuanya sama-sama penipu. Silahkan lakukan apa yang kau mau, tapi siap-siap saja, kau akan segera menyusul ayahmu mendekam di dalam penjara." sentak Sagita yang kini kembali emosi saat mendengar kata-kata Erin yang berapi-api.


Mendengar kalimat 'kau akan segera menyusul ayahmu mendekam di dalam penjara ', sontak saja membuat Erin mengerutkan kening. Semenjak pemaksaan pernikahan, memang Erin tidak begitu dekat lagi dengan kedua orang tuanya. Kemarin lalu saat Erin ke rumah orang tuanya, memang ia tak menemukan orang satupun di sana. Erin pikir kedua orang tuanya sedang pergi berlibur karena itu tak dapat ia hubungi satupun.


"Apa maksud Mama?"


Setelah itu, Sagita melengos. Ia berjalan menuju sofa ruang tamu. Ia akan menunggu putra dan menantunya di sana. Sebenarnya ia mencemaskan keadaan Freya, tapi tak mungkin ia menerobos masuk ke kamar suami istri tersebut. Menit demi menit terus berganti, Sagita tak dapat membendung kegelisahannya.


Sedangkan Erin, ia tergugu dengan hati mendendam. Ia tak terima dengan perlakuan Abidzar dan ibunya.


'Kalau mereka pikir aku akan diam saja dan pasrah menerima keadaan, maka jawabannya adalah tidak. Aku hancur, maka kalian pun akan hancur. Takkan aku biarkan kalian berbahagia di atas penderitaanku. Tunggu saja pembalasanku.' desis Erin namun hanya bisa ia suarakan dalam hati.


Dengan hati yang bergemuruh akan kebencian, ia pun beranjak dari sana hendak masuk ke kamar. Tapi saat berada di depan pintu, Erin mengumpat, ternyata kamarnya terkunci dari dalam.


"Sialan, mereka melakukannya di kamarku. Dasar brengsek kalian semua. Heh, keluar kau dari kamarku sialan," pekik Erin sambil menggedor-gedor pintu kamarnya, tapi jangankan dibuka, disahuti pun tidak.

__ADS_1


Dukkkk ... dukkk ... dukkk ...


Erin terus memukuli pintu kamarnya dengan kasar. Ia tak terima dengan perbuatan mereka semua. Ia pun begitu marah karena rencananya bukan hanya gagal total, tapi ia juga berakhir diceraikan.


"Aaaarghhh ... Kurang ajar kalian semua. Lihat saja, aku pasti akan menuntut balas pada kalian semua. Takkan aku biarkan kalian berbahagia di atas kehancuranku," desisnya dengan mata memerah penuh kebencian.


Karena tak mendapatkan respon sama sekali, Erin pun menyingkir masuk ke kamar tamu di sebelahnya.


Di bawah, setelah melihat Erin pergi, bi Asih dan Ana mendekati Sagita dengan tergopoh-gopoh. Lalu bi Asih segera menawarkan air minum untuk Sagita dan Tirta yang telah duduk di ruang tamu. Sedangkan Ana membantu Mina membereskan kekacauan.


Satu jam kemudian, Abidzar menggeliatkan badannya. Namun saat ingin membuka mata, kepalanya mendadak pusing. Jadi ia memijit celah di antara kedua matanya untuk mengurangi pusing yang mendera. Setelah beberapa saat, Abidzar pun mengerjapkan mata. Ia sontak terkejut dan langsung terduduk saat menyadari dirinya berada di kamarnya. Dengan perasaan was-was, Abidzar menoleh ke arah samping dan ia pun bernafas dengan lega saat mendapati Freya lah yang tidur di sampingnya, bukan Erin.


Abidzar mengulas senyum. Tapi saat melihat bibir pucat Freya, Abidzar sontak khawatir. Keadaan Freya yang masih polos membuatnya bisa melihat jelas jejak-jejak yang ia tinggalkan tadi. Begitu banyak dan warnanya pun kebiruan. Abidzar menelan ludah, 'apakah aku telah memperlakukan Freya dengan sangat kasar tadi?'


Abidzar mendadak cemas. Lalu ia mencoba membangunkan Freya, namun perempuan hamil itu tak kunjung bangun membuat jantung Abidzar berdetak begitu kencang seiring rasa cemas yang kian menjadi.


"Freya ... Freya sayang, bangun sayang," Abidzar membangunkan Freya dengan lembut sambil menggerakkan sedikit pundaknya, namun Freya tak merespon sama sekali. Hingga tiba-tiba netranya menangkap bercak-bercak percintaan yang bercampur cairan kemerahan yang kini telah berubah menghitam membuat jantung Abidzar mencelos. Rasa khawatir menyeruak membuat kinerja jantungnya berkali-kali lipat lebih cepat.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2