
"Pak Ryan, ada orang yang nyariin bapak di lobby." Ujar salah seorang OB yang diutus resepsionis untuk menyampaikan pesan kalau ada seseorang yang mencarinya.
Dahi Ryan sontak saja berkerut. Ia tak pernah dicari seseorang selama ini jadi wajar saja ia merasa bingung sekaligus heran.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Ryan penasaran.
"Laki-laki, pak." Makin heranlah Ryan. Apalagi yang menemuinya ini seorang laki-laki. Dia tidak memiliki teman yang seakrab itu untuk mencarinya sampai ke tempat kerja seperti ini. Namun ia memutuskan untuk melihat siapa orang itu. Daripada penasaran pikirnya. Lagipula siapa tahu ini penting.
"Ya sudah, sebentar lagi saya turun. Terima kasih ya." Ujar Ryan ramah.
"Sama-sama, pak. Kalau begitu, saya permisi." Ujar OB tersebut seraya mengangguk singkat sebagai sopan santun.
Ryan pun balas mengangguk seraya tersenyum.
Setelahnya, Ryan lantas menutup layar laptopnya setelah memastikan pekerjaannya aman. Barulah ia beranjak menuju ke lobby untuk melihat siapa orang yang mencarinya itu.
"Ka, tadi ada OB bilang ada yang nyariin gue, siapa?" tanya Ryan pada staf resepsionis. Karena mereka sebagai sesama karyawan telah cukup akrab jadi mereka biasa menggunakan panggilan santai loe-gue.
Gadis bernama Rika itu pun mengangguk, kemudian menunjuk dengan dagunya ke arah seorang laki-laki tampan berpenampilan rapi yang sedang duduk di kursi tunggu lobby sambil memainkan handphonenya.
Dahi Ryan kembali berkerut dalam saat melihat sosok yang tidak dikenalnya itu. Tapi mengingat laki-laki itu sampai menemuinya di sini dapat ia pastikan ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
"Thanks, Ka." Ucap Ryan ramah yang dibalas Rika dengan acungan jari jempol.
Ryan pun gegas mendekati laki-laki yang di saat bersamaan mengangkat wajahnya dan menatap Ryan lekat.
"Maaf, apa benar Anda mencari saya?" tanya Ryan pada laki-laki tersebut.
__ADS_1
Laki-laki tersebut pun berdiri dan mengangguk. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Kenalin, gue Tirta. Boleh bicara sebentar aja." Ujar laki-laki yang ternyata Tirta tersebut.
Ryan mengangguk, "mau bicara dimana? Ini masih jam kerja jadi saya tidak bisa lama-lama."
"No problem. Saya cuma sebentar kok. Cuma mau nyampein pesan seseorang aja."
"Oh ya udah, kalau gitu duduk di sini aja, nggak papa?"
Tirta pun mengangguk. Kemudian mereka pun duduk dengan bersisian.
"Jadi, ada perlu apa Anda mencari saya?" tembak Ryan to the point.
"Begini, gue ... eh kalau kita bicaranya santai aja pakai loe-gue nggak papa kan? Terlalu formil kalau pake Saya-Anda gitu. Udah kayak ketemu klien aja." Ujar Tirta seraya terkekeh. Tirta memang orangnya terlalu humble. Ia paling tak suka suasana terlalu formal. Bikin canggung dan kaku suasana aja pikirnya.
"Nggak papa, silahkan aja." Ryan pun mempersilahkan.
"Okey, gini, gue ini sebenarnya tangan kanan sekaligus sepupunya Abidzar. Gue yakin, loe pasti pernah denger nama Abidzar 'kan!"
Ryan sontak membelalakkan matanya. Pikirannya tiba-tiba kalut. Ia memang kerap mendengar nama tersebut dari mantan kekasihnya, tapi apakah Abidzar yang dimaksud laki-laki ini adalah orang yang sama dengan yang ada dalam pikirannya?
"A-Abidzar suami dari ... Erin, apakah benar?" tanyanya gugup.
Tirta pun mengangguk tanpa ragu. Makin mencelos lah hati Ryan. Bahkan tangannya pun telah berkeringat dingin. Bagaimana kalau laki-laki ini diutus untuk memberikannya pelajaran karena sempat masih menjalin hubungan dengan Erin padahal saat itu ia tahu Erin telah menikah. Bahkan mereka pernah melakukan hubungan terlarang itu beberapa kali selama hampir 3 tahun ini.
Sebenarnya Ryan pun merasa bersalah. Ada perasaan menyesal telah melakukan dosa besar itu. Tapi dia laki-laki normal. Laki-laki manapun yang pernah merasakan nikmatnya se ks pasti takkan mudah untuk meninggalkan kebiasaan itu begitu saja. Se ks itu ibarat zat adiktif yang mampu membuat seseorang kecanduan.
__ADS_1
Mungkin kalau ia melakukannya dengan perempuan lajang, kesalahannya masih bisa ditolerir. Tapi yang menjadi sumber penyesalannya adalah perempuan itu telah memiliki seorang suami. Ryan pun tahu betapa baik Abidzar pada Erin selama ini. Meskipun Erin mengatakan tidak bisa memberikannya seorang anak, tapi Abidzar tetap bersikap lembut dan tidak pernah menuntut. Hingga tercetuslah rencana Erin untuk menggunakan rahim pengganti dengan alasan Erin hanya ingin mengandung buah hati darinya saja.
Saat itu, Ryan masih memaklumi jalan pikiran Erin. Mungkin karena ia terlalu bucin jadi ia masih saja mendukung ide gila Erin. Ia pun merasa bahagia lantaran Erin hanya mau mengandung buah hati darinya saja. Tapi saat mengingat usia Rio yang kian besar dan harus sekolah, sedangkan persyaratan untuk sekolah saat ini harus memiliki syarat administrasi yang lengkap seperti akta kelahiran dan kartu keluarga, Ryan pun mulai bisa berpikir logis.
Rasa bersalah kian menggerogoti pikirannya. Perasaan bersalah dengan Abidzar. Pun perasaan bersalah dengan Rio. Mereka yang menghadirkannya ke dunia, tapi mereka juga yang membuatnya bagai anak yang tak diinginkan. Seiring rasa bersalah itu, ia pun akhirnya menerima permintaan ibunya yang sejak lama berniat menjodohkan dirinya dengan anak-anak temannya.
Bila sebelumnya Ryan menolak, namun saat ini tidak lagi. Ia mulai mau menerima. Apalagi perempuan yang akan dijodohkan itu pandai mengambil hati putranya. Meskipun awalnya Ryan terkejut sebab perempuan itu merupakan sahabat Erin, tapi ya sudahlah pikirnya. Meylin juga saat ia tanyai bagaimana bila Erin marah saat mengetahui perihal perjodohan mereka dan jawabannya tidak perlu dipikirkan. Sudah saatnya Ryan dan Rio bahagia. Lagipula mau sampai kapan ia menunggu Erin yang tidak pernah bisa memberikan kepastian.
Akhirnya, Ryan pun setuju. Apalagi setelah mendengar pengakuan cinta dari Meylin yang sudah sejak lama memendam perasaan padanya. Ryan pun berpikir, tak ada salahnya mencoba. Benar kata Meylin, mau sampai kapan ia menunggu Erin yang tak pernah bisa memberikan kepastian. Kini sudah saatnya ia membuka lembaran baru dengan Meylin. Semoga saja Meylin bisa menjadi ibu yang baik untuk putranya. Hanya itu yang saat ini ia pikirkan. Mengenai perasaannya, ia yakin, rasa cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan mereka.
"Ya, loe bener banget. Nah, gue ke sini atas permintaannya untuk menyampaikan kalau dia mau bicara penting sama loe. Gimana? Loe bisa 'kan?"
Mendadak jantung Ryan berdegup makin kencang. Ada rasa takut di benaknya saat mengetahui suami dari mantan kekasihnya itu ingin bertemu dengannya.
"Ma-maaf, mau bicara apa ya?" tanyanya gugup membuat Tirta terkekeh melihatnya.
"Nggak usah gugup gitu. Nggak perlu gue jelasin, pasti loe paham 'kan dia mau bicarain apa? Gue emang nanya, loe bisa atau nggak, tapi kenyataannya, gue agak maksa sih. Gue harap, loe mau ketemu sama sepupu gue. Nggak perlu takut. Dia nggak gigit kok. Paling ya ... minimal buat loe masuk ke rumah sakit. Jadi nggak usah terlalu khawatir, nggak akan sampai masuk kuburan kok." Seloroh Tirta membuat Ryan makin panas dingin. Berbeda dengan Tirta, dalam hati ia tergelak kencang. Setengah mati ia menahan kedutan di sudut bibirnya agar tawanya tak meledak.
Melihat wajah pucat Ryan, Tirta pun berdiri.
"Kami tunggu di cafe Starla malam ini jam 8. Jangan nggak datang! Loe akan tau akibatnya kalau coba-coba mangkir." Tegas Tirta sambil merapikan jas yang ia kenakan. Setelahnya, ia pun melenggang pergi meninggalkan Ryan yang sudah tremor.
Setelah masuk ke dalam mobil, Tirta pun melepaskan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Astaga, dia kok lucu banget sih! Baru digertak gitu aja udah pucet kayak perempuan abis lahiran, apalagi beneran di smack down, bisa-bisa langsung kejang-kejang terus innalilahi." gumam Tirta di sela-sela tawanya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...