Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Masalah demi masalah


__ADS_3

"Eungh ... " Erin melenguh dengan mata yang masih terpejam. Merasakan kehangatan mendekapnya erat, Erin pun makin mengeratkan dekapannya. Membalas dekapan itu tak kalah erat. Disandarkannya kepalanya di dada bidang yang hangat itu tanpa berpikir panjang siapa yang tengah mendekapnya saat ini.


Saat telapak tangan kasar itu mulai menyusuri lekuk tubuhnya dan menjamah bagian-bagian sensitifnya barulah kesadaran Erin mulai kembali. Tanpa membuka matanya, ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Saat itu ia sedang berjoget ria bersama Lisa. Lalu ...


Erin tersentak. Matanya seketika terbuka dan terbelalak saat ia telah berada di bawah kungkungan seorang lelaki yang tidak ia ketahui siapa.


"Kau ... Kau siapa, brengsekkk!" Pekik Erin murka. Matanya seketika terbelalak saat melihat ternyata tubuhnya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Bukan hanya itu, ia melihat sekujur tubuhnya telah dihiasi bercak-bercak merah yang ia sangat pahami apa itu.


Erin yang murka mencoba memberontak, tapi laki-laki itu justru menahan kedua tangan Erin membuat perempuan itu tak berdaya karena perbedaan kekuatan.


"Tak perlu marah-marah baby, nikmati saja permainanku. Sama seperti malam tadi, kau sungguh luar biasa." Puji laki-laki itu sambil menyeringai.


"Apa maksudmu? Lepaskan aku brengsekk! Dasar bajingaaan. Apa.l yang telah kau lakukan padaku, hah?" Teriak Erin lagi.


"Ssst ... tak perlu buang-buang tenaga, baby. Lebih baik kita bersenang-senang. Bagaimana, hm?"


"Najis. Cuuih ... "


Plakkk ...


Laki-laki itu menampar Erin karena Erin telah meludah tepat di wajahnya.


"Kau sepertinya lebih suka aku perlakuan seperti jalaaang." Desis laki-laki itu kesal. Lalu tanpa aba-aba ia menghujam Erin membuat mata perempuan itu melotot marah.


"Lepaskan aku sialan! Aku bukan jalaaang." Pekik Erin lalu laki-laki itupun berhenti sambil menyeringai.


"Oke, aku akan berhenti, tapi dengan syarat ... "


"Tak usah banyak bicara bajingaan. Cepat pergi."

__ADS_1


Kesal dengan Erin yang terus membentaknya, laki-laki itu lantas mencengkeram rahang Erin dengan keras.


"Sepertinya kau lebih suka dengan cara kasar. Baiklah."


Laki-laki itu mengambil ponsel dan memutar video yang terdapat di dalamnya. Mata Erin seketika membulat dengan jantung yang nyaris lepas dari tempatnya.


"Kau ... " Desis Erin dengan rahang mengeras. "Hapus rekaman itu brengsekk!" Jerit Erin benar-benar marah. Bagaimana tidak, laki-laki itu ternyata merekam permainan panas mereka semalam. Yang membuat jantungnya mencelos, dia sudah seperti seorang jalaang. Perempuan binal. Bagaimana bisa ia melakukan hal-hal yang diluar kendali seperti itu.


Bukannya menuruti perintah Erin, laki-laki itu justru tertawa terbahak-bahak.


"Oke, aku akan menghapusnya. Tapi ... " Laki-laki itu menyeringai. "Tapi setelah kau puaskan aku dan transfer senilai 250 juta, bagaimana? Deal?"


"Jangan harap aku mau melakukannya, brengsekk!" Erin pun berusaha ingin merebut ponsel itu dari tangan laki-laki itu. Tak peduli tubuhnya dalam keadaan polos dan dapat dilihat jelas oleh laki-laki itu, yang penting baginya merebut ponsel itu dan menghancurkannya. Namun laki-laki itu cukup gesit. Belum lagi perbedaan tinggi yang begitu mencolok membuatnya kesulitan merebut ponsel itu.


"Turuti kata-kataku atau ku sebarkan video ini di semua media sosial. Silahkan kau pilih, memberiku uang dan kepuasan atau ... " Seringai iblis terbit di bibir laki-laki itu. Erin mematung dengan pikiran yang rumit. Tidak mungkin ia membiarkan laki-laki itu menyebarkan video itu. Bisa hancur harga dirinya bila hal itu benar-benar laki-laki itu lakukan. Akhirnya dengan terpaksa Erin pun menuruti permintaan laki-laki itu. Setelah ia puas dan mendapatkan uangnya, laki-laki itu lantas menghapus video itu yang entah dihapus secara permanen atau hanya untuk sekedar mengelabui saja.


Hal serupa pun Lisa alami. Dia menangis sejadi-jadinya setelah melakukan hal terlarang tersebut dengan laki-laki tak dikenalnya itu. Namun ia pun sama seperti Erin, lebih memilih aman dibandingkan menanggung malu karena videonya tersebar dan viral di berbagai media.


Saat sedang menyendiri, tiba-tiba Lisa menghubunginya.


"Ada apa Sa?"


"Rin, bisa temenin gue cari kado buat mama mertua gue nggak? Hari ini mama mertua gue ulang tahun." Ujar Lisa di panggilan telepon.


"Loe mau cari kado dimana?"


"Angkasa Mall aja. Gue juga bingung mau beli apa."


"Ya udah, kita ketemuan di sana aja." Setelah mengatakan itu, Erin pun menutup panggilan.

__ADS_1


Satu Jam kemudian, Erin dan Lisa pun tiba di Angkasa Mall. Erin menyarankan Lisa untuk melihat tas branded di tempat langganan mereka. Sebab setahunya, bulan ini memang ada tas keluaran terbaru. Lisa pun menurut. Mereka pun masuk ke gerai tas branded tersebut. Saat sedang memilih-milih, tiba-tiba Erin seperti melihat suami Lisa sedang naik ke eskalator dengan menggandeng seorang perempuan. Ia pun segera memberitahu Lisa.


"Sa, bukannya itu Mas Edwin ya?" Tunjuk Erin ke arah eskalator. Meskipun jaraknya cukup jauh, wajah Edwin masih terlihat jelas, tapi tidak dengan perempuan di sebelahnya sebab perempuan tersebut tengah dirangkul Edwin membuat wajahnya terhalangi.


"Benar. Kurang ajar. Mas Edwin bilang dia ada dinas di luar kota, ternyata dia sedang bersama selingkuhannya." Desis Lisa dengan wajah merah padam menahan gejolak amarah di dadanya.


Tak ingin kehilangan jejak, suami dan selingkuhannya, Lisa pun dengan cepat berusaha mengejar diikuti Erin di belakangnya. Karena terlalu fokus mengejar suami dan selingkuhannya, Lisa sampai melupakan tujuannya datang ke mall tersebut. Hingga saat jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi, Lisa pun dengan cepat menarik rambut perempuan itu membuatnya reflek mundur ke belakang dan nyaris jatuh bila tidak ditahan oleh Edwin.


"Aaargh ... Mas ... aduh, Mas ... " Teriak perempuan itu membuat mata Edwin seketika terbelalak.


"Lisa, lepaskan tanganmu!" Sentak Edwin kasar membuat tangan Lisa pun terlepas dari rambut perempuan itu.


"Mas, kau lebih membela jalaang sialan i- ... Rana ... Kau ... " Pekik Lisa terbelalak saat tak menyangka ternyata perempuan yang sedang bersama suaminya saat ini adalah Rana, sahabatnya sendiri.


Bukan hanya Lisa yang syok, tapi juga Erin.


"Rana ... Apa jangan-jangan suami yang kau bilang itu adalah ... "


"Ya, aku suami Rana, kenapa? Kau tidak terima?" Desis Edwin sambil menarik lengan Rana agar berdiri di belakangnya.


"Rana, apa benar begitu?" cecar Erin yang masih tak percaya.


"Ran, ini bohong kan? Jangan bilang ini ... "


"Mas Edwin benar, Sa. Aku ... istri Mas Edwin dan aku ... sedang hamil anak pertamanya." Aku Rana akhirnya.


Terang saja, jantung Lisa bagai dihantam palu godam. Sakitnya hingga ke relung jiwanya. Bagaimana tidak, sahabat yang ia percaya ternyata telah menikamnya sedemikian sakitnya. Dunia Lisa seketika runtuh. Lisa benar-benar sakit hingga akhirnya ia pun kehilangan kesadaran akibat terlalu syok dengan fakta tak terduga ini.


"Lisa ... " Pekik Erin cemas saat tubuh Lisa tiba-tiba luruh ke lantai.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2