Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
126 S2


__ADS_3

"Maaf ya nak, papa belum bisa membawa Mama pulang. Papa juga belum bisa mempertemukan kalian berdua sebab ... "


"Papa jahat. Papa bilang mau bawa mama pulang, tapi mana? Mama nggak ada. Papa bohong. Papa pembohong," teriak Rio.


Tiba-tiba Rio menangis histeris. Sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sontak saja Ryan dan ibunya panik. Bahkan selang infus pun sampai tercabut membuat pergelangan tangan Rio berdarah.


"Nak, Rio, tenang sayang, dengarkan papa dulu. Papa ada sesuatu untuk kamu. Kamu tenang dulu ya!" Ryan pun berusaha menenangkan Rio. Tapi Rio sudah keburu tantrum membuatnya sulit dikendalikan.


"Nggak mau, Rio nggak mau apa-apa. Rio cuma mau Mama. Rio mau mama. Mamaaaa ... Rio mau ketemu mama, Ma. Mama, Mama dimana? Rio mau mama. Rio mau ketemu, Mama. Rio kangen Mama. Pa, Rio mau mama. Kenapa Mama pergi Ma? Kenapa Mama tinggalin Rio, Pa? Rio mau mama, Pa. Rio mau ketemu mama. Huaaaa ... "


Ryan tak dapat membendung air matanya. Melihat kerapuhan anaknya membuatnya menjadi sosok lelaki yang cengeng. Hati ayah mana yang tak hancur melihat putranya meraung karena merindukan sosok sang ibu. Apalagi sosok anak itu ia besarkan dengan tangannya sendiri jadi ia bisa merasakan betapa besar kesedihan dan kerinduan sang putra pada ibunya. Kerinduan yang sebenarnya ia pun merasakannya.


"Mama memang nggak bisa datang ke mari, Sayang. Tapi mama kirim sesuatu."


Rio yang berada dalam dekapan Ryan lantas mengurai pelukannya dan menatap balik sang ayah.


"Apa itu papa?" tahta Rio penasaran.


"Sini deh! Mama tadi kirim video mama untuk Rio sebagai permintaan maaf mama yang belum bisa pulang."


Ryan berujar sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Kemudian ia memutar sebuah video yang direkamnya saat berada di lapas.


Ya, sebelum pulang, Ryan memang meminta Erin membuat video untuk Rio. Agar tampak meyakinkan, Ryan bahkan membawakan baju ganti dan perlengkapan make up agar saat di video, Erin terlihat seperti sedang sibuk dan tampak baik-baik saja. Ia tak ingin membuat anaknya khawatir. Dan benar saja, setelah melihat video Erin, wajah Rio kembali cerah bersinar. Ia seakan mendapatkan suntikan energi dengan hanya menonton video Erin yang menyapanya.


"Halo Rio sayang, putranya mama! Kata papa Rio sakit ya? Duh, maafin mama ya yang nggak bisa jagain Rio saat sedang sakit gini. Mama sedang ada pekerjaan yang jauuuuh sekali. Maafin mama ya, Sayang. Rio mau kan maafin mama? Maafin Mama, untuk sementara mama nggak bisa pulang. Tapi Mama janji, kalau urusan mama sudah selesai, mama pasti akan pulang. Dan saat itu, mama janji nggak akan pergi-pergi lagi. Mama akan selalu jaga Rio. Tapi Rio janji dulu, Rio harus nurut apa kata papa. Oke Sayang? Udah dulu ya, Sayang. Mama masih banyak kerjaan. Sampai jumpa, Sayang. Jaga kesehatan, rajin belajar, dan jadi anak penurut. Love you, Rio sayang. Mama sayang Rio. Selalu," ucap Erin dalam video tersebut. Sekuat tenaga ia menahan desakan air mata yang telah mengumpul di pelupuk matanya. Ia menahannya agar putranya tak ikut bersedih melihat dirinya. Ia harap dengan video ini, Rio bisa mengobati kerinduannya. Pasal yang Erin langgar berlapis, jadi ia akan berada di penjara dalam waktu yang tidak sebentar. Ia harap, putranya baik-baik saja selama berpisah dengannya. Ia harap, putranya tidak melupakannya. Dalam hati Erin berjanji, sekeluarnya dari dalam penjara, ia akan menebus waktu mereka yang hilang selama ini akibat keegoisannya.


Setelah melihat video tersebut, benar saja, Rio kembali bersemangat. Padahal bisa dibilang, waktu yang Erin habiskan bersama putranya sangatlah minim. Hal itulah yang disesali Erin selama di penjara. Tapi ternyata, Rio tak pernah melupakannya. Bahkan ia masih sangat menyayanginya.


Semua tentu saja berkat Ryan. Ryan tak pernah bosan menceritakan apa saja tentang Erin pada putranya. Ia juga meminta putranya memahami kalau ibunya memang tidak bisa selalu bersamanya. Rio, si kecil itu ternyata tumbuh menjadi anak yang pengertian. Ajaran Ryan ternyata begitu melekat di otaknya sehingga semenjak itu ia pun tak pernah menuntut bertemu dengan ibunya lagi.


...***...


"Rio jangan nakal ya, Nak. Jangan buat susah nenek. Papa kerja dulu. Jangan lupa tidur siang juga," ujar Ryan melalui sambungan video call.


"Iyes, papa. Papa juga makan yang banyak biar gemuk kayak papa Ari ya!" Terdengar tawa renyah dari sang ibu dari seberang telepon.


Ya, semenjak masalah menghantamnya bertubi-tubi, Ryan jadi kehilangan selera makannya. Hal itu tentu saja membuat tubuhnya jadi lebih kurus. Sang ibu sering menasihati Ryan, tapi Ryan seolah kehilangan semangat hidupnya. Ia hanya balas tersenyum setiap kali ibunya menasihatinya.


"Oh no, papa nggak mau. Nanti Papa nggak bisa main bola sama Rio lagi. Entar Rio salah tendang gimana? Rio kira nendang bola, taunya nendang perut papa."


Rio tergelak kencang, "tapi kan lucu, Pa."


"Nggak, nggak, nggak. Pokoknya papa nggak mau. Entar papa kayak sapi." Rio tak henti-hentinya tertawa. Jelas saja hal tersebut lantas menular pada Ryan yang ikut bahagia melihat putranya kembali ceria. Setelah berbincang sejenak, panggilan video pun ditutup.


Saat ini sedang jam istirahat makan siang karena itu Ryan bisa mengangkat panggilan video dari putranya tersebut.


"Hai," sapa salah seorang rekan kerja Ryan.


"Eh, Zoya." Ryan mengulas senyum saat melihat rekam kerjanya itu mampir ke mejanya.


"Boleh duduk di sini? Meja yang lain sudah penuh," ujar Zoya sambil menatap ke sekeliling.


Ryan pun ikut menatap ke sekeliling, kemudian mengangguk saat menyadari memang semua meja telah terisi.


"Nggak ganggu kan?"


"Nggak kok. Silahkan duduk! Ini tempat umum jadi siapapun bebas duduk di sini."


"Thanks," ujar Zoya sambil mengulas senyum.

__ADS_1


Zoya lantas segera duduk setelah meletakkan nampan berisi makan siangnya.


"Kamu juga baru makan?" tanya Zoya saat melihat piring Ryan baru berkurang sedikit.


Ryan terkekeh, "biasa, tadi anakku telepon."


"Kau memang ayah yang hebat."


"Ah, tidak juga. Masih banyak ayah-ayah yang lebih hebat dariku."


"Ya, itu benar. Tapi di mataku, kau benar-benar ayah yang hebat. Meskipun harus membesarkan anakmu seorang diri, tapi kau selalu mengusahakan yang terbaik untuknya. Tidak semua ayah seperti itu." Ryan hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Anakmu benar-benar beruntung memiliki ayah seperti dirimu," puji Zoya.


"Putrimu pun juga beruntung memiliki ibu seperti dirimu. Bertahun-tahun menjadi single parent, hal itu tentu tak mudah."


Zoya pun balas tersenyum, "yah, kalau bukan aku yang berjuang, siapa lagi? Kami tidak memiliki siapa-siapa lagi. Keluarga mendiang suamiku benar-benar lepas tangan. Bahkan setelah 2 tahun kepergian mendiang suamiku, mereka masih saja tak mau menganggap kami. Bukannya menerima, mereka malah makin membenci dan menganggapku pembawa sial. Mereka menganggap akulah yang menyebabkan mendiang suamiku meninggal. Padahal kalau mereka berpikir, mana mungkin aku mau hal itu terjadi. Siapa yang mau menjadi janda di usia muda? Tidak ada. Aku sebenarnya tak peduli, tapi melihat putriku, aku harap mereka mau menerimanya. Apalagi aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku benar-benar sebatang kara. Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu padaku, bagaimana dengan nasib anakku? Tapi mereka tak peduli. Kebencian mereka terlalu besar sampai-sampai mereka lupa kalau putriku merupakan darah daging mereka sendiri." Zoya tersenyum miris dengan nasibnya yang menikah tanpa restu. Padahal kejadian itu telah terjadi sekian tahun yang lalu, tapi keluarga mendiang suaminya masih saja belum bisa menerima dirinya maupun anaknya.


Ryan terdiam. Inilah sebabnya ia tak mau menyalahkan takdir sebab ia tahu, di luar sana masih banyak orang-orang yang hidupnya lebih menyedihkan daripada dirinya.


"Kenapa kau tidak mencoba mencari sosok ayah baru untuk anakmu? Yang bisa menjadi pelindung dan penjaga kalian?" tahta Ryan yang dijawab gelengan oleh Zoya.


"Tidak. Aku tidak berani melakukan itu. Rasa takutku terlalu besar. Aku takut bila menikah lagi, orang tersebut ternyata tak mau menerima anakku. Aku juga takut, orang tersebut tidak bisa menyayangi anakku seperti mendiang ayahnya dahulu. Daripada ujung-ujungnya anakku menderita, lebih baik aku tetap sendiri seperti ini. Itu lebih baik, bukan."


"Yah, kau benar. Banyak orang yang awalnya saja bersikap baik pada anak kita, tapi setelah menikah, mereka tiba-tiba menunjukkan perangai aslinya. Aku pun tak ingin anakku terluka."


"Jam makan siang sudah hampir habis, yuk kita kembali. Sebelum big bos berceramah panjang kali lebar lagi," Ujar Zoya membuat Ryan tertawa.


...***...


"Assalamu'alaikum," ucap Ryan saat pulang ke rumah.


"Wa'alaikumussalam," jawab ibu Ryan.


"Itu, lagi makan kue di belakang."


Ryan pun segera meletakkan tasnya. Kemudian ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. Setelahnya baru ia menyusul sang putra.


"Rio," panggil Ryan membuat anak laki-laki itupun menoleh.


"Papa," seru Rio dengan wajah dipenuhi coklat. Ryan membulatkan matanya kemudian terkekeh.


"Kok mukanya cemong-cemong gini sih?"


"Rio lagi makan kue coklat, Papa."


"Dikasih nenek?"


Rio menggeleng, "dikasih onty Dewi, Papa."


"Onty Dewi? Siapa itu?" tanya Ryan yang memang tidak mengenal sosok yang disebutkan sang putra.


"Itu lho, tetangga baru yang tinggal di rumah depan. Tadi dia anterin kue sebagai salam perkenalan."


"Oh."


"Orangnya cantik lho."


"Terus?"


"Siapa tau kamu mau kenalan," ujar ibu Ryan yang dibalas gelengan kepala oleh Ryan.

__ADS_1


"Mama ada-ada saja."


"Kamu nggak mungkin masih mau nungguin Erin kan?" tanya ibu Ryan dengan mata memicing.


Ryan menghela nafasnya, "ma, tolong, tolong banget, jangan bahas ini lagi. Mama sudah tahu kan jawabannya." Ujar Ryan. Lalu ia mendekat Rio dan menggendongnya, " kita mandi sama-sama yuk!"


Rio pun mengangguk dengan cepat, "tapi papa cicip ini dulu. Enak lho." Rio menyodorkan potongan kue ke mulutnya. Ryan pun menurut dan membuka mulutnya.


"Hmmm ... enak." Puji Ryan.


"Enak kan. Onty Dewi tadi juga ajak Rio main, Pa."


"Oh ya?" Ryan menurunkan Rio di kamar. Kemudian ia mengambil handuk Rio dan kembali membawanya menuju kamar mandi.


"Iya, Pa. Tadi nenek nanya Rio, Rio mau nggak onty Dewi jadi mama Rio."


Ryan sampai menghentikan langkahnya saat mendengar kata-kata itu, "lalu, Rio jawab apa?" tahta Ryan penasaran.


"Rio nggak mau, Pa. Terus mama gimana kalau onty Dewi jadi mama Rio. Mama pasti sedih. Rio nggak mau mama sedih."


"Bukannya Rio mau mama?"


"Rio memang mau mama, tapi mama Rio sendiri. Rio nggak mau orang lain jadi Rio."


Ryan tersenyum kemudian mengacak rambut Rio gemas.


"Pa, mama kapan pulang, Pa? Rio kangen." Ujar Rio sendu.


Ryan menggantung handuk Rio di capstok kemudian berjongkok di depan Rio, "Rio sabar ya! Doakan mama biar sehat dan cepat kembali."


"Papa kangen mama?"


"Kangen dong, emang kenapa?"


"Papa nggak akan cari mama baru kan buat gantiin mama?"


Ryan lagi-lagi tersenyum, "nggak. Seperti kata Rio, mama Rio cuma mama Erin, dan begitu pula bagi papa. Papa nggak akan cari mama baru. Rio tenang aja."


"Makasih, Pa. Rio sayang papa."


"Papa juga. Papa sayang banget sama Rio."


"Dan mama juga."


"Iya, dan mama juga."


...***...


"Udah makannya?" tanya Ryan pada Rio yang saat ini sedang makan malam bersama.


"Udah, Papa."


"Kalau begitu baca doa sesudah makan dulu."


Rio lantas mengangkat tangan dan memulai membaca doa. Saat sedang merperhatikan Rio yang membaca doa, tiba-tiba ponsel Ryan berdering nyaring. Ryan menatap nomor yang tidak dikenalnya itu. Awalnya ia enggan mengangkat panggilan itu, tapi setelah nomor tersebut lagi-lagi menghubunginya, ia pun segera mengangkatnya.


"Apa? Apa yang terjadi? Baiklah, aku akan segera ke sana."


...***...

__ADS_1


__ADS_2