
Dengan mata terpejam, Ryan meraba ke sisi di sebelahnya. Kasur yang ia tiduri itu ternyata terasa dingin, tampaknya Rio telah lama bangun dan kini entah kemana.
Mata Ryan lantas mengerjap. Hari ini ia libur jadi ia bisa bangun lebih siang dari biasanya. Ryan yang sudah tak tahan untuk membuang sesuatu yang telah mendesak dari dalam tubuhnya pun bergegas berdiri. Kemudian ia pun masuk ke kamar mandi. Di saat bersamaan, Rio masuk ke dalam kamar dan mengambil ponsel Ryan yang masih diisi daya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia pun segera pergi entah kemana.
"Mana Yo foto mama kamu?" tanya teman Rio yang memang belum pernah melihat sosok Erin. Oleh sebab itu, saat sedang bermain, entah bagaimana tiba-tiba saja temannya menanyakan sosok ibunya. Rio pun dengan bangganya menceritakan kalau ibunya sangat cantik. Teman Rio pun penasaran. Jadi Rio bermaksud menunjukkan foto sang ibu yang ada di ponsel Ryan.
"Ini ... " Rio lantas membuka ponsel Ryan yang memang tidak terkunci. Ryan sengaja tidak mengunci ponselnya sebab tahu Rio sering memainkan ponselnya. Khususnya memutar ulang video Erin. Ryan belum membelikan Rio ponsel karena memang Rio tidak begitu suka memainkan game.
Setelah mendapatkan foto yang dicarinya, Rio pun segera menunjukkan foto tersebut pada temannya.
"Wah, iya ya, mama kamu cantik!" puji teman Rio tersebut. Di saat bersamaan, ibu teman Rio keluar dari dalam rumah sambil membawa ember berisi pakaian yang baru selesai dicucinya.
"Siapa yang cantik?" celetuk ibu teman Rio.
"Mama Rio, Ma. Mama Rio cantik banget," ujarnya.
"Mana?" Ibu teman Rio lantas ikut penasaran. Mereka baru tinggal di sana beberapa bulan jadi mereka memang belum mengenal sosok ibu Rio.
Ibu teman Rio pun mengambil ponsel di tahan putranya setelah meletakkan ember cuciannya. Dahinya mengernyit saat melihat gambar perempuan yang sedang menggendong Rio tersebut.
"Uji beneran ibu kamu?" tanya ibu teman Rio itu.
"Iya tante."
"Terus sekarang dia dimana?"
"Mama kerja di tempat yang jauuuuuuh sekali, Tante."
Lalu tiba-tiba saja ibu teman Rio itu tersenyum mencibir, "kerja di tempat yang jauh atau masuk dalam penjara?"
Dahi Rio ikutan berkerut, pun temannya.
"Penjara? Penjara itu apa Tante?" tetap Rio yang memang belum paham.
"Kamu beneran nggak tahu?" Rio pun menggeleng saat ditanya seperti itu.
"Penjara itu tempat tinggal orang-orang yang sudah berbuat kejahatan."
"Kenapa Tante bilang mama Rio di penjara? Mama Rio nggak jahat."
"Iya kah? Sebentar."
Lalu ia mengambil ponsel di saku celananya dan mengetikkan sebuah pencarian dan menunjukkan hasilnya di depan Rio.
"Ini mama kamu kan?" tukas ibu teman Rio itu.
Rio pun meraih ponsel itu dan menatapnya dengan mata memerah. Di foto itu nampak Erin sedang berdiri menggunakan baju tahanan. Tangannya diborgol ke depan. Kepala Erin memang menunduk, tapi Rio dapat mengenali itu memang benar foto ibunya.
"Mama, ini mama?" Gumam Rio dengan suara yang mulai serak.
"Ada apa ini?" tanya ayah teman Rio. "Rio, kenapa kamu nangis, Nak?" imbuhnya sambil berjongkok di hadapan Rio. Laki-laki itu lantas meraih ponsel istrinya yang ada di genggaman Rio. Matanya seketika melotot ke arah istrinya. Istrinya pun seketika salah tingkah melihat ekspresi suaminya. Tak lama kemudian, terdengar isakan lirih dari bibir mungil Rio. Setelah itu, tanpa pamitan, Rio pun berlari pulang ke rumahnya.
"Kamu apa-apaan sih, Ma? Kenapa kamu ngasi tau hal kayak gitu ke anak sekecil Rio? Kau pikir itu nggak akan bermasalah? Bagaimana kalau ayahnya marah? Kamu memang benar-benar keterlaluan," sentak ayah teman Rio kesal. Istrinya hanya bisa menunduk. Entah ia merasa bersalah atau tidak, yang pasti ia tak berani menyanggah kata-kata suami.
Sementara itu, di rumah Ryan, Rio langsung meletakkan ponsel ayahnya begitu saja di atas meja. Ibu Ryan yang melihat mata Rio basah karena air mata pun langsung meletakkan sapunya dan mengejar Rio.
"Rio, sayang, kamu kenapa?" panggil ibu Ryan. Ryan yang baru keluar dari kamarnya sambil menyeka rambut basahnya dengan handuk pun ikut mendekat.
"Kenapa, Ma?"
"Itu, Rio tadi pulang-pulang langsung nangis. Coba liat gih dia kenapa? Takutnya terjadi sesuatu. Mama mau selesaiin nyapu dulu," tukas ibu Ryan yang kembali meraih sapu.
Ryan lantas melemparkan handuknya begitu saja ke atas sofa. Mendengar anaknya menangis, terang saja Ryan khawatir.
__ADS_1
Ia pun bergegas masuk ke kamar Rio. Di dalam kamarnya, terdengar suara tangisan pilu sang putra membuat Ryan mendadak khawatir.
"Nak, Rio kenapa nangis? Rio jatuh? Atau ada yang gangguin Rio?"
Dengan bibir mencebik dan wajah basah bersimbah air mata, Rio pun menggeleng membuat Ryan kian kebingungan.
"Pa, apa mama jahat?" tanya Rio membuat Ryan terperangah.
"Kenapa Rio tanya gitu? Mama nggak jahat kok. Mama baik. Memangnya siapa yang bilang mama jahat?"
"Kalau mama baik kenapa mama masuk penjara, Pa? Katanya penjara itu tempat untuk orang-orang jahat, terus kenapa mama ada di sana? Mama orang baik kan, Pa? Tapi kenapa mama ada di penjara? Papa bohong. Ternyata mama bukan lagi kerja yang jauh kan, Pa? Papa bohong sama Rio. Mama ... Rio mau mama? Mama nggak jahat, tapi kenapa mama ada di penjara? Mama ... huhuhu ... Mama Rio nggak jahat. Kenapa mama ada di penjara? Kenapa? Papa ... Rio mau mama, Pa. Rio mau mama. Mama ... "
Rio meraung-raung sambil melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Sepertinya sifat tantrumnya kambuh sehingga Ryan kesulitan untuk menenangkannya. Ibu Ryan yang mendengar teriakan Rio pun ikut panik dan melempar asal sapu di tangannya. Melihat Rio mengamuk, membuatnya ikut panik.
"Ma, tadi Rio kemana? Siapa yang bilang Erin di penjara?" desis Ryan murka. Ia kesal karena mulut-mulut beracun orang tak bertanggung jawab membuat anaknya jadi seperti ini.
"Itu, tadi dia ke rumah Ari," ucap Ibu Ryan yang juga cemas melihat cucunya kehilangan kendali.
"Mama ... Mama ... "
"Rio sayang, tenang ya! Mama nggak jahat kok. Mama baik. Mereka salah. Mama nggak di penjara."
"Nggak. Papa bohong. Tadi Rio liat foto mama ditangkap polisi. Apa salah mama, Pa? Kenapa mama ditangkap pak polisi? Mama nggak jahat, Pa. Mama Rio baik. Rio mau mama ... Mama ... "
"Mereka salah, Nak. Itu bukan mama Rio. Mungkin wajahnya cuma mirip aja sama Mama. Mama nggak di penjara kok. Mama kerja. Ya, kerja."
"Nggak. Papa bohong. Mama ... Mama ..."
"Rio, jangan seperti ini, nak."
"Mama ... huaaaaa ... Rio mau mama, Rio mau mama. Mama ... "
"RIO!!! KAMU BISA TENANG, TIDAK!!!" Sentak Ryan yang akhirnya kelepasan. Mendengar suara bentakan sang ayah, membuat bibir Rio kian bergetar.
Ryan menyesal telah meninggikan suaranya pada Rio. Akhirnya, air mata Ryan pun ikut luruh. Lalu ia memeluk Rio dengan air mata berderai. Rio masih mengamuk. Namun Ryan tak melepaskan pelukannya sama sekali. La kelamaan Rio akhirnya lelah sendiri hingga tanpa sadar ia pun tertidur di pelukan Ryan.
Setelah memastikan Rio tidur, dengan rahang mengeras dan tangan terkepal, ia pun keluar dari rumah. Tujuannya adalah rumah teman Rio. Dengan emosi yang memuncak, ia membuka pagar rumah teman Rio dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
Ibu Ari yang sedang berada di dapur sampai terlonjak kaget dan bergegas ke depan. Matanya terbelalak saat melihat Ryan dengan tatapan nyalangnya masuk ke pekarangan rumahnya.
Melihat ekspresi panik di wajah ibu Ari, Ryan bisa menebak kalau perempuan itulah yang membocorkan tentang siapa Erin pada Rio. Lalu tanpa basa-basi, Ryan pun meluapkan kekesalannya pada ibu Ari tersebut.
"Anda ... apa Anda benar-benar seorang ibu? Bagaimana Anda bisa begitu tega mengatakan sesuatu yang bahkan kami sebagai keluarga Rio saja tidak berani memberitahukannya? Apa Anda tahu akibat dari perbuatan bodoh Anda itu, hah? Apa Anda tahu, bagaimana psikologis anak sekecil Rio saat mengetahui sesuatu yang tak seharusnya dia ketahui di usia sekecil itu? Apakah Anda benar-benar seorang ibu, sedangkan Anda tidak bisa memilah mana yang pantas untuk disampaikan dan mana yang tidak?" Raung Ryan menumpahkan seluruh emosinya.
Wajah ibu Ari tertekuk. Ia merasa takut saat ini.
"Maaf, saya ... "
"Maaf? Anda pikir dengan satu kata maaf bisa membuat semuanya langsung baik-baik saja? Anda tahu ... akibat mulut Anda yang tidak bisa dijaga, anak saya histeris. Dia ... mengamuk. Dia terluka. Anda seorang ibu, tapi Anda tidak bisa memikirkan risiko dari mulut Anda yang tidak bisa dijaga? Anda pikir satu kata maaf bisa langsung membuat segalanya baik-baik saja?" sentak Ryan.
Air matanya menetes. Rasa bersalah makin menggelayuti benak ibu Ari. Tak lama kemudian ayah Ari pun ikut keluar. Ia sudah bisa menebak hal ini akan terjadi. Para tetangga pun mulai mendatangi pekarangan rumah ibu Ari. Mereka penasaran dengan pertengkaran antara Ryan dan ibu Ari.
"Pak Ryan, saya tahu, istri saya salah, untuk itu, dari jadi yang terdalam, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan istri saya." Ayah Ari menunduk dalam. Di belakangnya tampak Ari yang bersembunyi karena ketakutan.
Melihat ekspresi Ari yang ketakutan membuat Ryan menghela nafas panjang. Ia beristighfar dalam hati karena tidak bisa mengontrol emosinya. Melihat Ari, mengingatkan dirinya dengan Rio. Ia tak ingin anak sekecil itu trauma karena melihat pertengkaran orang-orang dewasa tepat di hadapannya.
Tak lama kemudian ibu dan ayah Ryan pun menyusul. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan Ryan sambil mengusap punggungnya agar mau bersabar dan dapat mengontrol emosinya.
Ryan menghela nafas berkali-kali.
"Baiklah, aku maafkan. Tapi ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Sebelum melakukan sesuatu, pikirkanlah risikonya. Meskipun memang apa yang Anda sampaikan itu sebuah kenyataan, tapi tidak semua kenyataan mesti disampaikan terlebih pada seorang anak yang masih sangat kecil," pungkas Ryan yang setelah mengatakan itu langsung membalikkan badannya. Ia takut anaknya tiba-tiba bangun dan kembali mengamuk.
Erin memang telah sadarkan diri 3 hari yang lalu. Bahkan ia telah kembali ke lapasnya. Tapi kondisi Erin masih harus mendapatkan perhatian khusus. Menurut hasil observasi, salah satu ginjal Erin memang bermasalah sehingga harus mendapatkan perawatan ekstra agar tidak bertambah parah.
__ADS_1
Ingin rasanya Ryan menebus Erin agar bisa segera keluar, tapi sayangnya itu belum bisa ia lakukan. Erin belum satu tahun dipenjara. Sedangkan masa tahanannya berlapis sesuai dengan kesalahan yang telah ia lakukan. Ryan hanya bisa berharap, semoga Erin dapat melalui masa tahanannya dengan baik-baik saja pun kesehatannya terus terkontrol. Entah bagaimana keadaan putranya kelak bila kesehatan Erin terus menurun. Ia pun ingin memiliki keluarga utuh dan bahagia. Ia masih berharap bisa membina keluarga dengan Erin dan putra mereka. Terdengar bodoh memang masih mengharapkan perempuan seperti Erin. Tapi hati tak bisa bohong, yang ia inginkan dari dulu hingga sekarang hanyalah Erin.
"Pa, mama sebenarnya di penjara atau nggak?" tanya Rio sendu. Ia sudah bisa tenang saat ini.
Sebenarnya Ryan belum ingin mengatakan yang sejujurnya, tapi ia pun tak ingin putranya kembali drop saat ada yang kembali mengungkit masalah ini. Bukan tidak mungkin kalau akan ada orang lainnya yang mengungkapkan fakta itu. Mungkin saat ini Rio bisa mereka bohongi, tapi mungkin tidak untuk lain kali.
Oleh sebab itu, Ryan mencoba meyakinkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya pada Rio. Dia akan memberikan pengertian sebaik mungkin agar anaknya tidak kecewa saat tahu ibunya dipenjara karena telah berbuat kesalahan. Tapi bukan berarti Ryan akan mengatakan sejujurnya apa yang telah Erin lakukan sampai ia harus dipenjara. Ia harap putranya mau mengerti dan memahami kondisi ibunya yang berbeda dari ibu yang lain.
Awalnya ibu Ryan tidak setuju dengan keputusan Ryan, tapi mereka pun tidak memiliki pilihan lain selain berkata jujur.
Ryan lantas menggenggam tangan sang putra dan menatapnya sendu sambil mengangguk.
"Iya, mama sebenarnya ... berada di dalam penjara," ucapnya hati-hati.
Mata Rio sontak saja memerah, "apa mama jahat?"
Ryan menggeleng dengan cepat dan tegas, "nggak, mama nggak jahat kok."
"Kalau mama nggak jahat, kenapa mama di penjara?" Anak seusia Rio memang sedang kritis-kritisnya. Ia akan mengejar jawaban sampai jawaban tersebut memberikan kepuasan padanya.
"Mama hanya punya kesalahan. Untuk menebus kesalahan itulah mama berada di sana. Tapi bukan berarti mama jahat. Nggak. Mama nggak jahat. Mama orang yang baik. Jadi Rio jangan berpikir macam-macam ya. Kasihan mama. Percayalah, mama Rio orang yang baik. Kalau Rio benar-benar sayang mama, Rio harus percaya pada mama. Rio sayang kan sama mama?"
Awalnya Rio terdiam. Mencoba mencerna kata-kata sang papa. Kemudian ia pun mengangguk yakin.
"Iya, pa. Rio sayang mama. Rio percaya mama nggak jahat."
"Bagus. Anak pintar. Ini baru anak mama dan papa."
"Kalau begitu, boleh Rio ketemu ma, pa? Rio ... kangen mama."
Ryan lantas tersenyum. Ternyata putranya sangatlah bijak. Meskipun kadang ia bersikap tantrum, tapi saat pikirannya telah jernih, maka ia akan kembali menjadi anak yang bijak. Ia merasa amat sangat bersyukur dianugerahi putra seperti Rio. Biarpun masih kecil, tapi kebijaksanaannya melebihi sikap orang dewasa.
Ternyata, berkata jujur tak selalu memberikan dampak buruk. Justru sebaliknya, berkat kejujurannya, mereka akhirnya bisa lebih tenang sekarang. Bahkan ia bisa mempertemukan putranya dengan Erin tanpa perasaan was-was lagi.
"Rio," pekik Erin terkejut saat melihat yang berkunjung bukan hanya Ryan, tapi putranya, Rio pun ikut serta.
Erin menatap Ryan penuh arti, tapi Ryan hanya mengulas senyum.
"Mama ... "
Melihat kedatangan sang ibu, Rio pun bergegas turun dari pangkuan Ryan dan berlari sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Erin. Erin yang tangannya di borgol tentu tidak bisa menyambut pelukan itu. Namun Erin berjongkok agar tubuh mungil sang putra dapat memeluknya dengan erat.
Setelah drama pelukan disertai tangisan ibu dan anak itu, akhirnya mereka bertiga kini dapat duduk bersama-sama.
Ryan juga menceritakan alasan kenapa ia membawa Rio kemari. Tak ada alasan lain selain ingin mewujudkan harapan Rio yang begitu merindukan sosok sang ibu.
"Maafin mamanya, Nak. Mama bukan orang baik jadi mama harus menebus kesalahan mama di sini."
"Mama jangan sedih, Rio nggak marah sama mama kok. Kata papa, mama nggak jahat. Rio percaya mama dan papa. Rio tau mama nggak jahat."
"Iya sayang, mama nggak jahat. Hanya nakal sedikit, iya kan Ma?" Ryan mengerlingkan sebelah matanya pada Erin yang mendengus.
"Jadi mama di sini karena nakal sedikit ya, Ma? Kalau begitu, Rio mau nakal sedikit Pa supaya bisa tinggal bareng-bareng mama," tukas Rio tiba-tiba membuat Erin dan Ryan berseru secara bersamaan.
"Jangaaan!" seru keduanya. Keduanya saling pandang kemudian tergelak bersamaan.
"Mama nggak mau tahu, pokoknya Rio harus jadi anak yang baik ya! nggak boleh bandel apalagi nakal. Rio nggak mau kan mama sedih?" Rio mengangguk cepat.
"Karena itu, jadilah anak yang baik. Katanya Rio sekarang udah ngaji sama les juga ya?" Rio mengangguk. "Bagus, mama bangga sama Rio. Teruslah seperti itu ya, nak. Jadilah anak kebanggaan mama dan papa."
Rio pun mengangguk antusias. Rio berjanji akan menjadi anak baik agar bisa dibanggakan kedua orang tuanya.
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1