
Hidup ini memang tak selalu di atas maupun di bawah. Mereka terus bergerak, bagai roda, yang tanpa kepastian.
Begitu pula yang Erin rasakan. Bila selama ini ia selalu hidup di atas, bergelimang harta, apapun yang ia inginkan dapat dengan mudah ia dapatkan, maka kali ini merupakan titik terendahnya. Ia benar-benar jatuh ke titik yang paling rendah dari sepanjang usianya. Titik dimana berhasil menyadarkannya atas segala keburukan yang telah ia buat selama uji.
Bila di tempat lain terdapat sepasang insan sedang memadu kasih dengan mesra dan penuh kehangatan atau bahkan dengan panas membara, makan di sini asa sesosok manusia yang terus merenung. Merenungi betapa dangkalnya pemikirannya selama ini dan betapa bodohnya dirinya sehingga mampu berbuat hal-hal yang buruk dan mengerikan bahkan cenderung menjijikkan.
Bulir-bulir bening mendesak kelopak mata itu untuk terus meluncur. Tak ada isakan, hanya ada bulir-bulir bening nan asin yang mengalir tanpa bisa dicegah. Dia ... Erin ... menangis dalam diam.
Hal itu merupakan kebiasaan terbarunya. Lebih tepatnya kebiasaan setelah ia menjadi bagian dari lapas tersebut.
Hanya suara jangkrik yang menjadi teman kesendiriannya. Sementara penghuni lainnya tampak sudah terlelap dengan suara jangkrik sebagai nyanyian alam yang mampu menghantarkan mereka ke alam mimpi.
Sementara di balik jeruji besi tampak seorang perempuan menangis dalam diam, maka di sebuah kamar yang dihiasi wallpaper Spiderman berikut berbagai action figur superhero dan miniatur aneka kendaraan seperti mobil, motor, kereta, serta pesawat, tampak seorang anak kecil sedang didampingi sang ayah dengan kompres di dahinya. Matanya terpejam erat, tapi bibirnya terus bergumam memanggil sang ibu.
"Mama, mama, Rio kangen, mama. Mama di mana? Kenapa mama nggak pulang-pulang temui Rio," racau Rio dengan mata terpejam dan wajah basah oleh air mata.
Ryan yang melihat itupun ikut gerimis. Hatinya meringis. Ia pun dapat merasakan kesakitan dan kerinduan sang putra pada ibunya.
"Bagaimana Yan, masih panas?" tanya ibu Ryan. Dengan mata merahnya, Ryan mengangguk.
"Ma, sepertinya kita harus membawa Rio ke rumah sakit. Ryan takut Rio kenapa-kenapa. Soalnya panasnya belum turun juga," tukas Ryan lirih.
__ADS_1
Ibu Ryan pun menghampiri sang cucu dan memegang dahinya.
"Sepertinya lebih baik begitu, Yan. Mama juga takut Rio kenapa-kenapa." Cemas mama Ryan. Rio sudah mengalami demam sejak siang tadi, tapi hingga hari berganti malam, panasnya tak kunjung turun. Padahal mereka telah mengompres dan memberinya obat penurun panas, tapi suhu tubuh Rio tidak kunjung kembali normal.
Setelah menyiapkan beberapa keperluan Rio, Ryan dan ibunya serta ayahnya pun segera pergi ke rumah. Setibanya di rumah sakit, Rio pun segera mendapatkan penanganan.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok? Dia sakit apa?" tanya Ryan cemas.
"Sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya saja. Mari silahkan ikut saya!" Ajak sang dokter yang langsung diikuti Ryan. dan ibunya. Sedangkan sang ayah tetap berada di depan unit gawat darurat agar apabila Rio membutuhkan sesuatu atau apapun, tetap ada yang berjaga.
"Jadi bagaimana dok? Anak saya sakit apa?" cecarnya lagi. Sang dokter yang baru saja menangani Rio paham. Setiap orang tua pasti akan cemas saat melihat anaknya tidak baik-baik saja meskipun hanya panas biasa.
"Putra bapak tidak apa-apa. Dia hanya ... "
Sang mama pun bingung, garis menurut atau menunggu penjelasan dokter lebih lanjut. Entah mengapa, ia merasa sang dokter belum selesai menjelaskan.
Sang dokter menghela nafasnya, "silahkan! Silahkan bila Anda merasa dengan begitu anak Anda bisa sembuh. Kami justru bersyukur kalau putra Anda bisa segera sembuh. Tapi harus Anda tahu, demam pada anak Anda bukan karena ia mengidap suatu penyakit, tetapi sebaliknya, hatinya lah yang sedang sakit."
"Apa maksud Anda?" Tanya Ryan bingung. Bahkan ia telah berdiri bersiap untuk pergi.
"Putra Anda selalu mengigaukan ibunya. Oleh sebab itu, saya mengatakan hatinya lah yang sakit. Sepertinya ia merindukan sosok ibunya. Bahkan sangat rindu sampai-sampai ia jatuh sakit seperti ini. Alangkah baiknya, bila Anda mempertemukan anak Anda dengan ibunya. Obat apapun takkan ada yang ampuh untuk mengobati penyakit rindu melainkan sosok yang dirindukan itu sendirilah yang menjadi obatnya. Jadi pak, bagaimana, bisa Anda mempertemukan anak Anda dengan ibunya?"
__ADS_1
Ryan seketika terduduk lemas. Sang ibu pun menatap iba pada sang putra yang matanya telah memerah menahan luka dan kesedihannya.
"Ibunya tidak ada, dok," jawab ibu Ryan lirih.
"Ah, maksud Anda, ibunya telah meninggal?" terka sang dokter.
Ibu Ryan menggeleng, "bukan. Tapi ... " Ibu Ryan bingung harus menjelaskan bagaimana. Ingin jujur, tapi ada rasa malu menyebutkannya.
"Kalau bukan, berarti kalian bisa mempertemukan mereka. Kalaupun ibunya pergi jauh, kalian bisa memintanya pulang sejenak. Ibu yang baik pasti akan memprioritaskan anaknya dibandingkan yang lainnya. Ini demi kesembuhan anak Anda pak, cucu ibu juga. Obat-obatan memang bisa menurunkan demamnya, tapi hal itu tidak menjamin kalau anak Anda tidak akan kembali mengalami demam tinggi sebab sumber penyakitnya sendiri adalah kerinduan pada sang ibu. Hanya itu saran saya. Semoga bapak dan ibu bisa mempertimbangkannya," ujar sang dokter yang mengira ibu Rio sedang memiliki pekerjaan di tempat yang cukup jauh atau telah berpisah dari suaminya.
Kini Ryan telah berada di kamar rawat Rio. Dia menangis tergugu. Bingung harus melakukan apa. Bila Erin berada di rumahnya saja, tak peduli ia telah menikah dengan laki-laki lain, tetap akan ia cari dan pertemukan dengan putranya. Bahkan bila Erin berada di ujung dunia sekalipun, tetap akan ya cari. Apapun akan ia lakukan demi kesembuhan dan kesehatan putranya. Tapi Erin saat ini berada di penjara. Bagaimana ia bisa membawa putranya ke sana. Ia tak mau membuat putranya berpikiran buruk tentang ibunya. Meskipun memang ibunya bersalah, sebisa mungkin ia menutupi keburukan itu agar hahya kenangan indah saja yang terpatri i benaknya. Sudah cukup kenangan kepergian Erin waktu itu yang membuat Rio terpuruk, ia tak mau membuat putranya kian terpuruk lagi melihat keadaan Erin sekarang.
Ya, Ryan sangat tahu keadaan Erin sekarang. Sebab ia telah beberapa kali membesuk Erin di penjara. Entah karena dia terlalu bodoh, terlalu bucin, atau terlalu buta sehingga masih saja mencintai perempuan itu. Ia beberapa kali datang ke sana sambil membawakan makanan kesukaan ibu dari anaknya itu. Tak ada lagi Erin yang glamor dan berwajah angkuh. Yang ada hanyalah Erin yang berwajah sendu, pipi tirus, wajah kusam, pakaian kumal. Benar-benar menyedihkan. Bagaimana reaksi putranya nanti bila melihat penampilan ibunya yang berbanding 180° itu? Ia khawatir putranya syok dan bertambah sakit setelah melihatnya.
Ryan benar-benar bingung. Tapi ia pun khawatir keadaan putranya bila tidak segera dipertemukan dengan ibunya.
"Sayang, papa harus apa? Papa bingung. Papa pun ingin mempertemukanmu dengan mama, tapi ... " Ryan terisak. Apalagi saat lagi-lagi putranya mengigaukan sang ibu. Hatinya hancur tak terkira.
...***...
Yang nunggu ekstra part Erin, Rio, dan Ryan, udah mulai masuk ya! Maaf, othor melewatkan sesi MP Tirta dan Ana. Kepala othor lagi ngebul buat mikir yang hot-hot pop. 😄
__ADS_1
Ini aja syukur masih bisa ngetik. Kemarin benar-benar nggak sanggup. Othor sedang ngedrop banget. Kepala othor nyut-nyutan, badan meriang, makan pun jadi tak berselera sampai-sampai magh ikutan kumat. Semoga othor bisa segera pulih supaya beberapa hari ke depan bisa update sampai tamat. Cerita Erin, Rio, dan Ryan nggak panjang kok. Cuma berapa bab. Makasih buat yang selalu menunggu kelanjutan cerita ini. Makasih juga yang selalu memberikan dukungan. Semoga kakak semuanya sehat selalu. Good night. 🥰🥰🥰
...HAPPY READING 😍😍😍...