
Sepanjang malam Ana tak bisa memejamkan matanya. Ia terus terjaga dengan pikiran tertuju hanya pada satu orang. Siapa lagi kalau bukan Tirta. Laki-laki yang kerap usil sekaligus perhatian padanya. Laki-laki yang bersabar menunggu sambutan kasihnya yang tak kunjung berbalas.
Ada rasa getir pada diri Ana. Ia menyesali perdebatan terakhir mereka yang mengakibatkan jarak yang sempat menipis kini kembali merenggang. Bahkan terlalu jauh tuk digapai.
Semenjak malam perdebatan itu, Tirta menjauhnya. Benar-benar menjauhinya. Bahkan laki-laki yang biasa kerap bertandang ke rumah majikannya itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Seolah sedang berusaha menjauhi dan menghindari dirinya.
"Apa perkataanku saat itu sangat keterlaluan? Ah, kata-kataku memang sangat keterlaluan. Kenapa aku bisa bicara sekasar itu padanya? Padahal dia sudah sangat baik padaku. Kenapa aku harus langsung marah? Seharusnya aku bertanya terlebih dahulu kenapa ia sampai melakukan itu? Aku memang bodoh," gumamnya tergugu.
Lantas ia mengingat perkataan Freya saat mengangkat telepon Abidzar tadi.
'Apa Mas? Kak Tirta kritis? Tulang rusuk kak Tirta retak dan lengan kanannya patah? Innalilahi wa innailaihi roji'un. Lalu ... bagaimana keadaan kak Tirta sekarang?'
'Jadi dia akan dioperasi? '
'Semoga operasinya berjalan lancar ya, Mas. Titip salam juga untuk Tante Riana. Pasti Tante Riana sangat sedih saat ini.'
"Ya Allah, gimana keadaan Ak Tirta saat ini? Semoga saja operasinya berjalan lancar," gumam Ana dengan nafas tercekat.
Lama-kelamaan, dadanya kian sesak. Hati berkecamuk membuatnya benar-benar resah. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Tirta. Ingin sekali rasanya ia segera ke rumah sakit dan melihat sendiri kondisi Tirta, tapi apa kata orang-orang nanti, pikirnya. Orang-orang pasti akan berpikiran aneh padanya. Apalagi orang-orang tahu dirinya hanyalah seorang pembantu di kediaman Abidzar.
Ana kian tergugu dalam tangisannya. Ia benar-benar menyesalkan pertemuan terakhir mereka karena kekeraskepalaannya. Seandainya ia bisa bersikap bijak dan mengontrol emosinya, pasti semua takkan terjadi.
Dada Ana terasa sesak. Ada rasa takut kehilangan yang menyeruak dalam rongga dadanya. Perlahan tapi pasti, ia menyadari alasan ia merasa hari-harinya kian terasa hampa. Perlahan ia pun sadar, ia takut kehilangan sosok laki-laki yang mau menerimanya apa adanya tanpa peduli status sosial dirinya sebagai seorang pembantu.
***
Operasi berjalan lancar dan kini Tirta telah dipindahkan ke ruang pemulihan. Namun hingga saat ini Tirta tak kunjung membuka matanya. Membuat semua orang merasa resah. Padahal sudah hampir 1x24 jam berlalu sejak Tirta selesai dioperasi, tapi Tirta masih betah memejamkan mata membuat orang-orang kian cemas.
"Mengapa anak saya belum sadarkan diri juga, dok? Kata dokter operasinya berjalan lancar dan sukses, tapi kenapa ... dia belum sadarkan diri juga hingga sekarang?" tanya Riana cemas.
"Mohon maaf, Bu, menurut hasil pemeriksaan putra ibu mengalami trauma akibat benturan. Bila dalam 1x24 jam putra ibu tak sadarkan diri juga, dengan berat hati, putra ibu dinyatakan koma."
__ADS_1
Lemas sudah kaki Riana. Tulangnya seakan melunak hingga ia tak mampu menegakkannya. Riana terduduk sambil menangis pilu. Meratapi nasib putranya yang semakin mengkhawatirkan.
Kabar ini pun telah sampai ke telinga Ana. Di kamarnya, Ana menutup mulutnya sambil menangis pilu. Sama seperti Riana dan yang lainnya, Ana pun takut kehilangan laki-laki itu. Laki-laki yang perlahan tapi pasti berhasil menyembuhkan luka hatinya dan menyemai rasa cinta hingga tumbuh dan berkembang kian subur dalam hati dan jiwanya.
"Aak Tirta ... Ak Tirta, aku mohon, maafkan aku. Bertahanlah, sembuhlah, bangunlah. Aku ... aku menunggumu. Aku ... aku merindukanmu."
Hari-hari Ana kian mendung bagai diselimuti awan kelabu. Freya pun menyadari itu. Tapi ia tak bisa sok tahu dan menasihati ataupun menghibur Ana. Apalagi ia belum tahu jelas bagaimana hubungan mereka dan permasalahan diantara mereka.
Setelah seminggu mengalami koma, akhirnya Tirta sadarkan diri. Semua anggota keluarga termasuk Abidzar dan Freya pun turut bersuka cita.
"Sayang, Mas ada kabar baik," seru Abidzar yang baru saja pulang bekerja.
"Kabar baik apa?" tahta Freya penasaran.
"Itu, tadi kan Mas pergi membesuk Tirta, terus Mas membisikkan sesuatu ke telinga Tirta. Tiba-tiba saja Tirta merespon dengan menggerakkan jarinya. Jadi Mas cepat-cepat memanggil dokter dan Alhamdulillah, Tirta sekarang susah sadarkan diri," ucapnya antusias.
"Masya Allah, Alhamdulillah ya Allah," seru Freya ikut berbahagia.
Begitu pula dengan seorang gadis yang bersembunyi balik tirai, ia pun menggumamkan kalimat hamdalah sebagai ungkapan rasa syukurnya karena Tirta telah sadarkan diri.
"Emang Mas bisikkin apa sih sampai Kak Tirta merespon kayak gitu? Pasti yang aneh-aneh ya?" tuding Freya membuat Abidzar terkekeh.
"Mas cerita di kamar saja," ucap Abidzar saat menyadari keberadaan Ana tak jauh dari tempat mereka berbicara. Abidzar yang tak sabar lagi bercerita pun segera menarik lengan Freya menuju kamar mereka.
"Jadi emang Mas bisikin apa sih? Aku jadi penasaran."
Abidzar tertawa geli sendiri mengingat keusilannya tadi di rumah sakit.
Flashback on
"Assalamu'alaikum, Tan," ucap Abidzar saat memasuki ruang rawat Tirta.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Bi. Langsung dari kantor?" tanya Riana yang saat itu menjaga Tirta seorang diri.
"Iya, Tan. Oh ya tab, bagaimana keadaan Tirta? Apa ada kemajuan?" Abidzar beranjak berdiri di samping brankar, tempat dimana Tirta terbaring dengan beberapa peralatan medis yang masih menempel di tubuhnya.
Riana menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya, "nggak ada. Dia sepertinya masih betah dengan tidur panjangnya."
Setelahnya, Abidzar dan Riana terdiam. Hingga akhirnya Riana kembali bersuara karena ingin membeli minuman di kantin rumah sakit.
"Bi, bisa tolong temani Tirta sebentar? Tante mau beli minuman di bawah.
"Gimana kalau Abi aja yang beliin, Tan?" tawar Abidzar.
"Ah, nggak, nggak usah. Biar Tante sendiri aja sekalian cuci mata," ujar Riana sambil terkekeh. Abidzar pun mengangguk. Riana pun segera beranjak dari sana meninggalkan Abidzar yang menjaga Tirta.
Setelah Riana benar-benar pergi, Abidzar pun menarik kursi yang ada di samping brankar dan mendudukkan bokongnya di sana.
"Hei bro, kok loe betah banget sih tidur melulu? Ini udah berapa hari, tapi loe kayaknya memang betah banget tidur. Ngalah-ngalahin kebo aja, loe," Abidzar mulai mengajak Tirta berbicara. Meskipun tidak mendapatkan respon, Abidzar tidak menyerah. Ia terus mengajak Tirta berbicara.
"Loe mau tidur sampai berapa lama sih? Enak banget loe, gue sibuk ngerjain semuanya, sedangkan loe enak-enakan tidur. Gue potong gaji loe, baru tau rasa." Abidzar yang memang pada dasarnya tidak suka banyak bicara sampai kebingungan sendiri harus mengatakan apa, tapi ia tetap berusaha mengajak Tirta berbicara berharap laki-laki itu memberikan respon.
"Ck ... respon kek, Ta. Loe kira mulut gue nggak capek ngajak loe bicara terus kayak gini. Ya udah, gue balik aja deh. Eh tunggu-tunggu, gue mau ngasi tau loe sesuatu. Sebenarnya gue nggak tau sih ini penting apa nggak bagi loe, tapi sebagai sepupu yang baik, gue kasi tau aja deh." Abidzar tiba-tiba menyeringai kemudian mendekatkan bibirnya dengan telinga Tirta. "Tempo hari gue liat anak tetangga gue ngajakin Ana kenalan. Terus kabarnya, mereka hari ini mau jalan. Kayaknya sih, cowok itu suka sama Ana. Mereka cocok lho. Cowok itu juga cakep. Pokoknya mereka serasi banget, yang satu cantik, yang satu lagi ganteng. Klop deh pokoknya."
Usai mengatakan itu, Abidzar kembali menegakkan punggungnya sambil tersenyum penuh arti. Hingga tiba-tiba ia melihat pergerakan dari jari Tirta. Meskipun pelan, tapi Abidzar menyadarinya. Ia pun gegas menekan tombol yang ada di dinding atas headboard ranjang. Dalam hitungan detik, dokter dan perawat pun berdatangan dan sigap bergerak setelah Abidzar mengatakan apa yang ia lihat.
Dokter pun segera melakukan pemeriksaan dan senyum Abidzar seketika merekah saat melihat Tirta perlahan membuka kelopak matanya. Ternyata sebesar ini pengaruh nama Ana pada diri Tirta. Abidzar makin meyakini, kalau sebenarnya Tirta mencintai Ana, tapi bagaimana dengan Ana? Abidzar tak tahu. Kalaupun mereka saling mencintai, kenapa mereka seperti sedang saling bertengkar? Mereka sekarang saling menghindar? Dan mengapa mereka kini saling menjauh? Apa Ana menolak Tirta mentah-mentah sehingga Tirta patah hati dan berakhir seperti ini?
Abidzar menghembuskan nafas gusar. Terlalu banyak spekulasi yang berkelebat dalam benaknya. Namun ia tak tahu, yang mana yang benar. Yang Abidzar harapkan saat ini hanyalah kesembuhan sang sepupu kemudian bisa melihat lagi keceriaan laki-laki itu seperti dahulu.
"Bi, kenapa kamu di luar? Apa yang terjadi dengan Tirta, Bi? Tirta tidak apa-apa kan? Bi, apa ... apa yang terjadi dengan sepupumu, Bi,? Katakan! Jangan diam!" pekik Riana panik. Apalagi saat melihat seorang perawat tampak tergesa keluar masuk ruangan dimana putranya berada.
"Tante tenang dulu, ya, Tan. Kita tunggu dokter keluar. Semoga saja sebentar lagi dokternya keluar."
__ADS_1
"Tapi gimana Tante bisa tenang, Bi? Bilang Tante bagaimana Tante bisa tenang saat keadaan putra bibi tidak baik-baik saja?" pekik Riana lagi dengan derai air mata yang telah membasahi pipi.
"Tan, tadi Abi liat jari Tirta bergerak. Bahkan kelopak mata Tirta tadi sempat bergerak seperti ingin membuka. Untuk itu, Tirta panggil dokter. Semoga aja setelah ini, Tirta benar-benar sadarkan diri ya, Tan?" ucap Tirta dengan lembut.