Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
58


__ADS_3

Flashback Ana


Ddu-du, ddu-du, du


Ah-yeah, ah-yeah


Ana yang memang menggemari musik K-Pop menari dengan lentiknya di kamarnya yang tidak tertutup rapat. Pagi itu Bi Asih dan Mina sedang pergi ke pasar, sedangkan Erin sedang berlibur. Tak ada orang di rumah. Hanya ada dirinya dan Mang Sukri yang menjaga di gerbang depan.


Setelah semua pekerjaannya selesai, ia masuk ke kamar dan memutar lagu-lagu kesukaannya. Dia pun menari dengan luwes mengikuti irama musik yang menghentak. Yang lebih gila, ia melucuti pakaiannya di dalam kamar. Ia pikir, tak ada orang juga jadi tak masalah. Hanya dengan memakai celana super mini dan bra saja, Ana pun menari seolah-olah ia adalah salah satu member Black pink. Diuraikannya rambutnya yang hitam panjang sedikit bergelombang membuatnya terlihat begitu seksi.


Karena Ana memutar musik cukup kencang menggunakan speaker bluetooth miliknya, Ana pun tidak menyadari ada mobil yang masuk ke pekarangan rumah. Mang Sukri yang memang sudah hafal siapa yang datang dan tidak merasa masalah sebab memang orang tersebut biasa keluar masuk rumah majikannya, membiarkan saja pemilik mobil itu masuk ke dalam rumah.


Melihat keadaan rumah yang sepi membuat si pemilik mobil yang tak lain adalah Tirta itu masuk ke rumah dengan acuh tak acuh. Ia datang ke rumah itu atas perintah Abidzar untuk mengambil berkas kerja sama yang tertinggal di ruang kerjanya.


Saat akan masuk ke dalam ruang kerja Abidzar, tiba-tiba Tirta ingin ke kamar kecil. Ia pun segera berlari ke area dapur untuk memakai kamar kecil di sana. Namun saat akan ke kamar kecil, ia mendengar suara riuh musik membuatnya jadi penasaran. Tirta pun tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara. Pintu yang tidak tertutup rapat membuat Tirta melihat apa yang ada di dalam kamar tersebut. Musik yang cukup besar membuat Ana tidak sadar ada seseorang yang menatapnya dengan mulut menganga.


Ana menari dan terus saja menari. Bahkan hingga lagu berganti pun ia masih belum menyadari keberadaan Tirta. Tirta yang memang cenderung usil lantas melenggang begitu saja masuk ke dalam kamar. Di saat bersamaan Ahs berputar-putar hingga tubuhnya menabrak tubuh Tirta. Posisi yang tidak siap membuat Tirta oleng dan terjatuh dengan Ana berada di atas tubuhnya. Dan yang memperparah keadaan, bibir keduanya saling bertemu membuat keduanya sempat mematung sepersekian detik hingga akhirnya Ana membulatkan mata saat sadar apa yang sedang terjadi.


Dan sejak hari itu, Ana selalu malu bila bertemu dengan Tirta. Bukan hanya malu karena Tirta melihatnya menari-nari hanya menggunakan dalaman saja, tapi juga karena ciuman tidak disengaja mereka. Setiap bertemu, Ana sengaja bersikap ketus atau menghindar untuk menutupi rasa malunya.


Flashback Ana off


...***...

__ADS_1


Perusahaan Abra Corp tampak riuh siang itu. Hal ini berkenaan dengan kedatangan segerombolan tim audit yang memang telah diundang Abraham untuk datang siang itu. Kedatangan mereka yang tiba-tiba terang saja menimbulkan keriuhan. Apalagi tim audit yang datang bukanlah dari perusahaan yang biasanya.


Arifin yang tidak tahu apa-apa terang saja ikut terkejut. Abraham tidak pernah mengatakan apapun mengenai kerja samanya dengan tim audit dari perusahaan Trusty Audit. Selama ini secara bertahun-tahun, perusahaan mereka selalu bekerja sama dengan perusahaan Flexibel Audit. Jelas saja Arifin menjadi kalang kabut.


"Tuan, di bawah ada tim audit dari perusahaan Trusty Audit. Mengapa mereka bisa datang secara tiba-tiba ke mari? Bukankah kita tidak ada kerja sama dengan mereka? Bukankah kita ada tim audit rekanan kita sendiri?" tanya Arifin tiba-tiba saat masuk ke dalam ruangan Abraham.


Abraham pun mendongakkan kepalanya, "jadi mereka sudah datang?"


Makin berkerutlah dahi Arifin. Dapat ia lihat, Abraham sepertinya sudah menunggu kedatangan tim Trusty Audit tersebut.


"Jadi kedatangan mereka Anda yang mengundangnya, begitu?" tanya Arifin tak percaya sebab baru kali ini Abraham bergerak tanpa sepengetahuan dirinya.


"Ya. Persilakan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Jangan ada yang menghalangi supaya pekerjaan mereka cepat selesai." Tukas Abraham santai.


"Yah, baguslah kalau kau paham."


"Apa maksud Anda? Jangan bilang Anda mencurigai saya?"


Abraham menyipitkan matanya, "apa aku mengatakan itu?"


"Memang tidak, tapi tindakan Anda yang tiba-tiba seolah-olah meragukan loyalitas saya selama ini. Anda tiba-tiba mendatangkan tim audit yang baru tanpa sepengetahuan saya. Lalu bergerak tiba-tiba seolah-olah takut barang bukti disingkirkan. Bukankah seperti itu?"


"Apa kau takut?" Tanya Abraham acuh tak acuh.

__ADS_1


"Takut? Siapa yang takut. Aku tidak bersalah jadi untuk apa takut." Kilahnya padahal sebenarnya Arifin sudah ketar-ketir.


"Baguslah. Kalau kau tidak bersalah, kau tak perlu khawatir. Sesekali kita memang perlu mendatangkan tim audit dari perusahaan lain untuk membandingkan mana yang kerjanya bagus dan untuk menunjukkan kalau perusahaan kita bersih dari kecurangan dan tindakan korup. Bukan tanpa alasan, bisa saja perusahaan audit yang kita ajak kerja sama selama ini melakukan tindakan tidak terpuji dengan bekerja sama dengan karyawan yang korup, bukankah begitu? Dengan kita mendatangkan tim audit berbeda, pasti kita bisa melihat apakah perusahaan audit yang bekerja sama dengan kita selama ini bekerja dengan baik atau tidak." Tukas Abraham memaparkan tapi tentu dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.


Arifin mengangguk pelan. Dalam hati ia merutuki tindakan Abraham yang sungguh diluar dugaannya. Ia benar-benar tidak menyangka Abraham akan melakukan gebrakan tak terduga ini. Tentu saja ia khawatir, bagaimana kalau kecurangannya selama ini terbongkar. Tentu ia tahu risiko bila kecurangannya ketahuan, penjara sudah pasti akan jadi tempat pelabuhan terakhirnya.


Tak lama kemudian, Araav dan tim tiba di ruangan Abraham. Timnya yang lain telah disebar ke berbagai ruangan divisi. Mereka mengangkut berkas-berkas untuk dilakukan pemeriksaan. Meja kerja Arifin pun tak luput dari perhatian Araav dan tim.


"Perkenalkan, saya Arifin, asisten pribadi tuan Abraham sekaligus ayah mertua dari Abidzar. Kalau tidak salah, kau teman Abidzar bukan? Saya ingat, kau datang saat pesta pernikahan Abidzar beberapa tahun yang lalu." Arifin mencoba mendekati Araav saat Araav dan tim hendak keluar dari perusahaan Berharap laki-laki tersebut bisa diajak bekerja sama dengannya.


Araav hanya balas tersenyum. Ia biasa menghadapi orang-orang seperti Arifin. Ia tentu paham karakter orang seperti itu. Berusaha mendekati lalu mengajak kerjasama dengan menjanjikan keuntungan yang tidak sedikit. Tapi Araav bukanlah orang seperti itu. Bekerja di bidang seperti ini tentu harus memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Kejujuran adalah prinsip utamanya dalam bekerja.


"Araav." Ucap Araav datar.


"Ah, sayang sekali jam makan siang sudah lewat. Padahal saya ingin sekali berbincang dengan Anda. Bagaimana kalau kita makan malam bersama malam ini? Pasti Abidzar senang bisa makan malam bersama temannya juga." Arifin mengeluarkan jurusnya agar Araav mau melakukan pertemuan dengannya. Di kesempatan itulah ia akan mengajak Araav bekerja sama agar kebusukannya selama ini tidak terbongkar.


"Maaf tuan, saya tidak bisa. Cukuplah bagi saya dari pagi hingga sore menjadi jam kerja saya. Kalau malam, itu merupakan waktu untuk keluarga. Terima kasih atas tawarannya. Kalau begitu, kami permisi." Setelah mengucapkan itu, Araav dan timnya pun berlalu dari hadapan Arifin yang mengumpat kesal dalam hati.


Semua berkas-berkas yang ia sembunyikan pun ternyata tak luput dari Araav dan tim. Perasaan Arifin kini mendadak was-was. Ia tak mau ditangkap polisi. Ia pun tak mau harta yang ia kumpulkan dengan susah payah lenyap begitu saja karena disita. Proses pengauditan memang memakan waktu yang cukup lama, tapi bila ia tidak segera bergerak, maka semuanya akan benar-benar hancur tak bersisa.


'Sial. Dasar Abraham sialan. Aku yakin, ini ia lakukan karena ia sudah mulai mencium kecuranganku selama ini. Aku harus melakukan sesuatu.' batin Arifin gelisah.


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2