Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Kemarahan Abidzar


__ADS_3

"Lho, kok Mas Abi udah pulang? Ini kan masih siang?" tanya Freya saat melihat kedatangan Abidzar yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan memeluknya erat. Abidzar mendekap tubuhnya erat. Tak peduli pintu masih terbuka lebar. Seolah ingin mencurahkan kerinduan yang begitu besar.


Bisakah Freya terus mempertahankan tembok tinggi kokohnya, sedangkan Abidzar selalu melimpahinya dengan kasih sayang dan perhatian yang tak terhingga seperti ini? Entahlah, hanya Freya dan othor yang tahu. Hahahah ...


"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Abidzar seraya melepaskan pelukannya. Dipandanginya lekat wajah sang istri Rambutnya tidak begitu basah lagi. Sepertinya telah Freya lap menggunakan handuk saat ia dalam perjalanan pulang tadi.


"Aku?" Beo Freya dengan dahi berkerut. "Aku nggak papa kok." Jawabnya yang memang tidak merasa kenapa-kenapa. Erin hanya menyiramnya saja. Freya malas menceritakan hal tersebut. Entahlah, ia malas saja membahasnya. Ia tak mau memperkeruh suasana dengan dikit-dikit melapor. Selagi apa yang dilakukan Erin masih bisa ia tolerir, maka ia takkan berbuat apapun. Namun bukan berarti ia takkan berhati-hati. di masa lalu saja Erin bisa memfitnahnya sampai seperti itu, apalagi di masa sekarang. Beruntung Abidzar percaya bukan dia yang menempel surat itu di mading, kalau ia masih menyalahkannya, mungkin ia akan memilih menjaga jarak. Ia tak ingin berurusan dengan orang yang tak mau memercayainya. Begitu saja. Titik.


"Syukurlah." Abidzar tersenyum. Kemudian ia berjongkok di depan perut Freya membuat perempuan itu memelototkan matanya. "Hai anak ayah? Anak ayah juga baik-baik aja kan di dalam?" Ucap Abidzar sambil menempelkan telinganya di perut Freya yang terlihat sedikit membukit. Diusapnya perut itu dengan mata berbinar. Hari Freya terenyuh. Dapat ia lihat Abidzar begitu menantikan buah hatinya. Ia pun terlihat begitu menyayanginya.


"Adik baik-baik saja ayah. Ayah sudah makan?" Jawab Freya dengan suara dibuat seolah anak kecil. Abidzar terkekeh kemudian tanpa rasa canggung mengecup perut Freya.


"Ayah belum makan, sayang. Bunda belum nawarin soalnya." Jawab Abidzar sambil mengedipkan sebelah matanya.


Freya mengerucutkan bibirnya, "kan biasanya emang nggak makan di rumah. Jadi Mas beneran belum makan?"


"Iya. Pinginnya makan bareng bunda dan adek. Kita makan yuk? Mama tadi juga baru pulang kayaknya."


"Ya udah ayo." Abidzar pun langsung menggandeng tangan Freya. Ia menuntunnya sampai ke meja makan. Sagita tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Sesuatu yang tak pernah dilihatnya saat Abidzar bersama Erin, kini justru dilakukan Abidzar pada istri mudanya. Ada rasa sesal dalam hati. Hanya karena anaknya tak pernah dekat dengan seorang perempuan pun membuatnya menjodohkan Abidzar dengan perempuan yang tidak ia cintai. Tapi nasi telah terlanjur jadi bubur. Tak bisa berubah jadi nasi lagi. Tinggal tambah kerupuk atau emping melinjo, kuah, suwiran ayam, dan sambal, siapa tetap bisa dinikmati. Begitu pula pernikahan Abidzar dan Erin, mereka hanya bisa menjalani dengan menambah bumbu-bumbu agar pernikahan mereka tetap harmonis meskipun mungkin cinta itu tidak ada sa ma sekali.


Selepas makan siang, Abidzar pun kembali ke kantor. Masih banyak yang harus ia kerjakan di sana.

__ADS_1


Sorenya, Abidzar pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Meskipun ada amarah dan kecewa dengan Erin, tidak mungkin juga ia mengabaikannya.


"Akhirnya kau pulang, Mas. Aku pikir kau lupa memiliki istri sah di sini." Cibir Erin sambil membolak-balikkan lembaran majalah di tangannya.


Abidzar malas menanggapi. Ia meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar. Erin mendengkus lalu menutup majalah itu dengan kasar. Dilemparkannya majalah tersebut sembarangan arah. Ia kesal sekali diabaikan oleh suaminya tersebut. Ia pun segera menyusul Abidzar di kamar.


"Mas, ingat dengan perjanjian kita. Mas itu hanya menikahi Freya sampai ia melahirkan dan setelahnya akan segera menceraikannya. Mas jangan terlena. Aku tak suka." Ketus Erin membuat Abidzar membalikkan badannya sambil melepaskan kancing-kancing kemejanya.


"Yang membuat perjanjian itu kau, bukan aku. Bila aku ingin mempertahankan Freya, itu adalah hakku."


"Mas, ingat Mas, dia perempuan yang sudah menyakitimu belasan tahun yang lalu. Dia yang membuat semua orang membully mu. Dia yang sudah mempermalukan mu seantero sekolah. Dia itu perempuan matrealistis. Perempuan murahan. Kenapa kau justru ingin mempertahankannya? Apa kau lupa dengan sakit hati dan dendam mu?" Sentak Erin dengan suara meninggi.


Abidzar tersenyum sinis. Bila sebelumnya ia membenarkan kata-kata Erin, maka sekarang tidak lagi. Apalagi setelah ia mendengar sendiri pengakuan Erin Di hadapan Freya.


"Iya, siapa lagi. Bukankah katamu surat itu kau berikan langsung kepadanya." Ya, Abidzar memang sempat bercerita pada Erin saat awal-awal mereka menikah. Tentu saja yang membahas pertama kali adalah Erin.


"Ya, memang aku memberikannya langsung kepada Freya. Tapi bisa saja surat itu dicuri bukan? Lalu orang tersebut menempelnya di mading berikut surat balasannya."


Mata Erin seketika membulat, 'apa perempuan sialan itu menceritakannya pada Mas Abi? Kalaupun iya, masa'aa Abi bisa percaya begitu saja? Sialan. Jadi sebelum pulang pun dia masih menyempatkan diri mengunjungi jalaaang itu? Brengsekkk.'


"Aku yakin, Mas sudah membahas masalah ini dengan Freya bukan? Aku yakin dia tak mau mengakui perbuatannya dan mencoba membela diri. Kau jangan bodoh, Mas. Dia telah membohongimu. Kau ditipunya. Maling mana mau ngaku, kalau dia jujur, penjara penuh."

__ADS_1


"Oh ya?" Beo Abidzar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi kok aku percaya dengan ucapannya. Justru aku meragukan ... " Abidzar melirik Erin.


"Meragukanku begitu?" sentak Erin yang merasa Abidzar menuduhnya secara tak langsung.


Abidzar mengedikkan bahunya, "entahlah."


"Mas, aku tak percaya kau lebih mempercayai perempuan yang baru berapa bulan masuk ke kehidupanmu dibandingkan aku yang telah hampir 3 tahun mendampingi mu. Kau jahat, Mas. Kau tega." Erin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis terisak sambil berdiri.


Bukannya iba, Abidzar justru merasa jengah dengan sifat playing victim istrinya itu. Ia pun mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan mencari sesuatu di dalamnya. Setelah itu ia membuka sebuah rekaman dan menekan tombol loud speaker membuat Erin sontak menurunkan tangannya dengan wajah merah padam. Antara malu dan marah. Ia tak menyangka, Abidzar memiliki rekaman saat ia mengancam Freya tadi. Ia seperti dikuliti hidup-hidup. Lidahnya mendadak kelu. Apalagi saat sorot mata Abidzar menajam dan terlihat jelas ada bara amarah di dalamnya.


"Kau masih ingin berkelit? Kau masih ingin berbohong? Kau masih ingin menipuku, Rin? Apa salahku padamu selam ini, hah? Apa? Sampai-sampai kau tega mempermainkan ku? Kau membuatku mengalami hari buruk saat di sekolah? Kau membuat semua orang mengejekku, menghinaku, membully ku. Kau membuatku down. Kau membuatku salah paham dengan Freya. Kau membuatku menanam kebencian pada orang yang salah. Apa salahku, Rin? Apa????" teriak Abidzar yang sudah sejak tadi menahan amarah di dadanya.


Sebenarnya ia ingin membahas masalah ini baik-baik. Tapi sepertinya tak bisa. Erin terus saja memojokkan Freya seolah-olah Freya merupakan manusia paling bersalah dan pantas dibenci. Bertahun-tahun menanam kebencian pada orang yang salah dan meratukan tersangka sebenarnya. Ia benar-benar bodoh bisa ditipu mentah-mentah oleh wanita yang telah membersamainya hampir 3 tahun ini.


"Bukan hanya ini, kau juga memfitnah Freya saat di kolam. Kau yang menjatuhkan dirimu sendiri, tapi kau memfitnah Freya. Astaga, aku tak menyangka, aku memiliki istri seorang rubah berekor sembilan. Ya, kau rubah berekor sembilan. Dengan mudahnya kau membolak-balikkan fakta. Ini baru 2 kebohongan yang terungkap. Entah kebohongan apalagi yang kau lakukan. Ayo, jujur padaku! Katakan kebohongan apalagi yang kau lakukan di belakangku? Aku minta kau jujur sekarang, Rin. Ayo katakan, kebohongan apalagi yang sudah kau lakukan di belakangku? Ayo katakan! AYO KATAKAN, ERIN! KATAKAN! KEBOHONGAN APALAGI YANG KAU SEMBUNYIKAN. JANGAN SAMPAI AKU MENGETAHUINYA DARI ORANG LAIN SEBAB BILA ITU TERJADI AKU TAKKAN PERNAH MEMAAFKAN MU LAGI. KATAKAN ERIN! KATAKAN!!!" Teriak Abidzar yang sudah benar-benar murka.


Mina yang kebetulan lewat dekat pintu sampai gemetaran. Ia bisa mendengar kalau kebohongan Erin telah ketahuan oleh majikannya. Bagaimana kalau majikannya tahu, dia pun ikut terlibat. Wajah Mina sudah pucat pasi. Ia pun segera berlari dari sana. Ia benar-benar takut. Bagaimana bila Abidzar tiba-tiba memecatnya? Atau yang lebih parah Abidzar melaporkannya ke polisi karena telah bekerja sama memfitnah Freya? Mina mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia benar-benar ketakutan saat ini.


Lalu, bagaimana dengan Erin? Akankah dia mengakui segala kebohongannya selama ini? Termasuk rahasia terkelamnya?


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2