Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
87


__ADS_3

Lelah hati, jiwa, dan raga, itu yang sedang Erin rasakan saat ini. Dengan hati yang remuk redam, Erin menyalakan mobilnya kemudian melajukannya. Kali ini tujuannya adalah rumahnya dan Abidzar. Rumah itu merupakan hadiah pernikahan dari kedua mertuanya. Rumah yang telah ia tempati selama hampir 3 tahun ini.


Erin mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Kaca mobil ia turunkan sehingga semilir angin masuk ke dalam mobil menerbangkan helaian rambutnya. Memikirkan ayahnya ternyata memiliki wanita lain selain ibunya, hati Erin pun merasa sakit. Matanya sampai memerah. Entah dimana ibunya saat ini. Sudahkah ia tahu mengenai kelakuan bejat ayahnya atau belum? Kalau belum, lantas dimana ibunya kini berada?


"Mama, mama dimana? Apa mama baik-baik saja?"


Erin sangat mencemaskan keadaan ibunya. Apalagi selama ini hanya ibunya saja yang penuh perhatian padanya. Setiap kali ayahnya marah, hanya ibunya yang selalu jadi garda terdepan untuk melindunginya. Apalagi setiap ia melakukan kesalahan, ibunya selalu siap pasang badan. Oleh sebab itu, ia lebih dekat dengan ibunya dibandingkan ayahnya.


Sementara itu, Laila yang sendirian di negeri seberang merasa benar-benar kesepian. Ia sudah tak tahan lagi berada di negeri orang tanpa satupun yang menemani. Ia memang memiliki banyak uang. Ia bisa menggunakannya untuk apapun dan membeli apa saja, tapi semua tak ada gunanya kalau ia hanya hidup sendirian seperti seorang yang tak memiliki keluarga sama sekali.


Laila lantas mencoba menghubungi suaminya, tapi lagi-lagi operator yang menjawab panggilannya. Kesal ... sudah pasti. Arifin mengatakan akan segera menyusulnya ke sana. Tapi jangankan datang, menghubungi pun tidak. Arifin benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.


Membuang bosan, Laila lantas membuka sosial media. Namun alangkah terkejutnya saat video yang ia lihat pertama kali adalah video dilaporkannya putrinya oleh suaminya sendiri. Bagaimana ia tak terkejut, setelah 2 Minggu berada di negeri orang, ia benar-benar lost contact dengan putrinya dan saat mendapatkan kabar justru kabar tak mengenakkan lah yang ia dapatkan.


"Kasus pencemaran nama baik dan penipuan? Kasus pencemaran nama baik apa? Bagaimana mungkin Erin melakukan itu? Lalu penipuan, penipuan apa? Apa jangan-jangan ... "


Jantung Laila berdegup kencang. Ia pun membuka tautan berita tersebut dan membacanya. Matanya lagi-lagi terbelalak saat mengetahui rahasia sang putri kini telah diketahui suaminya. Bukan hanya itu, ia juga membuka tautan yang menandai asal mula kasus pencemaran nama baik.


Laila tak menyangka, Erin lagi-lagi melakukan kebodohan yang pada akhirnya menjadi boomerang pada dirinya sendiri. Ia tak bisa marah pada menantunya tersebut. Siapapun yang mengalami seperti yang Abidzar alami pasti akan marah dan murka. Dia pun seandainya mengalami hal serupa pun akan murka. Oleh sebab itu, ia tidak bisa marah sebab semua permasalahan itu berakar dari keserakahan suami dan anaknya sendiri.


Bukan tak mencoba mencegah, tapi percuma. Ayah dan anak itu memiliki karakter yang sama, keras kepala. Jadi mau mulut sampai berbuih menasihati, hal tersebut takkan pernah mereka dengarkan sama sekali. Jadi Laila memilih masa bodoh. Terserah mereka ingin melakukan apa. Ia sudah tak mau repot-repot menasihati.


Laila lantas melanjutkan kegiatannya membuka-buka sosial medianya hingga tiba-tiba jarinya berhenti di sebuah tautan berita. Dengan jemari bergetar, Laila membuka tautan berita tersebut. Berita tentang penangkapan mantan asisten pribadi CEO Abra Corp di apartemen selingkuhannya. Rahang Laila mengeras. Ternyata itu alasan suaminya tak kunjung muncul sebab ia tengah menghabiskan waktu dengan selingkuhannya. Apalagi di video tersebut terlihat sekali keadaan Arifin yang benar-benar kacau. Bahkan tubuhnya tampak dipenuhi jejak-jejak percintaan. Dengan jemari bergetar, ia melemparkan ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.


"Dasar bajingaaan! Ternyata selama ini kau memiliki selingkuhan. Aku bersyukur kau ditangkap. Bajingaan sepertimu memang lebih pantas mendekam di dalam penjara." Geram Laila.


Laila lantas bertekad segera pulang ke Indonesia. Ia pantang untuk mempertahankan laki-laki yang doyan selingkuh. Laila menyeringai, untung saja berkas-berkas aset pribadi mereka ia yang menyimpannya. Jadi ia tetap bisa hidup dengan tenang bila memang harus berpisah dengan suaminya tersebut.


...***...


Mobil yang Erin kendarai akhirnya berbelok ke komplek perumahan elit tempat dimana rumahnya dan Abidzar berada. Namun saat beberapa meter lagi sampai, dahinya mengernyit sebab ia melihat beberapa mobil polisi telah terparkir di depan rumahnya. Dengan perasaan kalut, Erin pun segera memutar balik mobilnya dan menaikkan kecepatan untuk segera pergi dari sana.


Entah akan kemana ia setelah ini. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Ia tidak memiliki tempat untuk menumpang sementara ini. Erin pun melajukan mobilnya membelah jalanan. Entah kemana mobil itu akan membawanya. Ia hanya mengikuti nalurinya. Yang terpenting ia segera pergi menjauh. Setelah berjam-jam menyetir, sampailah Erin di sebuah tempat yang cukup sepi dan ditumbuhi banyak ilalang. Hanya ada beberapa rumah berada di sana. Entah dimana kini ia berada, yang penting ia telah menjauh. Semoga saja ada salah seorang warga yang dapat memberikannya tempat tinggal sementara untuk dirinya.


...***...


Freya dan Sagita siang itu tampak menonton televisi. Keduanya sesekali berbincang.


"Fre, cobain ini deh," ujar Sagita.


"Apa itu, Ma?" tanya Freya saat melihat Sagita membuka bungkusan paket yang Freya ketahui semuanya merupakan cemilan.


"Ini seblak goreng."

__ADS_1


"Seblak goreng?" Dahi Freya berkerut. Ia selama ini tahunya seblak yang berkuah. Lalu tiba-tiba ibu mertuanya menyodorkan seblak goreng yang membuat Freya benar-benar merasa aneh.


"Iya, cobain deh, enak." Sagita tampak mengambil sebungkus untuk dirinya sendiri dan mengunyahnya dengan santai. Dari ekspresi Sagita yang tampak begitu menikmati, Freya pun mencicipinya satu. Awalnya satu, lalu ambil lagi 3, ambil lagi 5, hingga ujung-ujungnya habis satu bungkus membuat Sagita menganga kemudian tertawa terbahak-bahak. "Ini laper apa doyan?" goda Sagita membuat Freya tersenyum malu.


"Habisnya enak, Ma. Hehehe ... " Freya tertawa kikuk membuat Sagita benar-benar geli melihatnya.


"Nah, cobain ini juga coba!" Sagita lantas menyodorkan keripik yang lain. Lagi, Freya menikmatinya dengan riang.


Tak lama kemudian, Abidzar muncul dan duduk di samping Freya.


"Lagi makan apa, Sayang?" tanya Abidzar.


"Ini Mas, enak banget keripiknya." Melihat istrinya menikmati keripik entah apa namanya itu membuat Abidzar ikut kepingin. Ia pun mencomot dan menikmatinya.


"Enak," gumamnya. Tanpa ia sadar Sagita tengah tersenyum-senyum melihat Abidzar menikmati keripiknya dengan santai.


"Enak, Bi?" tanya Sagita sambil menaikkan alisnya.


"Enak, Ma. Keripik apa sih ini?"


"Itu ... keripik apa ya?"


"Ck ... Mama jawab aja langsung kenapa sih pake sok misterius segala." Protes Abidzar. Ia lantas membuka sebungkus lagi keripiknya dan menyantapnya.


"Itu keripik usus ayam, emang kenapa?" Sagita memasang ekspresi santai, berbeda dengan Abidzar. Sejak kecil ia paling anti memakan jeroan. Mengetahui itu, Abidzar pun langsung ngacir ke wastafel dapur dan memuntahkan isi perutnya. Sagita hanya tertawa saja. Dia merasa aneh dengan putranya itu, padahal tadi bilang enak, tapi setelah tahu justru langsung ngacir ingin dimuntahkan.


"Mas Abi kenapa, Ma?" tanya Freya heran.


"Suamimu itu paling anti sama yang namanya jeroan jadi ya gitu deh." Kekeh Sagita.


"Oh," Freya hanya ber'Oh ria saja. Ia justru melanjutkan acara ngemilnya. Abidzar yang baru selesai memuntahkan isi perutnya kembali ke tempat duduknya.


"Mama kok iseng banget sih, udah tau aku nggak suka makan jeroan malah dikasih," protes Abidzar.


"Lha, yang ngasi kamu siapa? Yang tiba-tiba nyomot tanpa bertanya lagi siapa, dasar aneh," cibir Sagita menahan tawanya.


"Tapi kan bisa dikasi tau."


"Tadi bilang enak, kenapa sekarang protes?"


"Enak sih enak, tapi 'kan ... "


"Ya udah, intinya enak. Gitu aja ribet."

__ADS_1


"Ah, mama kok gitu sih. Nggak ngerti banget kalau aku ... "


"Kalau mama nggak kasih tau juga pasti kamu terusin makan."


"Itu 'kan karena aku nggak tau, Ma."


"Pokoknya selepas kamu nggak tau, intinya enak. Titik. Ya nggak, Fre?"


"Iya, Ma. Mama bener. Mas Aneh deh, giliran nggak tau bilang enak, giliran tau sok dimuntahin. Kenapa nggak pura-pura nggak tau aja biar bisa tetap menikmati kayak aku gini nih. Emmmm ... uenakkk ... " Freya menggoda suaminya dengan mengunyah keripik usus tersebut dengan ekspresi keenakan membuat Abidzar mendelik tajam.


"Eh ...eh, Mas, ini berita Erin. Hah, video vulgarnya dengan laki-laki di hotel tersebar? Astaga, kenapa bisa ya, Mas? Ini bukan perbuatan Mas Abi 'kan?" Tiba-tiba Freya menghentikan kegiatan mengunyahnya saat berita tersebarnya video tak senonoh Erin tersebut di sosial media. Jelas hal tersebut menarik atensi ketiga orang di ruangan itu.


"Ya nggak lah. Mas nggak segila itu untuk menyebarkan sesuatu yang tak pantas. Karena itu Mas memilih jalur hukum karena Mas nggak mau melanggar UU ITE. Apalagi video kayak gitu, gimana kalau ditonton anak di bawah umur, bisa merusak itu."


"Syukurlah kalau bukan. Tapi kasihan Erin ya, Mas. Udahlah tersandung kasus pencemaran nama baik, kasus penipuan, kini kasus video vulgarnya juga."


"Ngapain kamu kasihan sama dia, Fre. Dia aja nggak kasihan sama suaminya sendiri. Minimal kasihan sama diri sendiri. Secara tidak langsung, ia merendahkan dirinya sendiri dengan melakukan hal-hal tak terpuji seperti itu." Sela Sagita yang benar-benar jengah mengetahui kebusukan Erin yang baru ia ketahui. "Mama nggak nyangka, pernah begitu menyayangi Erin. Mama pikir dia perempuan baik-baik, tapi nyatanya ... "


"Mama benar. Padahal selama ini dia selalu menjelek-jelekkan Freya. Bahkan dia terus menuduh Freya bukan perempuan baik-baik, tapi nyatanya dia sendiri yang ... " Abidzar berdecak. Sebenarnya ia enggan membahas keburukan seseorang, tapi mau bagaimana lagi. Dalam hal ini, ia tanpa sepengetahuannya terlibat di dalamnya.


"Benar kata orang, don't judge a book by its cover. Jangankan kalian yang masih muda, mama yang udah tua pun bisa tertipu dengan segala penampilan, sikap, dan tutur katanya. Eh, tapi ngomong-ngomong, dia tadi datang ke mari. Untung saja kamu sudah berpesan dengan pak Tono untuk tidak memperbolehkannya masuk. Kalau tidak, mungkin dia tadi sudah berbuat onar dan mencelakakan Freya."


"Itulah yang aku khawatirkan, Ma. Tapi tadi dia nggak buat keributan 'kan?"


"Kamu kayak nggak tahu dia aja. Dia tadi ngamuk sampai nabrak gerbang gitu. Untung aja gerbangnya kuat, kalau nggak, entah apa yang akan terjadi di rumah ini."


"Eh, berita penangkapan Erin udah keluar ya, Mas?" Tanya Freya dan Abidzar mengangguk.


"Erin terbukti bersalah jadi surat penangkapannya langsung turun, tapi menurut informasi dari pengacara Mas, dia kayaknya kabur. Polisi sedang melakukan pencarian." Ujarnya membuat Freya iba.


Tiba-tiba Freya teringat kesalahannya di masa lalu. Sebenarnya Freya iba mengetahui Erin akan ditangkap, tapi bila dipikir-pikir, tak ada salahnya menahan Erin, siapa tahu ia pun bisa menyadari kesalahannya selama di penjara nanti.


"Semoga aja Erin segera menyerahkan diri. Kalau tidak, masa tahanannya nanti pasti akan lebih lama. Siapa tahu, di penjara, dia bisa menyadari kesalahannya dan bertobat," ucap Freya seraya tersenyum.


"Kamu kok baik banget sih, Sayang. Padahal Erin sudah menyakiti kamu dan melakukan sesuatu yang buruk padamu."


"Aku bukannya perempuan baik, Mas. Aku hanya berusaha tidak memupuk dendam sebab dendam hanya akan mengotori hati. Aku belajar ini dari mantan maduku," kekeh Freya membuat alis Abidzar menukik bingung.


"Nanda. Aku belajar ini dari Nanda. Padahal aku sudah menyakitinya. Berusaha melenyapkannya. Bahkan aku telah membuat nyawa bayi yang belum sempat melihat dunia harus menghadap sang pencipta lebih dahulu, tapi Nanda ... dia justru memaafkan ku. Dari dia aku belajar keikhlasan. Dari dia aku belajar arti memaafkan. Dan dari dia aku belajar ketulusan. Jadi tak ada salahnya memaafkan sebab dengan memaafkan akan membuat hati kita lebih tentram." Papar Freya membuat Sagita dan Abidzar tersenyum. Dalam hati mereka pun berharap hal yang sama. Semoga Erin mau menyerahkan diri dan menyadari kesalahannya selama ini.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2