
Seminggu telah berlalu, semenjak malam perdebatan dan Tirta mengantar Ana dalam kebungkaman, sejak saat itu pula mereka putus komunikasi. Tak ada lagi Tirta yang berisik mengirimkan pesan-pesan receh, tak ada Tirta yang berisik menghubunginya apalagi menjelang tidur, dan tak ada lagi Tirta yang datang ke kediaman Abidzar hanya untuk menemui gadis pujaan hatinya tersebut. Tirta benar-benar menghilang bak ditelan bumi.
Ana mendesah pelan. Berkali-kali ia mengecek ponselnya, entah apa yang ditunggunya, yang pasti ia merasakan sesuatu yang tak biasa. Atau lebih tepatnya sebuah kehilangan.
Ya, Ana merasa kehilangan. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam hidupnya. Tidur tak tenang, makan tak berselera, hari-hari yang dilaluinya pun berjalan tanpa semangat. Hatinya terasa kosong. Jiwanya terasa hampa. Sungguh ini sangat mengusik dirinya.
Gulir, gulir, gulir, Ana menggulir layar ponsel. Berharap tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ataupun panggilan tak masuk ke layar ponselnya. Tapi sayang, apa yang ia tunggu tidak terjadi sama sekali.
"Hufth ... " sebuah helaan nafas kasar keluar dari bibir tipis gadis itu. Ia lantas melempar ponselnya sembarangan. Kemudian ia menghembuskan tubuhnya ke atas ranjang. Berguling, ke kanan dan ke kiri. Merasa bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia benar-benar gelisah.
Setelah pertemuannya dengan Martin, Ana belum juga tergerak untuk menemui ibunya seperti permintaan laki-laki yang telah menjadi ayah sambungnya tersebut. Bukannya ia tak peduli. Bukan. Ia bahkan sangat merindukan ibunya tersebut. Namun hatinya belum siap. Mentalnya belum cukup kuat untuk kembali menginjak rumah itu dan menatap keduanya.
Ana akui dirinya salah. Sikapnya ini tak dibenarkan. Ia seharusnya memikirkan perasaan ibunya. Apalagi ibunya kini sering sakit-sakitan, sungguh ia pun khawatir. Tapi bila mentalnya belum siap, dia bisa apa. Ia harap, ia bisa segera menguatkan diri agar bisa kembali ke rumah dimana ia dibesarkan dulu dan memeluk erat tubuh ibunya. Menguatkan serta memberikan restu atas pernikahannya. Mencoba berdamai dengan keadaan yang memang sudah ditakdirkan seperti itu. Ya, Ana akui, segala yang terjadi ini merupakan takdir. Tak ada yang mampu menentang takdir. Mau bagaimana pun manusia berupaya, bila takdirnya sudah seperti itu, ia bisa apa. Mungkin ini yang terbaik, pikirnya. Ana terus mensugesti dirinya agar meyakini inilah yang terbaik, baik untuk dirinya, ibunya, maupun Martin.
...***...
"Ta, muka kamu kok seminggu ini kayak kertas koran bungkusan terasi? Lecek amat," ejek sang nenek pada Tirta.
Wajah Tirta yang memang muram kian memberengut masam mendengar ejekan sang nenek. Ia lantas bergerak dan menghempaskan bokongnya di sofa samping sang nenek. Kemudian tanpa canggung, ia merebahkan kepalanya di pangkuan sang nenek membuat nenek berteriak.
"Hei anak nakal, kau apa-apaan tidur di pangkuan nenek, heh? Kau pikir nenek pacarmu," pekik sang nenek. "Pindah sana!" usirnya sambil mendorong pelan pundak Tirta, tapi laki-laki itu enggan bergerak. Ia masih betah berbaring di pangkuan sang nenek. Riana yang melihat sikap tak biasa Tirta tampak mengerutkan keningnya.
Sikap ini mengingatkan Riana pada Tirta remaja. Setiap ia memiliki masalah, bahkan saat ia ditolak gadis yang disukainya maka Tirta akan bersikap demikian. Ia akan bermanja-manja dengannya atau neneknya. Seolah dengan begitu ia bisa mendapatkan ketenangan dan kenyamanan.
Riana sampai bertanya-tanya, apakah yang terjadi pada putranya itu? Apakah ia memiliki masalah? Sebab sikap aneh Tirta telah tampak sejak seminggu yang lalu. Tak ada Tirta yang ceriwis. Tak ada Tirta yang ceria. Tak ada Tirta yang usil. Anak laki-lakinya itu tampak pendiam dan sering melamun. Sebagai seorang ibu, tentu saja Riana dapat merasakan perubahan itu. Dan sebagai seorang ibu, Riana pun mencemaskan keadaan putranya.
"Biarin Tirta berbaring sebentar saja, Nek. Pelit amat sih sama cucu sendiri," sungut Tirta yang enggan berpindah.
"Kau itu bau, tau. Baru pulang dari pergi pagi pulang malam. Mandi sana!"
"Bau? Mana ada. Tirta itu selalu wangi." Tirta lantas mengendus ketiaknya sendiri. "Tuh, wangi kan!"
"Wangi dari Hongkong"
"Ih, jorok!" seru seseorang membuat semua semua mata berpaling ke sumber suara. Salam hitungan detik, semua yang ada di ruangan itu pun membelalakkan matanya.
"Arum ... " pekik mereka semua terkejut melihat keberadaan Arum, adik perempuan Tirta atau anak bungsu Riana.
"Ya Allah nak, ini beneran kamu?" pekik Riana yang telah berdiri.
"Helloooo everybodeeeeh, i'm coming," seru Arum yang sikapnya sama persis dengan sang nenek.
"Kalau masuk itu ucapin salam, bukan hello, hello Bandung kayak gitu," rutuk Tirta sambil melirik sang adik.
"Heh, adiknya pulang disambut kek, malah diprotes.Ya udah, Arum ulang, assalamu'alaikum semuanya," ucap Arum.
"Wa'alaikumussalam," jawab sang nenek, Tirta, Riana, dan suaminya.
Riana pun gegas bergerak mendekati Arum dan memeluknya.
"Kamu kok pulang nggak ngomong-ngomong lagi, Nak. Kan papa atau kakak kamu bisa jemput," ucap Riana setelah melepaskan pelukannya. Lalu ia menangkup pipi sang putri sambil tersenyum.
"Namanya juga surprise, Ma. Bukan surprise kalau Arum kasi tau," sahut Arum seraya terkekeh.
"Tapi kan bahaya, Sayang. Apalagi kamu pulang malam-malam kayak gini." Ujar sang ayah yang kini telah berdiri di dekat Arum. Lalu ia merentangkan tangan membuat Arum pun segera beringsut dan berhambur ke pelukan sang ayah.
"Iya, iya, maaf," ucap Arum di pelukan sang ayah.
"Heh, jomblo karatan bin bujang lapuk, minggir sana! Nenek mau peluk cucu perempuan nenek," omel sang nenek sambil mendorong tubuh Tirta. Tirta yang tak sigap dan sedang melamun pun terlonjak hingga terjatuh dan terjerembab ke lantai. Kepalanya membentur kaki meja dengan punggung terhempas ke lantai lebih dahulu membuatnya menjerit kesakitan.
Brukkk ...
"Aaaarghhh ... " pekik Tirta.
__ADS_1
"Tirta ... "
"Abang ... " pekik Riana, Arum, dan sang ayah saat melihat Tirta terjatuh.
"Nenek, nenek kenapa tega sekali sih sama Tirta," protes Tirta. Wajahnya telah merah padam. Bola matanya telah memerah dan diselimuti kabut. Sang nenek sampai terhenyak tak menyangka kalau dorongannya membuat Tirta sampai terjatuh seperti itu.
"Maaf, nenek tidak sengaja," ucap sang nenek merasa bersalah. Sang Nenek mencoba mengusap kepala Tirta, tapi Tirta tampak menghindar.
"Bang, Abang nggak papa? Sini Arum periksa!" Arum menawarkan untuk memeriksa Tirta. Arum kini sedang menempuh pendidikan di akademi keperawatan di luar kota. Dia merupakan calon perawat. Karena libur semester, Arum pun berinisiatif pulang dan memberikan kejutan untuk keluarganya.
"Nggak usah. Kamu istirahat aja dek. Kamu pasti capek baru pulang. Abang juga mau istirahat dulu. Capek," ucap Tirta lesu. Ia mengusap puncak kepala Arum. Kemudian ia segera beranjak dari sana sambil mengusap-usap punggungnya sendiri.
Arum tertegun melihat sikap sang kakak yang tampak berbeda dari biasanya. Apalagi saat melihat binar mata yang tampak diselimuti kesedihan dan kaca-kaca bening, membuat Arum bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dengan kakaknya.
"Ta, kamu udah makan?" tanya sang ibu saya Tirta belum menjauh.
"Belum. Tapi Tirta tidak lapar. Tirta mau tidur saja," jawab Tirta sambil menaiki anak tangga satu persatu.
"Ma, Abang kenapa? Kenapa wajahnya kayak sedih banget gitu. Masa' karena jatuh kayak gitu aja sampai kayak mau nangis?" Tanya Arum heran. "Apa Abang ada masalah?"
Ya, tadi mata Tirta memang tampak berkaca-kaca. Bukan karena kesakitan akibat jatuh. Meskipun sakit, Tirta tidak mungkin sampai menangis hanya karena jatuh seperti itu. Hanya saja, mungkin momennya saja yang tidak tepat. Hatinya saat ini sedang diselimuti awan kelabu. Kesedihan yang sedang meraja di benaknya. Membuat ia tak mampu mengontrol bulir-bulir bening itu terbit di netranya.
"Mama juga nggak tau, Rum. Sudah seminggu ini abangmu seperti itu. Sayangnya abangmu tidak mau cerita sebenarnya apa yang terjadi."
Sang nenek yang merasa bersalah hanya bisa terdiam. Ia pun sebenarnya menyadari kalau cucu laki-lakinya itu sedang tidak baik-baik saja. Tapi ia mengabaikannya. Ia pikir dengan mengajaknya bercanda seperti biasa, maka sikap ceria itu akan segera kembali. Tapi nyatanya tidak. Tirta justru jadi kesakitan karenanya.
"Sudah, tak terlalu kalian pikirkan. Mungkin dia sedang kelelahan saja," ujar sang ayah yang ingin menenangkan para wanitanya.
"Tapi pa ... "
"Udah ya. Tirta telah dewasa. Kalaupun dia ada masalah, biarkan ia menyelesaikannya sendiri. Jangan banyak tanya karena hal itu justru akan membuat Tirta makin merasa tak nyaman. Biarkan dia sendiri dulu. Kalau dia butuh bantuan kita, baru kita bergerak," peringat ayah Tirta dan Arum.
Riana dan Arum pun mengangguk setuju dengan kata-kata laki-laki paruh baya tersebut.
Sementara itu, di dalam kamar, tanpa melepaskan pakaiannya, Tirta langsung saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kaca-kaca bening yang tadi menghiasi netranya akhirnya luruh membasahi pipi. Disekanya kasar bulir bening itu. Kemudian laki-laki itu terkekeh, merasa diri begitu lemah karena menangisi perempuan yang tak pernah menganggapnya ada.
Sementara itu, di kediaman Abidzar, laki-laki itu tampak tersenyum sendiri melihat foto-foto putranya hasil jepretan Freya. Hampir setiap hari Freya mengabadikan setiap momen tumbuh kembang sang putra.
"Mas, kabar kak Tirta gimana? Kok udah seminggu dia nggak nongol-nongol ya?" tanya Freya tiba-tiba. Ia masih duduk di depan meja rias untuk mengaplikasikan skincare ke wajahnya.
Mata Abidzar memicing tajam. Ia sangat tidak suka istrinya menyebut dan menanyakan laki-laki lain. Entahlah. Jiwa posesifnya begitu besar.
"Kenapa nanyain dia? Kamu kangen dia!" Katus Abidzar sambil mendelik tajam.
Freya membulatkan matanya,"kamu kenapa sih, Mas?" protes Freya.
"Kamu tuh yang kenapa pake nanyain laki-laki lain di depan Mas."
"Astaghfirullah, jangan bilang Mas cemburu?"
"Kalau iya, kenapa?"
Freya menggelengkan kepalanya, "posesif banget sih. Aku nanya gitu soalnya aneh, biasanya dia sering datang, tapi seminggu ini nggak. Aku sih curiga dia ada masalah sama Ana. Soalnya setelah mengantar Ana pulang malam itu, kak Tirta nggak nggak muncul lagi. Bukan hanya itu, sejak hari itu juga sikap Ana berubah. Dia jadi pendiam dan sering ngelamun. Kalau aja kak Tirta ada cerita gitu dia kenapa?" papar Freya agar suaminya itu tidak salah paham dengannya.
Abidzar tersenyum kikuk. Ia merasa bersalah karena telah over thinking pada istrinya itu.
Abidzar lantas beringsut memeluk Freya yang telah duduk di pinggir ranjang dari belakang. Dikecupnya pipi Freya sambil menggesek-gesekkan rahangnya yang telah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus membuat Freya kegelian.
"Maaf," ucapnya setelahnya.
"Nggak."
"Maafin Mas ya!"
__ADS_1
"Nggak mau."
"Ya udah kalau nggak mau, terima serangan Mas." Abidzar lantas menggesek-gesekkan lagi rahangnya di pipi Freya membuat perempuan itu menjerit kegelian.
"Iya Mas, iya, berhenti ih! Iya, iya, Freya maafin, tapi berhenti," pekik Freya berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Abidzar ternyata sangat kuat membuatnya kesulitan melepaskan diri. Setelah beberapa saat, akhirnya Abidzar berhenti menggesek-gesekkan rahangnya sambil terkekeh.
"Mas usil banget sih," protes Freya sambil mencebikkan bibirnya.
"Emang," jawabnya enteng sambil terkekeh. "Oh ya, tadi kamu tanya kabar Tirta kan? Kabarnya sih sepertinya baik, tapi sepertinya juga tidak baik-baik saja," ucap Abidzar ambigu.
"Maksudnya gimana sih?" tanya Freya bingung.
"ya gitu, secara fisik sepertinya dia baik-baik saja, tapi entah dengan mentalnya. Sama seperti Ana, Tirta pun sekarang jadi pendiam. Lebih banyak melamun. Bahkan sekarang kerjaannya lembur melulu seperti sedang berusaha menyibukkan diri agar tidak banyak pikiran."
Freya menganggukkan kepalanya, "kira-kira mereka kenapa ya, Mas? Sebelum pergi mereka kan baik-baik aja, tapi setelah itu, mereka berubah 180 derajat."
"Udah, tak perlu kau pikirkan. Itu urusan mereka. Kalau mereka minta bantuan kita, baru kita bantu. Tapi untuk sementara ini, biarkan saja seperti ini. Kita cukup memantau. Semoga ini hanya sebuah kesalahpahaman saja," ujar Tirta bijak.
"Mas benar," ucap Freya semringah. "Oh ya Mas, besok orang dari butik langganan Mama akan datang untuk menunjukkan contoh rancangan mereka. Mama minta kita fitting di rumah aja."
Abidzar menganggukkan kepalanya, "baiklah, besok siang Mas pulang sekalian makan siang di rumah."
"Tapi Mas, apa nggak merepotkan? Kenapa nggak kita aja langsung ke butik mereka?"
"Kamu itu belum 40 hari dari hari melahirkan, Sayang. Mama pasti memiliki banyak pertimbangan dan semua demi kebaikan dan kesehatanmu. Dan yang lebih penting, demi kesembuhanmu."
"Mama baik banget sih. Freya bahagia sekali bisa memiliki mama mertua seperti mama. Jadi makin sayang deh."
"Kok cuma sama mama aja makin sayang, dengan mas nggak?"
"Kalau yang itu mah nggak perlu ditanyakan lagi, Freya sayaaaang banget sama Mas Abi."
Mendengar kata-kata itu, sontak saja pipi Abidzar memerah sampai ke telinga.
"Mas juga sayaaaang banget sama kamu. I love you, bunda sayang."
"Love you too, ayah sayang."
...***...
Raisa yang tengah begitu merindukan putrinya, lantas berjalan menuju kamar Ana. Diputarnya handle pintu kemudian ia pun masuk ke dalam. Dengan wajah sendu, Raisa duduk di tepi ranjang sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
Raisa kembali berdiri dan beranjak menuju sebuah pigura ukuran besar yang tergantung di dinding. Pigura itu merupakan potret keluarga kecil mereka. Saat itu mendiang suaminya masih hidup. Diusapnya wajah Ana yang terdapat di foto tersebut. Wajah Ana tampak berbinar bahagia. Wajah yang sangat dirindukan Raisa.
Air mata Raisa perlahan turun. Ia begitu merindukan putrinya, tapi ia tak tahu dimana putrinya saat ini berada.
"Kembalilah sayang. Maafkan Mama yang telah membuatmu kecewa. Pulanglah dan katakan pada Mama apa yang harus Mama lakukan agar kau mau kembali," gumamnya sendu.
Raisa kembali beranjak. Kali ini ia duduk di meja belajar Ana. Di sana pun ada sebuah pigura yang terdiri atas dua sisi. Sisi satu berisi foto keluarga kecil mereka dan sisi satunya berisi foto Ana dan Martin yang sedang tertawa lebar sambil memegang kail berisi ikan. Itu adalah foto saat mereka berlibur bersama. Ana yang begitu penasaran ingin belajar memancing pun diajari Martin. Dan untuk pertama kalinya, Ana pun berhasil memancing seekor ikan yang cukup besar. Ana yang merasa bahagia pun meminta sang adik mengambil gambarnya dan Martin sambil mengangkat tinggi-tinggi hasil pancingannya. Sungguh, senyum Ana saat itu sangat lebar. Senyum yang begitu Raisa rindukan.
Diusapnya wajah cantik sang putri sambil berdoa dalam hati agar putrinya terketuk hatinya untuk segera kembali.
Raisa meletakkan kembali pigura foto itu. Kini perhatiannya teralih ke tumpukan buku milik Ana. Meskipun Ana tak ada, tapi kamar itu tetap rutin dibersihkan oleh art mereka sehingga buku-buku itu tampak bersih tak berdebu satupun.
Raisa lantas membuka satu persatu buku tersebut. Ada buku pelajaran, adg novel, dan ada buku tulis. Raisa yang penasaran dengan tulisan Ana pun membuka lembar demi lembar tulisan Ana. Buku itu ternyata catatan pelajaran. Hingga di lembar terakhir mata Raisa seketika terbelalak. Bagaimana tidak, di lembar terakhir itu terdapat sebuah tulisan yang membuat Raisa menyadari alasan kepergian Ana. Martin memang tidak menceritakan pertemuannya dengan Ana. Jadi ia belum tahu fakta sebenarnya di balik kepergian Ana.
...ANA ❤️ MARTIN...
Dada Raisa seketika nyeri dan sesak. Ia merasa bersalah sekaligus menyesal telah merenggut kebahagiaan sang putri. Ia merasa bersalah karena baru mengetahui fakta ini. Seandainya ia tahu lebih awal, maka takkan mungkin ia bersedia menikah dengan Martin sebab baginya kebahagiaan anak-anaknya adalah yang utama. Kebahagiaan anak-anaknya merupakan prioritas utama.
"Maafkan Mama, Hana. Maafkan Mama. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal kalau mau mencintai Martin. Kenapa kau tidak bilang? Maafkan Mama, Hana! Maafkan Mama. Mama mohon, kembalilah sayang. Mama akan melakukan apapun asal kau mau kembali, Sayang. Termasuk meninggalkan Martin bila memang itu dapat membuatmu bahagia. Maafkan Mama." Racau Raisa seraya menangis tergugu memeluk buku Ana.
...***...
__ADS_1
Othor dari pagi ngetik ini lho. Pas siang udah banyak, mau lanjut malam aja. Eh pas periksa, hasil ketikan othor hilang. Padahal tinggal nambahin sedikit lagi. Terpaksa ngulang lagi deh. 😭
...HAPPY READING 😍😍😍...