
"Eh, bujang lapuk, berhenti merokok! Udah tau nenek benci bau asap rokok, eh kamu malah merokok lagi." Omel Nenek yang baru saja keluar dan duduk di teras.
Dengan wajah cemberut, Tirta lantas mematikan puntung rokoknya.
"Ya salah Nenek sendiri, kenapa keluar. Udara malam nggak cocok buat nenek-nenek," balas Tirta.
"Eh, siapa yang nenek-nenek?" Si Nenek tak terima dikatai nenek-nenek. Padahal kenyataannya memang nenek itu nenek-nenek.
"Lah, siapa lagi kalau bukan Nenek? Masa' Tirta. Jangankan punya cucu, punya anak pun belum." Tirta pun terkekeh melihat raut wajah Nenek yang cemberut.
"Kamu ya ... " Nenek bingung mau membalas perkataan Tirta, jadi ia hanya menghela nafasnya saja. "Ta, setahu Nenek kamu itu merokok saat sedang banyak pikiran, kamu ada masalah?" tanya Nenek mode serius.
"Nggak. Nggak ada kok." Kilah Tirta sambil melengos.
"Jangan berkelit! Meskipun Nenek lebih sering di kampung, tapi Nenek itu hafal sama kamu. Mama kamu pun sadar akan hal itu."
"Itu hanya perasaan nenek dan mama saja. Tirta nggak ada masalah apa-apa kok."
"Kamu kenapa sih susah banget buat jujur? Kamu nggak anggap nenek ini nenek kamu lagi, hm?" Bibir Nenek mencebik. Matanya pun tampak berkaca-kaca membuat Tirta seketika panik.
'Panik loe, panik loe, emang enak dikerjain.' Nenek tertawa jumawa dalam hati. 'Ternyata bakatku sebagai seorang artis pemeran pengganti tempoe doeloe masih oke. Coba Ayang dulu nggak melarang aku jadi artis, pasti sekarang aku masih sibuk wara-wiri di Chanel ikan nyungsep jadi pemeran antagonis. Hahaha ... '
"Tirta, kamu apain Nenek, hah? Kamu ngapain sampai nenek nangis kayak gini?" hardik Riana yang baru saja keluar seraya membawa segelas minuman wedang jahe untuk ibu mertuanya.
"Nggak, Tirta nggak ngapa-ngapain, Ma. Nenek aja yang tiba-tiba aja nangis. Nggak ada hujan, nggaka ada badai, kok nangis." Sergah Tirta panik. Ia sendiri bingung melihat neneknya tiba-tiba menangis hanya karena ia tak mau jujur dengan permasalahannya. Bukan tak mau cerita, ia hanya terlalu malu mengungkapkan permasalahannya.
"Ma, bilang ke Riana, anak nakal itu ngapain sampai mama nangis kayak gini? Apa yang udah dia perbuat ke Mama? Nanti mama hukum dia, biar tau rasa," ucap Riana sambil mengusap-usap punggung Nenek.
"Ma ... "
"Ya, dia memang harus dihukum."
"Nek, tolong ngertiin Tirta. Bukannya Tirta nggak mau cerita masalah Tirta, hanya ... hanya ... ah sudah lah, itu nggak penting. Jadi nenek jangan nangis lagi ya! Entar Tirta beliin balon. Atau mau es krim?"
Plakkk ...
Nenek menggeplak kepala Tirta dengan nampan yang ia rebut dari tangan Riana.
"Cucu nggak ada akhlak. Emangnya nenek anak kecil ditawarin begituan? Tapi kalau kamu maksa, ya udah, nenek mau es krim sundae aja. Sekalian ayam chicken nya," ujar Nenek yang sukses membuat Tirta dan Riana tergelak. Sok-sokan menolak, tau-taunya minta belikan. Dan apa tadi katanya, ayam chicken? Bukan ayam fried chicken. Neneknya kadang ada-ada saja.
"Heh, bujang lapuk, katamu tempo hari kau punya gadis yang mau kau dekati? Mana? Jangan bilang itu cuma akal-akalanmu supaya nggak dijodohin?" Tukas Riana memasang wajah sok garang.
Tirta menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir kuda membuat Riana dan Nenek saling melirik sambil menyeringai.
"Itu ... "
"Ck ... udahlah, nggak perlu buat alasan lagi. Kan Nenek pernah kasi kamu waktu buat mikir, tapi kayaknya waktunya udah habis jadi kamu nggak punya alasan lagi buat nolak. Kamu harus terima Nenek jodohin sama gadis pilihan Nenek. Titik." Tegas Nenek.
Tirta terdiam. Sekelebat bayangan kemesraan Ana dengan laki-laki lain melintas di benaknya. Hatinya berdenyut nyeri mengingat hal tersebut.
Tirta lantas berpikir, mungkinkah perjodohan ini merupakan takdirnya?
Mungkinkah perjodohan ini merupakan jalan terbaik untuk dirinya?
Mengharapkan Ana juga sudah tak mungkin pikirnya.
Tirta lantas menghembuskan nafas berat. Ia pasrahkan semuanya pada Nenek dan ibunya. Mungkin inilah yang terbaik untuk dirinya.
Tirta lantas mengangguk. Anggukan itu terlihat samar dan lesu, tapi tatapan tajam nenek bisa melihatnya dengan jelas.
"Jadi kamu setuju?" tanya Nenek dengan bola mata berbinar-binar.
Riana pun ikut menunggu konfirmasi Tirta secara langsung.
"Ya sudah. Terserah nenek saja. Lakukan saja apa yang menurut kalian baik. Aku akan menerimanya." Ucapnya pasrah.
__ADS_1
"Kamu yakin? Mama nggak mau lho setelah kalian nikah, tiba-tiba terdengar kabar kamu nyakitin gadis pilihan mama dan nenek? Apalagi sampai kejadian talak di malam pertama, bisa mama gorok kamu saat itu juga," tegas Riana membuat Tirta bergidik ngeri.
"I-iya, Ma. Tirta serius kok. Tirta akan berusaha menjadi suami yang baik dan menerima istri Tirta tulus apa adanya. Mama nggak perlu khawatir. Meskipun diantara kami belum ada cinta, tapi Tirta takkan pernah mempermainkan pernikahan." Ujar Tirta pasti meskipun sedikit gugup karena menatap wajah horor sang mama yang terlihat begitu mengintimidasi.
Nenek san Riana lantas tersenyum lebar.
"Kau memang cucu Nenek yang baik. Tenang saja, Nenek takkan mungkin ingin membuatmu menderita. Nenek yakin, kau akan merasa bahagia dengan jodoh pilihan Nenek ini. Bahkan Nenek yakin, kau akan langsung berterima kasih dengan nenek setelahnya." Ucap Nenek dengan begitu bangganya.
Dahi Tirta mengernyit. Bagaimana sang nenek bisa begitu yakin dengan pilihannya. Tapi Tirta yang sedang mumet bin menjelimet, malas berpikir. Ia pasrahkan segalanya pada sang Nenek dan ibunya. Sebab ia yakin, mereka pasti ingin memberikan yang terbaik untuknya termasuk perihal jodoh.
Sementara itu, di kediaman Ana, Raisa sedang mendekati sang putri yang tengah melamun di balkon kamarnya. Padahal Raisa telah mengetuk pintu kamarnya berulang kali, tapi gadis itu tak mendengarnya sama sekali. Raisa pikir Ana telah tidur, tapi saat memasuki kamarnya Raisa tak menemukan Ana. Ia sempat panik. Takut Ana kembali menghilang. Namun saat ia melihat gorden pintu balkon yang sedikit berkibar membuatnya penasaran dan bergegas memeriksanya. Dan benar saja, di sana Ana tampak melamun sambil menatap langit malam yang kelam tanpa bintang.
Raisa lantas duduk di samping Ana sambil mengusap punggungnya.
"Lagi mikirin apa?" tanya Raisa tiba-tiba membuat Ana tersentak.
"Eh, Mama. Sejak kapan Mama ada di sini?" tanya Ana heran.
"Sejak beberapa menit yang lalu."
Ana lantas ber'Oh ria saja.
"Kamu sedang melamuni apa, hm? Kayaknya serius banget." Tanya Raisa lagi.
"Hana nggak ngelamunin apa-apa kok, Ma," kilah Ana.
"Na, kamu itu putri Mama. Kamu berada di perut Mama itu selama 9 bulan lebih dan mama memberatkan kamu pun dengan tangan Mama sendiri jadi Mama sangat tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja atau banyak pikiran. Kaos tolong cerita sama Mama? Kamu ada masalah? Kenapa sepulang dari pesta pernikahan mantan majikan kamu itu, tiba-tiba saja kamu berubah seperti ini? Kalau ada masalah itu diceritakan, siapa tahu Mama bisa bantu. Punya masalah juga, jangan dipendam-pendam. Bukannya masalah berkurang, kamu malah terus kepikiran dan nggak tenang." Tukas Raisa mencoba mengorek informasi mengenai apa yang membuat wajah putrinya itu tampak mendung.
Ana memaksakan bibirnya untuk tersenyum, "Ana nggak papa kok, Ma. Mama ada masalah sama sekali malah." Ana masih terus berkilah. Ia tak ingin membuat Mamanya ikut kepikiran tentang masalahnya. Cukup dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu permasalahannya. Itu prinsipnya.
Raisa memasang wajah sendu membuat Ana gusar. Apalagi saat mamanya meletakkan tangan kanannya di atas dada kirinya membuat Ana kian panik.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Ana panik sambil mengusap-usap punggung ibunya dengan lembut.
"Sayang," ucap Raisa lirih. Lalu Raisa mengusap surai Ana yang mulai memanjang.
"Kamu tahu impian Mama?"
Ana menggelengkan kepalanya.
"Mama ingin sekali melihatmu mengenakan gaun pengantin. Tapi ... apakah mama akan memiliki kesempatan itu?"
Ana seketika tersentak. Kenapa kalimat yang keluar dari mulut mamanya itu terdengar aneh.
"Mama bilang apa sih? Tentu saja mama akan memiliki kesempatan itu."
"Ya, tapi kapan? Mama khawatir ... "
"Ma ... " Ana merengek. Ia benar-benar ketakutan saat ini.
"Kamu punya pacar?"
Ana menggeleng cepat.
Raisa menghembuskan nafasnya kasar.
"Coba kamu udah punya pacar ... Mama pingin kamu nikah. Kalau bisa ya sesegera mungkin. Tapi sayang, kamu ... "
"Mama kenapa begini sih?"
"Mama cuma pingin liat kamu nikah."
"Tapi kalau pasangannya nggak ada gimana? Masa' Hana harus ikutan kencan buta gitu atau cari pasangan secara random melalui aplikasi pencari jodoh. Kalau dapet laki-laki baik-baik mah enak, kalau dapetnya laki-laki nggak bener, gimana?"
"Kalau kamu mama jodohin sama anak temen Mama mau? Kebetulan temen Mama itu juga sedang mencari jodoh untuk putranya. Orangnya baik kok. Bertanggung jawab dan pekerja keras juga. Dan yang lebih penting, setia. Tapi itu sih kalau kamu mau. Kalau kamu nggak mau, kamu bisa bawa laki-laki yang kamu mau ke rumah supaya kita bisa segera mengurus pernikahan kamu."
__ADS_1
Mata Ane membulat. Kenapa mamanya begitu ngebet melihat dirinya menikah?
"Mama nggak papa kan? Atau jangan-jangan Mama mengidap penyakit berbahaya? Ayo Ma, katakan sama Ana? Jangan tutupi apapun itu! Ayo Ma, jujur sama Ana! Apa benar Mama memiliki penyakit mematikan?" cecar Ana membuat Raisa gelagapan.
"Mama ... nggak sakit kok. Mama baik-baik aja. Nggak ada yang Mama sembunyikan sama sekali." Raisa memasang ekspresi seolah menutupi sesuatu membuat Ana kian khawatir.
"Mama serius? Mama nggak bohong kan?"
"Iya, Sayang. Mama nggak bohong. Udah ya, tolong jawab permintaan Mama tadi."
Ana terdiam, kemudian ia kembali berbicara.
"Boleh Hana pikirkan dahulu?"
Raisa tersenyum sendu, "ya sudah. Segera kasi kabar secepatnya ya. Takutnya kamu malah keduluan orang lain," tukas Raisa mencoba mempengaruhi Ana. Ana pun mengangguk. Setelahnya, Raisa pun kembali ke kamarnya.
...***...
3 hari telah berlalu semenjak permintaan Raisa pada Ana. Setelah 3 hari berpikir, Ana lantas memantapkan hatinya untuk segera memberikan jawaban pada sang Mama. Kebetulan saat itu mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama.
"Ma, nanti bisa bicara berdua?" tanya Ana.
"Kenapa harus berdua aja sih? Kan Om juga mau ikutan. Kalian mau bicarain apa sih?" Sela Martin. Ia tidak membahasakan dirinya sebagai papa pada anak-anak sambungnya sebab ia tahu, sosok papa bagi keduanya tetaplah papa kandung mereka sendiri. Lagipula, mereka mau menerima keberadaannya sebagai suami mamanya saja, ia sudah cukup senang.
"Iki urusan cewek, Om dilarang ikut campur. Kecuali Om udah ganti gender, baru deh boleh," seloroh Ana membuat Martin memberengut masam. Raisa dan Heri pun tergelak karenanya.
"Enak aja. Emang kamu mau punya Lala melambai."
"Ogah. Kalau sampai Om kayak gitu, mending aku jual ke lekong, biar dapet duit banyak."
Mata Martin melotot, pura-pura kesal. Namun dalam hati, ia bahagia sebab Hana nya yang ceria telah kembali.
"Dasar, anak durhakim! Om kutuk berjodoh sama orang ganteng, mau?"
"Mauuuu ... " seru Hana sambil terpingkal-pingkal.
Kini Raisa dan Ana sedang berada di taman samping rumah. Mereka tengah duduk berdua setelah memastikan Martin pergi bekerja dan Heri ke sekolah.
"Kamu mau bicara apa, Na?"
"Ini ... soal perjodohan yang kata mama itu."
Raisa yang tadinya sibuk menyemprot tanaman eforbia di pot yang ada di atas meja pun seketika menghentikan kegiatannya. Ia lantas memfokuskan perhatiannya pada sang putri yang tampak gugup.
"Jadi ... bagaimana?" tanya Raisa tak sabaran. Tentu saja ia berharap Ana bersedia menerima perjodohan ini. Sebab menurut kabar dari Riana, putranya pun telah bersedia menerima perjodohan tersebut. Kini mereka tinggal menunggu keputusan dari Ana.
Ana meremas ujung roknya. Ia gugup setengah mati. Sebenarnya ia merasa ragu atas keputusannya sendiri. Namun setelah dipikir-pikir, tak mungkin ibunya ingin menghancurkan kebahagiaannya. Sudah pasti ibunya melakukan ini untuk kebahagiaannya. Oleh sebab itu, ia mempercayakan segalanya kepada ibunya sebab ia yakin pilihan ibunya pasti yang terbaik untuk dirinya dan masa depannya.
Keputusannya makin bulat saat mengingat pertemuannya dengan Tirta tempo hari. Bila laki-laki itupun dapat dengan mudah membuka hati untuk yang lain, kenapa dirinya tidak. Mungkin mereka tidak berjodoh, pikirnya. Dengan perlahan, ia akan berusaha melupakan laki-laki itu. Melupakan segala kenangan manis yang pernah mereka lewati bersama. Kemudian berusaha membuka hati untuk laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Ia harap, semoga ini yang terbaik untuk dirinya.
Ana menelan ludahnya kasar, kemudian dia dengan perlahan mengangguk, "i-iya, Ma. Hana ... bersedia dijodohkan dengan anak teman mama itu."
Sontak saja Raisa berseru girang sambil mengucapkan hamdalah. Ia lantas memeluk tubuh putrinya erat.
"Makasih, Sayang. Percayalah, kamu pasti akan merasa bahagia setelah mengetahui siapa calon suamimu itu."
Ana tersenyum. Ia tak terlalu memikirkan siapa laki-laki yang akan dijodohkan dengannya itu. Tapi bila itu benar, ia tentu akan sangat bersyukur.
Setelah adegan pelukan itu, Raisa segera bergegas ke kamarnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi teman baiknya tersebut.
"Halo Rai, aku ada kabar baik. Hana ... dia bersedia dijodohkan dengan putramu. Dia bersedia menikah dengan putramu. Ayo, kita segera persiapkan semuanya. Lebih cepat, lebih baik." Ucapnya di telepon penuh semangat.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1