
Az tetap berjalan meninggalkan ruangan Elliot tanpa menoleh sedikitpun. Di belakangnya Aldi dan Gibran mengikuti langkah Az tanpa bertanya sedikitpun.
"Segera berkumpul di depan rumah sakit xx. Tangkap dan bawa istriku ke markas bagaimana pun caranya." Elliot segera menghubungi anak buahnya.
"Ini....
"Maaf paman, aku tidak akan mendengarkan pendapat apapun jika itu berkaitan dengan keinginanku memiliki istriku selamanya. Akan aku lakukan apapun untuk bersama dengan dirinya." ucap Elliot memotong ucapan pamannya.
"Tolong bantu aku siapkan pakaian. Aku harus menemui dan menemani istriku sebentar lagi." ucap Elliot dengan wajah bahagia.
Tidak jauh dari rumah sakit tempat Elliot dirawat, mobil yang Az tumpangi dicegat oleh beberapa orang pria.
"Ada apa?" tanya Az karena Gibran tiba-tiba menghentikan laju mobil.
"Sepertinya ada yang berniat tidak baik pada anda nyonya muda. Biar kami yang atasi mereka. Tolong anda tetap di dalam mobil apapun yang terjadi." ucap Aldi.
"Kunci pintunya segera setelah kami keluar. Tolong untuk tidak melakukan apapun yang dapat lebih merepotkan." ucap Gibran.
Az hanya diam walaupun sedikit tidak suka dengan ucapan Gibran. Mereka berdua segera keluar dari mobil.
"Mereka pikir aku tidak bisa menangani beberapa orang itu tanpa bantuan mereka. Apakah menurut mereka aku hanya wanita manja yang hanya bisa bersembunyi." gerutu Az menatap punggung dua pengawalnya yang sedang berdiri di depan mobil.
"Ah, biarkan saja mereka yang bergerak. Setidaknya aku bisa lihat seberapa tangguh mereka berdua." gumam Az.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanya Aldi pada beberapa orang yang berdiri didepan mereka.
"Cukup serahkan wanita itu maka kami akan melepaskan kalian." ucap salah satu pria itu.
"Ingin mengambil orang yang kami kawal heh, langkahi dulu mayat kami." ucap Gibran dan mereka mulai memasang kuda-kuda untuk bertarung.
"Cari mati..... Serang....." seru salah satu dari pria itu dan beberapa orang itu mulai mengangkat tongkat dan berlari ke arah Aldi dan Gibran.
Aldi dan Gibran tidak diam saja. Dengan lincah mereka menerjang ke arah orang-orang yang hendak menyerang mereka. Terjadi perkelahian yang cukup sengit antara mereka hingga akhirnya Aldi dan Gibran mengalahkan beberapa orang itu.
"Lumayan juga. Tapi, masih terlalu lambat menangani beberapa orang yang tidak terlalu kuat. Bahkan mereka tidak menggunakan senjata api." gumam Az melihat Aldi dan Gibran berjalan menuju mobil.
"Kalian....
__ADS_1
"Kami baik-baik saja nyonya muda." ucap Aldi memotong ucapan Az.
"Kita kembali ke mansion saja agar kalian dapat mengurus luka-luka di wajah dan tubuh kalian. Aku akan mengirim barang-barang yang ku beli buat Mona besok saja." ucap Az.
"Baik nyonya muda." ucap Aldi.
Mereka segera kembali ke mansion milik Alex. Aldi dan Gibran tidak lupa melaporkan pada Alex apa yang terjadi sebelumnya. Alex memutuskan untuk mengirimkan beberapa orang lagi untuk menjaga Az secara diam-diam dari jarak yang tidak terlalu dekat namun dapat menjangkau Az segera setiap ada masalah yang terlalu beresiko terjadi.
"Tring tring tring." ponsel Az berdering.
"Sepertinya mereka sudah melaporkan penyerangan tadi pada si tuan posesif itu." gumam Az melihat nama Alex sebagai ID pemanggil di layar ponselnya.
"Ya halo..."
[Sayang, apakah kau terluka?]
"Apa yang bisa membuat aku terluka saat dua orang itu tidak membiarkan aku untuk bertarung?"
[Itu demi kebaikanmu sayang.]
"Itu hanya beberapa preman yang tidak membawa senjata api. Aku dapat mengalahkan mereka dan menggunakan mereka sebagai alat berlatih bertarung. Kau membuat aku seperti putri manja yang hanya bisa merepotkan orang saja."
"Tidak usah berpikir terlalu banyak. Rencana malam ini tidak akan ada perubahan. Jangan membuat kegaduhan jika tidak ingin aku semakin kesal."
[Baiklah sayang, semua akan berjalan sesuai rencana awal. Tapi, biar aku yang menjemput...
"Kau tidak harus menjemput aku. Aku akan tiba tepat waktu dan tidak akan ada yang terjadi."
[Baiklah sayang. Tapi, langsung hubungi aku jika sesuatu terjadi.]
"Ya. Aku akan bersiap-siap."
[Ya, sampai jumpa malam ini sayang.]
...****************...
Elliot segera keluar dari rumah sakit dan pihak rumah sakit memberikan ijin setelah memeriksa dan ternyata kondisi tubuhnya tiba-tiba sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
Dia bersemangat untuk kembali ke markas karena terlalu yakin bahwa Az sudah ada di sana menunggu dirinya.
"Dimana istriku?" tanya Elliot saat memasuki ruangannya.
"Mengapa kalian diam saja? KATAKAN DIMANA ISTRIKU.!" ucapnya lagi karena anak buahnya hanya saling lirik.
"Ma maaf bos....
"Duak akh...." satu tendangan mendarat di tubuh pria yang sedang menjawab dengan nada rendah itu.
"AKU TIDAK BUTUH KATA MAAF. YANG AKU MAU TAU DIMANA ISTRIKU." ucap Elliot penuh amarah.
"Kami gagal bos. Regu pertama yang berhasil memblokir jalan nyonya bos kalah telak oleh pengawal yang bersamanya. Kami terlambat sampai di tempat dan hanya mendapatkan mereka sudah tidak berdaya." ucap salah satu dari anak buah Elliot dengan cepat.
"Akh si*l....." umpatnya geram.
Elliot kembali mengamuk setelah itu. Semua benda dia hancurkan beberapa orang di sana bahkan tidak luput dari amukannya.
"Mengapa kau pergi lagi sayang? Tidakkah kau ingin kembali menjalani hidup dengan suamimu ini?" gumam Elliot sambil meremas rambutnya.
"Menjalani hidup dengan dirimu? Tidakkah kau ingat apa yang Az katakan? Dia dan kau adalah dua orang asing yang tidak terkait satu sama lain." bayangan dirinya dengan senyum merendahkan kembali muncul.
"Diam kau.... Az adalah istriku bukan orang lain." ucap Elliot menatap bayangan itu dengan tajam.
"Kau harus sadar Elliot. Hubungan kalian sudah berakhir lama. Kau tidak bisa meraih dia kembali karena dia sudah terlanjur kau sakiti dan hatinya sudah hancur karena kelakuan bejatmu." ucap bayangan itu.
"Tidak adakah kesempatan kedua untukku? Apakah kesalahan yang aku buat tidak bisa dimaafkan?" ucap Elliot dengan suara yang lebih rendah.
"Ada kesalahan yang bisa dimaafkan namun tidak bisa dilupakan. Sehingga, kesempatan kedua menjadi mustahil untuk diberikan." ucap bayangan itu lalu menghilang.
...----------------...
Tuan Zenith sedang duduk di dalam kamar yang tampak mewah. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang. Dua orang wanita seksi duduk di kedua sisinya.
"Apakah semua sudah siap?" tanya tuan Zenith.
"Semua sudah siap tuan. Tinggal menunggu eksekusi saja." jawab pria kekar bernama Derri.
__ADS_1
"Jangan sampai ada kesalahan. Jangan biarkan kulit mulus wanita itu lecet dan bawa wanita itu ke sini segera setelah misi berhasil." ucap tuan Zenith dengan senyum mesum.
"Baik tuan." saut Derri lalu segera meninggalkan ruangan itu.