Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 93


__ADS_3

Beberapa orang tengah berkumpul di sebuah ruangan yang cukup sempit dalam sebuah bangunan tua yang kumuh. Wajah mereka terlihat gelisah dan takut juga ada yang seperti kebingungan juga tampak risih dengan keadaan sekitarnya.


"Mengapa kita harus bersembunyi di tempat kotor dan sempit yang sangat menjijikkan ini kakek?" keluh seorang gadis dengan nada kesal.


"Diam!" bentak sang kakek geram.


"Rosi benar jika bertanya seperti itu ayah. Kenapa kita harus bersembunyi dan mengapa harus di tempat yang seperti ini?" tanya ibu dari Rosi.


"Kalian ingin tinggal di penjara selama beberapa tahun atau hidup di jalanan menjadi gelandangan jika kita tidak bersembunyi sementara di tempat ini?" tanya balik pria tua dengan nada kesal sambil menatap tajam anak dan cucunya yang hanya bisa mereka jawab dengan gelengan kepala.


"Bagaimana bisa jadi seperti ini? Bukankah perusahaan kita masih baik-baik saja dan tidak ada masalah? Kita juga tidak menghadapi kasus hukum?" tanya seorang pria.


Beberapa dari mereka memang masih tidak tahu mengapa mereka harus bersembunyi. Mereka hanya mengikuti instruksi dari kepala keluarga yang memerintahkan agar mereka segera bergegas untuk ikut dengan dirinya.


"Si anak pembawa s*al itu ternyata diam-diam menyusupkan mata-mata di tempat kita untuk mengumpulkan bukti tindakan ilegal yang perusahaan juga keluarga kita lakukan selama ini. Dia juga mendapat banyak informasi lain yang entah dari mana yang dapat membuat kita bangkrut dan kita semua harus mendekam di penjara. Beruntung orang yang kita di sana menemukan fakta itu dan segera mengabari aku karena dia tidak bisa menyabotase semua bukti. Sehingga kita bisa kabur sebelum dia dia beraksi." jelas si kepala keluarga.


"Jika orang kakek yang berhasil menyusup itu bisa mendapatkan informasi itu, mengapa dia tidak bisa menghancurkan semua bukti itu?" tanya seorang pemuda.


"Si pembawa s*al itu sangat ketat menjaga semua berkas itu. Hanya dirinya dan asisten kepercayaan nya yang bernama Alfred White saja yang bisa menyentuh semua berkas dan data terkait kasus keluarga kita. Sangat beresiko juga jika orang kita ketahuan oleh dia. Kita jadi tidak tahu pergerakan dia berikutnya." jelas sang kakek.


"Lalu, sampai kapan kita harus di sini kakek?" tanya Rosi.


"Hanya sampai besok malam saja. Besok malam, akan ada orang yang membantu kita meninggalkan negara ini." jawab sang kakek.


"Kita akan pergi begitu saja tanpa membalas si pembawa s*al itu?" tanya geram si pemuda.


"Kau harus sabar Miko. Orang yang akan menjemput kita adalah seorang yang sangat kuat. Dia akan membantu kita menyingkirkan dia tapi bukan sekarang. Kita butuh waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dia harus hancur berkeping-keping hingga tidak dapat bangkit lagi saat hari pembalasan kita tiba." ucap sang kakek tua dengan nada sinis disertai seringai jahat.


......................


[Bagaimana.] Alex segera mengirim pesan singkat kepada Fred setibanya dia di bandara.

__ADS_1


[Rubah tua itu masih belum ditemukan bahkan jejaknya serta keluarganya masih belum kami dapatkan bos.] Fred


[Terus cari.] Alex


[Baik bos.] Fred


"Siapa orang yang ikut campur kali ini?" gumam Alex.


"Satu keluarga dapat hilang dalam waktu singkat dan belum bisa ditemukan jejaknya. Pasti seseorang ikut campur melindungi mereka. Si rubah tua itu tidak memiliki kekuatan sekuat itu untuk bisa membawa kabur keluarga besarnya. Apa tujuan orang itu?" gumam Alex lagi.


"Kita sudah sampai tuan." ucap sang supir membuyarkan lamunan Alex.


Alex bergegas masuk ke dalam rumah dan memasuki kamar. Dia tersenyum melihat Az yang tertidur pulas. Alex bergegas membersihkan diri lalu berbaring di sisi lain tempat tidur. Alex sebenarnya ingin mengecup kening Az lalu memeluk tubuhnya untuk mengurai rindunya. Tapi, dia tidak ingin mengganggu tidur lelapnya. Karena lelah, Alex segera menyusul Az menuju alam mimpi.


Esok paginya


Az mengernyit sebelum sempat membuka matanya karena merasa aneh dengan benda keras hangat yang dipeluknya.


Az sebenarnya kesal karena bangun dikejutkan dengan dirinya yang sedang memeluk tubuh Alex. Tapi, melihat wajah Alex yang terlihat lebih kurus, Az tidak tega mengganggu tidurnya.


"Anggap saja kau beruntung karena aku tidak akan perhitungan dengan dirimu saat ini." gumam Az.


"Apakah dia tidak tidur selama di sana." gumamnya melihat wajah lusuh Alex.


"Sebaiknya biarkan dia tidur saja." putusnya lalu segera beranjak dari tempat tidur.


"Selamat pagi nyonya muda." sapa bibi Meg saat melihat Az menuruni tangga.


"Selamat pagi bibi Meg." sapa balik Az.


"Sejak kapan Alex tiba di rumah?" tanya Az.

__ADS_1


"Tuan muda sudah pulang?" tanya balik bibi Meg yang tidak tahu karena memang Alex tidak membangunkan siapapun kecuali penjaga gerbang saat tiba di kediaman malam tadi.


"Aku tidak akan menanyakan itu jika dia belum kembali bibi Meg." ucap Az.


"He he he, bibi tidak melihat tuan muda pulang dan tidak tahu kapan tuan muda pulang." ucap wanita tua itu sambil terkekeh.


"Nona muda ingin sarapan apa?" tanya bibi Meg saat Az sudah duduk di kursi meja makan.


"Roti panggang dan segelas susu saja bibi Meg." jawab Az.


Wanita tua itu dengan cekatan menyiapkan sarapan yang Az inginkan.


"Apa yang bibi akan masak lagi?" tanya Az karena wanita tua itu terlihat sibuk dengan beberapa bahan makanan.


"Tuan muda baru pulang dari mengurus masalah perusahaan. Tuan muda pasti kurang istirahat dan makan tidak teratur selama beberapa hari. Bibi ingin membuat bubur penuh nutrisi buat tuan muda." jawab bibi Meg sambil tangannya tetap lincah mengerjakan tugas.


"Aku sudah selesai. Aku ingin berjalan-jalan di halaman belakang." ucap Az sambil berdiri lalu meninggalkan ruangan itu.


Bibi Meg tersenyum menatap punggung Az yang berjalan menjauh. Setelah itu dia kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Semoga tuan muda selalu bahagia." gumamnya.


......................


Di sebuah ruangan yang didominasi warna putih, seorang pria memejamkan mata. Tangannya terpasang selang infus dan di tubuhnya terpasang beberapa kabel dan alat untuk mendeteksi kerja organ penting dalam tubuhnya. Sudah beberapa hari dia tidak kunjung membuka matanya itu.


"Bagaimana keadaan tuan Elliot dok?" suara langkah kaki juga seorang pria yang bertanya terdengar dari arah pintu.


Tidak lama pintu ruangan itu terbuka. 4 orang berjalan memasuki ruangan itu. Seorang pria tua, seorang berseragam dokter juga dua orang suster.


"Kondisi tubuhnya sudah berangsur membaik. Tapi, agar tidak kembali memburuk, saat tuan Elliot siuman nanti dan sudah kembali beraktivitas. Tolong hindari minuman beralkohol." jelas sang dokter.

__ADS_1


"Tapi, mengapa dia belum juga membuka matanya dok?" tanya pria tua itu cemas.


__ADS_2