
Violetta membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya kini kembali ke tempat jiwa asli Az berada. Dia melihat wanita dengan wajah yang selama ini dia lihat setiap kali bercermin sedang duduk termenung.
"Kenapa kau bersedih?" tanya Violetta membuat Az sedikit terkejut.
"Entahlah, aku awalnya ingin agar dia menderita karena sudah membuat ibu dan aku menderita selama ini. Tapi, melihat apa yang terjadi padanya hati ini merasa tidak rela." jawab Az dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi padanya adalah buah dari karma yang memang cepat atau lambat akan dia tuai. Kau sudah cukup banyak mengalami kesulitan karena dirinya. Kau tidak perlu merasa bersedih untuknya." ucap Violetta.
"Seandainya saja dia seperti itu sejak awal. Seandainya dia tidak pernah memberikan kesan baik dan kenangan indah penuh kasih sayang, aku ingin leluasa membenci dirinya. Aku juga ingin bahagia melihat bagaimana dia menderita karena rasa penyesalan. Tapi, sebelum dua wanita ular itu masuk dalam kehidupan kami, dia adalah orang yang paling menyayangi dan menjaga aku dan ibu. Bahkan hati kecil ini tidak rela melihat wajah itu bersedih." ucap Az yang sudah berlinang air mata.
"Aku ingin membenci dia....! Aku ingin menghukum dirinya....!" seru Az dengan suara meninggi sambil memukul dadanya.
"Akan tetapi, aku tidak bisa membenci dirinya. Kenapa dia harus mengorbankan dirinya demi putri yang sudah lama dia abaikan?" tanya Az dengan nada suara yang sudah menelan namun terdengar bergetar.
"Itu manusiawi untuk kita memaafkan seseorang yang telah menyesal karena setiap manusia pasti tidak luput dari kesalahan. Juga manusiawi jika kita membenci seseorang karena telah melukai hati kita. Kau membenci perilaku pria itu karena telah membuat dirimu menderita tapi, kau tidak membenci dirinya. Kau masih berharap dia kembali seperti semula saat dia memperlakukan dirimu layaknya putri raja. Itulah kenapa kau bersedih saat melihat dirinya menderita." ucap Violetta lalu duduk di sebelah Az.
"Lalu, apa yang bisa aku lakukan agar hati ini tidak merasa sesak?" tanya Az.
"Relakan, maafkan dan terima." jawab Violetta.
"Relakan semua yang telah pergi. Maafkan setiap kesalahan yang telah diperbuat oleh orang itu lalu terima apa yang telah terjadi." jelas Violetta setelah Az menatap ke arahnya.
"Aku mengerti, aku paham sekarang." ucap Az lalu tersenyum.
Tidak lama setelah itu, cahaya menyilaukan muncul di hadapan mereka. Dari cahaya itu, muncul dua sosok yang sangat diinginkan oleh Az. Sosok ayah dan ibunya yang saling mengasihi. Mereka berdua mengulurkan tangan untuk memanggil Az.
"Inilah yang aku inginkan. Bukan membuat mereka menderita namun, mendapatkan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang." ucapnya lalu berdiri.
"Terimakasih Violetta, setelah ini kau bebas dari apapun yang berhubungan dengan diriku. Kau bisa menjadi dirimu sendiri. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal, jangan sia-siakan orang yang menyayangi dirimu dengan tulus." ucap Az lalu menyambut uluran tangan kedua orang tuanya.
Mereka bertiga lalu menghilang bersama hilangnya cahaya menyilaukan mata itu. Violetta kemudian menghilang dari tempat itu lalu kembali membuka mata. Dia sudah kembali pada tubuh Az.
__ADS_1
"Kau sudah bangun sayang." ucap Alex yang setia duduk di sebelahnya sambil memegang tangannya.
"Hm hm." Az berdehem karena merasa tenggorokannya kering.
"Minum dulu sayang." dengan sigap Alex membantu Az meminum segelas air putih.
Az memindai tempat dia terbaring ternyata Alex sudah membawa dia kembali ke mansion. Karena, tempat itu adalah kamar Alex yang selama ini ditempati oleh Az.
"Alex." panggil Az lemah.
"Ya sayang?" tanya Alex.
"Makamkan tuan Harris di dekat makam ibuku." ucap Az.
"Baik sayang." saut Alex sambil mengusap punggung tangan Az.
"Mereka pasti bahagia di sana karena memiliki putri yang pengertian dan pemaaf." ucap Alex berusaha menghibur Az.
"Alex." panggil Az lagi.
"Ya sayang, ada apa?" tanya Alex masih menggenggam tangan Az.
"Bisakah aku mengganti namaku? Aku ingin sekali menggantinya dengan nama yang sudah lama aku sukai." tanya Az.
"Apapun yang kau inginkan sayang. Aku pasti akan lakukan apapun agar kau mendapatkan semua yang kau inginkan." jawab Alex.
"Aku lelah." ucap Az sambil merebahkan tubuhnya ke pundak Alex.
"Istirahatlah dulu, aku akan ada di sini menjagamu." ucap Alex.
"Bagaimana dengan...
__ADS_1
"Sudah ada yang mengurus jenazah tuan Harris. Kau bisa istirahat sejenak setelah semua siap, kita akan ketempat berkabung." ucap Alex sambil membantu Az membaringkan tubuhnya.
"Terima kasih karena selalu ada saat aku butuh seseorang." ucap Az.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau telah hadir dalam hidup pria yang kaku ini. Kau membuat hidup pria kaku ini penuh dengan warna." ucap Alex lalu mengecup kening Az.
"Tidurlah." ucapnya lagi sambil mengelus puncak kepala Az.
"Dia sudah membaik?" tanya Sidney yang baru tiba setelah dihubungi oleh Alex untuk membantu proses pemakaman tuan Harris karena Alex tidak tahu letak makam mendiang ibu Az.
Alex yakin kalau Az akan memakamkan tuan Harris di samping makam ibunya sesuai permintaan pria itu sebelum meninggal.
Alex hanya mengangguk sebagai jawaban. Sidney lalu meninggalkan tempat itu untuk membantu mengurus tempat berkabung lalu pemakaman tuan Harris.
"Maaf sayang, kau harus bersedih lagi. Aku berjanji, setelah ini hanya akan ada kebahagiaan yang kau rasakan. Karena, aku tidak akan membiarkan kau bersedih lagi." batin Alex.
Pria itu masih setia duduk memandang wajah terpejam wanita pujaannya sambil terus menggenggam tangannya.
Dalam tidurnya Az tampak damai karena beban dihatinya sudah menghilang setelah melepaskan jiwa Az yang asli ke tempat yang semestinya. Dia tidak lagi terpengaruhi oleh perasaan dari pemilik tubuh asli karena jiwanya sudah melepaskan diri dari segala hal tentang dunia.
Setelah sekitar satu jam, Sidney kembali ke tempat Az tertidur. Untuk melaporkan bahwa semua sudah siap.
"Apakah sudah siap?" tanya Az yang ternyata sudah terbangun.
"Iya nona muda." jawab Sidney.
"Aku..
"Aku sudah menyiapkan pakaian yang akan anda kenakan nona muda." ucap Sidney sambil menyerahkan paper bag berisi pakaian untuk Az.
"Gantilah pakaian mu. Aku juga akan berganti di ruang sebelah." ucap Alex.
__ADS_1
Setelah selesai berganti pakaian, Az dan Alex bergegas meninggalkan mansion untuk menuju rumah duka. Di sana sudah ada banyak kerabat serta rekan kerja mendiang tuan Harris. Alex memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengabari tentang kabar meninggalnya beliau agar keluarga dapat berkumpul di sana mengantar kepergian beliau.