Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 45


__ADS_3

Sebenarnya Az cukup lelah karena belum sempat istirahat sepulang dari pelatihan yang sangat menguras tenaga sebelumnya. Tapi, dia tidak tega mengecewakan wanita yang menyayangi dia layaknya seorang putri kandung.


"Kau mau makan apa Az sayang?" tanya Renata.


"Apapun selain makanan mentah tidak masalah buatku ma." jawab Az tentu dengan gaya manja khas gadis kecil yang sedang dia perankan saat itu.


"Tapi, sebaiknya kita memilih tempat yang lebih privat saja ya ma. Aku merasa risih makan di tempat terbuka serasa diawasi oleh banyak orang." saran Az.


"Di seberang sana ada sebuah restoran yang baru buka. Bagaimana jika kita kesana saja?" tawar Renata.


"Baiklah." mereka akhirnya memutuskan untuk makan siang di restoran mewah yang baru buka itu.


Setelah selesai makan siang dan mengobrol sedikit dengan Renata, Az mengantar Renata kembali ke kediaman keluarga Gerald lalu segera kembali ke mansion.


"Ada apa dengan orang-orang yang biasanya mengawasi mansion ini? Apakah mereka sudah menyerah karena tidak menemukan keberadaanku di mansion ini?" gumam Az setelah berada di depan gerbang mansion dan tidak melihat tanda-tanda keberadaan para pengintai mansionnya.


Kemampuan Ratu Violetta mendeteksi keberadaan seseorang disekitarnya walaupun tanpa melihat mereka ternyata masih dia miliki walaupun sekarang dia berada di dalam tubuh berbeda. Itulah mengapa dia yakin bahwa tidak ada seorang pun lagi yang mengawasi mansionnya karena dia tidak merasakan keberadaan mereka.


"Baguslah jika mereka sudah menyerah." gumam Az lagi.


"Apakah anda mengatakan sesuatu nona muda?" tanya sang supir yang tidak sengaja mendengar samar-samar suara gumaman Az.


"Tidak paman, aku hanya sedang bersenandung kecil dan ternyata paman mendengarnya." jawab Az.


Az segera naik ke lantai atas menuju kamarnya lalu segera merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


"Kring kring kring." Baru saja mata Az akan terpejam suara dering telepon mengusik telinganya.


"Ya halo?" ucap Az.


"Nona muda tolong, dalam perjalanan kami diserang dan tuan besar berhasil ditangkap oleh musuh." ucap suara dari balik telepon.


Az langsung kehilangan rasa kantuknya. Dia bangkit dari posisi baringnya dengan mata terbelalak.


"Kirim lokasi kalian saat ini." ucap Az lalu segera mengganti penampilannya menjadi sosok Axel lagi.

__ADS_1


Az berlari menuju motornya diparkir tanpa memperdulikan panggilan Yuki dan Sidney. Az segera melakukan motornya dengan kecepatan penuh menuju titik lokasi yang pengawal kakeknya kirimkan.


"Ckitttttt." Az tiba-tiba mengerem laju motornya menimbulkan suara decitan yang cukup besar.


"Akh s*al, untuk apa aku mencari pengawal itu sedangkan dia tidak bersama dengan kakekku. Aku seharusnya melacak keberadaan kakek saja." ucap Axel sambil memukul setir motornya.


"Tut tut tut." Az menghubungi Sidney.


"Anda dimana nona muda?" tanya Sidney khawatir.


"Tolong lacak keberadaan kakekku lalu kirim lokasinya padaku segera." ucap Az langsung tanpa menjawab pertanyaan Sidney.


"Untuk...


"Lakukan sekarang juga." ucap tegas Az.


Az segera melajukan kembali motornya setelah Sidney mengirimkan titik kordinat keberadaan sang kakek saat itu.


Alamat yang Sidney kirimkan membawa Az ke sebuah bangunan besar yang tampak kosong dari luar. Az telah meninggalkan motornya jauh dari bangunan itu agar tidak ada yang menyadari kedatangannya.


"Mengapa tidak ada yang berjaga di luar gerbang bahkan di depan bangunan itu?" gumam Az.


Az segera masuk melalui pintu gerbang yang ternyata tidak terkunci. Az tetap waspada walaupun tidak menemukan keberadaan siapapun di luar bangunan itu.


Az perlahan membuka pintu bangunan itu dan alangkah terkejutnya dia mendapati banyak mayat berserakan di lantai bangunan itu.


"Ada apa ini sebenarnya? Mengapa mereka semua mati dan siapa yang menghabisi mereka semua?" gumam Az.


"Aku harus segera menemukan kakek. Semoga kakek baik-baik saja." ucapnya lalu segera masuk ke dalam bangunan itu.


Di sebuah ruangan tuan Samuel tengah duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat serta mata yang tertutup oleh sebuah kain.


Orang tua itu sepertinya tidak sadarkan diri karena kepalanya tertunduk tanpa bergerak sedikitpun.


Az segera menghampiri sang kakek dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Kakek?" panggil Az sambil membuka semua ikatan pada tubuh sang kakek.


"Kakek.... Bangun kek." panggilnya sambil menepuk pelan pipi sang kakek.


Az mencoba memeriksa napas dan denyut nadi kakeknya dan bernapas lega karena semua terdengar normal layaknya seorang yang sedang tertidur.


Sidney, Yuki dan beberapa orang datang menyusul Az segera. Mereka langsung membantu membawa tubuh tuan Samuel yang masih tidak sadarkan diri.


Az mengantar kakeknya langsung ke rumah sakit karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika tidak diperiksa dengan baik.


"Suster tolong." teriak Az setelah mereka berada di depan rumah sakit terdekat yang berhasil mereka temukan.


Beberapa orang dengan sigap membantu membawa tuan Samuel menuju ruang UGD dan seorang dokter segera memeriksa keadaannya.


Dokter bernama Daniel itu menghela napas lega setelah memeriksa keadaan tuan Samuel.


"Bagaimana keadaan kakek saya dok?" tanya Az.


"Kakek anda hanya mengalami luka luar saja dan beliau tertidur karena pengaruh obat bius ringan saja jadi, tidak ada yang perlu anda khawatirkan tuan." jawab dr. Daniel.


"Syukurlah." ucap Az lega.


Setelah itu tuan Samuel dipindahkan ke kamar perawatan karena dokter ingin melihat reaksi tubuh tuan Samuel terhadap obat bius yang membuatnya tidak sadarkan diri itu. Mengingat usia tuan Samuel yang sudah tua, dokter tampan itu tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan pasiennya pulang lebih awal sebelum di periksa kembali saat sadar.


Az yang juga masih khawatir dengan keadaan sang kakek hanya setuju dan meminta kamar vvip untuk sang kakek agar lebih nyaman.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang membantu kami menyingkirkan mereka semua dalam waktu singkat?" gumam Az sambil menatap wajah tertidur sang kakek.


Az bingung karena tidak ada satupun dari bawahan sang kakek yang datang lebih awal untuk menyelamatkan kakeknya. Dia bertanya-tanya dalam hati siapa yang menolong sang kakek dan apa tujuan mereka karena mereka menghilang bahkan sebelum Az tiba di bangunan tempat kakeknya di sekap.


"Siapapun orang itu aku sangat berterima kasih atas bantuannya. Jika tidak ada mereka aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kakek." gumamnya lagi.


Setelah beberapa saat akhirnya kantuk Az kembali datang dan dia tidak sengaja tidur dengan bersandar pada tempat tidur pasien yang kakeknya tempati.


Seseorang memasuki ruangan itu tanpa Az sadari. Orang itu dengan sangat hati-hati memindahkan tubuh Az ke tempat tidur penjaga pasien yang memang disediakan oleh rumah sakit untuk kamar vvip.

__ADS_1


__ADS_2