
Setibanya di rumah Alex, Az langsung masuk ke dalam lalu duduk di sofa ruang tengah menunggu Alex mengambil barang-barang miliknya.
"Semua barang milikmu termasuk handphone ada di dalam sini sayang." ucap Alex seraya meletakkan sebuah tas di atas meja depan Az duduk.
"Aku sengaja menonaktifkan handphone milikmu agar tidak mengganggu privasi mu." ucap Alex saat Az memegang benda pipih berwarna hitam itu.
Az segera mengaktifkan benda pipih itu takut melewatkan kabar dari sang kakek lebih lama lagi. Mungkin saja kakeknya menghubunginya sebelum ini.
"Kau bebas menelpon siapa saja di sini atau di kamar. Aku tidak akan mengganggu kamu. Aku akan ke dapur memasak untuk makan siang kita." ucap Alex.
"Mengapa harus kau sendiri yang memasak? Bukankah di sini ada banyak pelayan?" tanya Az heran.
"Aku suka melihat kau memakan dengan lahap masakan yang aku masak khusus untuk dirimu." jawab Alex.
"Kau sudah terlalu sering melayani semua kebutuhan aku di sini. Biar aku yang me....
"Selama berada di sisiku dan menjadi wanitaku, kau tidak diijinkan untuk menyentuh ruangan berminyak itu. Kau cukup katakan apapun yang kau ingin makan maka aku akan siapkan. Walaupun aku tidak tahu akan aku usahakan masak untukmu sayang." ucap Alex.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil yang harus dijauhkan dari dapur, Alex." ucap Az jengah.
"Ya, kau bukan anak kecil. Tapi, bagiku kau adalah ratu yang harus dilayani dan dimanjakan olehku. Aku tidak ingin kau terluka karena minyak panas atau teriris pisau dan mengisap asap dapur yang dapat membuat mu sakit." ucap Alex lagi.
"Baiklah, terserah padamu saja." ucap Az akhirnya mengalah.
"Kau ingin makan apa siang ini sayang?" tanya Alex saat Az hendak beranjak dari duduknya.
"Terserah kau saja mau masak apa." jawab Az.
"Baiklah sayang." ucap Alex lalu berjalan menuju dapur sambil tersenyum senang.
"Tadi Devan menghubungi nomor rumah dan aku yang mengangkatnya ayah." ucap Renata saat suami dan ayahnya tengah duduk santai di halaman.
"Katanya dia akan segera kembali. Tapi...."
"Tapi kenapa Re?" tanya tuan Gerald.
__ADS_1
"Dia bilang kalau dia datang membawa seorang wanita bersamanya." jawab Renata ragu.
"Membawa wanita? Siapa dan untuk apa?" tanya tuan Darren yang penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Dia bilang akan menjelaskan semua saat dia kembali nanti." jawab Renata.
"Sepertinya Az hanya akan menjadi anak angkat keluarga ini saja. Tidak mungkin anak itu membawa wanita ke sini jika bukan untuk dinikahinya." ucap Renata.
"Lihat saja nanti. Jika memang Devan menginginkan wanita yang akan dia bawa sebagai calon istrinya, selama wanita itu baik dan bisa membuat Devan bahagia, kita harus menerimanya sebagai bagian dari keluarga kita. Toh Az tetap akan menjadi anak angkat keluarga ini walaupun tidak menjadi menantu keluarga ini nantinya." ucap tuan Darren.
"Ya." ucap Renata.
"Sebaiknya kau siapkan saja semua yang dibutuhkan untuk menjamu tamu kita itu segera." ucap tuan Darren.
"Penerbangan dari negara S ke sini butuh waktu lebih dari 10 jam. Kau tidak perlu terburu-buru. Cukup perintahkan pelayan untuk membersihkan kamar tamu dan kamar Devan serta menyiapkan makanan kesukaan anak itu." ucap tuan Gerald.
"Baik ayah." ucap Renata.
__ADS_1
"Jangan lupa kabari paman Samuel dan Az. Mereka juga pasti menunggu kabar dari Devan." ucap tuan Darren.
"Biar ayah yang lakukan." ucap tuan Gerald.