
Az keluar dari kamarnya setelah selesai dengan ritual mandi dan merias diri dengan riasan simpel. Az segera turun ke lantai bawah karena sang kakek sudah menunggunya di sana.
"Kau sudah siap?" tanya tuan Samuel saat melihat sang cucu berjalan ke arahnya.
"Seperti yang kakek lihat." jawab Az.
"Ayo, kita harus tiba di sana tepat waktu jika tidak, pria tua itu akan mengocehkan panjang lebar berbagai macam keluhan." ajak tuan Samuel.
Az segera mengaitkan tangannya pada lengan sang kakek yang walaupun usianya sudah tua tapi postur tubuhnya masih terlihat tegap.
"Apakah kau bisa menyesuaikan diri dengan tugas yang kau jalani di perusahaan?" tanya tuan Samuel setelah mereka berada di dalam mobil.
"Sejauh ini semua masih bisa aku tangani kakek. Hanya saja...
"Hanya saja apa?" tanya tuan Samuel menyela ucapan sang cucu.
"Hanya saja, Devan yang terkadang tidak bisa menahan emosi cukup merepotkan mengingat tugas kami memang berada pada tingkat dimana banyak orang yang memiliki sifat sombong meremehkan kami dengan mudah." jawab Az.
"Yah, jika dilihat dari sifatnya yang sebenarnya, ini sudah sangat ajaib karena dia masih mampu bertahan dengan perlakuan beberapa orang yang meremehkan dirinya. Bahkan kakek dan orang tuanya sendiri sebelumnya membuat taruhan kalau dia akan mundur tepat di hari pertama dia masuk kerja tapi itu tidak terjadi hingga beberapa minggu." ucap tuan Samuel.
"Aku juga awalnya berpikir sama kek. Aku kira dia akan segera mundur melihat reaksi beberapa orang saat pertama melihat kami muncul dengan tampilan yang baru. Yah walaupun dia terlihat geram dan kesal, dia tetap bertahan untuk tidak meluapkan emosinya." ucap Az.
"Itu mungkin karena dia bersama pawang hatinya." gumam tuan Samuel.
"Kakek mengatakan sesuatu?" tanya Az.
"Tidak. " jawab tuan Samuel.
"Bagaimana perkembangan masalah dengan si breng*ek Zacki?" tanya tuan Samuel.
"Sejauh ini semua urusan pemutusan hubungan keluarga sudah selesai semua. Kita tinggal menunggu hasil tes DNA untuk membersihkan nama ibuku dan itu sudah tidak lama lagi." jawab Az.
__ADS_1
"Apakah tidak ada masalah dengan tes DNA itu?" tanya tuan Samuel.
"Sebenarnya beberapa kali ada yang berusaha untuk mensabotase tes DNA itu tapi orang yang kakek berikan untuk menjaga proses tes DNA berhasil mencegah itu jadi tidak ada masalah." jawab Az.
"Bagaimana dengan pria breng*ek satunya lagi apakah tidak ada pergerakan dan bagaimana dengan wanita ja*ang itu?" tanya tuan Samuel.
"Beberapa kali dia berusaha untuk menemui aku tapi aku berhasil menghindari dia dan anak buahnya. Sedangkan mengenai Jasmine, aku juga tidak mendapatkan informasi apapun mengenai dia selain dia sudah menghilang selama beberapa minggu ini." jawab Az.
"Sebaiknya kau tetap menjaga jarak dari pria breng*ek itu kalau bisa jangan sampai bertemu dengan dia lagi. Kakek menemukan fakta bahwa dia memiliki usaha yang berhubungan dengan dunia bawah dan dia juga memiliki sebuah geng mafia yang cukup berbahaya." ucap tuan Samuel.
"Baik kek. Pantas saja sampai sekarang tuan Zacki tidak menemukan kabar apapun mengenai putrinya itu sepertinya Elliot menggunakan kekuatan gengnya untuk menyembunyikan Jasmine atau mungkin dia telah membu*uhnya untuk melampiaskan rasa sakit hati akibat dikhianati oleh Jasmine yang sangat dia percaya itu." ucap Az.
"Bagaimana pendapatmu tentang hubungan kau dan Devan?" tanya tuan Samuel.
"Tidak ada apapun selain hubungan pertemanan biasa. Aku sudah menganggap dia seperti saudara." jawab Az.
"Apakah kau tidak ingin mencoba untuk membuka peluang bagi hubungan kalian berdua ag....
"Kau jangan berlarut dengan masa lalu sehingga membuat kau tidak bisa maju sayang. Kau harus bisa melupakan semua dan menjalani hidup dengan normal." ucap tuan Samuel.
"Aku melakukan itu bukan karena trauma masa lalu kek. Aku hanya ingin fokus pada pelatihan dan aku memang benar tidak memiliki perasaan apapun padanya untuk saat ini. Kakek tentu paling tahu kalau perasaan tidak bisa dipaksakan untuk hadir." ucap Az.
"Baiklah, bagaimana kau ingin menjalani hidup asalkan kau bahagia dan baik-baik saja, kakek tidak akan menentangnya." ucap tuan Samuel.
Mobil yang membawa mereka telah tiba di depan kediaman tuan Gerald dan pintu gerbang kediaman itu segera terbuka untuk mereka. Di depan rumah mewah itu sudah ada tuan Gerald dan yang lainnya termasuk Devan menyambut kedatangan mereka dengan senyum tulus.
"Hai orang tua." sapa tuan Samuel.
"Kau juga sudah tua jika kau lupa Sam." ucap tuan Gerald.
"Setidaknya tubuh dan otakku masih baik-baik saja tidak seperti seseorang yang sudah pikun bahkan lupa memberitahu rencananya pada cucu yang tinggal bersamanya." ucap tuan Samuel membuat tuan Gerald mendengus.
__ADS_1
"Az sayang, kau sudah melupakan wanita tua ini?" tanya Renata dengan wajah sedih.
"Bagaimana bisa aku melupakan mama? Aku hanya cukup sibuk karena baru mulai bekerja di perusahaan sehingga tidak bisa mengunjungi mama." jawab Az.
Mendengar jawaban Az, Renata tersenyum sambil memeluk tubuh Az.
"Mengapa kau menjadi semakin kurus sayang? Jangan terlalu mementingkan pekerjaan seperti para lelaki itu sayang. Kau harus merawat diri terutama kesehatan." ucap Renata sambil menatap wajah dan tubuh Az.
"Aku baik-baik saja mama. Ini karena aku berolah raga dan berlatih bela diri sehingga memiliki tubuh seperti ini. Ini tidak kurus mama." ucap Az.
"Mengapa kau mengajak putrimu berbicara di luar tanpa mempersilahkan dia masuk?" tanya tuan Darren.
"Ah aku lupa karena terlalu bersemangat bertemu dengan Az. Ayo kita masuk saja." ucap Renata.
Mereka semua masuk ke dalam rumah mewah keluarga Gerald. Di meja makan sudah banyak hidangan tersedia.
"Makan yang banyak Az sayang, mama sengaja memasak semua itu agar kau makan lebih banyak." ucap Renata.
"Dalam rangka apa sebenarnya makan malam ini?" tanya Devan.
"Mama hanya sangat rindu pada Az tapi dia tidak pernah datang menemui mama. Jadi...
"Karena tidak sabar ingin bertemu Az akhirnya mama mu mengadakan acara makan malam dadakan ini." jawab tuan Darren menyela ucapan sang istri.
"Maaf mama, Az terlalu sibuk akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kita keluar bersama akhir pekan ini sebagai ucapan maaf?" tawar Az.
"Setuju...." seru Renata bahagia.
"Apakah aku
"Tidak ada yang boleh ikut dengan kami akhir pekan ini. Aku hanya ingin berdua dengan Az saja." ucap tegas Renata sambil menatap tajam putranya yang dia sela ucapannya itu.
__ADS_1
"Kalian sudah bersama sepanjang waktu bekerja di kantor jadi biarkan ibu mu bersenang-senang bersama Az sekali ini." ucap tuan Darren.