
Sementara untuk tuan Harris, walaupun kondisi perusahaannya sudah tidak terlalu buruk karena tiba-tiba mendapatkan bantuan entah dari mana, dia harus ekstra hati-hati dan berusaha lebih keras untuk menstabilkan perusahaan yang dirintis oleh keluarganya dari awal itu.
"Tok tok tok." suara ketukan membuat pria yang sudah terlihat lebih tua dari usianya itu mengalihkan perhatian dari layar laptopnya.
"Masuk." ucapnya.
"Ada apa Kris?" tanyanya setelah melihat sang asisten memasuki ruangannya.
"Bos itu mengirimkan kita pesan." ucap sang asisten.
Bos yang dimaksud Kris adalah orang misterius yang membantu memberikan modal juga memberikan beberapa proyek pada perusahaannya.
"Oh, apa yang harus kita lakukan untuknya?" tanya tuan Harris.
"Dia ingin agar kita membantu membangun sebuah rumah di daerah xxx." jawab Kris.
"Hanya membangun kan? Bukan harus berusaha membeli lahan baru untuk membangun." tanya tuan Harris.
Pasalnya, area yang dimaksud Kris adalah tempat yang sangat sulit untuk dimiliki. Karena pemilik lahan adalah orang yang terkenal tidak bisa diganggu dan mereka tidak akan mau menjual lahannya.
"Ya tuan, surat-surat berharga tanah sudah ada dan kita hanya diberikan tugas membangun sebuah rumah yang sederhana namun nyaman di daerah itu." jawab Kris.
"Untuk apa orang itu membangun sebuah rumah di daerah yang jauh dari pemukiman? Setahuku, di sana hanya ada sebuah kediaman yang sangat mewah milik seorang kaya entah siapa." gumam tuan Harris.
"Apakah hobi orang yang sangat kaya seperti mereka memang membangun rumah yang jauh dari keramaian." gumamnya lagi.
"Dari informasi yang saya dapatkan, pemilik kediaman mewah itu adalah seorang anggota militer. Tapi, untuk siapa tepatnya saya tidak memiliki akses untuk memeriksa lebih jauh." ucap Kris.
"Itu bukan urusan kita. Tugas kita adalah melaksanakan tugas dari bos besar itu agar dia tidak marah dan membuat kita benar-benar gulung tikar." ucap tuan Harris.
"Segera urus segala sesuatu untuk membangun rumah yang diinginkan bos besar. Semua termasuk arsitektur kau yang urus." ucap tuan Harris lalu kembali berkutat dengan laptopnya.
"Baik tuan." ucap Kris lalu keluar dari ruangan itu.
...****************...
__ADS_1
"Kring kring kring." bunyi ponsel Alex membangunkan pria itu.
Saat membuka mata, Az sudah tidak ada di kamar itu. Melihat jam ternyata sudah cukup lama dia tertidur. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Ya ada apa Mat?" tanya Alex langsung setelah menerima panggilan di ponselnya.
[Ada orang yang berhasil memiliki sebidang tanah di daerah tempat tinggal anda bos.]
"Bagaimana bisa? Siapa orang itu?" tanya Alex dengan kening berkerut.
[Kami baru memeriksa dan itu ulah paman anda bos. Dia menjual sertifikat tanah pada orang yang kami masih belum bisa tahu identitasnya.]
"Sebelah mana?"
[Tidak jauh dari kediaman anda bos. Sekitar 50 meter di sebelah barat.]
"Selidiki orang itu dan kirim lebih banyak penjaga di kediaman."
[Baik bos.]
"Ada apa lagi ini? Apakah orang itu ada hubungannya dengan orang misterius yang aku cari? Siapa target orang itu? Aku atau Az?" gumamnya.
"Apakah ada masalah lagi?" tanya Az melihat Alex termenung sampai tidak menyadari kedatangannya.
"Sedikit." jawab Alex.
Alex duduk lalu menepuk tempat di sebelahnya agar Az duduk di sana. Az tanpa ragu duduk di sana.
"Masalah apa?" tanya Az.
"Seluruh area disekitar sini termasuk hutan kecil yang mengelilingi kediaman ini adalah milikku. Tapi, tiba-tiba seseorang membeli sebidang tanah tepat sebelah barat kediaman ini." ucap Alex.
"Lalu masalahnya dimana?" tanya Az.
"Aku tidak pernah mengijinkan siapapun membeli lahan sekitar sini karena lebih aman jika tidak ada bangunan lain di sekitar sini kecuali bangunan khusus anggota yang sedang berlatih tidak jauh dari kediaman ini. Tapi, orang itu berhasil membeli lahan yang hanya berjarak 50 meter dari sini dari pamanku yang serakah." ucap Alex.
__ADS_1
"Aku curiga, orang itu memiliki niat buruk. Karena, bahkan identitasnya saja sangat sulit diakses. Aku curiga dia ada hubungannya dengan orang misterius yang selalu kita cari." tambahnya.
"Bukankah lebih baik? Kita bisa mencari tahu tentang orang itu nanti saat dia menempati tempat itu?" tanya Az.
"Kurasa dia tidak sesederhana itu. Tentu dia tidak akan menampakkan diri begitu saja. Aku khawatir jika nanti rumah yang dia bangun dijadikan tempat untuk bersiap menyerang kita." ucap Alex.
"Kita harus lebih waspada. Cukup pantau terus dan jangan terlalu banyak berfikir. Mungkin orang itu hanya butuh hunian yang nyaman dan damai saja." ucap Az.
"Tolong biarkan seperti ini dulu. Aku butuh tambahan energi untuk mengatasi semua masalah yang ada." ucap Alex setelah meraih tubuh Az agar bersandar di dada bidangnya.
Awalnya Az hendak menjauh tapi melihat Alex yang masih cemas, Az membiarkan saja. Lagi pula, dia merasa nyaman dan justru ada perasaan hangat saat pria itu memperlakukan dirinya dengan manis.
"Kau harus makan. Kau sudah melewatkan waktu makan siang karena tidur." ucap Az.
"Baiklah." ucap Alex lalu mengecup kening Az.
"Terima kasih karena bersedia untuk berada di sisiku walaupun hanya terpaksa karena keadaan yang memaksa." ucap Alex.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau telah melakukan banyak hal untuk aku." ucap Az.
"Aku melakukan semua itu demi diriku sendiri. Aku akan menderita jika kau terluka. Aku yang akan tersiksa jika kau mengalami hal buruk. Jadi, melindungi dan merawat dirimu adalah kewajiban bagiku." ucap Alex.
"Kau semakin pandai menggombal." ucap Az.
"Aku mengucapkan semua sesuai dengan yang ada di sini (menepuk dadanya) aku bukan pria yang suka dan pandai menggunakan kata-kata manis pada setiap wanita. Hanya kau yang pernah ada di sisiku dan di sini (meraih tangan Az lalu menempelkannya di dadanya) kau dapat merasakannya sendiri." ucap Alex.
"Deg deg deg." merasakan debaran jantung Alex yang cukup cepat membuat debaran jantungnya terasa aneh.
"Ada apa dengan jantungku." gumam Az setelah Alex beranjak menuju kamar mandi.
"Sebaiknya aku memeriksakan jantungku pada dokter nanti. Takutnya pengaruh kecelakaan masih mempengaruhi kesehatan jantung ini." gumamnya lagi lalu beranjak keluar dari kamar.
"Maaf karena tidak bisa memasak untukmu selama beberapa hari ini sayang." ucap Alex saat tiba di ruang makan melihat Az duduk memperhatikan bibi Meg menyiapkan makanan untuk Alex.
"Bukan masalah. Bibi Meg menyiapkan segalanya untukku selama ini. Aku juga bisa mengurus diriku jangan perlakukan aku seperti anak kecil." ucap Az.
__ADS_1
"Kau bukan anak kecil sayang. Kau adalah ratu di sini dan tentunya di sini (memegang dadanya)"
"Berhenti menggombal dan segera habiskan makanan yang bibi Meg siapkan." ucap Az.