
Malam harinya Az duduk termenung di atas tempat tidur. Dia mengingat saat dimana tuan Harris harus mengorbankan nyawa untuk dirinya.
"Aku masih terlalu lemah sedangkan musuh yang harus aku hadapi cukup banyak dan kuat." gumamnya.
"Aku harus berlatih lebih keras lagi. Dasar ilmu dan kekuatan spiritual yang aku miliki di kehidupan sebelumnya masih aku miliki sekarang walaupun sangat lemah. Sebaiknya aku melatihnya juga agar menjadi lebih kuat dan dapat melindungi mereka yang menyayangi aku." gumamnya lagi sambil memejamkan matanya.
Az kemudian duduk bersila di atas tempat tidurnya untuk merasakan kekuatan spiritual miliknya.
"Aku butuh tempat dengan udara yang lebih bersih juga aura spiritual yang lebih baik." gumamnya setelah merasakan sekitarnya ternyata hanya ada sangat sedikit aura spiritual itupun tidak dapat diserap karena tidak murni.
"Aku akan tanyakan pada Alex pegunungan atau hutan yang belum pernah terjamah oleh teknologi manusia zaman sekarang." gumam Az lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tok tok tok." baru saja Az ingin memejamkan matanya suara ketukan pintu terdengar.
"Apakah kau sudah tidur sayang?" tanya Alex dari luar kamar.
"Belum." jawab Az.
"Biasanya dia langsung masuk saja ke kamar ini." gumam Az.
Alex memasuki kamar lalu duduk di sebelah Az yang sudah kembali duduk.
"Ada apa?" tanya Az.
"Aku hanya ingin melihatmu saja. Apakah kau baik-baik saja sayang?" tanya Alex sambil menggenggam tangan Az.
"Aku baik-baik saja Alex." jawab Az.
"Alex." panggil Az membuat Alex menatap wajah Az.
"Ya sayang?" tanya Alex.
"Aku ingin pergi ke tempat entah itu hutan atau gunung yang tenang. Jauh dari keramaian apakah bisa?" tanya Az.
"Kenapa kau harus ketempat seperti itu? Apakah mansion ini tidak cukup tenang?" tanya Alex.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tinggal di tempat yang berbeda dan jauh lebih tenang. Aku juga sekalian ingin berlatih." ucap Az.
"Ada apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang membuat dirimu tidak nyaman?" tanya Az melihat wajah sendu Alex.
"Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk melindungi dirimu. Karena itu kau harus lebih giat berlatih padahal seharusnya aku bisa memberikan perasaan aman untuk dirimu agar kau bebas menjalani kehidupan dengan lebih baik." ucap Alex.
"Aku hanya tidak ingin menjadi lemah dan menjadi kelemahan orang disekitar diriku terutama kamu. Aku tidak ingin lagi ada orang yang terluka karena harus melindungi aku. Kau sudah melakukan segalanya untuk dapat memberikan perasaan aman dan nyaman untuk diriku. Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri." ucap Az sambil bersandar di lengan Alex.
"Apakah kau tidak bisa berlatih di sini saja?" tanya Alex.
"Aku hanya ingin bebas bergerak tanpa bertemu dengan orang-orang yang merepotkan. Aku tidak ingin terus berada di dalam ruangan saja." ucap Az mencari alasan karena tidak mungkin dia menyebutkan tentang energi spiritual yang pastinya terdengar janggal pada jaman itu.
"Apakah aku termasuk orang-orang yang ingin kau hindari?" tanya Alex dan Az segera menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana?" tanya Az.
"Ada tempat khusus untuk pasukan khusus milikku berlatih." ucap Alex.
"Jika kau ingin ke sana, setidaknya kau harus memulihkan kondisi tubuh dulu karena jalur ke sana cukup istimewa. Pasokan makanan dan keperluan lainnya hanya bisa dikirim lewat udara sedangkan orang yang ingin ke sana harus melalui jalur yang cukup merepotkan." tambahnya.
"Kau harus lebih memperhatikan luka di lenganmu juga kondisi tubuh jika ingin ke sana." ucap Alex.
"Aku sudah baik-baik saja. Aku bisa.....
"Kau harus pulih total dari luka dan tunggu aku menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Dalam satu minggu, kalau kau sungguh sudah pulih total kita akan berangkat ke sana." ucap Alex.
"Baiklah." ucap Az senang.
"Sekarang, kau harus segera istirahat jika ingin kondisi tubuhmu segera pulih." ucap Alex lalu mengecup punggung tangan Az yang sedari tadi digenggamnya.
"Alex, bisakah mulai sekarang nama Azkaela tidak lagi disebut?" tanya Az.
"Kau ingin dipanggil dengan nama Violetta?" tanya Alex.
"Kau sudah menyebutkan nama itu saat kau menelpon kakek sebelumnya." ucap Alex saat Az menatap bingung ke arahnya.
__ADS_1
"Ya." ucap Az.
"Baiklah Letta sayangku." ucap Alex lalu mengecup kening Violetta.
"Selamat malam Letta sayang." ucap Alex sambil membantu Violetta berbaring dan merapikan selimut yang menutup sebagian tubuhnya.
"Selamat malam Alex." Violetta tersenyum lalu menutup matanya.
...****************...
Dikediaman keluarga Harris, semua orang tampak cemas memikirkan bagaimana cara menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.
"Bagaimana ini ibu? Kita sudah berhasil menyingkirkan ja*ang dan putrinya dengan mendukung Finni karena kita pikir putri Finni dapat membantu perkembangan perusahaan karena dapat memikat hati Elliot. Tidak disangka ternyata ja*ang itu malah kabur membawa kabur uang yang seharusnya menjadi milik kita." ucap Jimi frustasi.
"Jangan tanya ibu, ibu juga tidak menyangka bahwa Elliot akan berpaling dari ja*ang kecil itu dan mengabaikan perusahaan kita." ucap nyonya tua keluarga Harris.
"Aku lihat, Elliot sepertinya tertarik dengan putri dari Zaki. Bagaimana kalau kita membujuk Az untuk meminta Elliot membantu keluarga ini? Walau bagaimanapun dia masih tetap keturunan keluarga Harris." saran Joan.
"Sepertinya itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kita dari kemiskinan yang sebentar lagi akan kita dapatkan." ucap nyonya tua itu.
"Apakah anak itu akan mau membantu kita? Bukankah sebelumnya dia sudah memutuskan hubungan dengan keluarga kita?" tanya Jimi ragu.
"Yang memutuskan hubungan bukan kita. Kita hanya perlu membujuk dia dan bersikap manis. Menarik dia kembali ke keluarga Harris maka, dengan mudah kita dapat memanfaatkan dirinya untuk merayu Elliot dan mengikis hartanya." ucap Joan.
"Apa yang Joan katakan memang benar. Kau memang selalu bisa diandalkan putraku sayang." ucap Nyonya tua.
"Nenek, bagaimana kalau kita utus Neli saja yang mendekati Az? Mereka sebelumnya tidak pernah berkonflik jadi Az pasti lebih mudah untuk luluh." saran Liam.
"Kalau begitu, panggil adikmu ke sini. Ada baiknya dia mendekati Az sekarang. Aku lihat, pemuda yang bersama Az itu sepertinya anak orang kaya. Siapa tahu Neli bisa mendapatkan hati pemuda itu dan kita bisa memiliki dua orang sumber penghasilan karena Az sudah pasti bisa meraup harta Elliot jika Neli berhasil meyakinkan Az kembali ke keluarga ini juga kembali bersama Elliot." ucap Jimi penuh semangat.
"Aku akan langsung menjemput Neli di apartemen yang dia tempati saja. Akan lebih mudah menjelaskan tugasnya." putus Liam.
"Ya, kamu harus mengatakan pada Neli agar lebih pandai menjaga sikap di depan pemuda yang bersama Az karena sepertinya pemuda itu bukan tipe yang suka wanita penggoda." ucap Joan.
"Baik paman." saut Liam lalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1