
Mereka terus berlari menjauh dari kelompok yang sedang mengejar mereka.
"Dor....Dor....Dor." beberapa tembakan diarahkan ke arah mereka dan beruntung tidak satupun yang mengenai mereka.
"Berlindung....." seru Axel dan dengan segera mereka bersembunyi di balik pohon besar.
"Berpencar dan cari tempat aman. Aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka." ucap Axel.
"Tap.....
"Jangan membantah....!" ucap tegas Axel lalu segera berlari.
"Dor.... Dor...Dor..." suara tembakan lagi terdengar.
"Di sana....." seru salah satu dari kelompok itu dan mereka segera berlari ke arah Axel berlari.
Sid ingin menyusul Axel namun ditahan oleh Mat dan Jun. Karena, Sid bersikeras Lucky memukul tengkuk Sid hingga pingsan.
"Maaf tapi ketua sudah memberi perintah untuk pergi. Lebih baik kita mencari bantuan daripada mati konyol bersama." gumam Lucky.
Mat memanggul tubuh Sid seperti karung di pundak lalu segera pergi bersama Lucky dan Jun.
"Ayo cepat! Kita harus segera mencari bantuan sebelum terjadi sesuatu pada Ketua." ucap Mat sambil terus berlari.
Beruntung karena langit sudah mulai gelap sehingga Axel dapat bersembunyi di balik semak dan pohon dengan mudah.
"Sebaiknya aku mulai menyerang satu persatu mereka." gumam Axel sambil memperhatikan pergerakan dari beberapa orang yang sedang mencarinya.
"Cari mereka sampai ketemu....." seru salah satu dari mereka.
"Ada yang aneh." ucap salah satu dari mereka.
"Apa maksudmu Mer?" tanya orang yang berdiri disamping pria bernama Mer itu.
"Dari pergerakan yang aku lihat, sepertinya yang kita kejar tadi hanya ada satu orang saja." jawab Mer.
"Bagaimana kau bisa tahu dan kenapa kau baru bilang sekarang?" tanya rekannya sambil terus mencari keberadaan Axel.
"Aku baru sadar tentang hal itu." ucap Mer.
"Akh...." suara pekikan membuat mereka menoleh ke arah suara dengan segera.
__ADS_1
"Dor...Dor...Akh...." naasnya karena terlalu emosi mereka malah menembak rekannya sendiri yang mereka kira salah satu dari rombongan Axel.
Ternyata Axel melempar batu ke arah salah satu dari mereka yang membuat orang itu memekik kesakitan.
"Stop... Apakah kalian sudah kehilangan akal hah? Menembak dengan membabi buta tanpa melihat sasaran." bentak Mer geram.
Mereka meminta maaf lalu Mer segera memerintahkan mereka untuk kembali mencari.
"Huh inilah hasilnya kalau mengambil anggota dari gelandangan tanpa otak. Mengajari mereka menggunakan senjata dan paruh saja tanpa memiliki pelatihan yang lainnya. Merepotkan. " gerutu Mer.
"Sudahlah, setidaknya mereka masih berguna sebelum kita menyelesaikan tugas dari bos besar. Saat chip itu sudah berhasil kita bawa keluar dari negara ini, kau bebas menghabisi para sampah itu untuk melampiaskan kekesalan karena harus berhadapan dengan sampah idiot seperti mereka." ucap rekannya.
"Hanya beberapa orang tanpa otak rupanya. Tapi sial karena mereka memiliki penerangan huh." gumam Axel melihat mereka mulai menyalakan senter.
"Aku harus bertindak cepat untuk menyelesaikan mereka sebelum mereka yang mengakhiri hidup yang baru aku mulai ini." gumam Axel lalu segera mengeluarkan belati yang menjadi satu-satunya senjata yang dia miliki karena senjata api yang dia dapatkan dipegang oleh Mat dan yang lainnya.
Axel segera berpindah tempat melihat ada yang berjalan ke arahnya. Saat orang itu berada dalam jangkauannya, Axel segera mem-bekap mulut orang itu lalu dan segera menggoreskan belati tajam miliknya pada leher orang itu.
Axel segera bersembunyi kembali di balik semak meninggalkan tubuh orang itu menggelepar sendiri.
"Lut....." teriak salah satu dari mereka melihat rekannya yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Sepertinya sasaran kita mulai menyerang diam-diam Troi." ucap Mer dengan seringai yang sangat misterius.
"Sepertinya perjalanan ini mulai seru." ucap Mer.
"Jangan mulai bermain lagi Mer. Kita memiliki tugas yang sangat penting. Tugas ini memiliki harga nyawa kita jika gagal." ucap Troi.
"Ya, ya ya." ucap Mer lalu kembali fokus mencari keberadaan lawannya.
"Kembali cari tapi ingat untuk waspada. Tikus itu sudah mulai belajar menggigit balik." ucap Mer.
"Apakah aku harus menggunakan senjata ini." gumam Axel sambil melihat senjata yang dia ambil dari orang yang berhasil dia habisi.
"Sssstt ssstt." Axel melihat seekor ular tak jauh dari posisinya dan mulai memikirkan sesuatu.
Axel saat ini sedang berada di atas dahan pohon yang cukup besar sambil mengamati pergerakan lawannya. Sedangkan ular itu ternyata berada di dahan yang lainnya yang tidak jauh dari posisinya.
"Ini akan berguna." ucap Axel.
Dengan gerakan lincah Axel berhasil menangkap leher ular lalu segera melepaskan lilitan ekor ular itu pada dahan.
__ADS_1
"Maaf ular, kau kali ini harus menjadi pahlawan untuk hidupku." ucap Axel lalu melemparkan ular itu tepat mengenai tubuh salah satu bawahan Mer dan Troi.
"Aaaaa ular....." teriak orang yang dijatuhi ular.
Dengan tanpa aba-aba, rekannya yang ketakutan melihat ular menembak rekannya sendiri.
"Dor...." dengan kesal Mer menembak anak buahnya yang masih terus menembak dengan mata tertutup.
"Argh kalian membuat aku emosi saja. Hanya ular piton kecil saja sudah membuat kalian ketakutan. Segera cari para tikus itu sebelum pagi. Jika tidak ingin keluarga kalian mati di seberang sana." ucap Mer dengan suara keras.
"Baik bos...." seru mereka serempak lalu segera kembali mencari dengan wajah ketakutan.
Entah itu takut pada serangan Axel berikutnya atau pada ancaman Mer yang jelasnya mereka tampak ketakutan.
Mer mengedarkan pandangan ke atas. Dia memperhatikan beberapa pohon rimbun di sekitarnya lalu seringai licik terlihat dari wajahnya.
"Disana kau tikus kecil." ucapnya sambil segera membidik senjatanya ke arah pohon.
"Dor... Akh.... Bruk...." Satu tembakan dia arahkan dan tepat sasaran mengenai bahu Axel yang bersembunyi di atas pohon.
Axel memekik kesakitan dan karena mendapatkan serangan tiba-tiba, tubuhnya terjatuh ke tanah. Axel segera berlari menjauh menghiraukan rasa sakit pada pundaknya.
"Dor.... Dor... Dor..." beberapa tembakan kembali diarahkan pada Axel namun tidak berhasil mengenai tubuhnya karena Axel segera berlindung di balik pohon.
"Dor...Dor ....dor...." Axel menembak balik mengenai salah satu dari mereka membuat para lawannya berhenti mengejarnya dan ikut berlindung di balik pohon.
"Akh.... Sial, aku terluka dan hanya memiliki beberapa peluru saja." keluh Axel lalu kembali menembak agar musuhnya tidak mendekat karena berpikir Axel kehabisan peluru.
"Sial, tubuh ini semakin melemah karena kehabisan darah." keluh Axel karena pandangannya mulai memudar.
"Apakah hidup keduaku ini harus berakhir dengan cara seperti ini." gumamnya.
Tidak lama sesudahnya pandangan nya benar-benar sudah gelap dan tubuhnya ambruk karena sudah tidak sadarkan diri.
...****************...
Hayoo
Axel bakal gimana ya nasibnya?
Tebak dulu deh ya sambil nunggu up selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komentar ya.
Salam hangat untuk kalian pembaca setia ✌