Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 39


__ADS_3

Semua karyawan di perusahaan sangat tahu siapa Prita. Dia adalah seorang gadis arogan yang karena memiliki seorang ayah dengan jabatan cukup tinggi di perusahaan dia jadi semena-mena terhadap rekan sesama karyawan.


Semua juga sangat tahu bahwa Prita sangat mengagumi dan terobsesi pada seorang pemuda bernama Adi, sesama karyawan yang dikenal dengan paras tampan dan sikap yang ramah.


Setiap karyawan berjenis kelamin perempuan berusaha menjaga jarak dan tidak menunjukkan kekaguman mereka terhadap Adi karena takut dengan ancaman dari Prita. Karena, tidak sedikit dari mereka yang mengalami pemecatan ataupun turun jabatan karena sebab yang tidak jelas setelah berurusan dengan gadis itu.


"Mereka berdua adalah karyawan baru di divisi kami dan seharusnya kami semua bersama ke kantin karena sudah sepakat untuk makan bersama. Mereka berdua belum tahu apapun mengenai perusahaan dan segala hal peraturan tidak tertulis jadi, bisakah aku membawa mereka ke meja kami?" tanya Adi dengan nada ramah dan tidak lupa senyum menawan yang tidak luntur dari bibirnya.


"Tentu, aku mana bisa menyusahkan orang dari divisi tempat kak Adi." ucap Prita.


Adi mengangguk ke arah Az dan Devan memberikan tanda agar mereka mengikuti dia. Akhirnya mereka menuju ke meja makan dimana 3 orang lainnya menunggu mereka.


"Ada apa di sana tadi?" tanya Santi.


"Mereka tidak sengaja bersinggungan dengan putri tuan Hans." jawab Adi.


"What......!" pekik Santi, Riana dan Rudi bersamaan karena terkejut.


"Kalian tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Santi khawatir.


"Lebih tepatnya mereka hampir mengalami kesialan seandainya aku tidak cepat membawa mereka." ucap Adi.


"Huft, beruntung kita memiliki tuan Adi yang menjadi idola dari si arogan itu atau kalau tidak, kalian dapat menerima hal tidak masuk akal dari si arogan dan ayahnya yang terlalu memanjakan putrinya itu." ucap Riana.


"Memangnya apa yang akan terjadi pada kami jika gadis itu marah pada kami?" tanya Az.


"Ayahnya tuan Hans adalah Direktur bagian HR perusahaan ini. Tuan Hans tidak segan-segan memerintahkan bawahannya untuk memecat seorang karyawan jika putrinya menginginkan itu." jawab Riana.


"Walaupun tanpa kesalahan sedikitpun?" tanya Az.


"Walaupun tanpa melakukan kesalahan dan bahkan walaupun itu adalah kesalahan putrinya." jawab Santi.


"Bukankah itu artinya menyalahgunakan wewenangnya? Apakah tidak ada yang menghentikan dia?" tanya Az.


"Tuan Hans hanya bertindak pada karyawan kecil seperti kita dan tidak ada yang berani melaporkan tindakan dia pada atasan yang lebih tinggi dari dirinya karena tidak ingin terlibat masalah." jawab Rudi.

__ADS_1


"Gadis itu sendiri bekerja di bagian mana?" tanya Az.


"Dia adalah karyawan di bagian keuangan." jawab Santi.


"Itu juga merupakan alasan mengapa kita tidak boleh mengusik dia." ucap Riana.


"Apa hubungannya jabatan dia dengan itu?" tanya Az berusaha mengorek informasi disaat yang sangat tepat.


"Dia beberapa kali memanipulasi pengeluaran dan pemasukan karyawan hanya karena merasa terganggu dengan karyawan itu." jawab Santi.


"Maksudnya?" kali ini Devan yang bertanya.


"Dia bahkan pernah memotong setengah dari gaji bulanan seorang karyawan karena menyinggung dia dan itu selama 6 bulan berturut-turut." jawab Santi.


"Bagaimana bisa begitu dan apakah tidak ada yang protes?" tanya Az.


"Karyawan itu awalnya protes tapi entah mengapa setelah itu kasusnya tidak pernah diungkit lagi." jawab Rudi.


"Sudahlah, waktu makan siang kita yang singkat sudah hampir habis karena bergosip. Ayo makan sebelum kita benar-benar tidak sempat makan lagi hari ini." tegur Adi.


Sore hari


Az dan Devan pulang dari kantor lebih awal hari ini karena tugas di divisi mereka tidak terlalu banyak.


"Kalian pulang lebih awal hari ini." ucap tuan Samuel yang kebetulan baru kembali bertepatan motor yang terlihat butut yang Devan kendarai berhenti di depan mansion.


"Kebetulan tugas untuk divisi marketing agak kurang hari ini kek." ucap Az sambil turun dari motor.


"Mengapa wajah kalian berdua terlihat sedang kesal terutama Devan?" tanya tuan Samuel.


"Aku masih geram saja mendengar cerita dari teman se ruangan kami tentang orang yang sangat suka sewenang-wenang di kantor bahkan menyulitkan karyawan kecil karena dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi." jawab Az.


"Siapa orang itu?" tanya tuan Samuel.


"Tuan Hans dan putrinya." jawab Devan.

__ADS_1


"Tuan Hans direktur HR?" tanya tuan Samuel.


"Ya." jawab mereka kompak.


"Apa yang telah mereka lakukan?" tanya tuan Samuel.


Az menceritakan semua hal yang dia dengar tentang tuan Hans dan putrinya pada sang kakek. Mendengar itu tuan Samuel menjadi geram.


"Kurang ajar tua bangka itu." ucap tuan Samuel geram.


"Aku akan memerintahkan beberapa orang untuk mengumpulkan bukti perbuatan tidak terpuji mereka. Kalian cukup fokus saja pada tugas yang harus kalian lakukan karena sebentar lagi kalian akan sangat sibuk." ucap tuan Samuel.


"Bukankah semua penjelasan tentang kelakuan mereka sudah cukup kek? Mengapa harus mencari bukti lagi?" tanya Az.


"Tuan Hans sudah cukup lama bekerja di perusahaan kita dan sudah banyak memberikan kontribusi untuk perusahaan sebelumnya. Jadi, jika kakek memecat mereka tanpa bukti yang tidak terbantahkan lagi, itu akan menimbulkan kekacauan di dalam perusahaan kita." jawab tuan Samuel.


"Ayo masuk dan bersihkan diri segera. Waktu makan malam akan segera tiba dan kakek lupa memberitahu kalian bahwa Gerald mengundang kita untuk makan malam bersama di kediamannya." ucap tuan Samuel.


"Mengapa kakek juga ayah dan ibu tidak memberitahu aku kalau mereka mengundang kakek Sam dan Az makan malam?" tanya Devan.


"Kakek mu itu sudah pikun sehingga lupa memberitahu padamu sebelum kau berangkat keraja pagi tadi. Dia menelpon aku dan meminta aku memberitahu kau sekalian karena katanya nomor mu sulit di hubungi dari pagi." jawab tuan Samuel.


"Ah ponsel aku lowbat karena lupa isi daya baterai sebelum tidur dan aku lupa untuk mengaktifkan kembali ponsel ini setelah mengisi dayanya di kantor. Pantas saja seharian tidak ada notif apapun yang terdengar dari ponsel ini." ucap Devan sambil menatap layar ponsel yang padam di tangannya lalu mengaktifkan benda pipih itu kembali.


Baru saja benda itu menyala dan sudah ada banyak notifikasi yang memenuhi ponsel itu. Devan mengeryit melihat beberapa panggilan dan pesan dari ibu dan kakeknya.


"Sebaiknya aku segera pulang agar tidak terlambat untuk makan malam bersama. Aku juga harus segera menghadapi murka dari mereka melihat beberapa pesan ini." ucap Devan.


Devan segera memasuki mobil miliknya yang telah berhenti di depannya setelah supir membuka pintu untuknya.


Sedangkan Az dan tuan Samuel segera masuk ke dalam mansion dan segera ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap menghadiri acara makan malam bersama keluarga Gerald.


Mohon maaf ya soalnya kemarin beberapa hari author gak bisa up. Author bener-bener drop dan gak bisa untuk menulis cerita. Alhamdulillah sekarang author udah mendingan jadi udah bisa kembali up.


Terima kasih atas pengertiannya

__ADS_1


Selamat membaca


__ADS_2