
Yuki dan Sidney menunduk hormat pada Az dan Devan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Devan dan Az.
"Ada apa?" tanya Az pada mereka.
"Katakan saja di sini sekarang. Anggap dia hanya angin saja." ucap Az setelah melihat Yuki melirik ke arah Devan seolah ragu menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan pada Az karena ada Devan.
Devan hanya mendengus mendengar Az menyuruh orangnya menganggap dirinya hanya angin yang tidak perlu dihiraukan keberadaannya.
"Sore nanti anda harus ke perusahaan nona muda." jawab Yuki.
"Perusahaan? Kenapa aku harus ke sana sore ini?" tanya Az.
"Itu perintah dari tuan besar. Tuan besar ingin nona mulai belajar sedikit demi sedikit tentang perusahaan mulai saat ini." jawab Yuki.
"Kenapa harus sore ini?" tanya Az.
"Tuan besar ingin memperkenalkan anda dengan orang yang akan membimbing anda untuk masalah perusahaan. Tuan besar hanya punya waktu sore nanti karena besok pagi harus keluar negeri untuk mengurus beberapa masalah perusahaan." jelas Yuki.
"Jam berapa kita akan berangkat?" tanya Az.
"Sekitar 3 jam lagi." jawab Yuki.
"Baik a...."
"Kring kring kring." hp Devan tiba-tiba berdering membuat percakapan Az dan Yuki terhenti.
"Ck ck ck, mengganggu saja." decih Devan setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Mengapa tidak dijawab?" tanya Az setelah melihat Devan merejek panggilan dan kembali mengantongi HP nya.
"Panggilan dari seorang pengganggu saja. Paling hanya menanyakan hal tidak penting yang membosankan." jawab Devan.
"Kring kring kring." HP Devan kembali berdering.
"Angkat saja, siapa tahu penting." saran Az setelah HP Devan berdering untuk yang ke 4 kali dan melihat Devan ingin mematikan HP miliknya itu.
"Hm?" ucap Devan yang akhirnya menerima panggilan telepon setelah dering ke 5.
__ADS_1
"..........."
"Tidak masalah."
"……………"
"Tidak perlu."
"……………"
"Aku tidak kekurangan apapun sehingga memerlukan hadiah darimu." ucap Devan akhirnya lalu memutuskan panggilan telepon.
"Mengapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Az.
"Itu karena kamu meminta aku mengangkat panggilan dari pengganggu itu." jawab Devan.
"Kenapa itu menjadi salahku?" tanya Az.
"Bukankah sudah aku katakan bahwa itu tidak penting dan hanya akan menggangguku. Kau malah menyuruh aku menerima panggilan dari pengganggu itu." jawab Devan.
"Apakah otakmu itu tidak kau gunakan lagi atau sudah tidak berfungsi dengan baik?" tanya Az.
"Jika dia selalu mengganggu, bukankah kau bisa memblokir nomornya?" ucap Az.
"Ah kau benar, aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Aku juga heran dari mana mereka semua mendapatkan nomor kontak aku dan satu lagi, walaupun aku memblokir nomor mereka, mereka selalu memiliki cara untuk menggangguku." ucap Devan.
"Terserah, aku mau istirahat sebentar lalu mandi sebelum berangkat ke perusahaan kakek. Kau mau pulang atau tinggal terserah saja." ucap Az.
"Aku saja yang antar kamu ke kantor kakek Sam. Aku sekalian istirahat dan mandi di sini?" ucap Devan.
"Siapkan kamar tamu untuk dia." hanya itu yang Az ucapkan lalu pergi ke kamarnya.
Yuki menunjukkan sebuah kamar pada Devan. Devan keluar dari mansion untuk mengambil baju ganti yang memang selalu siap di dalam mobilnya.
"Di kantor pasti akan ada banyak pria yang menatapnya. Aku tidak akan biarkan ada pria lain yang mendekatinya di sana. Masalah kakek Sam yang akan menanyakan kenapa aku ikut ke sana itu urusan belakangan yang terpenting mengamankan gadisku lebih dulu." gumam Devan setelah dia berada di kamar.
Devan memilih untuk lekas memejamkan mata agar memiliki cukup istirahat mengingat semalam dia kurang tidur.
__ADS_1
Setelah tidur selama kurang lebih satu jam, Devan bangun lalu bergegas ke kamar mandi. Dia segera membersihkan tubuhnya agar tidak membuat Az kesal menunggunya.
"Kau sungguh akan mengantar aku ke perusahaan?" tanya Az yang mengira Devan hanya bergurau tentang itu.
"Tentu saja, aku selalu melakukan apa yang aku katakan." jawab Devan.
Mereka keluar dari mansion bersama, mereka berangkat dengan dua mobil. Az ikut dengan Devan di dalam mobil Devan, sedangkan Sidney dan Yuki berada di dalam mobil lainnya.
"Apakah kau sudah akan mengambil alih perusahaan?" tanya Devan.
"Aku baru saja akan belajar dan itu masih lama untuk mengambil alih perusahaan sebesar itu. Sebenarnya aku tidak ingin menyusahkan diri untuk mengurusi masalah perusahaan ini tapi, kasihan kakek jika harus terus bekerja mengurusi perusahaan di usianya yang sudah tidak lagi muda." jawab Az.
"Kau adalah keturunan tunggal yang kakek Sam miliki jadi mau tidak mau kau harus mengambil alih perusahaan itu. Kakek Sam tidak tidak akan pernah membiarkan perusahaan yang susah payah dibangunnya hancur atau di miliki orang lain. Jadi, kau harus mau mengambil alih jika ingin kakek Sam tenang melewati masa tuanya." ucap Devan.
Mereka berdua terus berbincang hingga tiba di perusahaan. Di depan sudah ada tuan Samuel yang menyambut kedatangan mereka membuat para karyawan penasaran siapa yang akan datang sehingga pemimpin mereka sendiri yang menyambutnya.
Az segera turun dari mobil setelah Devan membukakan pintu untuknya. Az langsung memeluk kakeknya saat tuan Samuel menyambutnya.
"Maaf sebelumnya karena kakek harus meninggalkanmu di restoran." ucap tuan Samuel.
"Itu bukan salah kakek, kakek memiliki urusan yang penting lagi pula ada Devan yang mengantar aku pulang tadi." ucap Az.
"Devan, kau disini juga?" tanya tuan Samuel.
"Iya kakek Sam, aku penasaran ingin melihat perusahaan kakek Sam jadi saat mendengar Az akan kesini aku menawarkan diri untuk mengantar dia." jawab Devan sembari membuat alasan agar tuan Samuel tidak menodong dirinya dengan pertanyaan lain.
"Ayo kita masuk ke dalam." ajak tuan Samuel.
Sepanjang perjalanan menuju lift yang akan mengantar mereka di lantai khusus ceo, semua mata tertuju pada mereka. Ada yang menatap penasaran dengan status Az siapa, ada yang menatap kagum penampilan Az dan tidak sedikit tatapan lapar dari karyawan wanita ke arah Devan.
"Kau sudah harus bisa membagi waktu antara melatih fisik juga melatih kemampuan menjalankan perusahaan Az sayang." ucap tuan Samuel.
"Walaupun kau sangat suka pelatihan fisik, kau juga harus memikirkan menjalankan perusahaan agar kakek mu ini dapat melepaskan masalah perusahaan. Bukankah kau sendiri yang bilang usia kakek ini butuh banyak istirahat?" tambahnya.
"Iya kakek, aku akan mulai belajar menjalankan bisnis walaupun terasa membosankan." saut Az.
Lift yang membawa mereka berhenti lalu terbuka. Di depan sudah ada beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka. Tuan Samuel memperkenalkan orang-orang itu satu persatu pada Az setelah mereka keluar dari lift.
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak setelah membaca 😁