
Devan segera mengeluarkan HP dari saku untuk mengabari keluarganya tentang rencana kepulangan dirinya.
"Apakah aku harus memberi tahu sebelumnya bahwa aku akan membawa Mona dalam kepulanganku nanti?" gumamnya sambil menatap benda pipih miliknya yang layarnya masih gelap.
"Sepertinya harus. Tapi, aku harus mengatakan apa pada mereka terutama pada mama?" gumamnya lagi.
Devan memutuskan untuk menghubungi keluarganya dan mengabari kepulangannya bersama Mona.
"Tut tut tut."
"Halo..." pada dering ke tiga seseorang mengangkat panggilan Devan.
"Halo Mam." ucap Devan yang mengenali suara sang ibu yang menerima panggilannya.
"Devan? Kamu dari mana saja? Kenapa tidak bisa dihubungi? Apakah kau baik-baik saja? Apakah ada masalah? Kapan kau kembali? Ken.....
"Mam, Devan bingung mau jawab apa kalau pertanyaannya sebanyak itu." potong Devan atas pertanyaan beruntun yang sang ibu berikan.
"Ya... Kau cukup jawab saja jangan protes." pekik Renata karena kesal sedang putranya yang lama menghilang tanpa kabar.
"Aku akan pulang. Besok aku akan berangkat dari negara ini dan akan membawa seseorang." ucap Devan.
"Seseorang? Siapa? Lelaki atau perempuan? " tanya Renata penasaran.
"Dia wanita bernama Mona. Untuk lebih jelasnya akan Devan ceritakan saat tiba di rumah." jawab Devan.
__ADS_1
"Mam, aku harus istirahat. Besok kami harus berangkat lebih awal." tambah Devan.
"Baiklah, selamat malam sayang." ucap Renata.
"Malam juga Mam." ucap Devan lalu memutuskan panggilan.
"Pesankan 2 tiket pesawat untukku kembali besok." Devan mengirimkan pesan pada asisten ayahnya.
"Dari mana hendak kemana tuan Devan?" balas si asisten.
"Aku masih Di negara S dan ingin pulang ke kediaman kakek." jawab Devan.
"Baik tuan Devan." asisten.
Tidak lama ada notifikasi masuk yang menginfokan keberangkatan pesawat pukul 10 pagi.
Devan memutuskan untuk segera tidur karena esok pagi dia harus kembali berkendara ke bandara.
...----------------...
Az dan Alex sudah keluar dari markas tersembunyi Alex. Mereka sudah berada di dalam mobil milik Alex saat ini.
"Aku ingin bertanya." ucap Az.
"Tanya saja apapun yang kau ingin tanya sayang. Walaupun aku tidak tahu akan aku usahakan jawab." ucap Alex membuat Az memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Aku serius Alex." ucap Az.
"Aku selalu serius kalau berkaitan dengan dirimu sayang. Kapan aku pernah main-main padamu dan tentang perasaanku?" ucap Alex membuat Az menghela napas panjang agar tidak emosi.
"Baiklah, baiklah, apa yang ingin kau tanyakan sayang?" tanya Alex akhirnya setelah mendapat tatapan tajam Az.
"Apakah kau bisa mengantar aku ke suatu tempat? Aku membutuhkan handphone milikku untuk mengabari kelu.....
"Benda itu juga semua barang pribadimu di kamp sudah aku amankan. Semuanya ada di rumah kita sayang." potong Alex.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?" tanya Az kesal.
"Kau tidak pernah bertanya. Jadi,aku pikir kau belum membutuhkan semua itu." jawab Alex.
"Setidaknya karena itu barang-barang yang cukup penting, kau bisa bertanya bukan apakah aku membutuhkan mereka?" tanya Az.
"Maaf sayang, itu salahku." ucap Alex.
"Sekarang, kita lanjutkan perjalanan menuju ke....
"Kembali ke rumahmu saja. Aku harus menghubungi seseorang dengan handphone ku." putus Az memotong ucapan Alex.
"Sesuai keinginanmu sayangku." ucap Alex lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan lobi hotel tempat markas tersembunyi Alex.
"Apakah mulutnya sudah terbiasa sejak lahir mengucapkan kata gombal." gumam Az yang jengah mendengar kata sayang dari Alex.
__ADS_1
"Aku hanya terbiasa sejak ada kau disisiku." ucap Alex yang ternyata mendengar gumaman Az.