
Az dan Alex hanya duduk di kursi menunggu waktu untuk memakamkan jenazah tuan Harris. Sementara itu, Elliot yang berniat mendekati Az mengurungkan niatnya karena melihat Alex yang begitu dekat dengan Az sedang Az tidak menunjukkan reaksi penolakan terhadap kehadiran Alex.
"Siapa pria itu sebenarnya? Apa hubungannya dengan istriku sehingga istriku tidak menunjukkan reaksi tidak suka akan kehadirannya di dekatnya? Jika bukan karena harus menghormati hari berkabung atas meninggalnya ayah mertua, aku pastikan akan menghajarnya sekarang juga." batin Elliot geram.
"Sudah saatnya." ucap singkat Jo membuat Az dan Alex berdiri lalu mendekat ke peti mati.
Proses pemakaman berlangsung tenang. Keluarga tuan Harris yang lainnya tidak mengikuti pemakaman setelah nyonya tua itu pingsan.
"Ayo kita pulang sayang." ajak Alex melihat Az yang hanya diam menatap dua makam di depannya.
"Jangan mencari masalah tuan Elliot." ucap Az melihat Elliot mendekati dirinya.
"Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku mencari masalah? Walau bagaimanapun kita ini...
"Tidak ada kata kita antara saya dan anda tuan Elliot. Aku harus pergi." ucap Az lalu menarik tangan Alex meninggalkan tempat itu.
"Tolong jangan membuat keributan tuan." beberapa orang menghalangi langkah Elliot.
"Bisakah kalian jangan menghalangi jalanku? Aku harus menyusul istriku." ucap Elliot kesal.
"Kami tidak mau tahu. Nyonya dan tuan muda kami tidak ingin diganggu." ucap Jo yang merupakan salah satu dari orang yang menghalangi Elliot.
"Kurang ajar.... Buk akh lepaskan...." Elliot hendak meninju wajah Jo namun dengan sigap Jo menangkap tangan Elliot memelintirnya membuat Elliot memekik kesakitan.
"Buk bruk akh." Jo melepaskan tangan Elliot lalu menendang punggungnya membuat pria itu tersungkur ketanah hingga memekik kesakitan.
"Jaga orang ini jangan sampai meninggalkan tempat ini sebelum tuan dan nyonya meninggalkan area pemakaman ini." ucap Jo pada anak buahnya.
"Baik tuan Jo." saut anak buahnya lalu Jo meninggalkan tempat itu menyusul sang bos.
"Istirahatlah, perjalanan ke rumah cukup panjang. Kau pasti sudah lelah seharian ini." ucap Alex saat mereka sudah di dalam mobil.
Mereka berdua duduk di bangku belakang sedangkan bangku supir ditempati oleh Jo. Az menyandarkan tubuhnya di dada bidang Alex lalu memejamkan matanya.
Melihat Az yang sudah tidak waspada lagi terhadapnya Alex tersenyum lalu mengecup kening Az, mengelus pelan rambut Az kemudian memeluk tubuh Az.
__ADS_1
"Andai aku tidak melihat langsung bagaimana bos memperlakukan nyonya muda dengan sangat romantis, aku tidak akan pernah percaya kalau dia yang dingin dan kejam itu bisa bersikap selembut itu bahkan pada seorang wanita." batin Jo melihat perlakuan Alex pada Az melalui kaca spion mobil.
"Ayo berangkat ! Tolong mengemudi dengan hati-hati karena istriku butuh perjalanan yang tenang agar dapat istirahat." ucap Alex membuat Jo tercengang sesaat.
"Sejak kapan bos mengucapkan kata tolong padaku? Apakah cinta sungguh dapat merubah orang sederastis itu?" batin Jo.
"Baik bos." ucap Jo.
Setelah itu suasana dalam mobil menjadi hening. Dengan laju sedang mobil yang mereka tumpangi meninggalkan area pemakaman itu.
...****************...
Sementara itu, di rumah sakit nyonya tua keluarga Harris sudah membuka matanya.
"Ibu sudah sadar." ucap seorang pria.
"Ibu butuh sesuatu?" tanya pria itu pada wanita tua itu.
"Kau harus memeriksa apakah yang Elliot katakan tentang Finni dan Jasmine itu benar atau salah." ucap wanita tua itu.
Tidak lama setelah itu, pemuda bernama Liam datang dengan wajah frustasi membuat mereka merasa semakin gelisah.
"Bagaimana hasilnya Liam?" tanya wanita tua itu.
"Dari data yang kami peroleh, dua ja*ang itu memang benar membawa kabur banyak uang perusahaan bahkan sebelumnya mereka sempat mencuri banyak uang perusahaan." ucap Liam.
"Dasar ja*ang kurang ajar. Aku pastikan akan membuat mereka menyesal saat aku menemukan keberadaan mereka." ucap kesal wanita tua itu.
"Ibu harus tenang, ingat kondisi ibu masih belum stabil. Setidaknya kita masih memiliki perusahaan secara utuh karena putri Harris itu tidak menginginkan bagian sepeserpun." ucap pria bernama Jimi yang merupakan sepupu tuan Harris.
"Dasar bodoh." ucap kesal seorang pria yang lebih muda darinya.
"Kenapa kau memaki kakakmu seperti itu Joan?" tanya nyonya tua itu kesal pada putra keduanya.
"Apakah kalian pikir, 2 ja*ang itu akan pergi membawa kabur uang kalau kondisi perusahaan masih sebaik dulu?" tanya balik Joan.
__ADS_1
"A apa maksudnya?" tanya Jimi.
"Tanya saja pada putramu Liam. Dia pasti memiliki jawaban untuk kalian." jawab Joan.
"Apa yang paman katakan memang benar ayah. Perusahaan saat ini dalam keadaan kritis bahkan banyak hutang yang belum dilunasi. Meski perusahaan dijual sekalipun tidak akan mampu menutupi seluruh hutang itu." ucap Liam.
"Ba ba bagaimana bi... Bruk." Jimi langsung pingsan karena syok sedangkan nyonya tua itu kembali tidak sadarkan diri.
"Ayah..... Nenek....."
"Ibu....."
"Suamiku....." semua orang berseru panik melihat keadaan itu.
...****************...
Di tempatnya Elliot sangat emosi karena mengingat bagaimana Az menarik tangan pria lain didepannya.
"Bagaimana bisa kau bersama dengan pria lain bahkan menunjukkan kebersamaan kalian di depanku? Apakah status pernikahan kita tidak ada artinya sama sekali di hatimu sayang?" gumamnya sambil menatap foto pernikahan dia dengan Az.
"Status kalian tidak pernah berarti karena kau tidak menghargai status itu dari awal." bayangan dirinya kembali mengolok-olok dirinya.
"Diam...." ucap Elliot sambil menutup kedua telinganya.
"Dia saat ini berstatus wanita lajang. Jadi, wajar saja berhubungan dengan lelaki lain yang lebih bisa menghargai dirinya." walaupun berusaha menutupi telinganya, Elliot tetap mendengar ucapan bayangan itu.
"Sepertinya kondisi Elliot semakin memburuk." gumam paman Elliot yang melihat Elliot berteriak dan berbicara sendiri.
"Aku harus menghubungi dokter agar segera ditangani atau dia akan semakin parah dan bisa melukai dirinya sendiri." gumamnya lagi lalu segera mengeluarkan benda pipih miliknya dari saku celananya.
Akhirnya Elliot harus dirawat di rumah sakit khusus untuk pasien gangguan jiwa. Dari keterangan dokter, Elliot menciptakan sendiri sosok lain dari dirinya sebagai wujud perasaan bersalah.
Sosok itu akan muncul untuk menyudutkan dirinya yang lainnya saat menyangkut dengan rasa bersalahnya itu. Dirinya yang satu akan menolak mengakui bahwa dirinya bersalah sedangkan sosok lainnya lagi akan terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
"Apakah ada cara lain untuk bisa membantu memulihkan kondisi Elliot, dokter?" tanya pria itu karena saran dokter adalah Az yang merupakan sosok yang sangat berpengaruh terhadap kondisi jiwa Elliot yang dapat membantu pemulihan pria itu.
__ADS_1
Sedangkan pria tua itu sangat yakin kalau Az tidak akan mau membantu karena melihat sikap Az terakhir kali mereka bertemu.