
Setibanya di markas, mereka segera membopong tubuh tuan Harris masuk ke dalam ruang pemeriksaan yang memang disediakan khusus untuk dokter Andrew bekerja.
Di dalam sana berbagai peralatan medis dari yang tradisional hingga modern lengkap tersedia. Dokter Andrew sudah siap dengan mengenakan pakaian kerjanya menunggu mereka.
Dua orang dokter muda lainnya ikut menunggu di dalam sana. Selain itu, ada 3 orang lain yang merupakan asisten mereka.
"Baringkan tubuhnya di sana." ucap dokter Andrew sambil menunjuk sebuah meja panjang.
"Pastikan tidak melewatkan apapun dari tubuh orang ini. Jangan sampai kejadian pria yang satu itu terulang lagi dan memutuskan sumber informasi yang kita miliki." ucap Jo yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Ya." saut dokter Andrew.
"Apakah penyebab kematian dari mayat kemarin sudah ada hasilnya dokter?" tanya Jo.
"Hasilnya sudah keluar. Hasil tes laboratorium juga otopsi mayat sudah aku letakkan di atas meja kerjaku. Kau pergi ambil saja sendiri." ucap dokter Andrew lalu mengenakan sarung tangan karet dan bersiap memeriksa tubuh tuan Harris.
"Dia akan sadar sebentar lagi. Kita harus segera kembali memberikan obat untuk membuat dia tetap tertidur." ucap salah satu dari dokter muda rekan Andrew.
Dokter muda lainnya lalu segera menyuntikkan obat bius pada tubuh tuan Harris. Mereka memerintahkan kepada para asisten untuk menanggalkan pakaian yang melekat pada tubuh tuan Harris.
...****************...
Alex saat ini sedang memasak untuk makan siang dia dan Az. Tidak ada satupun yang dia ijinkan untuk membantu dirinya termasuk bibi Meg yang sudah kembali dari berbelanja kebutuhan dapur.
"Apakah aku salah memperkenalkan permainan itu pada sayangku?" gumamnya mengingat Az mengacuhkan dirinya saat dia memasuki kamar Az.
"Mungkin karena dia baru mengenal permainan itu. Tidak apalah, setidaknya dia tidak melakukan kegiatan yang akan membuat lukanya terbuka." ucapnya lagi lalu memindahkan makanan yang sudah siap ke dalam piring.
"Kring kring kring." saat dia menata piring di atas meja ponselnya berdering.
"Ya." ucapnya setelah menerima panggilan.
[Laporan mengenai apa yang terjadi dengan Zenith sudah ada bos.]
"Kirimkan berkas laporannya kepadaku sekarang. Aku akan membukanya setelah urusanku selesai."
[Baik bos, aku akan membawanya seka.....]
"Kau cukup mengirimkan berkasnya ke email ku tidak perlu mengantar langsung. Setelah itu tugas utamamu adalah mencari tahu siapa saja yang wanita itu temui dan hubungi selama beberapa bulan belakangan ini hingga sebelum malam penyergapan itu."
__ADS_1
[Baik bos]
"Apakah ada masalah lagi?" tanya Az yang tiba-tiba datang.
"Pria yang membius mu itu tiba-tiba saja mati di dalam ruangan tanpa ada yang menyentuhnya. Hari ini hasil tes laboratorium juga otopsi mayat pria itu keluar." jawab Alex tanpa menutupi apapun dari Az.
"Aku ingin lihat hasilnya." ucap Az.
"Apakah permainan yang kau mainkan sudah tidak menarik lagi?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan.
"Tidak juga." jawab Az.
"Kulihat game itu jauh lebih penting daripada aku. Padahal aku yang memberikan itu untukmu." ucap Alex.
"Aku sedang melawan bos saat kau datang. Bagaimana bisa menang kalau aku tidak fokus." bela Az.
"Kau jangan mengalihkan pembicaraan. Aku ingin melihat hasil tesnya lengkap." ucap Az.
"Setelah kita makan siang ya sayang. Aku sudah siapkan makan siang penuh kasih sayang untuk kita berdua." ucap Alex sambil menarik kursi lalu mempersilahkan Az duduk di kursi itu.
"Aku bisa makan sendiri Alex." ucap Az saat Alex ingin menyuapinya.
"Kau juga harus makan siang tepat waktu." ucap Az.
"Aku akan makan sambil menyuapi mu. Kita makan dengan satu piring saja." ucap Alex.
"Tidak perlu seperti itu kan." tolak Az.
"Apakah kau merasa risih makan dari alat makan yang sama denganku?" tanya Alex sambil memasang wajah sedihnya.
Kalau anak buahnya ada yang melihat apa yang bos mereka lakukan hari ini, mereka mungkin akan menganga hingga menjatuhkan rahangnya karena bos yang mereka kenal selama ini, jangankan makan 1 piring dengan seorang wanita, alat makan yang di sentuh oleh wanita lain akan dia buang langsung.
"Baiklah terserah kau saja." ucap Az akhirnya pasrah.
Setelah makan siang, mereka masuk ke dalam ruang kerja Alex. Alex membuka laporan yang Jo kirim lalu membacanya bersama Az.
"Racun yang ditanam dalam jantung yang dapat dikendalikan dari jarak jauh." gumam Az setelah membaca laporan itu.
"Berarti orang dibalik si breng*ek itu selalu mengawasi orang itu atau bisa jadi kita semua. Buktinya dia bisa mengetahui kalau anak buahnya sudah tidak berdaya dan menyingkirkan dia segera sebelum mengacu." ucap Az.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Az melihat Alex seolah sedang berpikir keras.
"Sepertinya kita harus lebih berhati-hati." ucap Alex.
"Kenapa?" tanya Az.
"Racun yang sangat berbahaya dan tentunya terlarang di seluruh dunia ini pasti asalnya dari dunia bawah yang sangat berbahaya." ucap Alex.
"Dunia bawah?" beo Az.
"Dunia bawah adalah sebutan lain untuk mafia. Mereka yang beroperasi di segala bidang ilegal. Seperti perdagangan senjata, obat terlarang, bahkan organ tubuh manusia." jelas Alex.
"Organisasi mereka cukup besar dan sangat berbahaya." tambahnya.
"Kalau begitu kita memang harus lebih berhati-hati." ucap Az.
"Ada hal penting lainnya lagi?" tanya Az melihat Alex seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Karena tuan Harris berhubungan dengan orang itu, maka aku memerintahkan anak buahku untuk menangkap dia secara diam-diam. Aku....
"Kau tidak perlu ragu melakukan hal itu. Pria tua itu memang merupakan salah satu sumber informasi yang penting setelah si breng*ek itu mati." ucap Az.
"Tapi apakah kau....
"Walaupun aku dan dia terikat hubungan darah, namun kami tidak terikat secara emosional. Tidak perlu mengkhawatirkan aku jika mengenai pria tua itu." ucap Az.
"Baiklah sayang." ucap Alex.
"Maaf." ucapnya lagi lalu memeluk tubuh Az.
Sebenarnya Az tidak merasakan apapun karena sejatinya jiwa yang ada dalam tubuhnya tidak terkait apapun dengan tuan Harris. Tapi, entah kenapa tiba-tiba air mata menetes tanpa dia bisa cegah.
"Mengapa aku menangis dan merasa bersedih? Apakah ini perasaan dari tubuh ini karena walau bagaimanapun tuan Harris adalah ayah kandungnya yang telah banyak menyisakan luka sehingga kenangan menyedihkan itu kembali memunculkan rasa sedih itu." batin Az.
"Aku akan..
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya mengingat bagaimana aku juga mendiang ibu dulu menderita karena pria tua itu." ucap Az.
"Di mana pria itu sekarang?" tanya Az.
__ADS_1
"Sedang diperiksa oleh dokter Andrew. Aku tidak ingin kalau dia juga tiba-tiba mati juga." jawab Alex.