
Alex tampak sangat marah mendengar beberapa penjelasan dari orang yang sedang dia hubungi. Wajahnya tampak semakin menggelap tangannya terlihat mengepal kuat hingga menonjolkan urat-urat di tangannya.
"Tampaknya aku terlalu lunak pada tua bangka itu sehingga dia semakin berani ber ulah." gumam Alex.
"Apa ada perintah lainnya bos?" tanya si penelepon setelah cukup lama tidak ada suara.
"Club di Kota A sepertinya ditangani langsung oleh Alea dan Maxim. Mereka sudah cukup bersenang-senang saatnya menikmati hukuman." ucap Alex.
"Kau pasti tahu maksudku bukan?" tanya Alex.
"Apakah kami harus memper.....
"Jangan bersikap lunak. Jika perlu, buat mereka menderita." jawab Alex memotong pertanyaan pemuda yang sedang menerima instruksi darinya melalui ponsel.
"Baik bos." Alex langsung memutuskan sambungan telepon setelah itu.
"Setelah ini pasti akan ada drama menjengkelkan lagi." gumam pemuda tampan itu lalu menghela napas dalam.
"Mengapa kau bisa memilih wanita ja*ang menjadi pendampingmu ayah?" gumamnya sambil menatap bingkai foto lama yang baru saja dia ambil dari salah satu laci di mejanya.
Pemuda itu memejamkan mata hingga tanpa sadar dia terlelap dalam posisi duduk. Dalam tidurnya dia mengernyitkan kening dan bulir-bulir keringat mulai membasahi wajahnya.
"Jangan....." serunya sambil tangannya terulur seperti hendak meraih sesuatu.
"Mimpi yang sama lagi." gumamnya sambil mengelap keringat di wajahnya.
"Sebenarnya siapa wanita yang selalu muncul dalam mimpi burukku itu?" gumamnya lagi.
Setiap kali Alex teringat pada mendiang ayahnya, dia pasti akan mengalami mimpi buruk tentang seorang wanita bergaun putih yang melompat dari sebuah bangunan.
Dia tidak dapat melihat jelas wajah wanita itu namun dia dapat merasakan kesedihan mendalam dari wanita itu. Setiap kali mimpi itu muncul dalam tidurnya, dia selalu memiliki keinginan kuat untuk mencegah wanita itu melompat dari bangunan itu.
Alex melihat jam ternyata sudah lebih dari 1 jam dia tertidur di ruang kerjanya itu. Dia kemudian beranjak dari ruangan itu menuju kamar Violetta .
Di dalam kamar itu tampak Violetta tengah tertidur dengan pulas. Senyum tipis tersung*ing di bibirnya.
"Sepertinya dia kelelahan." gumamnya lalu kembali menutup pelan pintu kamar itu.
"Kring kring kring." telepon di ruang tengah berbunyi tepat saat pemuda itu melintas di ruangan itu.
"Akhirnya drama keluarga akan dimulai." gumamnya lalu mengangkat gagang telepon.
"Halo...." Ucapnya.
"Ke kediaman utama sekarang juga." ucap tegas pria yang menelepon tanpa basa basi.
__ADS_1
"Hm." sahut Alex lalu meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya tanpa menunggu ucapan lain dari si penelepon.
"Bibi Meg." panggil Alex dan wanita tua itu segera mendekat ke arahnya.
"Ada apa tuan muda?" tanya wanita itu.
"Aku harus kembali ke kediaman utama. Nyonya muda masih tidur dan ini bukan saat yang tepat aku membawanya serta." ucap Alex.
"Ya, bibi paham apa yang tuan muda takutkan." sahut bibi Meg.
"Tolong siapkan makan malam untuk nyonya dan sampaikan kalau aku tiba-tiba mendapatkan perintah dari atasan. Aku akan segera kembali saat tugas selesai aku laksanakan." ucap Alex.
"Baik tuan muda." sahut bibi Meg.
Alex tidak lagi kembali ke kamar untuk melihat Violetta. Takutnya Violetta terbangun dan bertanya tujuannya pergi. Dia tidak bisa berbohong di depan Violetta tapi, baginya belum saatnya Violetta muncul di depan keluarga nya yang penuh intrik dan drama murahan itu.
"Tingkatkan keamanan selama aku tidak di sini. Jangan biarkan siapapun masuk ke mansion tanpa ijin dari nyonya." ucap Alex pada penjaga yang dia tugaskan untuk menjaga keamanan Violetta selama di mansion.
"Siap laksanakan." sahut pemuda bertubuh kekar pada atasannya itu.
Mobil yang Alex kendarai segera meninggalkan kawasan mansion. Selang beberapa saat Violetta akhirnya bangun.
Dia berjalan menuju ruang kerja Alex tapi, pemuda tampan yang selalu merecoki harinya itu tidak ada di sana.
"Apakah di dapur?" gumamnya lagi lalu melangkah menuju dapur.
"Anda sudah bangun nyonya muda. Tunggu Sebentar, makan malam akan segera siap." ucap bibi Meg saat melihat Violetta memasuki dapur.
"Dimana Alex? " tanya Violetta.
"Ah bibi hampir lupa. Tuan muda tiba-tiba menerima panggilan dari atasan. Katanya ada tugas penting yang harus tuan muda laksanakan." jelas bibi Meg.
"Mengapa dia tidak memberitahu aku?" gumam Violetta.
"Tuan tidak tega mengganggu tidur anda nyonya muda. Katanya anda tampak sangat pulas Sepertinya anda kelelahan jadi tuan muda hanya berpesan dia akan segera kembali saat tugas selesai." jelas bibi Meg karena mendengar ucapan Violetta.
"Oh baik. " ucap Violetta.
Tidak lama makan malam sudah siap tertata rapi di atas meja. Violetta tampak memindai sekeliling seolah mencari sesuatu.
"Apakah ada yang anda butuhkan nyonya muda? " tanya bibi Meg melihat Violetta mengedarkan pandangan.
"Dimana Ditra?" tanya Violetta .
"Oh prajurit yang datang bersama anda tadi?" tanya bibi Meg balik.
__ADS_1
"Iya, apakah dia tidak ikut makan malam?" tanya Violetta lagi.
"Prajurit itu baru saja meninggalkan mansion. Dia sudah baik-baik saja dan harus kembali ke markas." jawab bibi Meg.
"Oh, kalau begitu bibi duduk saja temani aku makan." ucap Violetta.
"Baiklah nyonya muda." sahut bibi Meg sambil tersenyum.
Wanita tua itu melayani Violetta seperti seorang ibu yang membantu anaknya makan. Dia membantu Violetta mengambil nasi juga lauk.
"Drttt drrrt drrt." ponsel milik Violetta bergetar saat gadis cantik itu memasuki kamar.
"Halo sayang apakah kau sudah makan malam?" belum sempat Violetta mengucap apapun pemuda di seberang telepon sudah bertanya lebih dulu.
"Aku baru selesai makan dengan bibi Meg." jawab Violetta.
"Maaf aku harus pergi beberapa hari tanpa pamit langsung. Aku tidak tega mengganggu tidur mu." ucap Alex.
"Itu bukan salahmu." sahut Violetta .
"Aku tidak bisa menghubungi mu lama. Aku hanya ingin mendengar suara mu sebentar." ucap Alex.
"Aku tahu, kau sibuk saja dengan tugasmu dengan tenang." ucap Violetta.
"Aku mencintaimu sayang." ucap Alex.
"Hati-hati di sana." ucap Violetta tanpa menjawab ungkapan cinta pemuda itu.
"Apakah kau tidak ingin mengatakan kau juga mencintaiku?" tanya Alex.
"....."
"Baiklah baiklah aku tidak akan memaksa." ucap Alex lagi.
"Aku harus kembali bekerja. Sampai jumpa sayang aku mencintaimu." ucap Alex lagi lalu memutuskan sambungan telepon.
Violetta terdiam beberapa saat sambil menatap layar ponsel.
"Apakah aku sudah memiliki rasa itu untuk dirinya? " gumam Violetta.
"Apakah mungkin bisa secepat itu?" gumamnya lagi.
Violetta kembali meletakkan ponselnya lalu mengambil tas ransel yang dia bawa kembali dari tempat pelatihan. Dia mengeluarkan beberapa benda dari tasnya.
"Benda-benda ini akan berguna. " gumamnya lalu memasukkan benda itu ke dalam sebuah wadah.
__ADS_1