Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 37


__ADS_3

Sekuter tua mereka tiba di depan kantor milik tuan Samuel. Security yang melihatnya langsung menghampiri mereka karena ini kali pertama dia melihat dua orang itu.


"Selamat pagi, kalian berdua siapa dan ada urusan apa datang ke sini?" tanya pria itu.


"Selamat pagi juga pak, kami menerima panggilan untuk melakukan wawancara penerimaan karyawan baru hari ini." jawab Az sopan dengan menunduk seolah malu-malu seperti seorang yang jarang berinteraksi dengan orang lain.


"Kalau boleh tahu nama kalian siapa biar saya bisa konfirmasi ke bagian kantor. Karena saya tidak bisa membiarkan orang lain yang tidak memiliki alasan yang tepat masuk ke area kantor begitu saja." ucap pria itu.


"Tidak masalah pak, itu adalah tugas anda. Nama kami Azel Murti dan Devan Gil eh Hilbert." saut Az.


"Azel dan Devan, baik tunggu sebentar." ucap sekuriti itu lalu sedikit menjauh.


Terlihat pria itu sedang menghubungi seseorang menggunakan walkie talkie miliknya. Dia terlihat mengangguk lalu menghampiri Az dan Devan kembali.


"Kalian sudah ditunggu di ruang tuan Hari. Silahkan masuk lalu naik ke lantai 3 dan kalian bisa tanya kembali ke karyawan yang ada di sana ruangan tuan Hari." ucap pria itu.


"Terima kasih pak." ucap mereka berdua lalu berlalu pergi.


Selama memasuki kantor hingga menghilang di balik pintu lift, banyak mata yang memandang ke arah mereka seperti pertama mereka memasuki kantor itu. Tapi, tatapan yang mengarah ke arah mereka kali ini bukan lagi tatapan kagum melainkan tatapan risih, meremehkan dan bahkan ada yang terang-terangan mengungkapkan ketidak sukaan mereka atas kehadiran orang baru dengan penampilan yang sangat norak menurut mereka.


"Mengapa di kantor besar seperti ini masih ada saja orang kampungan yang berani menginjakkan kaki mereka?" tanya seorang pemuda sambil tersenyum sinis.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan security kantor ini mengapa mereka membiarkan mereka masuk merusak pemandangan kita. Apakah mereka sudah tidak becus lagi menjalankan tugas?" tanya balik seorang gadis.


"Orang seperti mereka bahkan tidak pantas menjadi tukang bersih toilet di sini. Untuk apa mereka datang ke sini?" tanya seorang pria tua pada orang yang bertugas berdiri di meja resepsionis.


"Mereka mendapatkan undangan untuk wawancara penerimaan karyawan baru tuan Hans." jawab gadis bernama Rini.


"Ceh, apakah kantor ini telah menurunkan level karyawan sehingga orang kampungan seperti mereka bisa menerima panggilan?" tanya pria tua itu lagi.


"Saya tidak tahu tuan, sebaiknya anda bertanya langsung pada orang yang memiliki tugas untuk penerimaan karyawan baru saja karena itu tidak mencakup tugas saya tuan." jawab Rini.

__ADS_1


Pria tua itu segera pergi dengan wajah kesal karena Rini tidak menanggapi sesuai keinginannya apa yang menjadi pertanyaannya.


"Dasar pria tua itu, selalu saja sombong seolah dia pemilik perusahaan ini. Pemiliknya saja tidak sombong seperti itu." gumam gadis itu sambil menggelengkan kepala.


Hanya sedikit dari mereka yang melirik sekilas tanpa memiliki ekspresi apapun seolah mereka hanya hal biasa yang tidak menarik perhatian. Az dan Devan mengabaikan semua tatapan dan cibiran terhadap mereka itu.


"Permisi, ruangan tuan Hari ada dimana ya?" tanya Az pada seorang gadis yang lewat saat pintu lift terbuka tepat di lantai 3.


"Untuk apa menanyakan ruangan tuan Hari?" tanya gadis itu sinis.


"Untuk melakukan wawancara penerimaan karyawan baru." jawab Az.


Devan yang tidak terbiasa berbicara terlalu banyak dengan orang lain yang tidak dikenalnya hanya berdiri dan mengikuti Az kemanapun.


"Orang seperti kalian pun sudah bisa melakukan wawancara penerimaan karyawan baru? Apakah kantor ini sudah tidak bisa menemukan karyawan yang memiliki level sesuai?" tanya gadis itu sinis lalu menunjuk ke satu arah di sebelah kanan.


"Jalan saja terus hingga di ujung ada ruangan sebelah kanan." ucap gadis itu lalu pergi dengan senyum sinis yang tidak sempat tertangkap oleh Az.


Mereka berdua berjalan sesuai arah yang ditunjukkan gadis itu dan berapa kesalnya Devan setelah melihat tulisan toilet di depan dua pintu di ujung koridor itu.


"Tenang, ini salah satu alasan aku ingin masuk dengan tampilan seperti ini. Aku ingin melihat langsung bagaimana karakter para karyawan itu masing-masing." ucap Az.


Dia langsung mengambil handphone dari tas yang dia bawa lalu menghubungi seseorang.


"Ya nona muda?" ucap seseorang dari sambungan telepon setelah telepon itu terhubung.


"Seseorang mengerjai kami dengan menunjukkan toilet di lantai 3 sebagai ruangan tuan Hari." jawab Az langsung.


"Biar aku kesa....


"Beritahu saja arah yang tepat tidak perlu membuat curiga orang lain dengan datang menemui aku langsung." Sela Az.

__ADS_1


Yuki langsung menjelaskan arah tempat tuan Hari dan segera Az memutuskan telepon setelah selesai mendapatkan jawaban yang dia butuhkan.


"Tok tok tok." Az mengetuk pintu ruangan yang dijelaskan oleh Yuki.


"Masuk." suara seorang pria terdengar dari dalam ruangan itu.


Az dan Devan memasuki ruangan itu setelah mendengar suara pria itu. Di dalam Az dan Devan masih berdiri di pintu saat pria itu menatap dari atas hingga bawah penampilan mereka berdua.


"Kalian terlambat sebaiknya kalian pulang saja karena kantor ini tidak membutuhkan karyawan seperti kalian berdua." ucap pria itu.


"Karyawan seperti kami? Maksud anda apa?" tanya Az.


"Masih kurang paham? Maksud Hari adalah penampilan kampungan seperti kalian hanya akan menurunkan level perusahaan saja. Tidakkah kalian tahu bahkan asisten rumah tangga dan tukang kebun di kediaman karyawan kantor ini bahkan masih di atas level kalian?" jawab seorang pria tua dari belakang mereka.


"Apakah standar karyawan tempat ini hanya berdasarkan penampilan bukannya kualitas kemampuan mereka?" tanya Devan yang sudah mulai tersulut emosinya.


"Kalau penampilan saja sudah seperti kalian, maka kemampuan kalian sudah dapat di lihat bahwa tidak ada yang dapat dilihat dari kalian." jawab tuan Hari.


"Aku baru tahu kalau kalian sudah berani merubah aturan penerimaan karyawan baru tanpa persetujuan tuan besar Berza." ucap seorang gadis membuat dua orang itu tersentak.


"Kami tidak.....


"Apakah tugas anda terlalu sedikit sehingga memiliki banyak waktu senggang untuk mengurus penerimaan karyawan baru tuan Hans?" tanya gadis itu dengan aura penekanan yang membuat orang tua itu meneguk kasar salivanya.


"Tidak nona Yuki. Aku ha....


"Masih ingin berdebat dan menambah tugas anda di cabang perusahaan?" ancam Yuki dan pria tua itu segera menghilang dari tempat itu tanpa suara lagi.


"Maaf nona Yuki. Aku hanya i....


"Sepertinya tugas yang anda terima terlalu berat tuan Hari. Segera lapor pada tuan Bian tugas baru anda kini menggantikan tugas Kiran yang sedang cuti hamil." Sela Yuki.

__ADS_1


"Tapi itu terlalu....


"Lakukan atau siapkan surat pengunduran diri dari kantor ini segera." ucap tegas Yuki dan pria itu segera pergi tanpa dapat protes lagi.


__ADS_2