
Usai menelpon sang kakek Az terdiam sejenak. Dia menimbang apakah harus menghubungi Devan malam itu atau besok paginya saja mengenai pemunduran hari masuk kerja di perusahaan.
"Sebaiknya aku hubungi sekarang dari pada besok pagi. Dia bisa saja bersiap terlalu pagi dan akan kesal karena rencana batal tanpa pemberitahuan." gumam Az.
"Tut tut tut." bunyi sambungan telefon.
"Ya, halo Az. Apakah kau baik-baik saja?" sapa Devan lalu bertanya.
"Hm, aku baik-baik saja." jawab Az.
"Apakah ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Devan pasalnya itu sudah cukup larut untuk menelfon hanya untuk menyapa.
"Aku hanya ingin sampaikan bahwa aku memundurkan rencana untuk magang di perusahaan kakek. Jadi, jika kau ingin tetap masuk sesuai rencana kau tidak perlu menjemput aku dan mobil milikmu itu akan aku suruh supir mengantar kekediaman kalian besok." jawab Az menjelaskan.
"Tidak perlu menyuruh supir untuk mengantar mobilku, aku sendiri yang akan mengambilnya besok di mansion. Tapi, kenapa harus diundur?" tanya Devan.
"Aku tiba-tiba ingat bahwa masih ada beberapa hal yang harus segera diatasi sebelum berdampak buruk." jawab Az.
"Kapan kau berencana untuk masuk ke perusahaan?" tanya Devan.
"Mungkin Senin depan jika semua urusanku selesai dengan mudah dan cepat." jawab Az.
"Maka aku juga akan menunda hari pertama masuk ke perusahaan kakek Sam hingga kau sudah bisa masuk ke perusahaan bersama dengan aku." putus Devan.
"Aku akan menjadi supir mu saja menemani, membantu dan mengantar kau kemanapun dan mengurus apapun yang akan terjadi." tambahnya.
"Itu akan sangat merepotkan. Aku....."
"Aku tidak akan menerima penolakan. Kau harus pergi dengan aku mengurusi apapun itu." sela Devan.
"Huft, baiklah kau boleh ikut melihat apa yang ingin aku lakukan tapi, ada syarat untuk itu." pasrah Az.
"Apa syaratnya?" tanya Devan.
"Kau jangan bertanya apapun kepadaku meskipun kau penasaran selama mengikuti aku selama aku menyelesaikan masalah. Kau boleh bertanya saat semua selesai dan aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan." jawab Az.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju dengan persyaratan itu." Saut Devan.
"Sudah larut, aku akan mematikan telfon." ucap Az.
"Ya, selamat malam. semoga mimpi indah." saut Devan.
"Jam 10 paling lambat kau sudah harus di sini jika tidak ingin kami tinggal." ucap Az lagi lalu memutuskan panggilannya tanpa menunggu tanggapan dari Devan.
"Sebaiknya aku segera tidur agar besok bisa bangun awal. Aku ingin olahraga raga sebentar mencoba beberapa alat yang kakek beli untukku sebelum memulai aktivitas lain." ucap Az lalu melangkah menuju tempat tidurnya dan segera membaringkan tubuhnya.
"Semoga semuanya bisa diselesaikan dengan lancar tanpa hambatan." gumamnya sambil memejamkan mata lalu jatuh terlelap dalam tidurnya.
...----------------...
Az terbangun di sebuah tempat yang tampak tidak asing baginya. Ya, dia pernah berada di tempat itu sebelumnya.
"Bukankah ini tempat pertama kali aku berjumpa dengan jiwa asli Azkaela, gadis yang aku tempati tubuhnya selama beberapa minggu ini?" gumam Az yang seperti sebelumnya tubuhnya akan berbentuk seperti wujud aslinya di tempat itu.
"Mengapa aku kembali ke tempat ini?" gumamnya.
"Karena aku memanggilmu." jawab sebuah suara yang sangat akrab di telinganya.
Ya, suara itu sangat akrab di telinga Violetta karena suara itu yang selalu terdengar setiap kali dia bersuara selama di dunia barunya.
"Ya, ini aku." jawab Az.
"Sebenarnya ini tempat apa? Mengapa setiap kali di sini aku akan menggunakan wujud asliku?" tanya Violetta.
"Ini adalah taman jiwa. Kau muncul dalam wujud asli karena yang ada di sini hanya jiwamu saja." jawab Az.
"Mengapa kau memanggilku?" tanya Violetta.
"Aku tahu kau ragu untuk menjalani hidup di dunia baru itu." jawab Az dan Violetta hanya mengangguk.
"Jika yang ingin kau tanyakan adalah apakah kau akan kembali ke dunia asalmu, jawabannya adalah tidak akan pernah. Karena tubuhmu di sana sudah benar-benar mati." jelas Az sambil menatap wajah sendu Violetta.
__ADS_1
"Mengapa jiwaku bisa menempati tubuhmu?" tanya Violetta.
"Awalnya aku juga tidak tahu mengapa dari sekian banyak jiwa yang meninggalkan tubuh hanya jiwamu yang menempati tubuhku. Setelah berjumpa dengan entah aku sebut dia seseorang atau sesuatu, dia menjelaskan bahwa itu karena kau memiliki hutang budi pada nenek moyangku." jawab Az.
"Hutang budi?" beo Violetta.
"Ingatkah kau pada ibu tua yang menolong dirimu saat kau terluka parah karena masuk jebakan musuh? Dia yang membantu kamu bersembunyi dan mengobati lukamu?" tanya suara seorang pria.
"Aku ingat tapi, apa hubungannya dengan pindah dimensi yang aku jalani?" tanya Violetta.
"Sebelum kau meninggalkan rumah wanita itu apakah kau ingat dengan apa yang kau janjikan pada wanita itu?" tanya suara itu lagi.
"Aku memberikan sebuah cincin giok dan berjanji akan menolong dirinya ataupun keturunannya saat membutuhkan bantuan karena wanita itu tidak menerima semua pemberianku sebagai wujud terimakasih atas bantuannya." jawab Violetta.
"Kau ingat bandul kalung yang selalu kau gunakan saat menjadi Az?" tanya suara itu lagi.
Violetta sejenak diam sembari mengingat sesuatu dan seketika matanya membulat mengingat sesuatu.
"Astaga..... Bukankah itu adalah cincin giok pemberian dariku? Apakah itu artinya dia adalah keturunan wanita tua baik hati itu?" tanya Violetta.
"Bagaimana kau yakin itu adalah cincin giok milikmu?" tanya Az.
"Aku ingat karena cincin itu adalah cincin turun temurun keluargaku. Di tengahnya terdapat lingkaran berwarna merah yang merupakan darah dari nenek moyang kami. Hanya cincin giok keluarga kami yang memiliki corak merah darah itu ditengahnya." jelas Violetta.
"Lalu, mengapa aku harus menempati tubuhnya?" tanya Violetta.
"Sebenarnya aku memohon sesuatu sebelum jatuh tidak sadarkan diri setelah kecelakaan itu." ucap Az lalu bercerita.
flash back on
Az mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sambil sesekali menghapus air mata yang tidak berhenti keluar dari matanya.
"Bagaimana bisa mereka melakukan hal kotor di belakangku? Jika dia memang sangat menginginkan Elliot, mengapa sebelumnya dia memaksa aku menggantikan dirinya sebagai mempelai wanita?" ucapnya emosi.
Saat di belokan tajam tanpa dia sadari sebuah mobil truk besar melaju dengan kencang juga dan mengambil arah yang salah sehingga melaju ke arah mobilnya yang juga melaju kencang itu. Az yang terkejut membanting setir hingga menabrak pohon besar. tubuhnya terpental ke depan menghantam kaca hingga pecah dan terjatuh di tanah dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
__ADS_1
"Tuhan, jika ada kesempatan kedua untuk diriku. Aku ingin mereka yang membuat aku menderita merasakan penyesalan yang jauh lebih besar dari penyesalanku hidup sebagai bagian dari mereka. Tapi jika tidak, mohon kirimkan seseorang untuk membalas mereka semua." ucap Az sambil memegang bandul kalung yang terbuat dari cincin giok pemberian ibunya.
Air matanya mengalir deras sambil melihat mobilnya yang meledak tiba-tiba dan perlahan pandangannya memudar hingga tidak sadarkan diri.