
Di lain tempat seorang wanita dan pria tengah duduk terikat pada masing-masing sebuah kursi saling berhadapan. Tangan dan kaki mereka terikat pada kursi sedangkan mulut mereka tertutup oleh sebuah lakban. Mereka berdua tidak sadarkan diri saat itu.
"Hmm." sang wanita akhirnya mulai sadar lalu berusaha bergerak dan berteriak panik namun tidak bisa.
Dia bisa melihat pria yang bersamanya di kamar hotel tengah duduk di sebuah kursi tangannya terikat pada kursi itu dan masih menutup mata.
"Apa yang terjadi?" batinnya.
Kemudian dia teringat sesuatu. Ya, malam saat dirinya kepergok oleh kekasihnya tengah melakukan hal yang tidak pantas. Matanya seketika terbuka lebar membayangkan bagaimana dia akan menghadapi kemurkahan Elliot.
"Apakah ini Elliot yang melakukannya? Oh tidak, jika dia murka dan melibatkan perusahaan ayah, aku akan hidup di jalanan dan seluruh keluarga akan menyalahkan aku." batinnya lagi.
Yang ada di pikirannya hanyalah kehidupan dengan kemewahan akan menghilang. Tapi, dia tidak memikirkan satu hal. Apakah dia dapat keluar dari tempat itu dalam keadaan baik-baik saja?
Perlahan pria di depannya membuka mata. Sama sepertinya, pria yang baru sadar itu terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tali di tangan dan kakinya.
"Ceklek, tap tap tap." suara pintu dibuka dan langkah kaki terdengar oleh mereka membuat keduanya menoleh ke arah suara.
"Baguslah kalian sudah bangun. Karena aku sudah sangat ingin bermain-main dengan kalian segera." ucap seorang pria dengan seringai yang sangat menyeramkan.
Aura pria itu sangat suram yang dapat membuat orang sekitar bergidik ngeri. Jasmine bahkan menahan napas karena untuk pertama kalinya dia melihat sosok pria yang biasanya lembut menjadi seperti sosok iblis yang siap mencabik tubuhnya.
"Sangat senang menjadikan aku bahan lelucon hm?" tanya Elliot sambil memegang dagu Jasmine dengan kuat.
Mata Jasmine memancarkan ketakutan dan bahkan air matanya sudah kuat mengalir.
"Plak." sebuah tamparan kuat mendarat di pipinya.
__ADS_1
Tamparan itu berhasil membuat cetakan tangan berwarna merah pada pipi mulusnya dan membuat luka sobek di ujung bibirnya membuat darah segar mengalir keluar dari sana.
"Untuk saat ini kau hanya perlu menjadi penonton. Bagaimana aku bersenang-senang dengan pasangan bercinta mu itu." ucap Elliot lalu mengambil sebuah belati dari atas meja di sudut ruangan itu.
Jasmine baru menyadari banyak benda mengerikan yang tidak pernah dia bayangkan akan lihat di setiap dinding ruangan itu.
"Apakah ini ruangan penyiksaan pribadi Elliot? Apakah dia berniat menyiksaku hingga ma*i di tempat ini?" batinnya seraya menggelengkan kepala melihat ada banyak benda penyiksaan yang tersimpan dalam ruangan itu.
"Ikat pemuda itu di tiang." ucap Elliot dan segera bawahannya membuka ikatan pemuda itu dari kursi.
Pemuda itu berusaha memberontak kala tubuhnya di seret menuju antara 2 buah tiang dengan masing-masing rantai yang siap mengikat dua tangan dan kakinya itu namun usahanya sia-sia saja karena dua orang yang menyeretnya terlalu kuat.
Tangan dan kakinya terikat kuat pada dua tiang sehingga membentuk huruf x. Jangan lupakan kalau saat ini pemuda itu masih tanpa kain selembar pun menutupi tubuhnya.
"Sepertinya aku masih belum membutuhkan belati. Bawakan aku cambuk kesayanganku!" ucap Elliot yang langsung dilaksanakan anak buahnya.
Elliot menyimpan belati di atas meja di sampingnya lalu mengambil cambuk dari tangan anak buahnya. Jasmine dan pemuda itu berusaha melepaskan diri dengan memberontak walaupun mereka sendiri sadar usahanya tidak akan berhasil. Mereka hanya dapat meronta dan menangis tiada henti.
"Jika dia berani memalingkan wajahnya maka beri dia hukuman." ucap Elliot lagi membuat Jasmine bergidik ngeri.
"Taun ak aku mohon lepaskan aku. Aku han.... Ctas...Akh." Elliot melepaskan penutup mulut dari pemuda itu lalu sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya dia mencambuk kuat tubuhnya meninggalkan jejak luka yang mengeluarkan darah pada kulit pemuda itu.
"Melepaskanmu heh? Aku baru mulai bersenang-senang dengan kau sementara kau dengan wanita ja*ang itu sudah lama bersenang-senang di belakangku menjadikan aku bahan lelucon saat kalian berhubungan intim. Itu tidak adil bung. Ctas.. Akh...!" ucap Elliot lalu kembali mendaratkan cambuknya lagi pada kulit putih pemuda itu.
Jasmine yang takut memalingkan wajahnya hanya pasrah menonton pemuda itu disiksa dengan tangis tanpa suara. Tubuhnya bergetar karena ketakutan.
"Ctas... Akh Ctas.... Akh." berkali-kali suara cambuk dan pekikan pemuda itu saling bersahutan membuat Elliot merasa senang dan Jasmine semakin ketakutan.
__ADS_1
Elliot melemparkan cambuknya pada salah satu bawahnya yang langsung ditangkap oleh pria bertubuh kekar dalam balutan jas hitam itu.
"Bagaimana bisa aku berurusan dengan seorang psicopat gila seperti dia hanya karena wanita penggila se*s itu? " batin pemuda itu.
"Apakah aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari neraka ini." batin pemuda itu lagi.
Elliot mengambil kembali belatinya lalu mengiris dada pemuda itu. Dia menjilat darah segar di belati itu lalu menyeringai.
"Darah segar memang selalu dapat memberikan kesenangan." ucapnya.
Dia menyayat beberapa kali tubuh pemuda itu lalu menggorok lehernya dengan belati itu kala kesenangannya sudah mulai berkurang.
Dia membayangkan sebuah wajah sendu dari seseorang seketika membuat mood nya menghilang seketika. Wajah terkejut dengan air mata yang langsung muncul di benaknya tiba-tiba memunculkan rasa bersalah di hatinya.
"Apakah ini yang dia rasakan saat itu?" gumamnya.
"Tidak, dia pasti jauh lebih terluka saat itu." gumamnya lagi.
Dia melangkah ingin keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti menatap pada wanita yang pernah dia cintai yang tengah terikat dengan tubuh bergetar itu.
"Kalian dapat bersenang-senang dengan wanita ja*ang itu sesuka hati kalian dan ingat untuk tidak bersikap lembut. Apapun asal jangan biarkan dia ma*i dengan mudah." ucapnya pada anak buahnya lalu keluar dari ruangan itu.
Jasmine yang mendengar ucapan pria yang selama beberapa tahun bersamanya dan selalu memanjakan dirinya itu menggeleng kuat.
"Kenapa kau menggeleng seperti itu nona manis? Apakah kau sudah tidak sabar menikmati olah raga panas bersama kami?" tanya salah satu dari anak buah Elliot.
Beberapa orang pria masuk ke dalam ruangan itu. Membuat jasmine semakin ketakutan.
__ADS_1
"Bukankah kau suka menjadi ja*ang? Kau sangat tidak beruntung menyinggung seorang seperti bos kami ja*ang." ucap yang lainnya.
Setelah itu hanya ada penyiksaan yang diterima oleh wanita muda itu. Suara jeritan yang keluar dari mulutnya menjadi hiburan bagi para pria itu.