Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 48


__ADS_3

Di satu ruangan seorang pemuda tengah gelisah seorang diri. Dia mondar mandir di dalam sana sambil menggumamkan banyak hal.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu?" gumamnya.


"Akh... S*al......!" pekiknya penuh emosi.


"Prang...." lagi-lagi semua benda di dalam ruangan itu yang dia dapat raih akan berakhir dengan tendangan atau pukulan darinya hingga rusak dan hancur.


"Az pasti sudah mengunggu aku kembali untuk menemaninya bekerja." gumamnya lalu mengacak rambutnya.


"Apa yang harus aku katakan padanya tentang ini? Aku bahkan tidak berani menghubunginya karena tidak tahu harus mengatakan apa." gumamnya lagi lalu duduk di sopa sambil meremas kuat rambutnya sendiri.


"Sebenarnya siapa orang yang terlibat dalam masalah ini? Siapa wanita itu dan bagaimana bisa kami berakhir dengan tidur bersama? Tidak tidak tidak, sudah pasti dia sendiri yang menjebakku agar bisa masuk dalam keluarga kaya." gumamnya.


Flash back on


Malam itu Devan diundang untuk makan malam bersama dengan teman se angkatannya di fakultas tempat dia kuliah sebelumnya.


Mereka semua merayakan kelulusan sekaligus sebagai perpisahan karena masing-masing dari mereka tentu memiliki sebuah tujuan yang berbeda setelah lulus seperti Devan yang memilih untuk kembali ke negara asalnya.


Mereka minum hingga mabuk. Sedangkan Devan, dia sebenarnya tidak banyak minum tapi anehnya dia merasa tidak nyaman. Kepalanya terasa pening seolah dia sudah minum hingga betul-betul mabuk.


Mereka semua akhirnya pulang ke tempat masing-masing bahkan ada yang memilih untuk memesan kamar karena mabuk dan tidak sanggup untuk kembali. Tempat mereka berkumpul memang di restoran sebuah hotel mewah.


"Apakah kau mabuk kak Devan? Biar aku bantu memapah mu dan memesankan kamar karena sepertinya kak Devan sudah sangat mabuk." ucap seorang gadis sambil tersenyum licik memegang lengannya.


"Lepaskan...." ucap Devan sambil mendorong gadis itu.


"Akh...." pekik gadis itu karena tersungkur di lantai.


"Aku hanya ingin membantu kak.....


"Usir dia." hanya itu yang Devan ucapkan pada seseorang dan dengan segera beberapa orang menyeret gadis itu keluar dari kawasan hotel yang ternyata memang milik keluarga Gerald.

__ADS_1


Devan berjalan sempoyongan menuju sebuah lift. Dia memutuskan untuk tinggal di kamar pribadi miliknya yang memang ada di hotel itu.


"Mengapa aku merasa sangat tidak nyaman?" gumamnya.


Peluh sudah membanjiri seluruh tubuhnya dan wajahnya sudah merah. Bahkan hampir seluruh kancing bajunya sudah terlepas karena dia merasa gerah.


"Apakah ada yang memberikan obat perang*ang pada makanan atau minumanku?" gumamnya.


Dia sudah di depan kamarnya dan sudah membuka pintu namun tubuhnya ambruk karena tidak bisa menyeimbangkan diri.


"Anda tidak apa-apa tuan?" tanya seorang gadis sambil membantu menarik tangannya.


"Apakah anda butuh sesuatu? Saya akan panggilkan seseorang untuk membantu anda." ucap gadis itu hendak meninggalkan tempat itu.


Gadis itu merasa tidak nyaman tinggal dengan seorang pria yang tampak mabuk. Saat dia hendak meninggalkan tempat itu Devan tiba-tiba mencekal tangannya.


Devan seolah melihat wajah Az di depannya. Pikirannya sudah tidak bisa dia kendalikan lagi. Pengaruh alkohol juga obat perang*ang pada tubuhnya sudah mengendalikan dirinya.


"Ada apa tuan? Apakah kau membutuhkan ses hmmm hmmm" Devan membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.


Sayangnya Devan dengan mudah menyeretnya masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu berusaha melepaskan diri namun kekuatan tubuhnya jauh dari kata mampu untuk lepas dari genggaman Devan.


Malam itu kamar Devan menjadi saksi bisu dimana seorang gadis harus melepaskan hal berharga pada dirinya untuk pria yang tidak dia kenali.


Pagi harinya gadis itu sesegukan di ujung ranjang sambil memeluk lututnya. Tubuhnya penuh bercak keunguan hasil karya Devan yang masih lelap dalam tidurnya.


Saat Devan terbangun dia sangat terkejut dan murka melihat tubuhnya polos dan seorang wanita meringkuk ketakutan dan sedih dengan tubuh hanya berbalut selimut.


"Apa yang terjadi?" gumam Devan.


"Tidak, kau siapa dan apakah kau orang yang menjebakku?" tanya Devan dengan suara bentakan pada wanita yang sedang ketakutan itu.


"Tidak a aku...

__ADS_1


"Cukup..... Ambil ini dan pergi. Aku tidak ingin melihat kau disekitar aku." sela Devan sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wanita itu.


Wanita itu berdiri dengan susah payah lalu mengenakan sebuah kemeja di lantai. Dia berjalan sambil menahan perih pada inti tubuhnya.


"Plak...." sebuah tamparan kuat mendarat di pipi Devan.


"Ambil semua uang mu itu. Kau hanya pria breng*ek dan aku juga tidak berharap bisa bertemu dengan kau ataupun pria sejenismu." ucap wanita itu lalu segera meninggalkan kamar itu meninggalkan Devan yang masih mematung di tempatnya.


"Akh...." pekik Devan.


Tanpa sengaja sudut matanya menangkap bercak darah pada seprai di ranjang nya. Dia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Aku ingin rekaman cctv di seluruh hotel ini dari kemarin sore hingga malam hari. Bawa ke kamarku aku tunggu 10 menit sudah harus ada." ucap Devan lalu memutuskan panggilan sebelum orang disisi lain panggilan itu sempat menjawab.


"Sebaiknya aku membersihkan diri dulu." ucapnya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak butuh hingga 10 menit untuk Devan membersihkan diri. Dia hanya menggunakan handuk saat orang yang dia suruh mengumpulkan rekaman cctv datang membawa apa yang dia butuhkan.


"Kau boleh pergi." ucap Devan.


Devan segera memutar rekaman itu dan melihat semua orang yang berada di dalam dan sekitar hotel. Dia melihat seorang gadis yang sangat dia kenal karena sikap yang membuat dia jengah sedang berada di dalam dapur hotel.


Gadis itu memberikan sebuah amplop dan sebuah botol pada seseorang yang bertugas menyiapkan minuman untuk dia dan rekannya.


"Seril....." ucap geram Devan.


Devan dapat melihat juga apa yang dia lakukan di depan kamarnya dan bagaimana dia menyeret paksa wanita yang menampar pipinya tadi masuk ke dalam kamarnya.


"Akh.... Breng*ek Buk." pekiknya lalu meninju meja di depannya.


"Aku memang breng*ek. Bagaimana bisa aku memaki wanita yang aku sudah buat rugi." ucap Devan.


Dia mengingat bagaimana wanita itu ketakutan di sudut tempat tidur dan bagaimana emosinya wanita itu setelah dia hina dengan setumpuk uang.

__ADS_1


"Aku harus mencari wanita itu dan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padanya." Dia hendak berdiri dari sopa namun kembali duduk sambil menunduk lemas dan air matanya sudah mengalir deras.


"Bagaimana dengan aku dan Az nantinya? Apakah aku harus merelakan Az?" gumamnya.


__ADS_2