
Alex membuka matanya dan melihat kasur tempat Violetta sebelumnya berbaring sudah kosong.
"Kemana dia?" gumamnya sambil melihat sekeliling ruangan.
Alex beranjak dari tempat tidur lalu mengecek ponsel yang dia simpan di atas meja. Ada banyak panggilan tak terjawab juga pesan dari Jenni, orang yang selama ini mengaku sebagai ibu kandungnya.
Alex mengabaikan saja pesan dari wanita itu. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Di mana istriku?" tanya Alex saat tidak melihat keberadaan Violetta.
"Nyonya muda ada di taman belakang tuan." sahut seorang penjaga keamanan yang kebetulan masuk ke dalam rumah.
"Tuan." pria itu memanggil Alex saat pemuda itu hendak melangkah menuju tempat keberadaan Violetta.
"Ada apa?" tanya Alex menghentikan langkahnya.
"Di luar ada seorang wanita yang mengaku sebagai ibu anda dan memaksa ingin bertemu dengan anda." jawabnya.
"Apakah istriku mengetahui keberadaan wanita itu?" tanya Alex.
"Nyonya sempat menemuinya sebentar." jawabnya.
"Apa yang wanita itu lakukan pada istriku?" tanya Alex.
Penjaga keamanan itu menceritakan apa yang Violetta lakukan saat bertemu dengan Jenni. Pria itu takut tuannya akan marah jika memang benar wanita di luar adalah ibu kandung tuannya itu.
Pasalnya, mereka tidak berani membiarkan wanita itu masuk bahkan Nyonya muda juga bersikap kurang sopan padanya. Pria itu memang tidak kenal dengan keluarga Timothi dan hanya menjalankan tugas bahwa tidak ada pengecualian bagi siapapun wanita tanpa seijin Alex tidak boleh masuk ke dalam mansion.
"Biarkan saja wanita itu di sana. Jangan biarkan dia memasuki gerbang mansion ini." ucap Alex membuat pria itu menghela napas lega.
"Beruntung karena kami tetap menjalankan tugas sesuai perintah tuan." gumamnya.
"Apakah wanita di luar itu hanya mengaku sebagai ibu dari tuan saja?" gumamnya lagi.
"Sepertinya seperti itu." Ucapnya lagi lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Dia memang awalnya ingin ke dapur karena bibi Meg memintanya untuk membantunya di sana. Entah bantuan apa yang dibutuhkan wanita itu pikirnya.
"Apa yang kau lakukan sayang?" tanya Alex setelah duduk di sebelah Violetta .
"Menikmati camilan buatan bibi Meg." jawab Violetta.
"Di luar ada seorang wanita yang mencarimu." ucap Violetta.
__ADS_1
"Abaikan saja." ucap Alex sambil memeluk tubuh Violetta dari samping.
"Aku sangat merindukan dirimu." Ucapnya.
Violetta melepaskan pelukan Alex lalu menatap wajah pemuda tampan itu.
"Apakah ada masalah?" tanya Violetta melihat keresahan dari raut wajah Alex.
"Ya dan cukup rumit." jawab Alex.
Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari kekasih hatinya itu.
"Kau dapat menceritakan semua yang membuat kau resah padaku." ucap Violetta.
Alex kembali merengkuh pinggang Violetta lalu membiarkan gadis cantik itu bersandar dalam pelukannya. Dia menceritakan semua yang terjadi dan apa yang dia tahu pada Violetta .
"Apakah ada kemungkinan kalau kematian ayahmu itu hanya rekayasa?" tanya Violetta.
"Aku belum tahu. Tapi, kemungkinan itu bisa terjadi." jawab Alex.
"Dari ceritamu, berarti ada ingatan yang terkunci saat setelah kejadian meninggalnya ibumu. Itu bisa saja terkunci oleh alam bawah sadarmu atau ada seseorang yang sengaja menguncinya untukmu." ucap Violetta.
"Aku tidak tahu. Tapi, ingatan beberapa jam itu adalah kunci jawaban dari apa penyebab kematian ibuku." sahut Alex.
"Aku memiliki sebuah metode kuno yang dapat membantu. Tapi, itu cukup beresiko." ucap Violetta ragu.
"Kalau begitu, bisakah kau membantu aku sayang?" pinta Alex.
"Kita selesaikan dulu masalah yang ada. Setelah itu, baru kita lakukan itu. Karena, untuk melakukan hal itu resikonya adalah kau akan sulit mengendalikan dirimu. Kau bisa terjebak dalam ingatan masa itu dan butuh waktu untuk dapat membuat dirimu pulih." ucap Violetta.
"Aku tidak tahu jika itu metode pengobatan modern. Aku pikir itu jauh lebih aman. Tapi, kita butuh seorang ahli yang dapat dipercaya." tambahnya.
"Nanti aku akan coba konsultasi pada salah satu kenalan yang ahli dalam bidang ini." ucap Alex.
"Ibu palsu di luar itu cukup mengganggu." ucap Violetta karena sayup-sayup kembali mendengar suara melengking Jenni yang memaki penjaga di gerbang.
"Kalau begitu, aku akan membuat dia pergi dengan segera." ucap Alex.
Pemuda itu mengambil ponsel yang sebelumnya dia letakkan di meja depan bangku yang dia duduki bersama Violetta .
"Biarkan Boy dan Zen menyambut wanita diluar." ucap Alex setelah orang yang dia hubungi menerima panggilan darinya.
"Siapa Boy dan Zen?" tanya Violetta sambil menatap ke arah Alex.
__ADS_1
"Oh aku lupa memberitahu kalau di sini aku memelihara 2 ekor an*ing pemburu. Mereka aku beri nama Boy dan Zen." jawab Alex.
"Aku sudah lama tinggal di sini dan sudah berkeliling di sekitar sini. Tapi, aku tidak pernah bertemu dengan seekor pun dari mereka." ucap Violetta heran.
"Mereka ditempatkan di samping paviliun belakang." jawab Alex.
"Mungkin pelatih mereka takut kau tidak suka dengan mereka sehingga selama ini dia tidak membiarkan mereka berkeliaran sembarang di sekitar mansion." tambah Alex.
"Aku tidak masalah dengan hewan apapun." ucap Violetta.
"Ting." tiba-tiba ponsel Alex berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.
"Aku harus ke tempat pria itu." ucap Alex setelah membaca pesan itu.
"Ada masalah?" tanya Violetta.
"Setelah menyebutkan identitasnya, dia tidak lagi berbicara satu kata pun. Tapi, baru saja dia mulai mau berbicara dan katanya dia selalu menyebut namaku." jawab Alex.
"Aku ikut denganmu." ucap Violetta.
"Baiklah." ucap Alex.
Alex meminta salah satu prajurit untuk menyiapkan mobil sementara dia dan Violetta berganti pakaian. Mereka segera meninggalkan mansion. Violetta melihat sekitar saat mobil melewati gerbang.
Dia tidak mendapati keberadaan Jenni lagi di sekitar sana.
"Wanita itu sepertinya sangat takut dengan an*ing." ucap Violetta.
"Sejauh ini, Boy dan Zen sangat berguna dalam mengusir hama penganggu baik di sini ataupun di Kantor." sahut Alex.
"Kau juga membawa mereka ke Kantor?" tanya Violetta.
"Kadang." jawab Alex.
Setelah 1 jam lebih menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah sakit tempat pria yang mirip ayahnya Alex dirawat.
Seorang pria berseragam putih khas seorang dokter menyambut kedatangannya.
"Sebelumnya dia hanya diam seperti patung walaupun kami berusaha membuat dia berbicara. Tapi, setelah kami menyebutkan nama anda." sang dokter menjeda ucapannya.
"Dia mulai meracau tidak jelas." tambahnya setelah sambil melihat ke arah pria yang mengoceh tidak jelas yang sedang duduk di tempat tidur pasien itu.
"Alex dalam bahaya. Lexa maaf. Alex dalam bahaya. " Violetta yang kemampuan inderanya lebih peka setelah latihan itu dapat mendengar dengan jelas ocehan pria itu.
__ADS_1