
Renata tampak sedih mendengar bahwa Az tidak bisa ikut hadir dalam acara pernikahan Devan.
"Bukankah kita bisa memperketat pengawasan dan membatasi tamu hanya orang-orang tertentu saja? Kau bisa merasa tenang dan kita bisa berkumpul bersama." saran tuan Gerald.
"Tidak bisa kakek Gerald. Musuh yang aku dan kakek hadapi kali ini sangat sulit untuk ditebak. Kita tidak akan tahu kapan dan bagaimana dia akan menyerang. Lagi pula, kita harus memikirkan keamanan Mona yang tengah mengandung. Sangat riskan untuk dirinya dan kandungannya jika terjadi penyerangan saat hari pernikahan tiba." ucap Az.
"Mungkin, dalam beberapa waktu kedepannya, aku juga tidak bisa berkunjung ke sini. Akan sangat berbahaya bagi kalian semua jika mereka tahu bahwa aku berhubungan dengan keluarga ini." tambahnya.
"Tidak menghadiri pesta mama masih bisa terima. Tapi, apakah harus menghindari kami juga?" tanya Renata yang semakin sedih bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Maaf ma, tapi ini semua demi kebaikan bersama. Tidak akan lama. Aku sudah berusaha menemukan siapa orang-orang itu dan mengatasinya." ucap Az.
"Apakah kau butuh bantuan Az sayang?" tanya tuan Gerald.
"Tidak kakek Gerald. Akan lebih baik jika kakek dan yang lainnya tidak terlibat. Aku bisa menangani semua itu. Ada orang berpengalaman dan bisa diandalkan yang akan membantu aku menangani semua itu." tolak Az sambil tersenyum.
"Aku harus segera kembali." ucap Az.
"Secepat itu?" protes Renata.
__ADS_1
"Tinggallah sedikit lebih lama karena setelah ini kau akan lama untuk kembali ke sini." ucap tuan Gerald.
"Ya, kakek benar." saut Devan.
"Aku juga baru bertemu denganmu dan kau akan pergi lama setelah ini. Tinggallah dulu hingga waktu makan siang agar kita bisa berbincang lebih banyak." ucap Mona ikut membujuk Az.
"Aku ingin tinggal lebih lama dan bercerita banyak dengan kalian semua." ucap Az menerbitkan senyum di bibir semua orang yang ada di ruangan itu.
"Tapi, tidak baik untuk aku terlalu lama berada di sini. Aku hanya berkunjung sebentar untuk melepas rindu pada kalian dan menjelaskan kenapa aku tidak bisa memberikan kabar ataupun berkunjung selama ini. Aku hanya tidak ingin mama dan yang lainnya khawatir jika tidak berjumpa langsung dan menyaksikan bahwa aku baik-baik saja." tambahnya membuat mereka melunturkan senyum bahagia.
"Tapi,
Akhirnya mereka semua terpaksa menuruti apa yang Az inginkan. Tidak hanya tidak berjumpa dengan Az dalam waktu yang lama, mereka juga tidak akan menghubungi Az sebelum Az yang menghubungi mereka.
"Tring tring tring." baru keluar dari kediaman keluarga Gerald, ponsel milik Az sudah berdering dengan nama si bawel (Alex) sebagai id pemanggil.
"Hm."
[Kau ada di mana sayang? Apakah masih di kediaman keluarga Gerald?]
__ADS_1
"Aku baru keluar dari rumah kakek Gerald."
[Oh, apakah kau akan langsung pulang?]
"Ya, apa yang ingin kau sampaikan sehingga menelepon?"
[Aku hanya ingin mendengar suaramu sayang.]
"Sekarang sudah dengarkan?"
[Ya.]
Az lalu memutuskan panggilan dari Alex lalu segera melangkah menuju mobil yang menunggunya di depan rumah tuan Gerald.
"Kalian sudah selesai sarapan?" tanya Az yang sudah berdiri di depan mobil.
"Sudah nyonya muda, terima kasih." ucap Gibran sambil membukakan pintu mobil untuk Az.
"Kembali ke rumah." ucap Az sebelum dua orang itu bertanya tujuan berikutnya pada Az.
__ADS_1