
Az sudah siap untuk makan malam bersama Alex. Dia berangkat bersama Aldi dan Gibran. Alex tidak bisa menjemputnya karena harus menyelesaikan pekerjaan dan Az juga menolak untuk dijemput sendiri olehnya.
"Sepertinya mobil kita diikuti." ucap Aldi tiba-tiba setelah beberapa saat diam memperhatikan kendaraan yang berada di belakang mobil mereka melalui kaca spion mobil.
"Sejak kapan?" tanya Gibran.
"Setelah kita memasuki jalan kota. Awalnya aku ragu tapi, mobil itu terus mengikuti kita." jawab Aldi.
"Oh ****." umpat Gibran setelah beberapa mobil lainnya menghalangi jalan mereka.
"Kita dikepung." ucap Aldi melihat 4 mobil di depan yang menghalangi dan 2 mobil di belakang yang mencegah mereka mengambil jalan memutar.
"Nyonya tenang saja, tolong langsung kunci mobilnya dan hubungi tuan saat kami keluar." ucap Aldi menoleh ke arah Az.
Di depan dan belakang mobil mereka sudah berdiri beberapa pria memegang alat untuk menghantam orang. Ada yang membawa pemukul baseball, kapak, palu hingga pedang.
"Sepertinya kali ini cukup merepotkan." ucap Aldi saat mereka sudah berdiri di depan mobil melihat lawan mereka yang berjumlah cukup banyak.
"Kalian kalah jumlah. Berlutut minta ampun maka akan kami biarkan kalian mati dengan tubuh utuh." ucap salah satu dari orang yang mencegat mereka.
"Ingin menghabisi kami? Apa kalian mampu?" ucap Gibran dengan nada meremehkan membuat orang itu murka.
"Sepertinya kau memilih mati dengan tubuh terkoyak." ucap pria itu geram.
"Habisi mereka." ucap pria itu lagi.
Perkelahian antara mereka segera berlangsung. Dengan cekatan Aldi dan Gibran mampu melumpuhkan lawan satu persatu. Walaupun mereka melawan dengan tangan kosong, Aldi dan Gibran berhasil melumpuhkan beberapa orang dari mereka.
"Hanya dengan kemampuan yang seperti ini kalian berani mencari masalah heh? Sungguh konyol." ucap Gibran sambil tersenyum dengan tatapan meremehkan ke arah lawan yang masih berdiri menatap geram ke arah mereka.
"Jangan senang dulu. Ini baru menu pembuka untuk kalian." ucap pria itu sambil tersenyum penuh arti.
"Plok plok plok."
__ADS_1
"Tap tap tap." setelah pria itu menepuk tangannya sebanyak tiga kali, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Terimalah menu utama dariku." ucap pria itu setelah puluhan orang mengelilingi mereka.
"Cih, ini baru seru. Setiap hari seperti ini baru tidak membosankan." ucap Gibran.
"Jangan banyak omong kosong. Hadapi mereka jika kalian sungguh mampu atau, berlutut mohon ampun dan serahkan wanita cantik yang ada di dalam mobil itu maka kalian bisa selamat." ucap pemimpin kelompok yang mengepung mereka dengan nada angkuh.
"Ha ha ha ha ha ha." Aldi dan Gibran malah tertawa terbahak bahak mendengar ancaman lawannya.
Az hanya duduk diam menonton aksi dari Aldi dan Gibran tanpa niat menghubungi Alex sedikitpun.
"Menghubungi si posesif itu artinya aku kehilangan momen untuk berlatih malam ini." ucapnya lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Beruntung aku menggunakan celana bukannya gaun atau dress malam ini." ucap Az sambil tersenyum melihat Aldi dan Gibran sudah kewalahan menghadapi banyak lawannya.
Az keluar dari mobil dan segera mengarahkan tendangan ke arah orang yang hendak menghantam kepala Gibran yang berusaha bangun karena tersungkur setelah mendapatkan tendangan.
"Bak buk bak." dengan lincah Az menghantam dan menendang bagian lemah dari lawannya hingga satu persatu mereka tumbang hanya dengan satu hingga dua pukulan.
"Apakah setelah ini kita akan dipecat karena ternyata kita tidak lebih baik dalam bertarung dari nyonya muda kita itu?" tanya Aldi pada Gibran tanpa mengalihkan pandangan dari Az yang sedang bertarung.
"Entahlah.... Tapi, satu hal yang pasti. Kita akan kehilangan kepala ini jika tidak segera membantu nyonya muda dan membiarkan dia terluka." ucap Gibran lalu segera berusaha berdiri untuk kembali bertarung walaupun tubuhnya sudah tidak bisa berdiri dengan stabil karena sudah menerima banyak hantaman benda keras.
"Duak akh...." Az menendang orang yang hendak menghantam Gibran membuat orang itu memekik kesakitan.
"Jangan memaksakan diri dan menjadi beban." ucap Az sambil terus bergerak menghantam lawannya.
"Sepertinya agak merepotkan jika tidak membuat mereka benar-benar terluka. Mereka selalu saja bangun dan menyerang." gumam Az yang sudah cukup kelelahan.
Az mengambil belati yang dia sembunyikan di pinggangnya lalu mulai menyerang lawannya menggunakan belati tajam itu.
"Sret akh...." tebasan belati dan suara pekikan kesakitan menghiasi tempat itu.
__ADS_1
"Dor..... Akh...." sebuah tembakan berhasil mengenai lengan kiri Az.
"**** siapa yang melukai wanita incaran tuan?" tanya Derri terkejut melihat Az terluka.
"Kita akan mendapatkan kemurkaan tuan saat dia tahu." tambah Derri.
"Masa bodoh dengan tuanmu, aku tidak akan membiarkan wanita ja*ang itu membantai anak buah ku satu persatu." ucap si penembak.
Di kejauhan beberapa orang yang asik menonton aksi dari Az tersentak melihat Az terkena tembakan. Awalnya mereka ingin segera membantu Aldi dan Gibran saat mereka berdua sudah kalah tapi, melihat Az beraksi mereka jadi ingin melihat kemampuan Az dulu sebelum membantunya.
Mereka tidak menyangka kalau Az akan terluka karena lawannya membawa senjata api.
"Oh si*l, kita akan kehilangan nyawa karena membiarkan nyonya muda terluka." ucap seorang dari mereka lalu segera mengeluarkan senjata bersiap menyerang.
"Ah segera selamatkan nyonya muda." ucap yang lainnya.
"Ini salahmu Gres." ucap yang lainnya.
"Jangan menyalakan siapapun. Saatnya beraksi." setelah itu mereka mulai menggunakan senjata api yang mereka bawa.
"Dor dor dor....." beberapa tembakan dari luar kerumunan membuat kelompok Derri kebingungan dan ketakutan.
Az hanya bisa memegang lengannya yang terluka sambil melihat arah datangnya serangan yang sedang menyerang lawannya.
Derry memanfaatkan saat Az lengah dengan memukul tengkuk Az hingga Az yang sudah lemah itu pingsan. Dia membawa tubuh Az pergi ditengah kekacauan.
"Mana nyonya muda?" tanya seorang wanita tinggi yang masih memegang pistol.
"Segera cari nyonya muda." ucapnya lagi saat tidak menemukan keberadaan Az di sekitar sana.
"Bawa Aldi dan Gibran ke markas untuk ditangani tim medis dulu. Biar aku yang mencari keberadaan wanita itu." ucap wanita lain yang juga memegang senjata api.
"Biar yang lain saja yang mencari nyonya. Gres, kau bawa Aldi dan Gibran bersamaku." ucap pria yang sudah membopong tubuh Gibran.
__ADS_1
"Uh aku tidak bisa membantah. Aku tidak bisa menghapus jejak keberadaan si jal*ng yang sudah memikat hati bos itu agar dia menghilang selamanya." batin wanita bernama Gres itu sambil membopong tubuh Aldi dibantu seorang rekannya.