
Mendengar ucapan Violetta, prajurit itu mengernyitkan kening heran. Pemuda itu merasa kalau wanita itu terlalu percaya diri.
"Apakah dia pikir mengorek informasi dari pembunuh bayaran sama mudahnya dengan bertarung dengan mereka? Tugas ini jauh lebih sulit dan dia terlalu percaya diri." Batin si prajurit.
"Apa yang kau lamunkan? Segera beri jalan." ucapan Alex membuyarkan lamunan pemuda itu.
"Ah maaf." Ucapnya lalu segera menyingkir.
"Ha ha ha ha ha." melihat Violetta berdiri di hadapannya, orang yang terikat itu tertawa terbahak-bahak melupakan luka di sekujur tubuhnya.
"Apa yang kau tertawakan? " tanya Violetta sambil tersenyum sinis melihat tingkah orang di depannya.
"Ha ha ha ha ha ah aku tidak bisa menghentikan tawa ini ha ha ha." ucap pria itu disela tawanya.
"Apakah para ban*i itu sudah kehabisan cara membuat aku bersuara sehingga meminta wanitanya merayu aku? Ha ha ha ha ha akh....." pekik kesakitan tiba-tiba menghentikan suara tawanya.
"Akh.... sa..kit...akh...." pekiknya lagi.
"Oh apakah ini yang kau sebut rayuan? " tanya Violetta dengan senyum mengerikan yang membuat merinding orang yang melihatnya.
"Akh...." pekik pria itu lagi kala Violetta menekan satu titik di tubuhnya.
"Aku memiliki banyak jurus rayuan dan itu adalah yang paling rendah." ucap Violetta lalu kembali menekan beberapa titik di tubuh pria itu.
"Akh.... sa....KIT...." sangking sakitnya urat-urat di wajah dan bagian tubuh yang terlihat tampak menonjol keluar.
"Kau berencana menikmati hingga tingkat keberapa?" tanya Violetta .
Para prajurit baru melihat horor ke arah Violetta. Mereka merinding mendengar pekikan kesakitan pria terikat itu.
"Apakah wanita itu monster?" bisik salah satu dari mereka pada rekannya.
"Entahlah." jawab rekannya.
"Aku baru tahu apa yang dimaksud semakin cantik wanita akan semakin berbahaya." ucap yang lainnya sambil terus menatap ke arah Violetta dan pria yang sedang memekik kesakitan itu.
"Sebaiknya kita lebih berhati-hati padanya kelak." saran salah satu dari mereka dan dijawab anggukan kepala oleh yang lainnya.
"Rasanya pasti sangat luar biasa." gumam prajurit yang tadi bertugas mengintrogasi pria itu.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan pemuda itu mengatakan seperti itu. Pasalnya, dia sudah beberapa kali memberikan pukulan dan penyisaan yang sangat berat dan tidak sekalipun pria itu menjerit kesakitan.
Pria itu dan rekan-rekannya bahkan tertawa mengejeknya. Mengatakan bahwa pukulannya seperti sentuhan pe*acur yang sering dia sewa.
Sangking emosinya dikatakan sepertiitu, dia bahkan sampai menghabisi dua dari 4 orang yang mereka ikat itu.
Jika para pemuda di sana menatap horor ke arah Violetta, lain lagi 1 pemuda gagah yang berdiri tak jauh dari gadis cantik itu. Alex menatap kagum dan penuh kebanggaan ke arah kekasih hatinya itu.
"Am pun akh...." pekik pria itu makin keras.
"Oh, akhirnya kalian akan membuka suara?" tanya Violetta.
"Ba...Dor...Dor.." baru saja pria itu ingin membuka suara, dua peluru berhasil melubangi masing-masing kepala dua pria yang terikat tadi.
Dua orang itu seketika menjadi jasad tak beryawa di depan Violetta .
Mendengar suara tembakan, Alex refleks menangkap tubuh Violetta lalu membawanya dalam pelukan kemudian berlindung di balik pohon.
Para prajurit baru yang masih melongo melihat aksi Violetta segera tersadar saat mendengar letusan senjata api. Mereka segera berlindung di balik batang pohon.
"Sepertinya mereka hanya umpan saja untuk mengetahui posisi kita." ucap Violetta .
"Kita harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum ada korban." ucap Violetta sambil melirik pada posisi seorang prajurit yang sedang berlindung di balik batang pohon tak jauh dari mereka.
"Aku tidak menduga kalau perjalanan kita yang sangat aku jaga kerahasiaannya akan sampai pada telinga musuh kita. Aku tidak seharusnya membiarkan anggota yang tidak memiliki pengalaman tempur ikut dalam perjalanan ini." ucap Alex.
"Mengapa tidak ada lagi serangan?" gumam Alex.
"Apakah mereka ingin menjadikan kita permainan yang menyenangkan untuk mereka tonton? " gumam pemuda itu lagi setelah keluar dari balik pohon dan tidak ada tembakan 1 pun lagi.
"Apakah mereka ingin berperan sebagai kucing yang mempermainkan tikus kecil yang sudah berhasil mereka tangkap lalu dia biarkan lari karena yakin akan mudah menagkapnya kembali?" tebak salah satu prajurit.
"Perjalanan ini akan sangat beresiko. Siapapun yang tidak sanggup bisa kembali ke jalur awal. Aku akan menghubungi markas untuk menyediakan kelompok kecil menjemput kalian." ucap Alex.
"Kami siap menghadapi resiko apapun kapten." seru mereka kompak.
"Yang akan kita hadapi adalah orang-orang profesional dan kematian adalah resiko terbesar yang menanti." ucap Alex lagi memastikan kalau mereka memang yakin untuk melanjutkan perjalanan.
"Kami siap menghadapi resiko apapun kapten. "ucap mereka kompak.
__ADS_1
"Bagaimana sayang?" tanya Alex pada Violetta .
Sebenarnya Alex ingin membawa Violetta kembali ke jalur awal karena khawatir tentang keselamatan gadis cantik itu. Tapi, dia tidak ingin Violetta merasa kalau pendapatnya tidak dihargai kalau langsung memutuskan sesuai keinginan dia.
"Aku tidak akan mundur." jawab Violetta yakin.
"Tapi...
"Kalau target mereka adalah aku, dimanapun mereka tatap akan mengincar diriku. Sampai kapan aku harus terus menghindar dari mereka? " ucap Violetta .
"Baiklah." pasrah Alex.
"Kalian semua harus lebih waspada. Hanya sisa 2 pos yang harus kita lalui. Kita harus bisa tiba di pos berikutnya agar kita dapat mengirimkan sinyal bahaya ke markas." ucap Alex lagi.
Pos tempat istirahat sebenarnya bukan hanya tempat istirahat tapi juga merupakan tempat yang menyediakan alat tersembunyi untuk dapat menghubungi markas jika terjadi masalah yang tidak diinginkan dalam pelatihan seperti saat ini.
Ya, hutan itu bukan hanya sebagai jalan menuju markas tapi juga merupakan tempat pelatihan untuk anggota baru.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Mereka kini berjalan dengan penuh waspada karena bahaya mengintai mereka entah dari arah mana.
"Shut tring." sebuah anak panah melesat hampir menembus kepala salah satu prajurit namun gerakan gesit Alex melempar belati berhasil mengenai anak panah itu.
Mereka kembali bersembunyi karena saat itu juga puluhan anak panah melesat cepat ke arah mereka.
"Jleb akh..." lengan salah satu prajurit tertancap anak panah.
Rekannya dengan sigap membantunya bersandar di balik pohon.
"Kita tidak bisa hanya terus menunggu di sini." ucap Violetta.
"Kita tidak memiliki stok peluru sebelum tiba di pos." ucap Alex.
"Aku terlalu ceroboh tidak membawa stok yang cukup karena merasa perjalanan ini tidak akan ada serangan dari musuh. Dasar Alex bo*oh." Alex merutuki dirinya sendiri.
"Aku lupa sesuatu." ucap Violetta lalu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dengan sangat kalau tidak suka dengan novel nya cukup tinggalkan saja jangan memberikan bintang 1. Bagi pembaca yang tidak rela memberikan bintang 5 tidak perlu memberikan bintang sama sekali selain bintang 5. Itu cukup menurunkan mental kami para penulis.
__ADS_1
Cukup baca saja kalau suka. Maaf kalau cuap" kali ini terkesan judes ya. ✌