
Ke 5 orang itu sedang mengatur napas mereka yang memburu akibat kelelahan memanjat tebing.
"Huft, sungguh melelahkan." Keluh Jun.
"Berhenti mengeluh dan mengumpat Jun. Keluhanmu itu tidak berguna bahkan membuat sakit kepala saja." tegur Mat karena sedari sebelum mereka memanjat hingga selesai, Jun selalu saja mengeluh dan mengumpat tidak jelas.
"Ak.....
"Ayo kita lanjutkan perjalanan." ajak Axel yang sudah berdiri tegap menyela Jun yang hendak protes.
"Ayolah ketua, kita masih butuh istirahat setelah memanjat tebing tinggi itu." protes Jun.
"Kita tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menemukan titik terakhir pada misi lalu menyerahkan misi di tempat yang ditentukan." ucap Axel.
"Ketua benar. Ayo.....!" ucap Mat sambil menarik paksa tangan Jun agar segera berdiri.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk pada peta agar segera tiba pada titik terakhir misi mereka. Mereka masih memiliki waktu 1 hari dan 1 malam lagi untuk menyelesaikan misi mereka.
"Kita harus menyeberangi sungai ini?" tanya Jun saat mereka tiba di tepi sebuah sungai.
"Ya, ini satu-satunya jalan. Tapi, sebelum itu sebaiknya kita beristirahat saja dulu. Ini sudah akan gelap." jawab Lucky.
"Tidak, kita harus melewati sungai itu dan beristirahat di tempat misi terakhir." tolak Axel.
"Kalian lihat sendiri kalau langit sudah mendung sedari tadi. Jika hujan datang tidak aman untuk beristirahat di dekat aliran air yang kita tidak bisa tebak apakah akan banjir atau tidak. Selain itu, jika benar air akan naik setelah hujan, akan semakin sulit bagi kita untuk menyeberangi sungai itu." jelas Axel sebelum mendapatkan protes dari yang lainnya.
"Apa yang ketua regu katakan ada benarnya." ucap Mat.
"Ya, lagi pula bagian sana (menunjuk ke aliran air) sepertinyatidak dalam." saut Sid.
"Hm, kau benar Sid. Di sini tidak dalam tapi arusnya cukup deras." ucap Lucky setelah memeriksa tempat yang dimaksud Sid.
"Tidak masalah, asal kita berhati-hati maka akan aman." ucap Axel.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menyeberangi sungai segera. Setelah itu mereka terus melanjutkan perjalanan menuju titik misi terakhir.
Saat akan tiba di titik terakhir Axel tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memberikan aba-aba agar yang lain berhenti juga.
"Ad.....
__ADS_1
"Sst" Axel memberi isyarat agar Jun diam.
"Di depan ada beberapa orang dengan senjata." ucap Axel dengan suara pelan.
"Apakah mereka yang ditugaskan untuk menjemput kita di sini setelah misi selesai? " tanya Jun dengan suara yang juga dipelankan.
"Sepertinya bukan. Bukankah seharusnya kita sendiri yang harus melanjutkan perjalanan hingga ke tempat yang ditentukan untuk menyerahkan tugas?" tebak Sid.
"Sid benar. Lagi pula, jika hanya untuk menjemput kita, mereka tidak harus membawa senjata bukan?" ucap Mat.
"Apakah ini ujian pada misi terakhir?" tanya Lucky.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak." jawab Mat.
"Kita hanya bisa melumpuhkan tanpa menimbulkan keributan untuk memeriksa mereka. Kita tidak bisa ambil resiko jika mereka adalah penjahat dan kita tidak bisa melukai mereka terlalu parah takutnya mereka adalah salah satu dari misi kita. " ucap Axel.
"Bagaimana?" tanya Axel meminta pendapat yang lainnya.
"Kami setuju saja. Kita tidak memiliki jalan lain." ucap Mat mendapat anggukan tanda setuju dari yang lainnya.
"Target kita yang pertama adalah 3 orang yang terpisah di sana (sambil menunjuk 3 orang yang dimaksud) aku akan melumpuhkan 1 Sid dan Mat 1 begitu juga kalian berdua melumpuhkan dan mengamankan 1 yang lainnya." jelas Axel.
"Baik." saut mereka bersamaan.
Mereka berhasil melumpuhkan sasaran dengan waktu bersamaan. Axel memukul tengkuk sasarannya hingga pingsan dalam sekali pukul. Sid dan Mat melakukan hal yang sama sedangkan Lucky membius lawannya.
"Dari mana kau mendapatkan obat bius itu?" tanya Jun setelah mereka kembali berkumpul.
"Aku membawanya setiap saat." jawab Lucky.
"Mengapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau memiliki obat bius?" tanya Mat.
"Kalian tidak ada yang bertanya." jawab Lucky santai.
"Lagi pula aku hanya memiliki sedikit." tambahnya.
"Bagaimana kau bisa....
"Cukup tanya jawab kalian. Kita memiliki urusan yang lebih penting disini." tegur Axel membuat mereka bungkam.
__ADS_1
Axel memeriksa senjata yang mereka sita dari tiga orang yang berhasil mereka buat tidak sadar dan sembunyikan sebelum akhirnya mereka ikat tangan kaki dan mulutnya agar tidak menjadi masalah saat sadar nanti.
"Ini bukan jenis senjata yang digunakan orang militer bukan?" tanya Axel pada Sid.
"Ya, ini jenis senjata yang sering diperdagangkan secara ilegal." jawab Sid.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jun.
"Ada hal yang sebaiknya tidak kalian ketahui. Sebaiknya kita pikirkan cara agar kita bisa pergi dari tempat ini dengan aman karena sepertinya mereka adalah penjahat yang sangat berbahaya." jawab Sid.
"Hm, orang yang berhubungan dengan perdagangan senjata ilegal pastinya adalah penjahat berbahaya." saut Mat setuju.
"Krek...." mata mereka berlima membola karena Jun tidak sengaja menginjak ranting yang menimbulkan suara yang dapat memancing perhatian para penjahat ke arah mereka.
"Siapa di sana?" tanya seseorang dengan suara keras.
"Ada apa?" tanya rekannya.
"Aku mendengar suara dari arah sana." jawab orang itu sambil berjalan ke arah suara diikuti beberapa orang.
"Dor..... Akh...." seseorang melihat pergerakan dan menembak.
Sialnya, tembakan itu berhasil mengenai lengan Lucky membuatnya memekik kesakitan. Axel yang mendengar pekikan Lucky segera menembak 5 orang yang bergerak ke arah Lucky. 5 orang untuk 5 peluru mereka semua berhasil dilumpuhkan sayangnya tembakan itu memancing kelompok penjahat yang berada di tempat lain di dalam hutan itu.
Axel dan Sid segera membantu Lucky untuk berdiri lalu segera meninggalkan tempat itu karena mendengar suara berisik orang berlari ke arah mereka.
"Kita harus bersembunyi. " ucap Mat.
"Tutupi luka Lucky agar tidak meninggalkan bekas darah." ucap Jun yang melihat darah yang mengalir meninggalkan jejak karena posisinya dibelakang Lucky.
Mat segera membuka pakaiannya lalu mengikat lengan Lucky lalu mereka kembali berlari mencari tempat bersembunyi sebelum keberadaan mereka ditemukan.
"Sebaiknya kita berpencar untuk menemukan brengsek itu." ucap salah satu dari penjahat itu.
Dari suaranya Axel dan yang lainnya dapat menebak kalau musuh mereka sudah tidak jauh dari tempat mereka membuat mereka semakin tegang.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hai pembaca setia
__ADS_1
Maaf karena up novel ini masih lambat. Author gak bisa kasih alasan apapun masalah ini tapi, akan author usahakan untuk tidak up lama lagi kedepannya.
salam hangat penuh sayang