Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 49


__ADS_3

"Aaaaakh....." Devan memekik frustasi.


Semua benda di atas meja disapu habis hingga berserakan di lantai.


"Plak.... Pria breng*ek." makinya pada diri sendiri sambil menampar wajahnya sendiri.


"Apakah kau masih berhak untuk dapat hidup di sisi Az sedangkan kau sudah merusak masa depan wanita lain?" ucapnya sambil menatap pantulan wajahnya dari kaca lemari cukup jauh di depannya.


"Apa bedanya aku dengan mantan suaminya yang breng*ek itu jika aku memaksakan diri untuk hidup dengannya lalu mengabaikan orang yang telah aku rusak? Az juga seluruh keluargaku akan sangat kecewa jika tahu aku melakukan hal itu dan mungkin mereka akan membenci aku nanti." ucapnya.


"Ya, walaupun tidak memilikinya setidaknya aku tetap menjadi orang yang baik di matanya dan aku masih dapat hidup di sisinya menjadi saudara yang akan menjaganya." gumam Devan.


Akhirnya Devan memutuskan untuk mencari wanita yang telah dia renggut kehormatannya dan terus berada di negara S tanpa memberi kabar pada keluarga maupun Az karena tidak tahu harus mengatakan apa pada mereka.


...****************...


Di lain sisi


Az selesai dengan pekerjaannya hari ini. Dia memutuskan untuk menuju arena tembak untuk berlatih agar semakin mahir menggunakan senjata api.


"Dor dor dor." suara letusan senjata api terdengar dari senjata yang Az pegang.


Di dalam sana dia menggunakan tampilan aslinya karena tidak akan ada yang dapat dengan bebas keluar masuk tempat itu untuk mengganggunya.


"Kau sungguh pandai menggunakan senjata api." puji seseorang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.


"Dari mana datangnya orang ini? Mengapa aku tidak menyadari kedatangannya?" Batin Az.


Az terkejut mendengar seseorang tiba-tiba menegurnya tanpa dia sadari keberadaannya. Andai pria itu tidak bersuara mungkin Az tidak akan menyadari bahwa ada orang lain di tempat itu sedang mengawasinya.


"Apakah merubah berulang kali penampilan juga kepribadian dirimu adalah hobimu?" tanya pemuda itu.


Az mengabaikan pertanyaan dari pemuda itu dan mulai mengambil senjata lain yang baru dia pelajari untuk dia gunakan.

__ADS_1


"Senjata itu tidak berguna untukmu. Kau gunakan dan bawa senjata ini saja untuk berjaga-jaga." ucap pemuda itu lalu menyerahkan beberapa buah benda berbentuk alat kosmetik.


Az masih sibuk mengamati 3 benda di tangannya sampai tidak menyadari bahwa orang itu telah pergi dari tempat itu.


Az membuka benda berbentuk wadah bedak padat. Saat pertama membuka benda itu sungguh hanya sebuah bedak padat biasa tapi, saat membuka bagian bawahnya ternyata ada beberapa jarum dengan ujung berwarna hitam dan bau yang menyengat. Di sana tersisip kertas bertuliskan.


"Jarum itu berlumur racun yang dapat melumpuhkan orang dalam waktu singkat."


Az kembali menutup tempat jarum beracun itu. Az lalu membuka benda berbentuk lipstik tapi ukurannya sedikit agak panjang.


Sama seperti tempat bedak, saat dibuka seperti tempat lipstik pada umumnya akan mengeluarkan lipstik asli yang dapat digunakan dan saat membuka sekat di bawah ternyata itu adalah benda yang dapat mengalirkan listrik bertegangan tinggi yang dapat membuat seseorang tidak sadarkan diri jika di serang langsung dengan itu.


"Tekan tombol dibawahnya dan sentuhkan langsung pada kulit seseorang maka dia akan pingsan karena sengatan listrik." lagi-lagi ada tulisan yang menjelaskan kegunaan benda itu.


Benda terakhir adalah benda segi empat seperti kotak riasan perona pipi. Di lapisan bawahnya terdapat sebuah pistol yang terlihat seperti pistol mainan dengan ukuran kecil.


"Jika tidak dapat dihindari kau dapat membunuh siapapun dengan pistol ini. Lakukan tanpa ragu biarkan aku yang urus sisanya."


Az memgernyit bingung membaca kertas terakhir. Dia mengangkat kepalanya ingin bertanya untuk apa pria asing memberikan dia benda seperti itu.


"ketiganya adalah benda yang berguna, sebaiknya aku simpan saja untuk berjaga-jaga." ucapnya lalu berjalan menuju dia menaruh tas miliknya kemudian memasukkan ke 3 benda itu di dalam tasnya.


Az melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ternyata sudah cukup larut." gumamnya setelah melihat angka 22.30 di layar ponselnya.


"Aku terlalu fokus pada latihan sehingga lupa waktu lagi." ucapnya lalu segera mengemasi barangnya untuk segera kembali ke mansion.


"Apakah kakek tidak ada di mansion atau sudah tidur karena pengaruh obat? Tumben kakek tidak menelepon untuk menanyakan kenapa aku masih belum pulang jam segini." gumamnya.


Az akhirnya segera kembali ke mansion untuk memeriksa kakeknya. Setelah Az pergi seorang pria keluar dari balik dinding sambil menatap punggungnya dengan senyuman menghiasi bibirnya.


"Belum saatnya untuk kita terlalu sering bersama. Tidak akan baik untuk dirimu jika mereka menyadari kau adalah kelemahan ak di saat aku belum cukup kuat untuk memastikan keamanan dirimu dari segala jenis ancaman." gumamnya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar lagi, aku akan pastikan kau berdiri dengan bangga dan merasa aman di sisiku selamanya. Akan aku pastikan juga jika saatnya tiba kau tidak akan memiliki alasan apapun untuk meninggalkan sisiku." ucapnya lalu segera kembali bersembunyi di balik dinding saat menyadari Az hendak berbalik ke arahnya.


"Dia cukup awas dan peka juga." gumamnya lalu segera pergi dari tempat itu.


Az tiba di mansion tepat pukul sebelas malam. Saat membuka pintu mansion, Sidney berdiri menyambutnya.


"Selamat malam nona muda." sapa Sidney.


"Selamat malam juga Sidney, Apakah kakekku sudah tidur?" tanya Az.


"Tuan besar langsung tidur setelah meminum obat, nona." jawab Sidney.


"Oh, apakah kau belum tidur karena menunggu aku kembali?" tanya Az.


"Nona muda adalah tanggung jawab aku juga Yuki, tentunya kami tidak bisa tenang sebelum memastikan anda kembali ke mansion dengan selamat." jawab Sidney.


"Baiklah, karena aku sudah kembali kau sudah bisa istirahat sekarang." ucap Az.


"Tapi,....


"Tapi apa lagi Sid?" tanya Az menyela ucapan Sidney.


"Anda belum makan malam. Mau aku siapkan sesuatu nona?" tanya Sidney.


"Aku sudah makan malam sebelum kembali Sid. Jadi, kau boleh istirahat karena aku juga akan istirahat setelah membersihkan diri." ucap Az.


"Baiklah nona muda, air hangat....


"Aku tidak ingin berendam jadi tidak perlu sediakan air hangat dalam bak." ucap Az menyela ucapan Sidney lagi.


Sidney akhirnya meninggalkan Az sendiri di sana. Az segera menyusul Sidney karena kamar mereka berada pada lantai yang sama.


"Ada apa dengan Devan sebenarnya ya? Dia bahkan tidak menghubungi mama Renata juga kakek Gerald walaupun hanya sekedar memberi kabar." gumam Az setelah meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidurnya.

__ADS_1


Dia tiba-tiba teringat saat kakeknya menanyakan apakah Devan pernah menghubungi dirinya selama Devan di negara S.


"Mungkin dia sedang mengurus hal pribadi yang tidak ingin diketahui orang lain." gumam Az lagi lalu segera memejamkan matanya.


__ADS_2