
Mereka makan malam dengan tenang setelah itu mereka berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang sebentar lalu Az dan kakeknya pulang.
Renata meminta Az untuk menginap namun dengan beberapa alasan Az menolak dan akhirnya dia bisa pulang bersama sang kakek.
Di tempat lain
Tuan Zacki dan sang istri kembali berusaha untuk menemui Elliot di kantornya untuk menanyakan keberadaan putri mereka namun lagi-lagi satpam menghentikan dan mengusir mereka.
"Kalian tidak diijinkan untuk memasuki kantor apa lagi bertemu dengan tuan Elliot." ucap salah satu satpam yang menghadang jalan mereka.
"Bagaimana bisa kami tidak diijinkan untuk bertemu dengan calon menantu kami?" protes Finni.
"Kau bilang calon menantu maka calon menantu? Kau kira presdir kami dapat menikah dengan sembarangan orang?" ucap sinis seorang wanita yang baru keluar.
"Biarkan kami masuk....! Aku jamin kalian akan menyesal saat Elliot tahu kalian selalu mengusir kami setiap kali ingin menemui dia." ancam Finni.
"Maaf nyonya tapi, ini semua atas perintah dari presdir kami. Kami persilakan kalian pergi sendiri dari halaman kantor ini atau dengan sangat terpaksa kami akan menyeret kalian menjauh dengan cara kasar." ancam seorang dari satpam itu.
"Kau...
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Akan sangat memalukan jika kita diseret keluar bahkan dari halaman kantor ini saja." ucap tuan Zacki.
"Elliot tunggu....!" seru Finni saat melihat Elliot, orang yang mereka cari keluar dari dalam kantor.
"Elliot.....!" seru Finni lagi karena Elliot tidak menghiraukan panggilan darinya.
"Mengapa dua orang itu masih berada di sekitar kantor ini? Bukankah aku sudah memerintahkan untuk mengusir mereka? " tanya Elliot pada para satpam membuat Finni membelalak mendengar ucapan itu.
"Bagaimana bisa kau memperlakukan calon mertuamu seperti ini?" tanya Finni.
"Aku sudah memutuskan hubungan aku dengan putri ja*ang Kalian itu. Jadi, tidak ada urusan apapun yang mengharuskan aku membiarkan sampah seperti kalian terus berada di sekitar kantor ini." jawab Elliot.
"Memutuskan hubungan, bagaimana bisa?" tanya Finni sedangkan tuan Zacki hanya diam mematung memikirkan dampak yang akan terjadi pada perusahaan milik keluarga Harris melihat sikap Elliot hari ini.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Aku tidak ada waktu untuk membahas ja*ang itu dengan gulma seperti kalian." jawab Elliot lalu segera memasuki mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh supirnya.
"Elliot tunggu dulu......" seru Finni ingin menghampiri Elliot tapi dengan sigap para satpam memblokir langkahnya.
"Kalian harus pergi dari sini sebelum kami panggil polisi karena mengganggu ketenangan kantor." ancam salah satu dari mereka.
"Tidak, Elliot.... Setidaknya beritahu kami dimana Jash saat ini?" ucapnya lagi namun tidak ada jawaban.
"Sudahlah, ayo kita pergi sebelum kita semakin dipermalukan lebih buruk lagi." ucap tuan Zacki akhirnya kembali bersuara.
"Bagaimana dengan Jash? Dia....
"Elliot menyebut dia ja*ang tentu ada alasan. Apa sebenarnya yang putrimu lakukan? Segera masuk ke dalam mobil sebelum aku memutuskan untuk menceraikan kau." ancam tuan Zacki.
Mobil yang membawa Elliot malah pergi meninggalkan halaman kantor dengan segera. Finni hanya mampu pasrah menatap mobil yang sudah pergi menjauh. Dia segera menaiki mobil bersama sang suami karena takut suaminya menepati ucapannya dan membuatnya menjadi orang buangan.
"Tut tut tut." Elliot menghubungi seseorang dengan wajah kesal.
"Ya bos?" ucap seseorang dari sambungan telepon segera setelah panggilan itu dijawab.
"Ke markas." ucap Elliot tiba-tiba pada supirnya.
"Baik bos." saut sang supir.
Mobil yang membawa Elliot memasuki sebuah bangunan yang cukup besar. Dari luar tempat itu terlihat seperti sebuah penginapan mewah tapi, tidak ada orang luar yang tahu bahwa di bawah bangunan itu merupakan markas besar sebuah geng mafia dengan berbagai kegiatan ilegal mereka.
Elliot memasuki lift khusus yang hanya dia dan beberapa orang kepercayaannya yang bisa memasukinya. Lift itu hanya dapat terbuka setelah memindai sidik jari orang yang berada di depan pintunya.
Sesampainya di dalam Elliot kembali meletakkan telapak tangannya ke sebuah pemindai sidik jari. Lift itu segera membawanya menuju tempat yang ingin dia kunjungi.
Elliot memasuki sebuah ruangan yang selama beberapa hari menjadi tempat hukuman untuk Jasmine. Dari luar Elliot sudah dapat mendengar suara desahan beberapa orang bersahutan.
Elliot membuka pintu lalu memgernyit melihat Jasmine yang bergairah melayani beberapa orang anak buahnya itu.
__ADS_1
"Apakah kalian menggunakan obat perang*ang pada ja*ang itu?" tanya Elliot.
"Mereka sudah terlalu lama tidak bersenang-senang dengan wanita karena tugas yang cukup banyak akhir-akhir ini bos. Jadi, mereka terlalu bersemangat bermain dengan seorang model terkenal itu bos." jawab bawahan Elliot.
"Terserah saja kalian bagaimana mau menikmati tubuhnya. Tapi, jangan biarkan dia mati." ucap Elliot lalu keluar dari ruangan itu.
"Apakah sudah ada kabar tentang keberadaan istriku?" tanya Elliot pada seseorang yang tengah duduk serius di depan layar komputer.
Ya, istri yang dia maksud adalah Az. Dia entah lupa atau pura-pura lupa bahwa dia telah bercerai dengan wanita yang dia panggil istrinya itu.
"Maafkan kami bos. Kami sudah berusaha tapi, sepertinya ada seseorang yang berusaha menutupi semua hal tentang nyonya bos dan orang itu juga menutupi keberadaan nyonya bos dengan sangat rapat." ucap orang itu.
"Brak...." Elliot menggebrak meja dengan kuat.
"Sudah beberapa minggu san kalian masih belum menemukan apapun? Apakah kalian sudah kehilangan kemampuan kalian itu?" bentaknya lalu beranjak pergi dari tempat itu dengan wajah penuh emosi.
"Dimana kau sebenarnya bersembunyi dariku sayang?" tanyanya lirih dengan wajah sendu.
Tuan Samuel memang sengaja menutupi semua berita dan data tentang Az. Sedangkan Az tidak pernah lagi keluar dari mansion dengan tampilan aslinya untuk menghindari si mantan suami yang dia anggap hama pengganggu.
Bahkan terkadang dia keluar dari mansion dengan berpenampilan layaknya seorang pemuda saat ingin berlatih menembak ataupun bela diri di luar mansion.
"Aku akan menemukan kamu segera dan akan membawamu kembali bersamaku. Tidak akan aku biarkan siapapun merebutmu lagi dari sisiku." ucapnya lagi dengan penuh keyakinan.
"Ah bagaimana aku bisa lupa dengan tua bangka yang beberapa kali membawa istriku." ucapnya lagi.
"Tut tut tut." dia menghubungi seseorang kembali.
"Ya bos?" tanya orang itu setelah mengangkat panggilan dari Elliot.
"Perintahkan beberapa orang untuk mengikuti setiap kegiatan Samuel Berza. Pastikan saat dia menemui istriku segera beritahu aku." ucap Elliot.
"Baik bos."
__ADS_1
"Perintahkan mereka yang terbaik dan jangan biarkan orang tua itu mengetahui bahwa dia diawasi." ucap Elliot lalu langsung memutuskan hubungan telepon itu.
"Sebentar lagi aku pasti akan menemukan dimana kau disembunyikan oleh tua bangka itu sayang. Tunggu aku menjemputmu kembali." ucapnya sambil tersenyum.