
Yuki berjalan ke arah Az dan Devan lalu segera menunduk hormat.
"Maaf karena terlamb.....
"Jangan terlalu sopan padaku dan jangan memberikan gelas nona ataupun nona muda saat memanggilku di sini Yuki. Kau akan merusak penyamaran kami jika seperti itu." sela Az memprotes.
"Baik no... Ah Azel, aku akan memanggil orang yang akan menjadi atasan langsung an... kamu." ucap kaku Yuki yang tidak terbiasa memanggil nama Az walaupun nama itu bukan nama aslinya.
Tidak lama menunggu seorang gadis datang dengan terburu-buru ke ruangan itu. Yuki tengah duduk dengan sedikit kaku karena atasan aslinya harus berdiri di depannya seperti seorang bawahan kala gadis itu tiba.
"Permisi, maaf nona Yuki, anda memanggil saya?" tanya gadis itu dengan nafas yang agak memburu.
"Tugas tuan Hari sekarang menjadi tanggung jawab mu dan mereka adalah karyawan baru yang akan bekerja di bawah pengawasanmu selama beberapa bulan." ucap Yuki tegas membuat gadis itu melongo masih belum mengerti atau bisa dibilang tidak percaya dengan maksud dari ucapan Yuki.
"Mengapa kau diam saja?" tanya Yuki.
"Ah maaf nona Yuki, apakah yang anda katakan barusan itu serius?" tanya gadis itu.
"Apakah kau pikir aku punya banyak waktu luang untuk bergurau denganmu Ruth?" tanya Yuki balik sambil menatap tajam gadis yang berdiri di depannya itu.
"Ma maaf no na Yuki, aku tidak ber....
"Sudahlah, aku ada urusan lain. Kau segera bawa mereka ke ruangan kerja mereka." ucap Yuki lalu segera pergi tanpa menunggu gadis itu mengatakan apapun.
"Kalian berdua karyawan baru?" tanya Ruth dengan nada yang lebih berbeda dari saat Yuki ada di ruangan itu.
"Ya." jawab Az.
"Jangan tidak sopan dengan senior kau cewek jelek." ucap sinis Ruth.
"Maaf tapi, dibagian mana aku tidak sopan?" tanya Az sambil menahan lengan Devan yang sudah sangat tidak bisa lagi menahan amarah karena selalu bertemu dengan orang yang meremehkan mereka terutama gadis yang dia cintai.
__ADS_1
"Sama seperti aku memanggil senior Yuki dengan sebutan nona setiap menjawabnya maka kalian harus melakukan hal serupa terhadap aku." jawab Ruth.
"Baik nona." jawab Az.
Sebenarnya Ruth ingin menegur Devan yang dari tadi dia anggap telah mengabaikan dirinya namun ada aura menyeramkan yang keluar dari pemuda itu sehingga dia tidak berani menegurnya bahkan menatapnya.
"Ayo aku antar kalian ke ruangan kalian." ajak Ruth.
Mereka berjalan mengikuti langkah gadis bernama Ruth itu hingga mereka memasuki sebuah ruangan dengan beberapa orang yang terlihat tengah sibuk dengan kerjaan masing-masing. Mereka serempak menoleh kala mendengar pintu terbuka.
"Oh Ruth, ada apa? Mengapa nona Yuki memanggilmu?" tanya seorang gadis mendekat ke arah mereka.
"Ada yang harus aku jelaskan." ucap Ruth membuat mereka menunggu gadis itu berbicara.
"Mulai sekarang aku bukan lagi rekan kerja yang bisa kalian suruh-suruh sesuka hati." ucap Ruth.
"Apa maksudmu, apakah kau dipecat oleh nona Yuki?" tanya gadis yang masih setia berdiri di sebelahnya.
"Aku masih belum selesai bicara Santi jadi, jangan menyela ucapanku." protes Ruth kesal.
"Aku sekarang menggantikan tugas tuan Hari yang artinya aku adalah atasan kalian. Tolong kedepannya kalian bisa lebih sopan dan perkenalkan 2 rekan kerja baru kalian." ucap Ruth.
"Karena aku tidak tahu nama kalian sebaiknya kalian memperkenalkan sendiri nama kalian." tambah Ruth sambil menoleh ke arah Az dan Devan.
"Baik nona Ruth." ucap Az.
"Aku akan tinggalkan kalian. Silahkan saling mengenal lalu kembali bekerja setelahnya dan Santi kau yang akan menjelaskan tugas mereka di sini." ucap Ruth lalu pergi.
"Hai perkenalkan namaku Santi." sapa gadis itu dengan senyum ramah.
"Hai juga, saya Azel dan dia Devan. Mohon bimbingan nya. Ah dan maaf karena dia tidak suka berbicara banyak jadi harap maklum." ucap Az dan Santi hanya mengangguk dengan senyum tidak luntur dari bibirnya.
__ADS_1
Satu persatu 3 orang yang lainnya memperkenalkan diri. Mereka adalah Riana, Adi dan Rudi. Mereka semua tidak memandang sinis ataupun berbicara dengan nada kasar pada keduanya.
"Setidaknya rekan kerja yang harus kami hadapi setiap hari tidak akan memancing emosi kami karena perlakuan mereka semua cukup baik." batin Az.
Mereka akhirnya bekerja dengan ke 4 rekan mereka dengan lancar. Sesekali Az dan Devan ikut makan siang dengan mereka di kantin perusahaan.
Awalnya masih baik-baik saja saat mereka makan di kantin bersama yang lainnya sampai saat itu Az dan Devan datang lebih awal ke kantin dan duduk di salah satu kursi kantin yang letaknya lumayan bagus karena berada di dekat jendela yang mengarah ke pemandangan pantai yang cukup indah.
"Hei, kalian orang kampungan yang jelek." panggil seorang gadis dengan nada kasar.
Az dan Devan hanya mengabaikan panggilan itu karena tidak tahu bahwa panggilan itu ditujukan kepada mereka. Toh mereka tidak melakukan kesalahan sehingga membuat orang marah pada mereka.
"Brak...." gadis itu menggebrak meja Az dan Devan dengan keras.
Az dan Devan menoleh ke arah si pembuat ulah dan dapat mereka lihat seorang gadis dengan pakaian seksi dan dandanan tebal bersama 2 rekannya di belakangnya tengah menatap sinis ke arah mereka.
"Apakah kalian tidak dengar aku memanggil kalian?" tanya gadis itu.
"Maaf tapi, kami tidak tahu siapa yang anda panggil jadi kami tidak menanggapi panggilan itu." jawab Az.
Devan sudah akan mengamuk sebenarnya andai Az tidak menahan tangannya agar tetap duduk diam.
"Siapa yang mengijinkan kalian duduk di meja milikku?" tanya gadis itu.
"Maaf, setahu saya meja ini milik perusahaan dan tidak ada tulisan kepemilikan di atasnya sehingga siapapun boleh duduk di sana." ucap Az.
"Andai Az mengijinkan maka sudah aku buat perkedel gadis dengan wajah penuh dempul itu." batin Devan geram.
"Ada apa ini?" tiba-tiba seorang pemuda datang dan bertanya pada karyawan lain yang menonton ulah gadis yang ingin mengganggu Az.
"Mereka berdua menempati meja yang sudah dari dulu diklaim oleh nona Prita sebagai meja miliknya." jawab karyawan itu dan tanpa dijelaskan semua karyawan pasti tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis kasar dan sombong itu pada orang yang berani menentangnya.
__ADS_1
"Mereka orang baru jadi tidak tahu aturan di kantin perusahaan yang kau buat. Sebagai rekan mereka aku yang akan meminta maaf." ucap pemuda itu membuat 5 orang yang sedang berdebat itu menoleh ke arahnya.
"Oh mereka rekan kerja baru mu?" tanya gadis itu dengan nada yang lebih lembut dan wajah yang bersemu.