
Violetta segera mengambil tas berisi bekal makan siang untuk Alex setelah dia turun dari mobil.
"Biar saya saja yang bawakan tasnya nyonya muda." tawar si supir.
"Aku bisa membawanya sendiri." tolak Violetta.
"Kau boleh kembali tak usah menunggu karena aku akan kembali dengan Alex nanti." ucap Violetta lagi.
"Baik nyonya muda." saut si supir sopan lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Violetta menatap sebentar bangunan megah di depannya setelah mobil melaju meninggalkannya lalu melangkah memasuki bangunan itu. Violetta mengernyit melihat seorang wanita dengan dandanan menor berdiri di balik meja resepsionis.
"Bukankah bibi Meg pernah mengatakan bahwa Alex tidak memperkerjakan wanita di perusahaan?" gumam Violetta.
"Mengapa sekarang ada wanita dengan topeng tebal berdiri di dalam sana." tambahnya.
Violetta melangkah memasuki ruangan itu. Seorang dengan pakaian bertuliskan security menghampirinya lalu menunduk sopan.
"Selamat siang nona, anda sedang membutuhkan sesuatu?" tanya sopan pria muda bertubuh tegap itu.
"Aku datang untuk mengantarkan makan siang untuk Alex." jawab Violetta.
Mendengar nama Alex yang notabenenya adalah bos besar atau pemilik perusahaan tempat dia bekerja, pria itu mengernyit heran. Karena tidak tahu harus bagaimana, akhirnya dia memberi kode pada security lain yang sepertinya lebih senior dari dirinya.
"Ada apa?" tanya seorang pria tua.
"Nona ini ingin membawakan makan siang untuk bos besar." bisik security bernama Bima.
"Nona silahkan simpan makanan yang nona bawa di resepsionis. Biar OB yang mengantar ke tempat tuan Alex." ucap pria itu.
"Aku harus mengantar langsung makanan ini. Jika tidak, Alex tidak akan senang." ucap Violetta.
"Apakah nona sudah membuat janji untuk bertemu dengan tuan Alex?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba berdiri di belakang Violetta.
Wanita itu adalah wanita yang berdiri di belakang meja resepsionis. Dia menghampiri mereka karena penasaran.
"Aku kesini atas permintaan Alex sendiri." jawab Violetta.
__ADS_1
"Sebaiknya usir saja pergi gadis kecil ini." ucap wanita itu menatap sinis ke arah Violetta.
"Tapi, apakah tidak sebaiknya kita konfirmasi dulu pada tuan Jo atau tuan Velo?" saran Bima.
"Ada lebih banyak wanita ja*ang yang ingin bertemu dengan tuan Alex dengan berbagai alasan. Apakah setiap kali ada masalah seperti ini kita harus mengganggu mereka yang sangat sibuk?" ucap wanita bernama Winda itu ketus.
"Tapi....
"Tidak ada tapi. Seret ja*ang kecil itu keluar dari ruangan ini atau aku akan melaporkan bahwa kalian melakukan pelanggaran pada ayahku." ancam Winda dengan nada meninggi.
"Ada hak apa kau memberikan perintah kepada petugas keamanan perusahaan ini?"
"Deg." suara dingin seorang pemuda membuat Winda tersentak.
"A aaa i tu tuan aaa
"Tidak perlu banyak alasan. Kau sudah tidak dibutuhkan lagi di perusahaan ini." ucap Velo.
"Siapa yang mempekerjakan seorang badut sebagai resepsionis perusahaan?" tanya Velo pada seorang pemuda yang berjalan bersamanya.
"Cari tahu mengapa Levi yang bertugas di meja resepsionis bisa digantikan oleh badut itu lalu, jika ada yang melanggar aturan serahkan mereka pada tim keamanan khusus perusahaan." ucap Velo lalu melangkah menuju Violetta.
Winda yang awalnya sangat arogan seketika mematung karena terkejut dan ketakutan. Tim keamanan khusus perusahaan adalah tim yang terkenal kejam dalam menindaki kecurangan dalam perusahaan milik Alex.
Mendengar ucapan Velo, dia seketika berlutut memohon pengampunan namun tim security menyeret tubuhnya keluar dari ruangan itu.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda nyonya muda." ucap sopan Velo pada Violetta.
"Hm, tidak masalah. Kamu siapa?" tanya Violetta langsung.
"Saya adalah Velo gweandra asisten tuan Alex. Tuan Alex tiba-tiba harus menghadiri sebuah pertemuan dengan perwakilan perusahaan rekan bisnis. Beliau meminta nyonya muda menunggu di ruangannya karena pertemuan itu tidak akan lama." ucap Velo.
Akhirnya Violetta berjalan menuju ruangan Alex bersama Velo sebagai penunjuk jalannya. Velo mempersilahkan Violetta memasuki ruangan Alex.
"Meja di depan adalah tempat saya bekerja. Anda bisa memanggil saya kapanpun jika membutuhkan sesuatu." ucap Velo sebelum meninggalkan ruangan Alex.
"Ruangan yang nyaman." gumam Violetta sambil duduk di kursi kerja Alex.
__ADS_1
"Aku akan bosan kalau menunggu seorang diri di ruangan ini tanpa melakukan apapun." gumam Violetta sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Mengapa ada foto aku di meja kerja Alex? Kapan dia mengambil gambar ini?" tanya Violetta heran melihat foto dirinya dalam sebuah bingkai kecil terpajang di atas meja kerja Alex.
"Aku diam-diam memotret dirimu waktu itu." ucap Alex yang ternyata sudah ada di dalam ruangan itu tanpa Violetta sadari.
"Sejak kapan dia masuk? Mengapa aku tidak menyadari kedatangannya?" gumam Violetta.
"Kau masuk ke dalam ruangan tanpa bersuara. Apakah kau hantu huh." ucap Violetta membuat Alex tersenyum.
"Aku tidak ingin mengganggumu jadi aku masuk tanpa mengeluarkan suara. Apakah kau sudah lama menunggu sayang? Maaf, pertemuan itu tiba-tiba dan aku tidak bisa tidak menghadiri pertemuan itu." ucap Alex lalu duduk di sofa.
Violetta berjalan menuju sofa tempat Alex duduk lalu duduk di sebelah Alex.
"Tidak masalah, lagi pula kau tidak sengaja mengatur pertemuan itu." ucap Violetta.
"Apakah kau sudah lapar? Aku sengaja memasak makan siang untuk kita makan bersama." ucap Violetta.
"Wah, aku sangat senang karena calon istri yang sangat aku sayang ini rela meluangkan waktu untuk memasak makan siang untuk aku." ucap Alex sambil tersenyum bahagia.
"Karena kau sudah lelah memasak semua makanan ini, biar aku yang melayani mu kali ini." ucap Alex sambil mengatur semua tempat berisi makanan di atas meja.
"Aku bisa makan sendiri Alex." ucap Violetta karena Alex sudah menyodorkan sendok berisi makanan ke arahnya.
"Aku tahu sayang. Tapi, aku ingin memanjakan dirimu sayang." ucap Alex.
"Kau juga harus makan Alex." ucap Violetta.
"Aku juga akan makan sayang. Tidak perlu khawatir." ucap Alex membuat Violetta pasrah menerima suapan dari Alex.
Alex kemudian menyendok makanan dengan sendok yang sama lalu memakannya. Tanpa mereka sadari, seseorang yang berdiri di depan pintu yang lupa Alex tutup menganga melihat perilaku Alex.
"Apakah itu masih Alex yang sama, yang sangat anti dengan wanita dan tidak suka barang miliknya disentuh oleh wanita manapun? Mengapa kini dia makan dengan seorang wanita bahkan menyuapi wanita itu? Tidak hanya itu, dia makan dari sendok yang sudah masuk ke dalam mulut wanita itu." batin pria itu.
Dia segera sadar dari keterkejutannya lalu menutup pintu ruangan itu pelan.
"Sebaiknya aku tidak menggangu monster yang sedang bahagia itu. Aku tidak ingin mendapatkan masalah." gumamnya lalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1