Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps.104


__ADS_3

Alex menggendong Az menuju dapur lalu meletakkannya dengan perlahan ke kursi di meja makan.


"Tunggu sebentar sarapan akan segera siap." ucap Alex sambil mengelus rambut Az.


Az hanya mengangguk sedang Alex segera melangkah menuju lemari pendingin. Mengambil botol berisi susu lalu menuangkan ke dalam panci.


"Minum segelas susu hangat sambil menunggu aku masak." ucapnya sambil meletakkan segelas susu hangat di depan Az.


Az meneguk susu hingga tersisa setengahnya. Setelah itu dia hanya sibuk memperhatikan bagaimana terampilnya Alex menggunakan semua alat dapur terutama pisau.


"Aku merasa seperti memiliki koki pribadi." ucap Az.


"Aku memang koki pribadi khusus untuk dirimu." saut Alex sambil terus mengolah bahan makanan.


"Aku adalah milik pribadimu sayang." ucap Alex lagi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Az disertai senyuman manis yang dapat membuat banyak gadis akan terpesona melihat itu.


"Berhenti menggombal Alex." ucap Az sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu bukan gombalan sayang." ucap Alex.


"Di mana bibi Meg dan yang lainnya?" tanya Az setelah menyadari bahwa mansion terasa lebih tenang dari biasanya.


"Bibi pergi belanja keperluan dapur dan yang lainnya karena stok hampir habis." jawab Alex.


"Sarapan pagi spesial untuk ratu di hatiku, yang spesial." ucap Alex sembari meletakkan menu sarapan yang dia buat di depan Az.


"Jika aku ratu apakah kau raja?" tanya Az.


"Tentu, siapa lagi yang akan jadi rajanya jika bukan aku?" jawab Alex.


"Bukankah raja pasti memiliki banyak wanita sebagai selir?" tanya Az.


"Jangan ucapkan kalimat konyol seperti itu. Aku lebih suka menjadi lelaki biasa asal hanya memiliki dirimu seorang dari pada menjadi raja namun memunculkan rasa sakit hati dan kecewa karena kehadiran wanita lain. Seorang selir walaupun alasannya tidak mengisi hati, mereka tinggal di sisi raja dan menempati posisi yang menyaingi diri sang ratu adalah sebuah kebohongan." ucap Alex.


"Kau semakin pandai merangkai kata." ucap Az.


"Aku serius dengan kata-kata ku sayang." ucap Alex lalu mereka sarapan bersama.


"Minum obatnya sayang." ucap Alex seraya memberikan obat yang harus Az minum.

__ADS_1


"Kau harus kembali istirahat agar segera pulih." ucap Alex sambil kembali mengangkat tubuh Az.


"Aku bosan hanya diam diri di kamar." keluh Az.


"Lalu, kau mau bagaimana?" tanya Alex.


"Aku mau di taman saja." jawab Az.


"Untuk saat ini kau jangan di luar rumah dulu. Aku curiga ada mata-mata yang mengintai tempat ini sehingga waktu kau meninggalkan tempat ini langsung ada yang menyergap." ucap Alex.


"Tapi aku jenuh." ucap Az.


"Apakah kau pernah bermain video game?" tanya Alex.


"Video game? Apa itu?" tanya Az balik.


"Itu semacam permainan yang dapat dimainkan di manapun. Ada beragam jenis permainan. seperti, bertarung, menembak, kartu, petualangan, teka teki dan banyak lagi lainnya." jelas Alex sambil meletakkan tubuh Az ke tempat tidur karena mereka sudah sampai di dalam kamar.


"Bertarung dan menembak juga ada? Dimana permainan itu?" tanya Az penuh semangat hendak melompat turun dari tempat tidur.


"Kau tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu sayang." tegur Alex.


"Permainan ini hanya butuh ketelitian, kecepatan jari dan otak saja sayang. Kau cukup duduk di tempat tidur saja." ucap Alex.


"Aku semakin tidak mengerti." ucap Az.


"Kau duduk tenang saja dulu. Aku akan memperlihatkan padamu apa yang dimaksud video game dan akan aku tunjukkan cara bermainnya." ucap Alex sambil berjalan keluar kamar.


Karena di dalam kamar Alex tidak meletakkan televisi, dia keluar memanggil anggotanya untuk memindahkan televisi di ruang game ke kamarnya beserta perangkat game yang ada.


Az hanya duduk diam melihat kesibukan anggota Alex yang mengangkut dan menyusun beberapa barang yang dia tidak tahu apa itu.


"Untuk apa televisi itu?" tanya Az ketika semua orang sudah meninggalkan ruangan kecuali dia dan Alex.


"Kau akan tahu nanti." jawab Alex.


Alex menyalakan televisi beserta alat yang lainnya lalu duduk di sebelah Az. Dia menekan beberapa tombol.


"Yang muncul di layar adalah beberapa permainan yang bisa dimainkan. Kita tinggal memilih game mana yang ingin kita mainkan." jelas Alex.

__ADS_1


"Untuk memilih kita menggunakan benda ini." Alex menjelaskan semuanya sambil menunjukkan cara bermainnya.


Az terlihat bersemangat mendengar dan melihat apa yang Alex jelaskan. Setelah selesai menjelaskan cara bermainnya pada Az, Alex membiarkan Az mencoba untuk memainkannya.


"Bagaimana, kau suka?" tanya Alex.


"Ya." jawab Az tanpa mengalihkan perhatian dari layar televisi.


"Kalau begitu kau bisa bermain dengan puas. Aku harus menyelesaikan beberapa masalah di ruangan kerja tepat di sebelah kamar ini." ucap Alex.


"HM." Az hanya fokus pada permainan yang dia mainkan.


"Panggil aku jika kau butuh sesuatu. Aku akan langsung ke sini." ucap Alex lalu mengecup kening Az.


"Apakah aku sudah melakukan kesalahan memberikan dia permainan yang membuat dia mengabaikan diriku?" gumam Alex melihat Az yang sama sekali tidak melirik ke arahnya karena serius dengan permainan barunya.


"Sepertinya ini jauh lebih baik." ucapnya lagi setelah melihat wajah penuh semangat dan senyum dari Az.


Dia melangkah meninggalkan kamar menuju ruangan kerjanya. Jo dan Helen sudah ada di dalam entah sejak kapan.


"Apakah kalian sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?" tanya Alex.


"Maaf bos, si breng*ek itu mati karena racun yang entah dari mana asalnya sebelum sempat kami interogasi." jawab Helen.


"Apakah ada yang memasuki ruangannya?" tanya Alex.


"Tidak ada seorangpun bos." jawab Jo.


"Bos harus lihat hasil rekaman sebelum dia ma*i." ucap Jo.


Jo menunjukkan hasil rekaman cctv yang dia maksud. Di sana menampilkan tuan Zenith yang hanya duduk diam karena memang Az belum sempat membuka titik akupuntur nya yang dia tutup. Tiba-tiba tubuhnya membiru, matanya membulat sempurna lalu mengeluarkan darah. Mulut, hidung juga telinganya juga mengalihkan darah lalu kepalanya terkulai ke bawah.


"Apakah kau sudah memberitahu pada Andrew tentang apa yang terjadi pada bajingan itu?" tanya Alex.


"Sudah bos, kami masih menunggu hasil tes laboratorium dari sampel yang dokter Andrew ambil." jawab Jo.


"Data apa saja yang kalian dapatkan dari orang itu?" tanya Alex.


"Dia ada kaitannya dengan bangunan yang sementara dalam pembangunan di dekat mansion ini. Dia juga sepertinya ada kaitannya dengan suster palsu yang ingin menyerang nyonya muda saat di rumah sakit bos." ucap Helen sambil menyerahkan beberapa dokumen pada Alex.

__ADS_1


"Tangkap tuan Harris. Cari tahu apa saja yang dia ketahui tentang si bajingan itu." ucap Alex sambil membuka dokumen itu.


__ADS_2