
Di depan rumah Renata, Darren dan tuan Gerald berdiri menyambut kedatangan Devan. Melihat Devan keluar dari mobil lalu disusul oleh seorang gadis yang tampak cantik walaupun berbalut pakaian sederhana tanpa polesan make up, Renata segera berjalan mendekati sang anak.
"Mam...." sapa Devan.
Devan akan memeluk sang ibu namun ibunya malah menarik telinganya dengan cukup keras.
"Au au sakit sakit sakit." pekik Devan.
"Masih bisa merasa sakit kau huh? Dasar anak nakal, kau kemana saja tidak memberikan kabar selama berminggu-minggu?" cerca Renata yang tidak bisa menahan kesal mengingat sang anak yang menghilang selama beberapa minggu.
"Au ma sakit, maaf ma maaf." keluh Devan.
Melihat itu Mona merasa semakin gugup karena mengira bahwa ibu dari Devan adalah sosok yang galak. Renata menghentikan aksinya setelah mengingat bahwa sang anak membawa teman. Melihat Mona yang gugup Renata segera merubah ekspresi wajahnya.
"Ah aku melupakan gadis cantik yang kau bawa." ucap Renata setelah melepaskan jeweran telinga nya.
"Maafkan tante ya, tante terlanjur kesal dengan anak nakal satu ini." ucap Renata sambil tersenyum menatap wajah pias Mona.
"Iya tan te." ucap Mona masih gugup.
__ADS_1
"Ayo masuk ah, tante lupa menanyakan namamu." ucap Renata ramah.
"Nama saya Mona tante." ucap Mona sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan sungkan dan malu-malu Mona sayang. Ayo masuk ke dalam." ajak Renata.
Mereka berjalan beriringan ke arah rumah. Di depan pintu Devan menyapa kakek dan ayahnya sambil memeluk mereka satu persatu.
Mereka masuk ke dalam rumah. Sebelum berbincang tentang apa tujuan Devan mengajak Mona kembali ke rumah, Renata menyarankan agar mereka makan siang terlebih dahulu mengingat sudah waktunya untuk makan siang.
"Kalian sebaiknya membersihkan diri dulu lalu kita makan siang bersama. Mama akan menyiapkan makanan untuk kita semua." ucap Renata.
"Baik tante, terima kasih." ucap Mona sopan.
Melihat Mona yang sopan dengan penampilan yang sederhana, Renata tersenyum. Dia menyukai gadis yang putranya bawa pulang. Walaupun tidak dengan Az, setidaknya putranya tidak memilih wanita yang salah.
"Akan Devan ceritakan nanti dengan lengkap apa yang terjadi." ucap Devan saat melihat mamanya menatap tajam ke arahnya.
Sesudah makan siang, mereka duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh. Devan mulai menceritakan semua yang terjadi mulai dari acara reuni, obat yang Seril masukkan ke dalam minuman miliknya hingga apa yang terjadi pada dia dan Mona dan keadaan Mona yang tengah berbadan dua.
__ADS_1
"Mona hamil? Anakmu?" tanya Renata memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"Iya ma." jawab Devan sedangkan Mona semakin menunduk resah.
Dia takut keluarga Devan akan murka dan mencaci makinya karena menuntut tanggung jawab putra mereka.
"Oh ya Tuhan, terima kasih." ucap Renata bahagia.
Di luar dugaan Mona, ibu dari Devan justru senang bukan main mendengar kabar bahwa dirinya akan memiliki cucu.
"Apakah kau ada keluhan Mona sayang? Apakah kau pernah memeriksakan kandungan sebelumnya? Bagaimana ke.....
"Ma, bertanya itu satu persatu. Jangan belum di jawab satu tambah lagi pertanyaan nya." tegur sang suami.
"Maaf, mama terlalu senang mendengar mama akan memiliki cucu sebentar lagi." ucap Renata lalu memeluk tubuh Mona.
Mendapatkan perlakuan yang baik dari Renata, Mona terharu hingga tak kuasa menahan air mata.
"Mengapa kau menangis Mona sayang? Apakah mama menyinggung perasaan mu atau menyakitimu?" tanya Renata khawatir.
__ADS_1
"Tidak tante, Mona hanya terharu karena tante memperlakukan Mona dengan baik." jawab Mona yang masih berusaha menghentikan tangisnya.