Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan

Reinkarnasi Permaisuri Tangguh Menjadi Istri Terabaikan
Eps. 55


__ADS_3

Selepas latihan Axel membersihkan diri lalu bergabung dengan kawan-kawannya berbincang tentang banyak hal.


Sid sangat kagum melihat nona mudanya yang begitu terlihat sangat berbeda di dalam sana bersama para calon tentara itu.


"Sepertinya nona muda memang lebih nyaman berada di sini dengan berbagai macam pelatihan militer dibandingkan di perusahaan." gumam Sid.


"Kalau bukan demi tuan besar mungkin nona muda tidak akan mau bergelut dengan kertas-kertas laporan yang memusingkan itu." tambahnya lalu ikut bergabung dengan Axel dan rekannya.


"Kenapa kau bisa keluar masuk kamp ini sesuka hati?" tanya seorang pemuda dengan gaya congkak pada Axel.


"Itu bukan urusan mu." jawab Axel.


"Kami semua yang berada di kamp ini tidak ada yang bisa meninggalkan kamp sebelum pelatihan selesai dan jika itu terjadi maka akan ada sanksi yang sangat berat menunggu kami. Bagai.....


"Oh, kau iri karena aku keluar dari kamp ini dengan mudah dan bahkan kembali tanpa menerima hukuman?" tanya Axel menyela ucapan pemuda itu.


"Jika begitu, protes saja sana sama mereka yang membuat peraturan itu untuk kalian." ucap Axel lagi.


"Kau....


"Oh ya, jika kau lupa akan aku ingatkan. Di dalam kamp dilarang keras berkelahi. Jika ingin menunjukkan kehebatan maka tantang aku di tempat yang seharusnya. Jangan mengusik ketenangan kami." ucap Axel lagi.


"Kau...


"Sudahlah jangan cari masalah di sini. Kita akan mendapatkan masalah jika kedapatan berbuat ulah. Kalau memang ingin berkelahi pilih tempat yang tepat seperti yang dia katakan." sela rekan pemuda itu.


Mereka akhirnya pergi dari tempat itu. Axel, Sid dan yang lainnya juga meninggalkan tempat itu untuk beristirahat karena esok harinya akan ada latihan berat yang menunggu mereka.


Axel sudah kembali ke kamar dan akan berbaring tapi secarik kertas membuatnya mengurungkan niatnya untuk merebahkan tubuhnya.


"Selamat malam Az. Semoga mimpi indah." Hanya 2 kalimat itu yang tertulis pada kertas tersebut.


Mata Az membola membaca isi kertas itu. Dia terkejut membaca isi surat yang artinya seseorang di kamp selain dia, Sid dan kapten John tahu identitas aslinya.


"Apakah ada mata-mata musuh yang mengawasi aku?" gumamnya.


"Tidak, jika itu musuh mereka akan menyerang aku langsung. Lagi pula tempat ini bukanlah tempat yang bisa sembarangan orang masuki." gumamnya lagi.


"Aku cukup waspada saja menunggu orang ini menunjukkan diri dan melihat apa tujuannya." ucapnya lagi lalu segera berbaring sedang selembar kertas tadi dia remas dan buang ke tempat sampah.

__ADS_1


Pagi harinya Axel dan Sid sudah siap untuk mengikuti latihan. Kali ini mereka akan mengikuti pelatihan lapangan. Mereka harus melaksanakan misi dan itu bukan hal mudah tentunya.


Tapi bagi dua orang gadis yang memiliki hobi melatih kemampuan tubuhnya itu, pelatihan yang sulit adalah hal seru yang membuat mereka bersemangat.


Saat Axel akan memasuki barisan kapten Jhon memanggilnya membuat Axel menghentikan langkahnya.


"Axel...." panggil kapten Jhon.


"Kemari sebentar." ucap kapten John lagi setelah Axel menoleh ke arahnya.


"Ada apa kapten?" tanya Axel.


"Seseorang mengajukan permohonan tantangan terhadapmu." jawab Kapten Jhon.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Axel.


"Apakah anda ingin menolaknya? Jika.....


"Terima saja." sela Axel.


"Tapi, dia cukup senior di antara......


"Baiklah no...


"Anda harus ingat bahwa aku bukan seorang wanita dan bukan orang istimewa selama berada di sini." sela Axel lagi.


"Baik maaf." ucap kapten John.


"Dia tidak menanyakan siapa yang telah menantangnya, apakah dia tidak penasaran atau jangan-jangan dia sudah tahu siapa yang menantangnya?" gumam kapten Jhon sambil menatap punggung Axel yang berjalan menjauh darinya.


Axel akhirnya bergabung dalam barisan dan di depan dia dan yang lainnya seseorang sedang berdiri tegak menatap ke arah mereka. Orang itu mengucapkan beberapa patah kata lalu seorang lainnya mengumumkan sesuatu.


"Seharusnya pagi ini kita sudah memulai pelatihan lapangan tapi, karena seorang dari kalian ingin menantang yang lainnya untuk bertarung, maka kita akan memberikan mereka waktu untuk menunjukkan kemampuan bertarung." ucap seorang pemuda.


"Lexi dan Axel silahkan masuk ke dalam arena bertarung." ucap pemuda itu.


"Bukankah sebelum melakukan pertarungan kita harus menanyakan kesanggupan orang yang ditantang terlebih dahulu?" protes seorang pemuda yang baru bergabung dalam barisan.


"Lagi pula yang menantang adalah seorang senior dan yang ditantang adalah junior yang baru saja bergabung dalam pelatihan. Apakah itu adil?" tanya pemuda itu.

__ADS_1


Terlihat semua yang hadir saling lempar pandang dan mengangguk mengiyakan ucapan pemuda itu. Tapi tidak ada yang berani mengangkat suara .


"Aku sudah menyetujui tantangan itu sebelumnya jadi tidak masalah." ucap Axel sambil melangkah ke depan.


Pemuda itu sedikit mengerutkan kening lalu segera berganti dengan seringai yang entah apa maksudnya.


Axel dan lexi sudah berdiri berhadapan dan di tengah mereka ada seseorang yang terdengar menjelaskan peraturan pertandingan seperti tidak boleh menggunakan senjata, tidak boleh sampai membuat lawan terluka parah dan larangan lainnya.


Orang itu segera mundur dan tanpa ba bi bu Lexi segera menerjang ke arah Axel. Dengan mudah Axel menghindari serangan dari pemuda itu bahkan bonus menendang punggung pemuda itu hingga tersungkur.


Hal itu sukses membuat pemuda itu semakin murka dan kalap. Dia kembali menyerang Axel dengan membabi buta tapi dapat dengan mudah di hindari oleh Axel.


"Serangan dengan emosi hanya membuat dirimu lelah dan kalah." ucap Axel lalu melayangkan tendangan ke arah Lexi yang tengah menerjang ke arahnya.


Pemuda itu terjatuh ke tanah sambil memegang dadanya dan tak lama dia memuntahkan seteguk darah segar lalu tak sadarkan diri.


"Apakah aku melanggar peraturan tempur karena membuat dia luka parah?" tanya Axel.


"Dia seperti itu karena terlalu emosi dan hanya dengan membuat dia tak berdaya saja baru bisa menghentikan serangan membabi buta darinya." ucap seorang pria tua .


"Jadi, itu tidak terhitung sebagai pelanggaran." tambahnya.


Mendengar jawaban pria itu semua mengangguk puas karena bagi mereka juga Axel tidak salah dengan membuat Lexi tumbang.




Hu hu hu



Akhirnya setelah sekian purnama author bisa juga dapat inspirasi untuk nyambung cerita.



Karena terlalu lama stop nulis saat sakit kemarin otak author jadi blank dan akhirnya gak bisa nyambung cerita. Mohon maaf atas keterlambatan up cerita ini dan semoga kedepannya author bisa dapat inspirasi untuk buat cerita ini lebih menarik. Semoga episode kali ini dapat sedikit mengobati rindu kalian sama Az.


__ADS_1


salam kangen author buat semua


__ADS_2