
Mobil Alex memasuki sebuah pedesaan yang tampak asri. Kiri kanannya dikelilingi bukit dan perkebunan.
Mobilnya perlahan menepi di depan pagar kayu. Di dalam pagar itu ada sebuah rumah kayu kecil berwarna coklat. Walaupun kecil, rumah itu memiliki halaman yang cukup luas dan tampak indah karena dihiasi oleh berbagai jenis bunga yang tertata rapih.
Tampak seorang pria tua sedang serius membuat patung kecil dari kayu. Tangannya tampak terampil membuat lekukan pada kayu yang dipegangnya.
Seorang gadis tampak berjalan menghampiri pria tua itu dengan sebuah nampan. Ada dua buah cangkir dan sebuah piring di atas nampan itu.
Alex berdiri diam menyaksikan dua orang beda generasi itu berbincang riang. Pria tua itu tampak menikmati makanan juga minuman yang gadis itu siapkan untuknya.
Mereka berdua belum menyadari kehadiran pemuda tampan itu yang sejak tadi memandang ke arah mereka. Gadis cantik itu tidak sengaja melihat Alex. Senyum manis dan matanya tiba-tiba berbinar menatap pemuda itu.
"Tuan Alex." sapanya penuh semangat.
Alex hanya mengangguk dengan wajah datar. Dia berjalan memasuki halaman itu tanpa menghiraukan tatapan memuja gadis cantik di depannya.
"Apa kabar kakek Lana?" tanya Alex saat berada di depan pria tua bernama Lana itu.
"Jauh lebih baik." jawab Lana sambil tersenyum memandang Alex.
"Zea, buatkan minuman hangat buat tuan Alex." ucap Lana menyadari kalau Alex ingin membahas hal penting dengannya.
Dengan penuh semangat gadis cantik itu segera kembali ke dalam rumah untuk membuat minuman untuk Alex.
"Aku sudah mengkonfirmasi pada tuan Timothi dan dari reaksinya, apa yang anda katakan memang benar." ucap Alex.
"Jadi, kau ingin tahu lebih banyak tentang kejadian di masa lalu itu dariku?" tanya Lana.
"Ya, aku ingin tahu kejadian sebenarnya agar aku dapat memastikan tindakan apa yang harus aku ambil setelahnya." sahut Alex.
"Aku bisa memberitahu semua yang aku tahu padamu." ucap pria tua itu sambil tersenyum menatap ke arah Alex.
"Apa yang kau inginkan sebagai imbalan." tanya Alex langsung pada intinya.
__ADS_1
"Harta ataupun kedudukan bukanlah hal yang berguna untuk pria bau tanah sepetiku ini." ucap pria tua itu.
"Langsung pada intinya." ucap Alex.
"Kau sendiri tahu, Zea adalah satu-satunya kerabat yang aku miliki dan begitu juga sebaliknya. Aku adalah satu-satunya kerabat yang dia miliki." ucap Lana lalu menghela napas menjeda kalimatnya.
"Aku hanya ingin kau berjanji untuk menjaga dan menjadi....
"Aku bisa memberikan masa depan pada gadis itu jika hanya berupa beasiswa dan aku bisa memberikan penjaga untuk memberikan dia rasa aman tapi, jika untuk membiarkan dia berada di sisiku maka, rahasia yang kau miliki tidak sepadan untuk itu." ucap Alex lalu meninggalkan pria tua itu yang tercengan mendengar ucapan Alex.
Pria itu menatap cucunya yang masih terpaku dengan nampan di tangannya. Dia tahu bahwa permintaannya sedikit berlebihan. Tapi, dia melihat tatapan memuja Zea, gadis itu kembali bersemangat setelah Alex hadir dalam kehidupan mereka.
Sekali saja dia ingin egois untuk cucunya tersayang tapi, pemuda itu tanpa berpikir sama sekali langsung menolak gagasannya.
Pria itu berusaha mencegah kepergian Alex setelah sadar dari keterkejutan nya namun pemuda itu sudah pergi dari tempat itu.
"Zea...." panggilnya saat melihat Zea berlari ke dalam rumah.
Sedangkan Zea, gadis itu langsung masuk ke kamarnya lalu membanting pintu. Dia lantas menjatuhkan dirinya ke tempat tidur lalu menangis sesegukan.
"Apakah aku tidak pantas untuk tuan Alex? Apa kurangnya aku?" gumam Zea.
"Tidak, aku pasti bisa mendapatkan pemuda yang aku inginkan bagaimana pun caranya." gumamnya sambil menghapus air mata di pipinya.
Gadis itu mengambil sebuah kunci di dalam lalu menatap kunci itu sambil tersenyum.
"Aku tahu cara yang tepat untuk dapat memiliki dirinya." gumamnya.
"Mengapa kau bisa memiliki kunci ini?" Lana tiba-tiba sudah berada di dalam kamar dan mengambil kunci di tangan gadis itu.
"Aku tahu semua rahasia yang kakek simpan. Aku juga tahu kalau kakek sudah menghabiskan hampir seluruh harta peninggalan kakeknya tuan Alex. Aku hanya ingin menggunakan barang itu agar dapat memiliki pria yang aku inginkan kakek." ucap Zea membuat Lana terkejut.
"Ba...Bagai...
__ADS_1
"Aku tahu semua dari percakapan kakek dan kakek Diki tempo hari." jawab Zea jujur.
"Kau berarti juga tahu tentang keterlibatan kami atas apa yang dialami kakeknya Alex bukan? Apakah kau tidak terganggu dan merasa bersalah karena kakekmu terlibat dalam skema kejahatan pada keluarga pria yang kau cintai itu?" tanya Lana.
Lana dan Diki adalah kerabat jauh dari mendiang kakeknya Alex sehingga mereka tahu rahasia yang disembunyikan tuan Timothi. Mereka bahkan yang membantu menyingkirkan pria itu untuk tuan Timothi.
Harta memang dapat menghancurkan hubungan kekerabatan. Apalagi tuan Timothi membiarkan mereka memiliki seluruh harta peninggalan kakeknya Alex jika berhasil menyingkirkan pria itu.
Satu yang tidak mereka sangka, demi menyingkirkan masalah dikemudian hari. Tuan Timothi melakukan skema untuk menyingkirkan mereka namun, mereka berdua berhasil selamat dan membawa harta peninggalan dari Kakeknya Alex.
Itulah mengapa mereka bisa berada di desa itu untuk menghindar dari tuan Timothi.
"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin bersama tuan Alex." ucap Zea.
"Baiklah, kakek akan membantumu memiliki pemuda itu juga dengan harta yang dimilikinya." ucap Lana sambil tersenyum licik.
Sedang di tempat lain, tuan Timothi sudah dipindahkan ke ruang perawatan karena sudah melewati masa kritis.
Pria tua itu hanya di temani oleh asisten kepercayaannya karena Putra dan menantunya sibuk menangani masalah Putra putri mereka.
Mereka berusaha menghubungi Alex untuk membantu namun nihil. Mencari koneksi untuk membantu mengatasi masalah tapi, tidak ada yang berani membantu mereka berbuat curang.
"Bagaimana dengan kasus ....
"Tuan dan nyonya muda sedang mengurusnya tuan besar. Anda masih harus beristirahat dan tidak boleh banyak pikiran." sahut pria tua yang duduk tak jauh dari ranjang tuan Timothi.
"Cari tahu dari mana Alex bisa tahu rahasia itu. Aku ingin orang yang membuka rahasia itu menyesal." ucap tuan Timothi.
"Baik tuan besar." ucap pria tua itu lalu menghubungi seseorang dan memberikan perintah sesuai yang tuan Timothi inginkan.
"Cari tahu kemana saja tuan muda Alex selama beberapa bulan belakangan dan siapa saja orang yang dia temui." Ucapnya memberi perintah lalu memutuskan sambungan telepon setelah mendengar kesanggupan orang itu.
Tidak lama setelah itu, Henrik dan Jenni masuk ke dalam kamar itu dengan wajah muram. Melihat itu, pria tua itu tahu kalau masalah yang menjerat cucunya masih belum terselesaikan.
__ADS_1