
"Fred, bawa semua bukti terkait kasus yang berhubungan dengan keluarga tidak tahu diri itu. Aku ingin dalam waktu 1 jam keluarga itu sudah tidak memiliki apapun untuk menopang hidup mereka." ucap Alex tegas mengabaikan ucapan Kasandra.
deg
Kasandra tercekat mendengar ucapan Alex yang bukannya luluh malah justru mengancam akan menghancurkan keluarganya. Dia masih terdiam kala Alex menatap penuh hina seolah jijik padanya.
Kring kring kring
Ponsel milik Kasandra berdering. "deg." tiba-tiba jantungnya berdetak kencang melihat ayahnya yang meneleponnya. Dia memiliki firasat tidak baik sehingga segera menerima panggilan tersebut dengan tangan gemetar.
"Ya ayah?"
[Kasandra ini ibu. Ayahmu dilarikan ke rumah sakit pusat kota karena mengalami serangan jantung.]
deg
"Bagaimana bisa ibu? Bukankah ayah baik-baik saja saat aku bertemu dengannya pagi ini?"
"Terjadi sesuatu pada perusahaan yang membuat ayahmu......
[Ibu, nanti aku hubungi lagi.]
Kasandra buru-buru memutuskan panggilan melihat Alex yang sudah melangkah meninggalkan tempat itu.
"Ka... Tu tuan Alexander tunggu." ucapnya panik.
"To tolong maafkan aku. A aku mengaku ber salah. To tolong ampuni keluarga kami sekali saja demi hubungan keluarga." ucapnya sambil berlutut dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Bayangan akan hidup sengsara karena perusahaan keluarganya yang hancur sudah membuat dirinya ketakutan. Tidak, dia tidak ingin hidup miskin seperti orang-orang yang selalu dia hina.
"Sekali heh, kau pikir sudah berapa kali aku memaafkan keluarga hina kalian itu karena mengingat mendiang kakekku?" ucap Alex tanpa berbalik melihat Kasandra lalu kembali melangkah meninggalkan tempat itu.
"Tuan...... Tolong jangan seperti ini."
"Tuan Alexander tolong maafkan aku."
Kasandra terus menerus berteriak memohon maaf kepada Alex sedangkan Alex terus melangkah meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikitpun. Dia tidak bisa menyusul Alex karena penjaga keamanan sudah kembali menghadang langkahnya.
__ADS_1
Dalam waktu satu jam, berita tentang semua kecurangan keluarga Berto bahkan berita tentang terkaitnya keluarga itu dengan kasus barang palsu yang meresahkan perusahaan Alexander sudah muncul di setiap layar tv juga internet.
Dalam waktu satu jam keluarga itu benar-benar hancur dan perusahaannya terpaksa harus ditutup. Beberapa orang petinggi perusahaan harus berurusan dengan pihak kepolisian terkait beberapa kasus baik yang baru maupun yang lama. Alex tidak main-main dengan lawannya kali ini.
"Tinggal mengurusi si tua bangka itu lalu aku bisa kembali padamu sayang." gumam Alex sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar Az setelah dia kembali ke ruangannya.
Dalam waktu beberapa hari Alex sudah berhasil menyingkirkan satu persatu musuh yang menggangu kebersamaan dirinya dengan pujaan hati yang seharusnya dia jaga dengan baik disisinya. Hasil dari tidak tidur sedikitpun selama beberapa hari ini sudah sangat kentara mengingat dia hanya tinggal menyingkirkan 1 lawan lagi.
Kali ini Alex tidak akan memberi ampun lagi pada orang-orang yang selalu mencari cara untuk mengendalikan atau bahkan menyingkirkan dirinya.
"Tut tut tut." Alex menghubungi Az untuk memacu semangatnya dalam menyelesaikan misi terakhirnya di negara itu.
[Ya.... Apakah kau tidak bisa melihat waktu saat menelepon?] ucap Az dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf sayang, aku lupa kalau seharusnya kau sudah tidur sekarang."
[Ada apa?]
"Aku hanya merindukanmu, aku butuh mendengar suaramu agar mendapatkan tambahan energi untuk menyelesaikan tugas akhir."
[Kau harus semangat. Cepat selesaikan masalahmu dan kembali.]
"Baik sayang, aku akan segera menyelesaikan masalah di sini dan segera kembali. Tunggu aku."
[Hm.]
"Aku merindukanmu."
[Hm]
"Kembalilah tidur. Selamat malam, semoga mimpi indah."
Selesai menelepon pujaan hatinya, Alex tampak lebih bersemangat. Bahkan wajah lelah karena tidak tidur selama beberapa hari itu kembali ceria.
"Aku harus semangat. Ada Az yang menunggu aku kembali." gumamnya lalu kembali mengaktifkan laptopnya.
"Sepertinya ini sudah cukup." gumamnya sambil melihat semua bukti terkait "tua bangka" yang dia maksud.
__ADS_1
Ada beberapa salinan dokumen, beberapa bukti tentang penggelapan dana hingga beberapa foto terkait tindak kejahatan yang orang itu lakukan yang berhasil dirinya dan anak buahnya kumpulkan tersusun rapi di depannya.
"Sebaiknya aku istirahat sejenak. Aku tidak ingin jatuh sakit dan membuat aku tidak bisa menjaga wanitaku nantinya." gumamnya setelah menyimpan semua berkas yang telah tersusun rapi itu.
Jarum jam saat itu menunjukkan Alex selesai bekerja tepat pukul 4 dini hari. Alex memilih membaringkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya setelah sebelumnya mengunci pintu ruangan itu.
"Tok tok tok." suara ketukan pintu membangunkan Alex yang sudah tertidur sekitar 3 jam.
"Ceklek." Alex membuka pintu.
Asisten kepercayaan Alex yang bernama Alfred With yang selalu dia panggil Fred yang mengetuk pintunya.
"Ada apa Fred?" tanya Alex.
"Tuan Walt melarikan diri beserta keluarganya. Sepertinya dia tahu kalau kita memegang bukti yang dapat menjebloskan dia ke penjara bos." lapor Fred.
"Utus beberapa orang untuk menemukan persembunyian dia. Kirimkan semua bukti yang kita punya pada pihak yang berwajib agar mereka dapat segera melakukan pencarian terhadap orang tua licik itu." ucap Alex.
"Aku harus kembali hari ini juga. Kau urus penerbangan ku satu jam dari sekarang. Urusan di sini aku serahkan padamu mengingat semua sudah selesai tinggal menangkap dan menghukum orang tua itu." ucap Alex.
"Baik bos." Fred segera menghubungi pilot yang akan membawa Alex kembali dengan jet pribadi milik Alex. Dia juga segera mengurus segalanya agar Alex dapat pulang dengan tenang.
"Kita akan bertemu lagi segera sayang." ucap Alex sambil tersenyum.
Dia segera membereskan barang-barangnya. Mengambil beberapa berkas yang lupa dia berikan pada Fred lalu segera beranjak dari ruangannya.
Dengan langkah tegas dan wajah datar yang membuat bawahannya tertunduk Alex keluar dari kantor.
"Pesawat dan pilot sudah siap di bandara bos." lapor Fred sambil membukakan pintu mobil untuk Alex.
"Ini bukti tambahan yang dapat memberatkan tua bangka itu. Kau harus menjaganya dengan baik." ucap Alex sambil memberikan berkas yang dia maksud.
"Baik bos. Bos dapat mempercayakan masalah ini padaku." ucap Fred.
Alex menepuk pundak Fred lalu masuk ke mobilnya. Setelah itu mobil segera melesat meninggalkan tempat itu.
Alex terus memandang wajah Az di ponselnya selama perjalanan karena dia berangkat ke bandara dengan supir.
__ADS_1
"Semoga kau senang dengan kejutan dariku." gumamnya.
Alex memutuskan tidak mengabari Az tentang kepulangannya untuk memberikan kejutan pada pujaan hatinya itu. Walaupun lelah, senyum dan binar matanya sangat kentara saat dirinya memikirkan tentang pertemuan dirinya kembali dengan Az.