
Pemuda itu sudah berdiri di depan pintu rumah sederhana itu. Beberapa kali dia ingin mengetuk pintu itu namun dia urungkan.
"Apa yang harus aku katakan jika bertemu dengan dia?" gumamnya.
"Akh, mengapa aku menjadi bodoh. Cukup sampaikan ucapan maaf dan meminta dia menjadi istriku." ucap pemuda itu lalu menghirup napas panjang agar rasa gugupnya berkurang.
Entah mengapa dia merasa cukup gugup untuk bertemu dengan wanita yang dia cari selama ini.
"Ceklek, kriet." saat dia hendak mengetuk pintu, pintu di depannya tiba-tiba terbuka.
Benar saja, wajah cantik yang terakhir kali dia lihat berhiaskan air mata dan tatapan benci juga kecewa itu dilihatnya lagi.
Pandangan mereka beradu membuat sang wanita membelalak terkejut melihat wajah yang sang dia benci itu. Wajah itu mengingatkan dirinya akan kejadian naas yang menimpanya malam itu.
Mengorek kembali luka yang membuat dirinya menjadi manusia hina di hadapan keluarganya. Dia terusir dari tempatnya karena paman dan bibi yang mengurusnya langsung mengusirnya saat tahu dia hamil sebelum menikah.
"Bruk." Dia hendak menutup kembali pintu itu tapi dia kalah cepat.
Si pria sudah berhambur memeluk tubuhnya. Dia terus memberontak berusaha melepaskan diri dari pelukan erat si pria penyebab kehancuran hidupnya itu.
__ADS_1
"Lep....as...." ucapnya.
"Maafkan aku." ucap pria itu.
"Lepaskan aku tuan besar yang terhormat." ucap dingin si wanita yang memang tidak tahu nama dan identitas apapun dari pria yang dia benci itu.
"Aku akan lepaskan asal kau berjanji tidak akan berusaha pergi dan memberikan aku kesempatan untuk berbicara." ucap pria itu.
Karena merasa sia-sia saja berusaha melepaskan diri dari pelukan erat si pria karena perbedaan tenaga yang sangat besar antara mereka, si wanita hanya bisa mengangguk.
"Aku tidak akan melakukan hal kasar. Aku hanya ingin meminta maaf." ucap pria itu sambil menarik pelan pergelangan tangan si wanita agar duduk di sebuah sofa di ruang tamu rumah itu.
"Aku....
"Aku hanya ingin kau memaafkan aku dan bisakah kita memulai semua dari awal agar aku dapat bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padamu?" pintanya penuh harap.
"Aku tidak hamil anakmu, untuk apa kau bertanggung jawab?" tanya si wanita yang sudah berderai air mata.
"Tapi aku telah merenggut apa yang sudah kau jaga selama ini. Aku akan semakin menjadi lelaki breng*ek jika tidak bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padamu." ucap pria itu.
__ADS_1
"Aku....
"Aku tahu kau ragu. Aku juga jujur saja bahwa tidak memiliki rasa apapun padamu selain rasa bersalah. Tapi, bisakah kita berusaha saling mengenal dan saling mencintai? Karena aku yakin kau sedang mengandung anakku saat ini." ucap si pria sambil melihat ke atas meja.
Di sana terdapat sebuah foto USG yang dia yakini milik si wanita. Menyadari arah tatapan si pria, si wanita hanya bisa menghela nafas panjang.
"Aku berjanji akan memperlakukan dirimu dengan sangat baik. Aku akan berusaha menyayangi dirimu. Aku mohon, jika bukan demi dirimu dan aku setidaknya demi calon bayi yang tidak bersalah itu." ucap si pria berusaha menyakinkan.
"Bagaimana dengan keluargamu? Sepertinya kau berasal dari kalangan konglomerat sedangkan aku hanya yatim piatu kalangan bawah. Apakah......"
"Kau tenang saja. Keluargaku tidak akan memandang rendah dirimu. Mereka tidak memandang orang dari status sosial saja." potong si pria.
"Baiklah, demi anak ini." ucap si wanita sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Siapa namamu? Tidak mungkinkan aku menikah dengan orang yang bahkan namanya saja aku tidak tahu?" tanya si wanita sambil menunduk.
"Namaku Devan, tatap mataku saat kau berbicara denganku." ucap Devan sambil mengangkat dagu si wanita agar melihat ke arahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Yang nebak Devan benar nih
Jangan lupa tinggalkan jejak biar rame