
Kendaraan yang membawa Mona, Devan serta keluarganya sudah berhenti di depan sebuah klinik kandungan yang cukup besar.
Mereka melangkah masuk ke dalam klinik dengan wajah berbinar bahagia. Tampak sekali bahwa kehadiran calon cucu yang walaupun kehadirannya tanpa disadari dan dengan cara yang tidak benar itu sangat penting untuk mereka.
"Apakah dokter Feli sudah tiba?" tanya Renata pada seorang suster yang bertugas di meja depan.
"Ya nyonya, dokter baru saja tiba beberapa menit yang lalu dan mengatakan kalau nyonya datang, nyonya bisa langsung ke ruangan ultrasonografi." jawab suster itu dengan sopan.
Ya, sebelum berangkat ke klinik, Renata segera menghubungi dokter senior yang dia percayai agar menyambut kedatangan mereka dan menangani langsung kandungan calon menantunya. Dokter Feli yang kebetulan tidak di klinik menyanggupi permintaan Renata dan bergegas menuju klinik dan baru tiba beberapa menit sebelum rombongan kecil itu tiba.
"Wah menantumu sangat cantik Nata. Sejak kapan putramu menikah dan kenapa aku tidak diberi tahu?" tanya dokter Feli terdengar akrab kala Renata, Devan dan Mona memasuki ruangan.
"Ceritanya nanti saja Fe. Sekarang paling penting adalah aku ingin lihat calon cucuku dan bagaimana keadaannya." ucap Renata.
"Sini sayang." ajak dokter yang walaupun sudah berumur tapi masih terlihat cantik itu dengan ramah.
"Dokter Feli ini sahabat mama dari kecil." jelas Renata yang melihat kebingungan calon menantunya melihat keakraban mereka.
Mona sudah berbaring di tempat tidur khusus yang tersedia di ruangan itu. Seorang suster sudah membantu memberikan gel pada perut yang masih rata.
__ADS_1
"Kalian lihat titik kecil itu?" tanya dokter Feli sambil menunjuk ke arah layar.
"Itu adalah calon anak kalian." tambahnya.
"Deg." ada rasa haru dan debaran aneh di dada Devan melihat calon bayinya.
"Mengapa dia sangat kecil bibi Fe?" tanya Devan masih tetap memandang titik sebesar biji jagung di layar.
"Wajar saja kalau dia masih kecil Devan sayang. Calon bayi kalian masih berumur 5 minggu. Nanti dia akan bertambah besar dan perlahan membentuk seluruh organ lengkap seiring waktu." jelas dokter Feli.
"Bayi kalian dan kandungan istrimu sehat. Tolong jaga pola makan dan jangan terlalu letih. Sebaiknya di trimester pertama jangan berhubungan dulu untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan." terang dokter Feli.
"Apakah bisa melihat jenis kelamin bayi?" tanya Devan.
"Untuk sekarang belum bisa. Tunggu hingga kandungan masuk usia 4 atau 5 bulan." jawab dokter Feli.
"Aku akan meresepkan vitamin untuk istrimu setelah itu kau bisa membawa dia kembali agar bisa beristirahat. Untuk kau (menatap tajam Renata) harus tinggal untuk menjelaskan padaku." ucapnya.
Akhirnya Renata hanya bisa tinggal untuk menghibur sahabatnya yang terlihat kesal. Devan segera pulang bersama Mona dan yang lainnya.
__ADS_1
...****************...
"Ponselmu berbunyi." ucap Az karena Alex mengabaikan jerit benda pipih itu sejak tadi.
"Biarkan saja. Aku sedang tidak ingin diganggu. Aku ingin puas bersamamu hari ini sebelum pergi meninggalkan dirimu di sini besok pagi." ucap Alex.
"Kau hanya pergi beberapa hari saja. Jangan membuatnya seolah kau akan pergi untuk selamanya. Angkat siapa tahu penting." ucap Az.
"Jika kau tidak mengatakan sesuatu yang penting karena telah mengganggu waktuku, siap-siap kau bertugas di hutan Amazon." ucap Alex saat menerima telepon sebelum si penelepon mengatakan apapun.
"........."
"Apa? Heh pria licik itu menginginkan kematian menjemput dirinya sendiri." ucap Alex geram.
"Tidak bisakah kalian menangani ini hingga besok?" tanya Alex.
"........"
"Oh ****." umpat Alex lalu mematikan sambungan telepon.
__ADS_1